Aku Bukan Pelayanmu

Aku Bukan Pelayanmu
Harus Menerima


__ADS_3

Sore harinya, Windia baru saja pulang dari rumah keluarganya. dirinya tak henti-hentinya tersenyum tipis. Windia merasa sangat bahagia bisa mengunjungi keluarganya.


Dirinya harus mengucapkan terima kasih kepada keluarga Ricardo. Karena berkat mereka, Edward sang ayah bisa dalam kondisi membaik seperti ini.


Walaupun Windia harus menerima kenyataan pahit selalu direndahkan dan dihina oleh suaminya sendiri. Namun dirinya masih merasa senang. asalkan, ayahnya bisa sembuh.


"aku harus mampir lagi ke rumah Mommy sama papi untuk mengucapkan terima kasih." ucapnya Seraya masuk ke dalam taksi yang telah Ia pesan.


Lima belas menit kemudian, taksi yang ditumpangi oleh Windia telah sampai di depan gerbang sebuah rumah mewah bergaya klasik modern.


Dengan segera wanita cantik itu, keluar dari dalam taksi kemudian memencet bel yang ada di samping pagar rumah mewah itu. tak lama berselang, datanglah seorang laki-laki paruh baya berseragam security.


" maaf Nona cari siapa?" tanya security itu dengan sopan.


" Saya mau bertemu dengan Nyonya Vega Ricardo juga tuan Robert Ricardo." ucap Windia Seraya tersenyum tipis. Seketika itu pula, laki-laki setengah baya itu segera membukakan pintu gerbang. dan mempersilahkannya untuk segera masuk ke dalam rumah mewah.


Tok tok tok


Windia dengan hati berbunga-bunga mengetuk pintu sebanyak tiga kali. tak lama berselang, pintu rumah itu terbuka.


senyum indah yang sempat terpatri di wajah cantik Windia, seketika itu pun langsung sirna saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya.


"sayang, ka-kamu da-datang,?" tanya Vega sedikit terbata-bata. Kemudian, wanita paruh baya itu segera menghampiri Windia yang masih saja berdiri mematung di tempatnya.


Windia segera menoleh dan tersenyum tipis ke arah sang ibu mertua. Namun, tak bisa dipungkiri. hati Windia begitu sakit melihat pemandangan yang ada di hadapannya itu. Di mana saat ini di ruang tamu itu tengah berlangsung sebuah lamaran sederhana yang tak lain dari Denis dan juga Latika beserta Kedua keluarga.


" Denis, Siapa dia?" tanya Astrid ibunda Latika. dengan segera, Denis beranjak dari duduknya. Kemudian melangkah merangkul Windia.

__ADS_1


hal itu sempat membuat Windia merasa bangga. karena dirinya mengira akan diperkenalkan sebagai istri dari seorang Denis Ricardo. Namun, sepertinya ekspektasi dari Windia begitu tinggi. hingga membuatnya terjatuh ke dalam lubang kenyataan yang sangat pahit.


" Dia anak pembantu di rumah ini Tante, kebetulan kami sekeluarga telah menganggap dia seperti anak dan saudara sendiri" ucap Denis Seraya menatap ke arah lagu India dengan senyum tipisnya.


Tes


Seketika itu pula, air mata yang sedari tadi ditahan oleh Windia, segera terjun bebas membasahi pipinya. Hal itu membuat Vega segera merangkul wanita cantik itu.


" Maafkan Mommy sayang, tapi Mami tidak ada pilihan lain selain merestui hubungan Denis dengan wanita itu." ucapnya dalam hati Seraya menghapus air mata yang juga menetes di pipinya.


Kedua orang tua Latika pun, kembali berbincang kepada orang tua dari Denis Ricardo. Sementara Windia pamit ingin ke ruangan belakang.


***


Sesampainya di ruang belakang, Windia segera menang sejadi-jadinya. Karena kebetulan dirinya saat ini berada di sebuah ruangan kedap suara di samping dapur, di mana biasanya ruangan itu digunakan untuk bekerja oleh Robert.


tak lama berselang, pintu ruangan itu seperti diketuk dari luar. Dengan segera Windia melangkahkan kaki menuju pintu itu.


Ceklek


pintu terbuka dengan lebar. dan menampilkan senyuman seorang wanita paruh baya yang tetap terlihat cantik walaupun usianya sudah tidak mudah lagi.


" Sayang, Apa kau menangis?" tanya Vega seraya menerobos masuk ke dalam ruangan itu. Kemudian menarik tangan Windia. Hingga dua wanita itu duduk di sebuah kursi panjang yang ada di ruangan itu.


Vega dengan sigap, segera memeluk menantumya itu. Seketika itu pula, tangis Windia seketika itu pula pecah." hiks hiks hiks, aku nggak kuat mom." ucapnya ke Raya semakin mengeratkan pelukannya.


Vega dengan segera menangkup wajah Windia. hingga mata mereka sama-sama bertemu. Hal itu membuat Vega, seketika terenyuh. Karena wanita paruh baya itu, dapat melihat betapa hancur dan terlukanya hati menantunya itu.

__ADS_1


" Mommy mohon, Maafkan Denis ya, kalian jangan berpisah dulu. Mommy mohon" ucapnya Seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Windia yang mendengarnya, seketika terdiam cukup lama. Sepertinya, dirinya harus menerima kenyataan pahit ini. sialnya lagi, Wanita itu sudah mulai mencintai laki-laki yang kini menjadi suaminya itu.


Padahal, jelas-jelas Denis tak pernah memperlakukannya dengan baik. Tapi tetap saja dirinya mencintai laki-laki yang bernama Denis Ricardo itu.


Entahlah, tapi yang jelas terkadang perasaan itu begitu aneh dan membingungkan. di saat hati sedang disakiti, terkadang Di Saat itu pula cinta tumbuh begitu kuat.


" semoga saja ya mom, semoga saja Windia bisa menerima kenyataan ini." ucapnya tersenyum tipis. senyuman yang Vega tahu, adalah sebuah senyuman penuh luka.


" mom, aku sama Latika mau pergi untuk memesan cincin dan juga gaun pengantin." tiba-tiba saja, Denis datang menghampiri Vega yang masih berada di ruang kerja milik Robert.


Seketika itu pula, Windia segera menghapus air matanya. yang tiba-tiba saja mengalir cukup deras tanpa adanya permisi dari si pemilik air mata.


Namun, sepertinya hal itu tidak menyentuh hati Denis. Karena, sedari tadi laki-laki itu hanya terdiam. Seraya sesekali menggoda Latika di depan Windia.


Hal itu semakin membuat Windia merasa sangat sakit hati. wanita itu, seketika memalingkan wajahnya untuk menghindari pemandangan yang ada di hadapannya itu.


Vega tak menjawab ucapan dari Putra tunggalnya itu. wanita paruh baya itu, lebih sibuk untuk menghibur menantunya. yang memang, sedang membutuhkan perhatian itu.


Denis dan Latika segera melingkar pergi meninggalkan area tempat itu. tak lama berselang, Robert pun datang menghampiri kedua wanita berbeda usia itu.


seketika itu pula, Windia segera bangkit dari duduknya. Seraya menundukkan kepala ketakutan. Karena dirinya berpikir, jika ayah mertuanya itu akan marah. Karena sudah lancang memasuki ruang kerja tanpa izin darinya.


" Papi, maafin Windia ya Windia nggak sengaja masuk ke ruang kerja Papi." ucapnya takut-takut. Hal itu membuat Robert dan juga Vega yang mendengarnya, seketika Saling pandang dan juga menahan senyum.


" Siapa yang suruh kamu minta maaf, memangnya kamu salah apa sampai harus minta maaf?" tanya laki-laki paruh baya itu dengan ekspresi wajah datarnya.

__ADS_1


sontak saja hal itu membuat Windia yang mendengarnya, merasa terkejut.


__ADS_2