
Setelah merasa kenyang, Windia segera beristirahat di kamar. kamar itu terlihat sangat rapi dengan sprei yang baru saja diganti. Windia dengan segera merebahkan tubuhnya di tempat itu.
Karena memang semalaman dirinya tidak tidur. karena berusaha kabur dari rumah Denis. Sejenak Windia menatap plafon kamar dengan grafik bir keras.
Bagaimana kalau dirinya ketahuan oleh Denis dan juga istrinya. Apalagi rumah ini tidak terlalu jauh dari rumah Denis. Walaupun kemungkinan kecil mereka berdua menemukan dirinya.
Karena selain bangunan ini tampak seperti sebuah gudang yang tak terpakai, bangunan ini pun juga berada di antara tumpukan kayu. hal itu menjadikan keberadaannya samar di mata orang orang.
lama Windia berpikir, akhirnya matanya pun berat dan seketika itu pula tertidur pulas. Hingga jam 09.00 pagi, Windia tiba-tiba saja terbangun dengan nafas terengah-engah.
" Astaga hanya mimpi. Aku kira beneran" gumamnya Seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. hingga matanya menangkap sebuah jam Yang sepertinya tergeletak di atas meja kecil yang tak jauh dari ranjang.
Windia menyipitkan mata untuk melihat dengan jelas jarum jam yang berputar di sana. dan ternyata sudah menunjukan pukul sembilan lebih.
Dengan segera Windia turun dari ranjang kemudian mulai membuka jendela dan juga pintu rumahnya. tak lama berselang, tampak seseorang berjalan ke arahnya.
Windia menyipitkan matanya untuk melihat Siapa yang datang. yang tak lain adalah dokter Anjani.
" Selamat pagi Nona Windia, Apakah istirahatnya nyaman atau tidak?" Tanya Dokter Anjani Seraya masuk ke dalam rumah.
Sejenak Windia terdiam Seraya sesekali menetap ke arah dokter itu. Namun secepat kilat wanita itu menundukkan kepala. seperti merasa takut dan sungkan.
dokter Anjani yang melihatnya, kemudian menyuruh India untuk duduk di sampingnya." Ada apa Nona Kenapa anda sepertinya gelisah seperti ini?" tanya Dokter Anjani Seraya menatap wajah wanita itu.
"ma-maf dok Apakah saya boleh ikut dengan dokter ke tempat tinggal dokter?" tanya Windia dengan kata-kata tergagapnya.
hal itu tentu saja membuat dokter Anjani yang mendengarnya, merasa heran alisnya bertaut dengan kening berkerut." Memangnya ada apa nona?" Tanya Dokter Anjani.
Windia yang mendengarnya, menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara kasar. Setelahnya, wanita yang tengah hamil itu menceritakan semuanya pada dokter muda itu.
__ADS_1
Dokter Anjani yang mendengarnya, sampai menggelengkan kepala karena Tak habis pikir dengan tingkah laku dari manusia yang mengaku kaya tapi miskin perilaku.
" Ya sudah kalau begitu, kamu ikut saya saja. Kebetulan saya ingin kembali lagi ke rumah saya karena ada sesuatu yang ketinggalan di sana." ucapnya tersenyum tipis.
Hal itu membuat Windia seketika tertegun. seakan tak percaya orang asing yang baru dirinya temui tadi malam, Sudah berani untuk membantunya.
" tak masalah," ucap dokter Anjani yang seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Windia. dengan segera, dokter muda itu menarik tangan Windia dan membawanya ke mobil.
Kebetulan, Windia memang tidak membawa apa-apa dari rumah Denis. dengan segera dirinya mengikuti langkah dari dokter Anjani.
****
Sepanjang perjalanan Windia hanya terdiam Seraya sesekali mengusap air matanya. Karena akhirnya dirinya bisa terbebas dari cengkraman laki-laki kejam itu.
" Anda kenapa menangis nona, apakah perut anda sakit?" Tanya Dokter Anjani dengan ekspresi wajah khawatirnya.
Windia yang mendengarnya, seketika menggelengkan kepala Seraya tersenyum tipis.
dokter Anjani segera mengajak Windia untuk turun dari mobil yang dikemudikannya." Ayo Nona kita turun," ajak dokter Anjani pada Windia.
Windia yang mendengarnya hanya menganggukkan kepala kemudian ikut turun dan berjalan di belakang tubuh dokter muda itu.
sejenak Windia terdiam karena rumah ini terlihat begitu rapi dan juga sepertinya tidak ada orang lain yang menempati rumah ini.
" umm, maaf Dok, apakah Dokter tinggal sendiri di rumah ini?" Windia bertanya sedikit takut-takut. takut jika dokter itu merasa tersinggung dengan pertanyaannya.
" Iya Nona Saya tinggal sendiri di sini." ucapnya tersenyum tipis. kemudian dokter itu berjalan ke arah dalam rumahnya." suamiku juga meninggalkanku karena suatu hal" ucapnya tersenyum Getir.
hal itu tentu saja membuat India yang mendengarnya, ketika merasa tidak enak karena telah berkata tidak sopan dan terkesan ikut campur.
__ADS_1
" Maaf Dok saya tidak sengaja berkata seperti itu, Maafkan saya atas kelancangan ini." ucapnya menunduk takut.
dokter Anjani yang mendengarnya, tersenyum tipis Seraya berjalan ke arah Windia." tidak masalah nona, lebih baik sekarang, Nona Windia istirahat saja. kamar Nona ada di paling depan itu. saya akan kembali ke tempat praktek saya." ucap dokter Anjani Soraya menunjuk ke arah sebuah ruangan Seraya tersenyum tipis.
Windia yang mendengarnya, tersenyum tipis Seraya mengantarkan Dokter wanita itu untuk keluar dari rumah itu. setelah memastikan dokter Anjani tidak terlihat lagi, Windia masuk ke dalam rumah itu.
Ceklek
Windia dengan segera membuka pintu kamar itu. dan wanita hamil itu tampak sekali tercengang karena melihat kamar yang begitu luas.
' ternyata benar ya kata orang, Jangan menilai sesuatu dari covernya saja. Buktinya, rumah yang aku kira sangat sederhana itu ternyata memiliki kamar yang begitu luas." gumamnya tersenyum tipis.
Kemudian Windia segera berbaring dirancang empuk itu. Dirinya menatap ke arah plafon kamarnya. Soraya sesekali memikirkan nasib dari ayah dan kedua adiknya.
Dirinya sepertinya akan disalahkan kembali oleh Annabella karena Kejadian ini. tapi mau bagaimana lagi, Windia sudah tidak kuat lagi untuk menerima siksaan dari Latika dan juga Denis.
tak terasa, akhirnya Windia pun tertidur dengan sangat pulasnya.
******
Sementara itu, di tempat lain terlihat sepasang suami istri Tengah berdebat. Terlihat, sang suami Tengah memarahi istrinya entah sebab apa.
" ini semua salahmu." ucap si lelaki Seraya menunjuk ke arah istrinya.
" Kenapa kau menyalahkan aku Denis. Lagipula, biarlah dia pergi pasti tidak akan terjadi apa-apa padanya. lagi pula, dia itu sudah terbiasa hidup susah." ucap Latika acuh tak acuh.
siapa lagi jika bukan Denis dan juga Latika mereka sedang ribut karena Denis menyadari jika Windia tidak ada di tempatnya. Mendengar ucapan dari istrinya itu, Entah mengapa membuat Denis seperti merasakan sesuatu
Dengan segera laki-laki itu menyambar kunci motor yang ada di meja kemudian dengan segera melajukan motor itu meninggalkan rumah kediamannya.
__ADS_1
dirinya berniat ingin mencari wanita yang sebenarnya masih menjadi istrinya itu. entah apa yang ia pikirkan hingga membuatnya sedikit memiliki rasa empati pada Windia.
Padahal saat ada Windia, Denis seringkali menghina, mencaci maki, dan mengatakan hal-hal yang sangat pedih pada wanita hamil itu.