
Hari ini, tapat satu bulan kelahiran bayi perempuan yang diberi nama, Naomi Gendhis Adzkia. Arti lengkap dari nama Naomi Gendhis Adzkia adalah anak perempuan yang cantik, manis, dan cerdas.
Hal itu tentu saja membuat Windia yang memang menyiapkan nama itu, merasa sangat bahagia. Sesekali, wanita itu mengecup pipi gembul baby Naomi.
Windia begitu bersyukur saat ini. karena mendapati, rezeki yang berlimpah dari Tuhan. Dengan hadirnya Naomi di sisinya.
" Win, kamu mau ikut apa enggak?" Tanya Dokter Anjani yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.
hal itu tentu saja membuat Windia yang tengah bermain dengan baby Naomi itu, seketika tercingkat kaget." Astaga dokter ngagetin aja," serusnya Seraya mengelus dada karena merasa kaget.
sementara dokter Anjani yang mendengarnya, hanya terkekeh pelan. kemudian, menatap ke arah seorang bayi perempuan yang tengah mengoceh sendiri itu.
" kamu nggak ada niatan untuk mencoba menemui suami kamu?" Tanya Dokter Anjani Saraya duduk di tepi ranjang dekat dengan baby Naomi.
Mendengar hal itu, lagu India yang tengah sibuk bermain dan bercengkrama dengan baby Naomi, seketika mendongak menatap wajah dokter Anjani dengan ekspresi wajah serius.
" Memangnya kenapa dokter bertanya seperti itu?" Tanyain dia sedikit gelisah. karena dirinya berpikir, jika dokter muda itu Tak ingin lagi menampungnya.
" Apakah Dokter sudah tidak ingin menampung Saya lagi, Kalau iya, biar saya pergi dari sini." karena Windia memang sadar diri. dirinya merasa hanya akan menjadi beban orang banyak. jika terus-terusan, berada di sini.
Dengan secepat kilat, dokter Anjani menggelengkan kepala. Seraya menggenggam tangan Windia." tidak sama sekali, kau tidak memiliki beban apapun." ucapnya dengan ekspresi wajah serius.
Hal itu membuat Windia yang mendengarnya, seketika menganggukkan kepala. karena memang, Windia dapat merasakan dan melihat ketulusan itu dari mata dokter Anjani.
" aku hanya ingin, suamimu itu tahu, kalau kamu itu sudah memiliki anak darinya." ucap dokter Anjani dengan suara lembut.
Membuat Windia yang mendengarnya, menatap baby Naomi dengan tatapan sendu." Aku hanya tidak ingin, jika orang psikopat itu tahu, makan nantinya bayi ini akan diambil olehnya." ucap Windia dengan mengusap air matanya.
__ADS_1
Dengan segera, dokter cantik itu menggelengkan kepala. pertanda apa yang dikatakan oleh Winda itu tidak benar." itu tidak akan pernah terjadi Windia, Percayalah" ucapnya tersenyum simpul.
Namun, kali ini Windia tidak merasa tenang dengan jawaban yang dilontarkan oleh dokter muda itu. dirinya Malah semakin yakin, jika keberadaan baby Naomi harus disembunyikan.
" sayangnya, Saya tidak merasa tenang dengan jawaban dokter. karena apa, karena mereka memiliki uang. yang bisa mengubah segalanya." ucapnya Seraya menghela nafas panjang.
Dokter Anjani yang mendengarnya, seketika termenung di tempatnya saat ini. Bagaimana dirinya bisa lupa, jika di dunia ini pasti akan terselesaikan jika ada uang dibalik itu.
"hmmm, Baiklah kalau begitu, Bagaimana kalau kita sekarang, berjalan-jalan saja. Kebetulan, Nyonya Vega dan juga tuan Albert akan datang kemari." ucap dokter Anjani memilih untuk tidak melanjutkan percakapannya itu. dan memilih untuk mengganti topik pembicaraan.
Mendengar kata jalan-jalan, Entah mengapa membuat Windia sedikit antusias. dengan segera, wanita itu berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
karena memang, dari pagi Windia belum sempat untuk membersihkan diri. karena sibuk dengan mengurus baby Naomi.
***
hal itu semakin membuat, bayi cantik itu terlihat begitu menarik. apalagi, baju dan segala aksesorisnya itu, dibelikan oleh Vega dan juga Robert.
Hal iu membuat kedua manusia paruh baya itu, seketika tersenyum tipis. saat menyadari, cucu mereka memakai baju dan juga sepatu yang mereka beli.
" cantik bangt Cucu prtamaku, kulitnya yang putih, semakin bersinar dengan baju berwarna biru,"ucap Robert dengan mengangkat baby Naomi ke udara.
hal itu tentu saja membuat bayi yang baru berusia 1 bulan itu, seketika terkekeh pelan. Seraya menepuk-penapukan tangan mungilnya di pipi laki-laki yang nantinya akan dipanggil "Grandpa" itu
Setelah bermain Cukup puas dengan bayi mungil itu, Robert dan juga Vega segera mengajak Windia dan juga Dokter Anjani untuk segera berangkat.
Karena, Rencananya hari ini mereka akan jalan-jalan di sebuah pantai yang ada di kota ini. Sekalian membuat pikiran menantu mereka itu menjadi fress kembali.
__ADS_1
" Mom, Dad, bagaimana keadaan Ayah ?" tiba tiba saja, Windia bertanya seperti itu. Yang membuat mereka berdua terdiam.
Windia Malah semakin merasa khawatir dengan terdiamnya kedua orang tua dari Denis itu. Seketika, berkelibatlah bayangan-bayangan tentang ancaman Denis hari itu.
Mendadak, tubuh Windia bergetar hebat karena menahan tangis. Rasanya, saat ini juga, Windia ingin menangis sejati jadinya.
Mengapa, keluarganya tak pernah dianggap sama sekali oleh orang lain. Bahkan, ejekan dan juga olok-olokan, seringkali menghampiri keluarga Windia Sedari Dulu.
Tentu saja hal itu membuat Windia sedikit menaruh rasa kebencian pada orang-orang yang telah menyakitinya itu.
" Tenanglah nak, Ayahmu akan baik-baik saja. asalkan,..." ucapan Vega menggantung di udara. hal itu semakin membuat Windia merasa ketakutan.
" tapi apa, apapun Apapun akan saya lakukan untuk menyelamatkan ayah saya." ujarnya dengan cepat Seraya menatap ke arah kedua mertuanya secara bergantian.
" nanti saja, nanti Mommy yang akan ceritakan semuanya padamu, sekarang, kamu harus merilekskan tubuhmu dengan berlibur ke pantai." ucap Vega Seraya mengelas senyum tipis.
Windia yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala. kemudian, dengan segera menatap ke arah baby Naomi yang tengah tersenyum lebar itu.
" bahagia banget nih, anak bunda. dari tadi, ketawa terus," ujarnya Seraya mencium pipi gembul bayi itu dengan gambarnya.
Windia mencoba tetap tersenyum. walaupun, hatinya begitu gelisah. Apalagi, mendengar ucapan dari ibu mertuanya Yang sepertinya belum selesai itu.
tak lama berselang, mobil yang ditumpangi oleh Windia dan juga kedua mertuanya itu, kini telah sampai di sebuah pantai yang sangat indah.
Hal itu seketika membuat Windia melupakan sejenak masalahnya. dengan segera, Ibu satu anak itu, keluar dari dalam mobil dengan menggendong baby Naomi. menggunakan gendongan depan.
" bagus kan tempatnya?" tanya Vega Soraya mana pundak dari Windia. hal itu tentu saja membuat wanita yang tengah menggendong anak itu, seketika menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
Windia menganggukkan kepalanya seraya kembali menatap lurus kedepan. Mengagumi sebuah mahakarya yang di ciptakan oleh Tuhan. Jadi, nikmat mana lagi yang kau dustakan