Aku Bukan Pelayanmu

Aku Bukan Pelayanmu
Tak Berdaya


__ADS_3

Robert dan Vega segera membawa Windia ke rumah sakit terdekat karena melihat keadaan Vega yang begitu mengkhawatirkan.


" Papi Ayo cepetan dong bawa mobilnya, Kenapa lelet banget sih?" tanya Vega yang merasa geram. karena sedari tadi, sang suami itu membawa mobilnya terlalu lelet menurutnya.


" sabar dulu kali mom, Papi lagi berusaha ini untuk menerobos lalu lintas yang padat." ucap Robert Seraya fokus ke Jalan Raya.


Sesekali laki-laki paruh baya itu juga melihat dari kaca mobil yang ada di tengah. Dirinya juga merasa khawatir dengan kondisi Windia.


Karena Robert dan juga Vega sama-sama ingin memiliki anak perempuan. namun, sampai saat ini mereka berdua belum dikaruniai keturunan lagi.


tak lama berselang, mobil yang dikendarai oleh Robert telah sampai di rumah sakit khusus ibu dan anak. Karena Entah mengapa, Vega mempunyai firasat jika menantunya itu dan mengandung cucunya.


Setelah sampai di parkiran rumah sakit, dengan sigap Robert segera menggendong Windia yang masih tak sadarkan diri itu.


" Dokter Tolong anak saya!" teriak Robert dengan lantang. hal itu sempat membuat Vega tertegun sesaat. wanita paruh baya itu merasa terharu dengan Sikap yang ditunjukkan oleh sang suami. Ternyata, prasangkanya tidak terbukti.


Karena Vega pernah berprasangka jika Robert akan menolak pernikahan itu. Bahkan dirinya akan membenci menantunya sendiri.


Karena Vega mengetahui jika Robert tidak pernah ingin mendapatkan menantu dari kalangan bawah. Tapi, Mengapa sekarang sikap dan pendiriannya berubah seperti ini.


tak lama berselang seorang dokter wanita dengan beberapa perawat datang membawa brankar kemudian membawa Windia untuk segera diperiksa.


Sementara Robert dan juga Vega menunggui di ruang tunggu." Papi Kenapa baik banget sama Windia, bukannya Papi pernah bilang kalau nggak pernah suka dengan kaum kalangan bawah?" tanya Vega menuntut penjelasan.


Hal itu membuat Robert seketika menoleh ke arah sana istri dengan mengulas senyum tipis." Entahlah Mi tapi Papi merasa, harus menjaga Windia dengan baik. bahkan nanti jika Denis tak ingin bertanggung jawab, maka Papi siap menghidupi wanita itu." ucapnya dengan Lirih.


Hal itu semakin membuat Vega tersenyum dengan sesekali mengusap air matanya." aku bangga sama papi yang udah mulai bisa berubah" ucapnya Soraya menggenggam tangan sang suami.

__ADS_1


Mereka berdua masih seperti pengantin baru. Padahal keduanya sudah berumah tangga hampir puluhan tahun. namun kemesraan mereka, tak bisa dipungkiri selalu mesra sampai saat ini.


tak lama berselang, seorang dokter datang menghampiri kedua manusia paruh baya itu tentu saja hal itu membuat Robert dan juga Vega seketika mendungak dan ikut berdiri.


" bagaimana keadaan menantu kami dok,?" tanya Vega dengan ekspresi wajah Tak sabar. mendengar hal itu, membuat dokter wanita itu tersenyum tipis.


" menantu Tuan dan nyonya tidak apa-apa, dia hanya merasa lemas. dan itu hal wajar di saat-saat trimester pertama." ucap sang dokter dengan tersenyum tipis.


Tentu saja, hal itu membuat Vega dan Juga Robert, seketika tertegun." a-apa Dokter bilang, menantu saya hamil?" tanya Vega dengan terbata-bata.


sang dokter yang mendengarnya, menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis. sontak saja hal itu membuat Vega dan juga Robert seketika tersenyum bahagia.


Karena ternyata Tuhan mengabulkan doa-doa mereka berdua. yang selama ini, tak henti-hentinya meminta diberikan cucu secepat mungkin.


dengan segera, Robert dan juga Vega, meminta agar menantu mereka dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Karena kondisi Windia sudah lebih baik dari sebelumnya.


Setelah Windia dipindahkan ke ruang VVIP, Vega mencoba menghubungi Denis. Namun sayangnya, laki-laki itu tak mengangkat panggilan darinya. Dan malah saat ini, ponselnya tidak bisa dihubungi karena dimatikan oleh Denis. hal itu, membuat Vega semakin merasa geram.


" hais, anak itu benar-benar udah kelewatan," ucapnya menggeram kesal. Hal itu membuat Robert yang Tengah menatap ke arah pintu kaca menjadi teralihkan dan berganti menatap istrinya.


" dari awal kita memang yang salah, kita terlalu memaksakan kehendak. dan tidak memperdulikan perasaan Denis. Padahal dia yang akan menjalani semuanya." ucap Robert tersenyum t kecut.


Karena laki-laki paruh baya itu menyadari jika apa yang ia lakukan bersama istrinya adalah suatu kesalahan. ya walaupun, itu semua demi kebaikan Denis. Namun, tetap saja semua berawal dari keterpaksaan.


" tapi, dia itu nggak bisa semena-mena seperti itu dong Pap, Dia itu sekarang sudah menikah dan sebentar lagi, akan mendapatkan karunia yang tak ternilai dari Tuhan. seharusnya dia bisa bersikap dewasa." ucap Vega dengan masih tak terima dengan apa yang dilakukan oleh Dennis.


tak lama berselang, Seorang perawat datang menghampiri kedua manusia paruh baya itu." Selamat pagi Tuan Nyonya, Anda diharapkan untuk mengisi data administrasi terlebih dahulu." ucap si perawat sedikit takut-takut.

__ADS_1


karena dirinya tahu, saat ini sedang berhadapan dengan pemilik Rumah Sakit ini. Namun demikian, peraturan tetaplah peraturan. dan hal itu yang dibuat sendiri oleh Robert agar tidak ada kecurangan dalam sistem rumah sakit itu.


Mendengar hal itu, Vega menatap tajam ke arah sang suami." Papa papi belum bayar administrasi?" tanya Vega dengan tetapan tajamnya.


sontak saja hal itu membuat Robert seketika tersenyum tipis." maaf Mom, tapi sepertinya Papi lupa." ucapnya Seraya nyengir kuda. kemudian berjalan mengikuti perawat itu.


Vega yang mendengarnya, mendengkur kesal melihat tingkah konyol dari sang suami." dasar udah tua, udah pikun" ucapnya disertai kekehan kecil.


tak lama berselang, Seorang perawat datang menghampiri dirinya." Maaf nyonya Vega, di dalam nona Windia sudah sadarkan diri." ucapnya Seraya menunduk sopan.


hal itu seketika membuat Vega yang mendengarnya, tersenyum lebar. wajahnya yang awalnya begitu murung, seketika cerah saat mendengar kabar itu.


" terima kasih, Bolehkah saya masuk?" tanya Vega dengan sopan. hal itu langsung mendapat anggukan dari perawat itu.


Yap, walaupun mereka adalah penguasa di rumah sakit ini, namun Robert dan juga Vega memberlakukan peraturan untuk meminta izin terlebih dahulu pada tenaga medis yang tengah bekerja.


hal itu sangat berguna untuk pelajaran adab dan norma. Apalagi mereka sadar jika mempunyai anak yang sedikit tak bisa diatur. dengan peraturan ini, Robert berharap jika Denis bisa merubah sikapnya.


Memang, laki-laki muda itu menunjukkan perubahan yang cukup membaik. Namun, sepertinya prediksi dari kedua orang tuanya, itu salah besar. Karena pada kenyataannya, Denis malah semena-mena terhadap istrinya sendiri.


Dengan segera, Vega masuk ke dalam ruangan VVIP tersebut. kemudian dengan segera, memeluk tubuh lemah menantunya itu.


"mom, aku kenapa,?" tanya Windia mencoba merenggangkan pelukanya dari sang ibu mertua.


" kau hamil sayang,"ucap Vega dengan nada berhati hati.


Tes

__ADS_1


Seketika itu pula, air mata Windia seketika menetes jatuh ke lantai. dirinya merasa tak berdaya dengan kehamilannya ini.


__ADS_2