
Pagi harinya, seperti biasa, Windia tampak seperti biasa ikut memasak bersama Reni. sementara dokter Anjani, masih berada di dalam kamarnya. sedari tadi pagi, wanita yang berprofesi sebagai seorang dokter itu, masih belum keluar dari dalam kamarnya.
Hal itu membuat Windia merasa begitu khawatir. Kemudian, dirinya menoleh ke arah Reni. untuk menanyakan keadaan dokter Anjani.
" Ren, Kamu tahu tidak kenapa dokter Anjani masih belum membuka pintu kamarnya?" Tanyain dia penasaran. karena memang, wanita itu tidak pernah merasa kepo dengan urusan orang lain. dirinya akan mencoba untuk mengabaikan yang bukan urusannya.
" Saya tidak tahu nyonya, tapi sepertinya hal seperti ini sering dilakukan oleh dokter Anjani saat dia sedih." ucap Reni dengan tersenyum tipis.
Mendengar hal itu, Windia menautkan alisnya merasa bingung dengan ucapan dari Reni itu." Maksudnya bagaimana?" Tanyain dia tak mengerti.
Reni yang mendengarnya, seketika menghentikan kegiatan memasaknya. Kemudian, dengan perlahan menetap ke arah Windia dengan Tatapan yang sulit diartikan.
" dulu, dokter Anjani pernah memiliki suami dan juga anak." ujarnya Seraya tersenyum dengan paksa. Terlihat, wanita itu beberapa kali menghela nafas panjang, untuk menetralisir rasa di dadanya.
Sontak saja hal itu membuat Windia yang mendengarnya, seketika terperangah kaget. dirinya baru saja mengetahui fakta dibalik senyum yang ditunjukkan kepada dokter Anjani Itu.
" hah kamu yang bener Ren,?" tanya Windia mengulangi pertanyaannya. Memastikan kebenaran yang baru saja ia dengar itu.
" Iya nyonya, dulu, Nyonya pernah memiliki suami dan juga anak. Tapi,.." ucapan Reni terhenti seakan tak kuat lagi untuk mengatakan sesuatu.
" tapi apa Ren,.." tanya Windia dengan ekspresi wajah penasaran.
" tapi suami dan anaknya menjadi salah satu korban tabrak lari oleh seseorang yang tidak dikenal." ucapnya dengan mengusap air mata.
Windia yang mendengarnya, seketika mengusap air mata yang tiba-tiba saja mengalir di pipinya tanpa permisi. Windia begitu merasa terkejut karena mendapatkan berita mengejutkan seperti ini.
" astaga, Malang sekali nasibnya." ujarnya Seraya menundukkan kepala karena merasa sedih. Windia melangkahkan kaki berencana untuk mengetuk pintu kamar dokter itu. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar pintu kamar dokter Anjani terbuka lebar.
Terlihat, wanita itu keluar dari kamar dengan mengusap air matanya. hal itu semakin membuat Windia merasa begitu Terpukul. Dirinya seperti merasakan derita yang dirasakan oleh dokter Anjani.
__ADS_1
Karena memang dirinya juga seorang ibu. yang pasti akan merasa sangat hancur dengan apa yang terjadi itu.
" dokter, sarapan dulu." ucapnya Seraya menunjuk ke arah meja makan. di mana Di sana, telah terhidang dua piring nasi goreng lengkap dengan topping sosis dan juga telur di atasnya.
Dokter Anjani yang melihatnya, hanya tersenyum tipis kemudian melangkahkan kaki menuju ke tempat meja makan. dengan segera, mereka menikmati Sarapan Sederhana itu.
Selama acara sarapan itu, Windia tak anti-hentinya menatap ke arah dokter Anjani yang tengah menyantap nasi goreng itu.
Ingin sekali rasanya, Windia memeluk dan menguatkan wanita yang telah menolongnya itu. Namun, hal itu urung dilakukan karena Windia merasa akan dianggap bersikap kurang ajar pada orang lain. dan akhirnya, Windia memutuskan untuk terdiam saja.
setelah selesai menyantap sarapannya, dokter Windia segera bergegas untuk kembali ke rumah sakit tempatnya bekerja. bersamaan dengan itu, ponsel dokter Anjani pun berdering.
Dengan segera, dokter Anjani mengangkatnya. yang ternyata dari Vega ibu mertua dari Windia. Dengan segera, dokter Anjani mengangkat panggilan itu.
" Halo Nyonya, ada apa?" Tanya Dokter Anjani dengan sopan. Terdengar, dari seberang sana, seseorang Tengah menangis terisak. hal itu tentu saja membuat dokter Anjani yang mendengarnya, seketika menautkan alisnya karena merasa kebingungan.
hal itu tentu saja membuat Windia yang tengah berada di sampingnya, seketika ikut terkejut. karena memang dirinya, sempat melihat Vega di layar ponsel milik dokter Anjani.
" Ha-lo Anj-ani, di ma-na Win-dia? Saya ingin berbicara." ucap Nyonya Vega dari seberang sana. terlihat suaranya begitu Parau dengan sedikit getaran dari nada bicaranya.
Seketika itu pula, dokter Anjani segera memberikan ponsel itu pada Windia. yang memang, wanita itu berada di sampingnya.
" ini, mertuamu ingin berbicara." ucap dokter Anjani Seraya menyerahkan ponsel itu pada Windia.
dengan segera, Windia mengangkatnya." Halo mah ada apa?" tanya Windia dengan perasaan yang tidak tenang.
"su-suami kamu kecelakaan," ucap Vega dari seberang sana dengan nada terbata-bata dan juga nada yang gemetar.
Degh
__ADS_1
Mendengar ucapan dari ibu mertuanya itu, seketika jantung Widia seakan ingin lepas dari tempatnya. Windia memang tidak mencintai Denis. Namun, bukan berarti dirinya tak ingin memperdulikan laki-laki itu.
Karena bagaimanapun, Denis masihlah tetap menjadi suaminya. dan ayah dari Naomi. mana bisa dirinya tidak khawatir dengan keadaan laki-laki itu.
Walaupun, Denis seringkali menyiksa dan membuatnya Terkadang ingin mengakhiri hidup. Namun, bukan berarti wanita itu akan membalas perbuatan sang suami.
Entahlah, Windia merasa hatinya terlalu lemah. padahal dulu, saat berhasil kabur dari rumah Denis, wanita itu bertekad ingin membenci dan menghapus laki-laki itu dari kehidupannya. Namun, nyatanya dirinya malah mengasihani laki-laki itu.
" baik mom, Windy akan segera ke sana." ucapnya Seraya menyerahkan ponsel itu pada dokter Anjani. kemudian berlalu untuk menuju ke kamarnya.
tak berapa lama, Windia keluar dari kamar dengan menggendong baby Naomi yang terlihat anteng itu. dokter Anjani yang melihatnya, menatap Windia dengan Tatapan yang sulit diartikan.
" kau ke rumah sakit ingin membawa Naomi?" tanya dokter itu menatap Windia dan juga baby Naomi secara bergantian.
" tidaklah, Aku hanya ingin menitipkan dia pada Reni. lagi pula, di rumah sakit itu banyak penyakit." ucapnya Seraya meletakkan baby Naomi dalam box bayi yang berada tak jauh dari meja makan.
" Ren, aku titip Naomi sebentar ya," ujarnya Seraya melangkahkan kakinya menuju pintu utama. disusul oleh dokter Anjani yang berjalan di belakangnya.
" baik nyonya," ucap Reni dengan menganggukkan kepala. kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya. karena memang baby Naomi Tengah tertidur pulas.
****
Tak Butuh waktu lama, mobil yang ditumpangi oleh Windia kini telah sampai di depan sebuah rumah sakit ternama di kota itu.
dengan segera, Windia keluar dari mobil dan segera mengajukan langkahnya menuju kemeja resepsionis kemudian menanyakan di mana ruangan Denis berada
setelah memberitahu ruangannya, Windia segera berjalan dengan tergesa-gesa. setelah itu, Windia tampak mematung saat melihat ibu mertuanya terduduk lemas di kursi tunggu.
dengan segera, Windia menghampiri wanita paruh baya itu. dan setelahnya, memeluk tubuh yang tampak lemah itu.
__ADS_1