Aku Bukan Pelayanmu

Aku Bukan Pelayanmu
mencari cara untuk melarikan diri


__ADS_3

tepat jam 12.00 siang, Windia akhirnya menyelesaikan semua pekerjaannya. dan dengan segera, dirinya menggendong baby Naomi yang sedang menangis dari tadi karena merasa kehausan.


dengan segera, Windia membawa bayi mungil itu masuk ke dalam kamarnya. dan setelahnya, wanita itu segera memeriksa tubuh dari bayi tak berdusta itu. dan benar saja pemikirannya, ada luka memar di lengan dan di paha bayi itu.


hal itu tentu saja membuat Windia yang melihatnya, seketika menangis sesenggukan." hiks hiks hiks maafin Bunda sayang, gara-gara Bunda kamu menjadi korban seperti ini." ucapnya menangis pilu.


Windia merasa di dunia ini tidak akan ada orang yang mampu membiarkan darah dagingnya mengalami kesakitan yang luar biasa. apalagi darah daging yang masih berupa bayi mungil yang tidak berdosa.


air mata Windia terus-menerus mengalir meratapi nasib yang dialami oleh Putri kecilnya itu." Bahkan mereka tidak memandang seseorang, bayi mungil pun mereka juga siksa. kasihan kamu Nak." ucapnya Seraya mengusap air matanya yang mengalir cukup deras.


Setelahnya, Windia segera menyusui bayi mungil itu. hatinya begitu sakit saat melihat bayi itu meminum asi dengan begitu kuat. hal itu menandakan, jika baby Naomi sangat merasa kehausan.

__ADS_1


" oh sayang, kamu merasa kehausan sekali, Maafkan Bunda ya, Bunda janji setelah ini kita akan pergi dari sini." ucapnya Seraya mengusap wajah mundur dari baby Naomi.


Setelah beberapa waktu lamanya, bayi mungil itu akhirnya tertidur pulas. walaupun, sesekali masih terdengar isakan tangis di bibir mungilnya.


Setelah membaringkan tubuh mungil baby Naomi, akhirnya Windia memutuskan untuk mencari cara agar bisa keluar dari tempat mengerikan ini.


" bagaimanapun caranya, aku harus keluar dari tempat terkutuk ini." gumamnya Seraya menatap ke sekeliling ruangan ini. dan setelah lama berpikir, akhirnya Windia menemukan satu cara untuk melarikan diri.


" kau dipanggil oleh nyonya Latika." ucap wanita paruh baya itu dengan tatapan datar namun juga sangat sinis.


Windia dengan segera menganggukkan kepala. karena dirinya tidak ingin, anaknya menjadi korban kembali. dengan segera, wanita paruh baya itu menarik tangan Windia kemudian mendorongnya hingga terduduk di hadapan Denis dan juga Latika.

__ADS_1


" kau harus memberikan pelayananmu yang cukup baik untuk istriku." ucap Denis dengan menatap datar ke ke arah Windia.


hal itu tentu saja membuat Windia yang mendengarnya, seketika menautkan alis karena merasa bingung.


" maksud Tuan bagaimana?" Tanyain dia yang memang tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Denis. dan untuk masalah panggilan, Windia memutuskan untuk memanggil "tuan" pada Denis.


" kau harus mengijitiku setiap hari, dan jika sampai kau melanggar ataupun kabur dari sini, Aku tidak akan segan-segan untuk menyiksa anak bayi itu." ucap Latika dengan nada sinis.


hal itu tentu saja membuat Windia yang mendengarnya, seketika menganga cukup lebar. dirinya tidak menyangka, jika ada manusia berhati iblis seperti ini. Apalagi, Dia seorang wanita. dan sebentar lagi, akan menjadi seorang ibu.


" baik saya akan turuti kemauan kalian, tapi saya mohon, Jangan pernah sakiti anak saya." ucap India Seraya menundukkan kepala.

__ADS_1


Rasanya, Queen dia sudah tidak kuat jika harus menyaksikan Putri kandungnya, mendapatkan perlakuan kasar dari kedua orang itu. Apalagi, Naomi masih sangatlah kecil untuk mendapatkan perlakuan itu.


__ADS_2