Aku Bukan Pelayanmu

Aku Bukan Pelayanmu
Terselamatkan


__ADS_3

Saat Denis dan juga Latika memaksa Windia untuk masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba saja seseorang datang menghampiri mereka dengan berteriak kacang.


"hei! Jangan bawa majikan saya," teriaknya lantang. Kemudian dengan segera menarik tangan Windia untuk menjauh dari kedua orang itu.


" siapa kau berani beraninya menghalangi kami?!" tanya Denis dengan wajah merah padam karena menahan amarah.


tak ingin kalah dari dua orang itu, Reni segera menatap tajam ke arah mereka berdua. dirinya tidak merasa takut apalagi getar menghadapi seseorang. Karena, dirinya sudah mendapatkan amanah dari dokter Anjani agar menjaga India dengan baik.


" dia majikanku, Jangan pernah kalian mengganggu dia lagi." ucap Reni penuh dengan penekanan.


hal itu seketika membuat Denis dan juga Latika yang mendengarnya, seketika Saling pandang." Sejak kapan dia jadi majikan kamu?" tanya Latika dengan nada selingkuhnya.


Reni yang mendengarnya, tersenyum miring ke arah mereka." dia memang majikan saya. bahkan saya digaji dua kali lipat dari gaji saya perbulan." ucapnya menatap datar ke arah kedua manusia itu.


Hal itu semakin membuat Denis dan Latika yang mendengarnya, seketika saling tetap." Sejak kapan dia jadi majikanmu, dan Sejak kapan dia mempunyai uang banyak untuk menggaji?" tanya Denis dengan ekspresi wajah menyelidiki.


Sementara Windia yang mendengarnya, saya dapat menentukan kepala Seraya menggigit Bibir bawahnya. Sungguh, saat ini dirinya tidak bisa mengatakan apapun ataupun melawan. Karena selain tidak mempunyai keberanian untuk melawan kedua orang itu, dirinya juga tidak bisa membenarkan ucapan dari Reni.


Sehingga, wanita yang telah hamil itu hanya bisa menunduk ketakutan. di saat suasana tegang seperti ini, seseorang tiba-tiba menghampirinya.


" Kalian ada apa di sini?" tanya suara itu dari arah belakang. Hal itu membuat semua orang seketika menoleh ke arah sumber suara.


" Windia, Reni, Kalian ngapain Di Sini. ayo pulang," Ucap orang itu Seraya menarik tangan Windia. hal itu tentu saja membuat Denis dan juga Latika yang mendengarnya, seketika saling menatap.


" Siapa kamu Kenapa kamu bawa istri saya?" tanya Denis dengan wajah merah padam karena menahan amarah.

__ADS_1


hal itu sejenak membuat dokter Anjani yang mendengarnya, sesaat terdiam." Oh ini suami yang dikatakan oleh nyonya Vega hari itu," gumamnya dalam hati. setelahnya, dirinya mendongak menatap Denis dan juga Latika secara bergantian.


" dia itu adikku, Jangan pernah kalian ganggu dia lagi. atau kalian akan berurusan denganku." ujarnya penuh dengan penekanan.


Hal itu membuat Denis dan juga Latika yang mendengarnya, seketika saling tetap dan juga seketika itu pula tawar Denis pecah.


" Hahaha jangan pernah anda mencoba untuk membohongi kami." ucapnya dengan tawa yang masih berderai.


" Siapa bilang saya membohongi kamu, memang benar dia adikku. kami sudah lama sekali berpisah karena saya memutuskan untuk hidup mandiri di kota ini. sementara Windia dan keluarganya, memutuskan untuk tinggal di tempat mereka saat ini." ucap dokter Anjani penuh dengan penekanan.


Seketika itu pula, wajah Denis seketika berubah menjadi datar. Kemudian, kembali menetap ke arah India yang masih bergeming di hadapannya itu.


" Apa benar dia kakakmu,?" tanya Denis dengan tatapan tajamnya dan juga wajah merah padam. "Jawab!" bentak Denis dengan nada tinggi.


sontak saja itu membuat Windia yang mendengarnya, seketika terlunjak kaget. begitupun dengan Reni dan juga dokter Anjani. mereka sama-sama terlunjak kaget.


Hal itu membuat Denis dan juga Latika yang mendengarnya, seketika melotot ke arah wanita yang memakai seragam berwarna putih itu. karena mereka baru menyadari jika mereka disamakan dengan makhluk halus.


" Apa maksudmu berkata seperti itu,?!" tanya Latika sedikit berteriak karena merasa tak terima disamakan dengan mereka yang tak kasat mata.


Namun, dokter Anjani sama sekali tidak menghiraukan teriakan itu. dirinya masih saja menarik Windia untuk segera masuk ke dalam mobilnya. kemudian melanjutkannya meninggalkan taman itu.


Sementara Denis dan juga Latika yang melihat itu, sesekali mengumpat ke arah Windia." dasar wanita tidak tahu diri. sudah ditolong malah kabur begitu saja. Biar saja, Aku tidak akan pernah melanjutkan pengobatan ayahnya." ucapnya geram.


" Sudahlah sayang lebih baik kita pulang saja. nanti kita adukan ini pada Papi sama Mommy." ucap Latika menggandeng lengan Denis dengan mesra.

__ADS_1


" atau selama ini dia menjadi simpanan laki-laki lain,?" tiba-tiba saja, pertanyaan bodoh itu muncul begitu saja di pikiran Denis.


Latika yang mendengarnya, sejenak terdiam kemudian dengan segera menatap ke arah laki-laki yang kini menjadi suaminya itu." bisa jadi tuh sayang, Makanya dia berani melawan sama kamu." ucapnya semakin membuat hati Denis terbakar.


" kurang ajar! Jika benar dia melakukan hal itu, Maka jangan harap keluarganya bisa selamat." Ucap penuh dengan amarah.


Hal itu membuat Latika yang mendengarnya, seketika tersenyum penuh kemenangan. Kemudian menarik lengan Denis dan membawanya ke dalam mobil.


*****


Sementara itu di tempat lain, Windia tampak menangis sesenggukan. karena tak menyangka dengan hal yang baru saja terjadi padanya itu.


" Sudahlah Windia, kamu tidak perlu menangis lagi. Yang penting kamu sudah terselamatkan" ucap dokter Anjani Seraya mengelus pundak wanita itu.


Windia yang mendengarnya, seketika mendongak menatap ke arah dokter Anjani dengan wajah sembabnya." Saya takut dok, bagaimana kondisi ayah saya." ucap Windia dengan deraian air mata.


dokter Anjani yang mendengarnya, segera duduk di sebelah wanita itu." kamu tenang saja, Nyonya Vega dan juga tuan Robert pasti tidak akan tinggal diam. mereka pasti akan membantu kamu." ucapnya menenangkan.


" tapi Dok, mereka selama ini hanya terdiam saja. bahkan saat saya mengalami kekerasan, mereka hanya terdiam saja." ucapnya Seraya mengusap air mata yang mengalir itu.


dokter Anjani yang mendengarnya, tersenyum tipis ke arah Windia." mereka diam karena kamu masih istri Denis. karena prinsip mereka tidak ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga orang lain. namun sekarang, kamu sudah tidak tinggal di situ lagi. otomatis Nyonya Vega akan segera membantumu." ujarnya tersenyum tipis.


Seketika itu pula, Windia yang masih tidak mengerti dengan ucapan dokter Anjani, hanya bisa mengangguk Seraya tersenyum tipis.


Kemudian, dokter Anjani memanggil Reni untuk segera membawa Windia ke kamarnya. Karena, dirinya harus beristirahat untuk memulihkan tenaganya.

__ADS_1


Setelah dirasa Windia masuk ke dalam kamar, dokter Anjani dengan segera menyambar ponsel yang ada di hadapannya itu.


__ADS_2