Aku Bukan Pelayanmu

Aku Bukan Pelayanmu
Sedikit Merasa Tenang


__ADS_3

Satu minggu kemudian, keadaan Windia sudah semakin membaik. dan kondisi janin yang ada di dalam perutnya, juga sudah mulai aktif menendang-nendang.


Malam ini dokter Anjani akan pergi ke kliniknya. karena wanita itu baru saja dihubungi oleh seseorang karena ada ibu yang sedang ingin melahirkan.


" Windia, Saya mau pergi sebentar ya Ada yang mau melahirkan di klinik saya." ucapnya Seraya meraih Jas putih yang bertengger di kursi meja makan kemudian bergegas melangkah pergi dari sana.


Sementara Windia yang mendengarnya, seketika menganggukkan kepala kemudian melanjutkan acara makannya.


Setelah selesai makan malam, Windia bergegas kembali ke kamar. Kemudian membaringkan diri di sana.


Dirinya merasa seperti lebih baik berada di sini. terbukti dengan janin yang ada di perutnya sangat aktif dan juga lincah. berbeda dengan satu minggu yang lalu saat baru pertama kali diperiksa.


janinnya masih terlihat kecil dan seperti tidak lincah di dalam perut ibunya. Hal itu membuat dokter Anjani segera memberikan resep vitamin dan juga penambah nafsu makan pada dirinya.


hingga membuat Windia kini sangatlah memakan semua makanan yang ada di hadapannya. Bahkan, wanita itu tidak merasakan mual sedikitpun Saat trimester pertama dan sekarang menginjak trimester kedua.


Mungkin janin yang ada di perutnya tahu jika kedua orang tuanya sedang tidak baik-baik saja. Hal itu membuat Windia sangat bersyukur diberikan karunia yang sepengertian ini.


" sayang, kamu sangat pengertian sekali. kamu tahu kalau ibu dan Ayahmu tidak pernah akan bisa akur dan bersatu. jadi kamu harus tetap kuat seperti ini Iya sayang." ucapnya Seraya mengusap perutnya sendiri yang sudah semakin membesar.


Setelahnya Windia benar-benar terlelap karena memang tubuhnya kini mudah lelah. mungkin efek dari kehamilannya ini.


****


Sementara itu di sebuah rumah mewah yang ada di kota tempat seseorang itu praktek, terlihat seseorang yang memakai baju kebesaran dari suatu instansi Tengah duduk di sebuah kursi panjang dan di hadapannya, setengah duduk dua orang berlawanan jenis dengan menatapnya intens.


" jadi bagaimana keadaan menantu saya dokter?" tanya wanita baru bayi yang tak lain adalah Vega. ibu mertua dari Windia.


" Nyonya tenang saja, semua sudah baik-baik saja dan calon cucunya pun kini sudah semakin aktif dalam perut ibunya." dokter Anjani dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


Sontak saja hal itu membuat Vega dan juga Robert yang mendengarnya, menghembuskan nafasnya lega. karena, mengetahui menantu dan calon cucunya ternyata baik-baik saja.


" syukurlah dok, Saya minta anda tetap mengawasi menantu kami. dan segera beritahu kami jika ada sesuatu hal yang kurang baik." ucap laki-laki paruh baya itu Seraya memberikan sebuah cek pada dokter itu.


Dengan segera dokter Anjani menerima cek itu dan memasukkannya ke dalam tas." Terima kasih Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu" ucapnya Seraya bangkit dari duduknya.


Yap selama ini, diam-diam Vega dan juga Robert diam-diam memberikan bantuan pada Windia melalui tenaga dokter muda itu. Vega sengaja menyuruh dokter Anjani untuk membuka praktek di klinik terdekat dari rumah Denis.


Dengan tujuan mengawasi menantunya itu lari jarak jauh. hal itu setidaknya membuat Vega dan juga Robert merasa sedikit tenang meninggalkan Windia bersama dengan dokter Anjani.


Karena memang, Mereka berdua adalah tipe-tipe orang yang tidak ingin ikut campur masalah orang lain. Walaupun masalah itu adalah masalah anak dan menantunya.


" Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih dok. Semoga, menantu kami aman bersama anda." ucap Vega Soraya menyalami dokter Anjani.


Akhirnya dokter muda itu memutuskan untuk undur diri dan kembali ke rumahnya. karena memang, Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Dan itu artinya, proses persalinan sudah selesai.


Itu sebabnya, Vega sama sekali tidak ingin membantu menantunya secara terang-terangan. karena takut, nantinya Windia akan merasa ketakutan.


" sekarang kita bisa tenang mah, nama menantu kita sudah di tangan orang yang tepat." ucap Robert dengan ekspresi wajah leganya.


Vega yang mendengarnya, menganggukkan kepala." mama hanya berharap, semoga Denis segera menyesal dengan apa yang ia berbuat pada Windia." ucapnya penuh dengan emosi.


Mereka akhirnya kembali ke kamar untuk istirahat karena memang hari ini sudah larut malam.


********


sementara itu, di lain tempat tepatnya di rumah dokter Anjani, Windia tampak belum memejamkan mata. wanita itu tampak sekali sedang gelisah. apa yang ia pikirkan.


" astaga, kenapa aku ini kenapa gelisah sekali,?" tanyanya Seraya membolak-balikkan posisi tidurnya.

__ADS_1


tak lama berselang, terdengar suara Deru mesin mobil yang memasuki garasi rumah itu. dengan segera Windia bergegas membuka pintu.


" huh syukurlah dokter tidak apa-apa" ucap Windia Seraya membuka pintu dan menghampiri dokter muda itu. Hal itu membuat dokter Anjani seketika mengerutkan kening karena merasa heran.


" memangnya kamu kenapa?" Tanya Dokter Anjani keheranan.


Windia yang mendengarnya menggelengkan kepala." Saya juga tidak tahu kenapa dok, tadi itu perasaan saya tidak enak. Tapi sekarang sudah baik-baik saja." ucapnya tersenyum tipis.


Setelahnya mereka sama-sama beristirahat di kamar masing-masing. pagi hari pun menampakan diri. Matahari tampak malu-malu menampakan wujudnya.


Hari semakin merasa sejuk dengan kehadiran awan mendung yang menyelimuti langit. Terlihat, dokter Anjani dan Windia sedang menikmati sarapan pagi mereka.


tampak di meja makan makanan yang sangat bergizi untuk ibu hamil. Ayam ikan dan juga sayur bening yang ada di depan matanya.


mata Windia seketika berbinar saat melihat jeritan makanan itu." Silakan dimakan nona, ini Saya pesankan dari restoran nama di kota ini." ngejarnya Soraya mengambil nasi ke dalam piringnya.


Mereka makan dengan begitu lahapnya. dan setelahnya, dokter Anjani pamit akan kembali bertugas di klinik itu.


" dok, sekali lagi saya berterima kasih atas pertolongan anda." ucap Windia tersenyum Tulus.


dokter Anjani yang mendengarnya, mengulas senyum tipis." kalau mau berterima kasih, Sebenarnya bukan pada saya. tapi pada,..." belum sempat dokter Anjani melanjutkan kata-katanya, ponselnya sudah kembali berdering.


"eumm, saya harus pergi sebentar ya karena ada pasien lagi di klinik. kamu kalau mau apa-apa tinggal pakai aja di sini lengkap." ujarnya tersenyum tipis.


Windia yang mendengarnya, menganggukkan kepala kemudian mengantarkan dokter muda itu. hingga sampai mobilnya Tak Terlihat Lagi dari rumah itu.


Setelahnya, Windia kembali ke dalam rumah untuk membersihkan bekas mereka makan. karena memang, dokter Anjani tidak memperkerjakan seorang asisten rumah tangga di rumahnya.


Sehingga membuat mereka mengerjakannya secara mandiri. setelah selesai mencuci piring dan gelas, Windia menuju ke ruang tengah untuk menonton televisi.

__ADS_1


__ADS_2