
setelah selesai bersiap-siap, lagu India segera berpamitan pada sang ayah. yang senantiasa berbaring di kamarnya.
karena memang laki-laki paruh baya itu, pernah bisa bangun kembali. dengan perlahan, gadis itu menghampiri Edward sang ayah yang masih memejamkan mata.
" ayah, Windia berangkat kerja dulu ya, jangan lupa obatnya diminum. nanti sebentar lagi, Rose akan segera pulang," ucapnya serayan menyunggingkan senyum tipis.
Edward yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala. kemudian tangannya terulur dan dengan perlahan menggenggam tangan Windia.
" kamu hati-hati ya, ingat Dalam keadaan terdesak sekalipun, Jangan pernah kau menjual harga dirimu. apalagi jika itu hanya demi uang." tiba-tiba saja sang ayah berpesan seperti itu.
hal itu tentu saja membuat Windia sedikit tersentak kaget. bagaimana ayah bisa tahu, jika dirinya hampir saja menyerah dan mengikuti saran Qnnabella untuk meminta pertanggungjawaban dari keluarga Bu Vega,
Akhirnya, dengan segenap hati dan jiwanya dan juga tekad dan dari dorongan sang ayah, akhirnya Windia memutuskan untuk mengubur keinginan bodohnya itu.
lagi pula, dirinya juga akan merasa malu jika minta hal sekonyol itu pada keluarga Bu Vega. Apalagi, wanita paruh baya itu telah berbaik hati memberikan pekerjaan padanya.
Bukan Tanpa Alasan berkeinginan untuk meminta pertanggungjawaban dari keluarga Bosnya itu. selain karena desakan dari sang adik, juga karena Windia sudah merasa tak tahan dengan kondisi sang ayah yang masih Tak memiliki perubahan apapun.
Namun, akhirnya Windia sadar. jika Apa yang dia lakukan itu sangatlah salah Dan juga sangatlah lancang. Bisa-bisa, dirinya akan langsung masuk ke dalam jeruji besi jikalau keluarga Bosnya itu tak terima.
Dengan menarik nafasnya sedalam mungkin, akhirnya Windia membulatkan tekad untuk membuang jauh-jauh pikiran itu.
Dirinya, kemudian berangkat menggunakan angkot seperti biasa. dan di dalam angkot itu, sesekali mata penumpang menatap senis ke arah dirinya.
Dirinya juga sadar betul penumpang di dalam angkot itu pasti telah memandangnya dengan pandangan yang sangat merendahkan. karena berani-beraninya menggoda anak pemilik restoran terbesar di kota itu.
" Oh ini orang yang kemarin dikabarkan berciuman dengan Tuan Denis,?" tanya salah seorang penumpang dengan nada sinisnya.
sementara penumpang yang lain, ikut menatapnya dengan tatapan senis pula. hal itu tentu saja membuat Windia, dihinggapi rasa malu yang sangat teramat dalam.
__ADS_1
Bagaimana, Bagaimana dirinya bisa menjelaskan jika apa yang mereka lihat itu tidaklah benar melainkan mereka hanya berpapasan yang terlalu dekat.
Namun sepertinya Percuma saja. karena pasti mereka tidak akan pernah mempercayai hal itu. Hal itu membuat Widya sepertiga hanya terdiam Seraya menundukkan kepala.
tak lama berselang, angkot yang ditumpangi oleh Windia telah sampai di depan restoran tempat ia bekerja.
dengan segera gadis cantik itu masuk ke dalam restoran. dan seperti Dejavu, Windia kembali mendapati tatapan sinis dan juga merendahkan yang ia terima dari sebagian karyawan yang ada di sana.
Apalagi, sebagian karyawan itu juga ikut menyaksikan peristiwa itu. Hal itu membuat mereka, merasa iri. dan ingin berada di posisi Windia.
" dasar ya kamu, nolak saya Eh malah menggaet anaknya Bos. Saya kira kamu nggak mau karena saya tua, eh ternyata karena saya miskin." ucap Ello dengan nada merendahkannya.
" Oh jadi dia menolak bapak,?" tanya salah seorang karyawan yang entah Sejak kapan ikut nimbrung. dan hal itu dibalas anggukan oleh Ello.
" Oh ya mungkin Bapak kurang kaya kali." ucapnya ikut mengejek. hal itu tentu saja membuat Windia, mengepalkan tangannya karena merasa geram.
bukannya merasa takut, mereka semua Malah semakin merendahkan Windia." ih Saya kira Mbak Windia itu orangnya polos loh, eh nggak taunya kok puas banget." cibir yang lainnya.
hal itu tentu saja membuat Windia yang mendengarnya, menatap nyalang ke arah karyawan yang baru saja menghinanya itu.
Tangannya terangkat ke atas hendak menampar mulut gadis yang berani-beraninya menghinanya itu. namun gerakan tangannya terhenti dan segera dipelintir ke belakang oleh karyawan itu.
" Eh mbak Windia nggak usah marah kali, kalau nggak merasa ngelakuin itu nggak usah emosi." ucapnya Seraya mendorong kasar tubuh Windia.
hal itu tentu saja membuat Windia sedikit meringis kesakitan. dan tak lama berselang, salah satu dari mereka menyerukan sesuatu.
" eh eh bubar yuk ada Bu Vega tau nggak nanti ni cewek ngadu lagi." ucapnya Seraya bergegas menuju dapur.
diikuti oleh para karyawan yang lain. mereka segera melaksanakan aktivitas masing-masing. hingga tampak suasana seperti biasa. dan berusaha menutupi sehingga tak pernah ada kejadian apapun.
__ADS_1
dan benar saja, tak lama berselang Bu Vega bersama Denis datang menghampirinya." Windia kamu baru saja datang kan?" tanya wanita paruh baya itu.
Dengan menundukkan kepala, Windia mengangguk pelan. hal itu tentu saja membuat dua orang yang ada di hadapannya, merespon dengan ekspresi yang berbeda.
jika Bu Vega merespon dengan senyuman yang merekah di wajah sedikit keriputnya. berbeda dengan Denis, laki-laki itu menatap gadis yang ada di hadapannya dengan tatapan berang.
" ini semua gara-gara lu" ucapnya geram dalam hati. kemudian, Bu Vega menarik tangan kedua manusia berbeda jenis itu untuk masuk ke dalam ruangannya.
kontan saja hal itu semakin membuat para karyawan membenci Windia. mereka mulai mengarang-ngarang cerita. dan menyebarkannya.
hingga semua orang, jini menatap Windia dengan tatapan merendahkan.
*****
Sementara itu di dalam ruangan, Windia dan juga Denis sedang didudukkan di kursi yang sama. Namun demikian, baik Denis maupun Windia, tak pernah ada yang membuka suara.
" Windia, saya membawa kamu ke sini ingin mengatakan bahwa besok hari Minggu, kamu akan menikah dengan Denis." ucap Bu Vega tenang.
kontan saja, hal itu membuat Widia membulatkan matanya dengan sempurna. dirinya tidak menyangka wanita yang baru beberapa hari ia kenal itu, bisa mengatakan hal seperti itu.
" maksud Bu Vega apa,?" tanya Windia yang masih tak mengerti. hal itu tentu saja membuat Vega tersenyum tipis.
" jangan khawatir nak, semua pasti akan baik-baik saja. Besok hari Minggu, kamu hanya perlu berdandan yang cantik." ucapnya tersenyum tipis.
hal itu tentu saja membuat Windia, yang awalnya ingin menolak, akhirnya terpaksa menerima. Gadis itu pun hanya mengangguk lemah.
hal itu tentu saja membuat Denis yang ada di sampingnya seketika menatap tajam ke arah Windia" Astaga bisa-bisanya dia menerima permintaan konyol mommy," ucapnya dalam hati dengan kesal.
mendapati tatapannya seperti itu, membuat Windia menemukan kepala ketakutan.
__ADS_1