Aku Bukan Pelayanmu

Aku Bukan Pelayanmu
Harus Bahagia


__ADS_3

beberapa bulan kemudian,....


kini Windia tampak lebih bahagia dengan status barunya itu. Wajah wanita beranak satu itu, kini tampak lebih berseri. dan tubuhnya pun, tampak lebih berisi.


Setiap hari pun, dokter Anjani dan juga Darius, selalu mengunjungi Windia dan juga baby Naomi yang sudah tampak lebih aktif. karena gadis kecil itu, sekarang ini sudah belajar berjalan.


Kini, Windia memutuskan untuk tinggal di sebuah rumah kontrakan yang tidak terlalu mahal. tanpa dirinya ketahui, jika rumah itu telah dibeli Darius secara diam-diam.


Karena Windia sangat menolak dengan keras bantuan apapun dari laki-laki itu. bukan karena tidak suka, tapi karena tuduhan yang dilontarkan oleh Dennis beberapa kali.


" Oh pantes aja kamu ingin segera berpisah dariku, ternyata ini alasannya," ucap Denis mencibir Seraya melirik sinis ke arah Windia. saat mereka tak sengaja bertemu di sebuah supermarket.


Windia yang mendengarnya, segera menatap tajam ke arah laki-laki itu." maaf tuan, tapi tuduhan yang Anda berikan itu tidak ada buktinya." ucapin dia dengan menahan segala rasa di dadanya.


Mendengar hal itu, Denis malah semakin menatap India dengan tatapan merendahkan. kemudian, laki-laki itu menepuk pundak Darius yang memang saat itu, Tengah menemani Windia untuk berbelanja kebutuhan dapurnya.


" semoga kau bahagia, karena telah merebut apa yang menjadi milikku." ucap Denis dengan tersenyum sinis.

__ADS_1


Windia yang mendengarnya, seketika ternganga. Wanita muda itu seakan terperangah kaget saat laki-laki yang berstatus mantan suaminya itu, berkata demikian.


" nggak tahu diri, Dasar buaya." ucapnya Seraya mendengus kesal. dan dengan segera, meninggalkan area supermarket saat sudah memenuhi belanjaannya.


Sejak saat itulah, Windia menolak berbagai pertolongan yang diberikan Darius padanya. karena dirinya takut, akan kembali mendapatkan omongan miring dari mantan suaminya.


" kalian kemari lagi?" tanya Windia dengan raut wajah tak sukanya. hal itu tentu saja membuat dokter Anjani dan juga Darius, seketika Saling pandang.


" kamu Kenapa Win, kok seperti tidak menyukai kami datang kemari?" Tanya Dokter Anjani dengan raut wajah keheranan.


Seketika itu pula, dokter Anjani yang mendengarnya, seketika terkekeh pelan. hal itu tentu saja membuat Windia yang melihatnya, seketika mengerutkan alis karena merasa bingung.


" Kenapa kalian tertawa, ada yang lucu ya,?" tanya wanita itu dengan raut wajah kebingungan. dokter Anjani dan Darius yang mendengarnya, seketika menggelengkan kepala.


" kamu yang lucu, kamu sama Denis itu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi untuk apa kamu merisaukan hal itu?" tanya Darius dengan masih terkekeh pelan.


Windia yang mendengarnya seketika tersipu malu. dirinya menepuk keningnya sendiri untuk beberapa kali guna menetralkan rasa malunya.

__ADS_1


" Oh iya saya kok lupa ya," ucapnya Seraya terkekeh pelan. kemudian hal itu diikuti oleh dokter Anjani dan juga Darius.


" kamu lucu banget sih," ucap Darius yang merasa gemas dengan tingkah wanita yang ada di hadapannya itu.


Mendengar hal itu, Windia segera menemukan kepala karena merasa malu dengan tingkahnya sendiri.


" Sepertinya kalian cocok." celetuk dokter Anjani Seraya menahan tawa karena melihat wajah Darius dan juga Windia seketika memerah karena merasa malu.


" ah dokter bisa aja, mana mungkin pengusaha seperti dia mau bersanding dengan wanita yang sudah memiliki anak? dia itu cocoknya sama dokter Anjani" ucap Windia tersenyum tipis.


" kamu lupa ya, saya kan juga janda." ucap dokter Anjani pelan. hal itu tentu saja membuat Windia seketika tertegun.


Ada rasa tidak enak yang menyelinap masuk ke dalam hatinya. saat dirinya tak sengaja mengatakan hal itu.


" Maafkan saya, saya tidak sengaja mengatakan hal itu." ucap Windia Seraya menatap dokter Anjani dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Dokter Anjani yang melihat itu, seketika terkekeh pelan." tidak apa-apa, lagi pula, saya sudah mengikhlaskan kejadian itu." ucapnya dengan tersenyum lembut

__ADS_1


__ADS_2