
Setelah Windia memakan cemilannya itu, dokter Anjani segera membawa Windia ke dalam kliniknya. Di dalam sana, dokter wanita itu menyarankan Windia untuk memeriksa kandungannya.
" maaf nona, lebih baik anda segera memberi zakat kandungan anda ke rumah sakit." ujar dokter Anjani seraya tersenyum tipis.
Mendengar hal itu, Windia segera menundukkan kepala dengan takut wajah sedihnya." maaf tetapi saya tidak punya uang," ucapnya dengan lirih.
Dokter Anjani yang mendengarnya, tersenyum tipis." nona tidak usah khawatir, saya akan memberikannya dengan percuma." ucapnya seraya bangkit dari duduknya.
hal itu tentu saja membuat Win dia yang mendengarnya, menitikan air mata karena merasa terharu dengan pertolongan Tuhan ini.
" terima kasih ya Tuhan, engkau sudah mengabulkan doaku dengan mengirimkan orang baik di dalam hidupku ini." ujarnya seraya mengantupkan kedua tangan di depan dada.
Tak lama berselang, dokter Anjani datang dengan membawa alat usg di tangannya. dan meminta Windia untuk segera berbaring di tempat tidur.
setelahnya, dokter wanita itu segera mengoleskan gel di atas perut Winda. kemudian mengarahkan alat usg itu di atas perutnya. hal itu membuat Windia, seketika merasa terharu karena mendengar detak jantung dari janinnya ia kandung.
”sepertinya, kandungan anda sudah menginjak usia 3 bulan. tapi sayangnya, sepertinya kondisinya begitu lemah karena sepertinya, anda belum pernah mendapatkan nutrisi yang cukup." ucapnya Seraya melepaskan alat USG itu dari perut Windia.
Seketika itu pula, air mata Windia seketika mengalir tanpa henti karena memang, apa yang di katakan oleh Doktet itu sungguh benar.
Bagaimana dirinya mendapatkan nutrisi yang cukup, jika selama ini saja, ia jarang sekati di Beri makan oleh Denis dan juga Latika.
Sementara dokter Anjani yang melihatnya, hanya menatap Windia dengan tatapan prihatin. dan dengan segera, meraih sebuah nasi kotak yang tergeletak di atas nakas tempat ia berbaring.
Dengan segera, dokter muda itu memberikan nasi kotak itu pada Windia. Sementara itu Windia hanya kebingungan." ini apa Dok?" tanya Windia Seraya menatap nasi kotak yang ada di tangannya dan menatap dokter Anjani secara bergantian.
dokter Anjani yang mendengarnya, tersenyum tipis." makanlah, itu pemberian dari warga sini tadi waktu menunjukkan jam tujuh malam, ada lauk bergizi di dalam sana." ucapnya Seraya menunjuk ke arah nasi kotak itu.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Windia seketika merasa sangat terharu. Karena di saat dirinya susah seperti ini, masih ada pertolongan Tuhan berupa orang baik seperti dokter Anjani ini.
" Terima kasih dok, semoga kebaikan anda akan menjadi pahala." ucap Windia Seraya berkaca-kaca. Hal itu membuat dokter Anjani yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis.
*****
Setelah Windia menyantap makanan itu, kondisi tubuhnya perlahan-lahan mulai membaik. Kemudian, dirinya menatap ke arah dokter Anjani dengan sesekali meremas kedua tangannya.
" ada apa?" Tanya Dokter muda itu. karena melihat, Windia tampak begitu cemas.
Windia yang mendengarnya, tersenyum kikuk. Kemudian, memberanikan diri untuk berkata sesuatu pada dokter muda itu.
"ummm, Maaf dok di sini apa ada rumah kecil untuk saya tinggali?" tanya Windia sedikit merasa tidak enak. karena sudah berkata lancang pada orang yang tidak dia kenal.
Namun mau bagaimana lagi kondisinya benar-benar sangat membutuhkan kali ini. dokter Anjani yang mendengarnya, sesaat terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
Akhirnya setelah menimbang cukup lama, dokter Anjani akhirnya memberikan tempat tinggal pada Windia. hal itu membuatnya sangat bahagia.
Namun menurut Windia hal itu tidak masalah asalkan ada tempat untuk berteduh dari sinar matahari dan juga Angin Malam.
Tepat pukul empat pagi, Windia dan dokter Anjani bergegas untuk segera pulang ke hunian yang akan ditempati oleh Windia. dan tak lama berselang, mereka berdua telah sampai di sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu itu.
Sebenarnya dokter Anjani merasa tidak enak saat menawarkan tumpangan yang menurutnya tak layak untuk orang lain.
" Maaf ya nona, rumahnya memang seperti ini. Walaupun tidak layak huni. tapi setidaknya, bangunan ini masih bisa untuk menghalau teriknya matahari dan juga derasnya air hujan." ucap dokter Anjani dengan ekspresi wajah tidak enaknya.
Windia yang mendengarnya, menyunggingkan senyuman tipis." tidak masalah dokter, saya Justru malah semakin senang dan saya ucapkan terima kasih. karena ini sudah lebih dari cukup untuk saya." ucapnya Seraya mengusap air mata.
__ADS_1
Windia merasa sangat terharu karena ternyata pertolongan Tuhan itu nyata. Buktinya, masih ada orang baik yang mau menolongnya. Padahal mereka tidak saling mengenal.
" Ya sudah kalau begitu, Saya permisi pulang dulu." ucapnya hendak melangkah pergi. Namun, tiba-tiba terhenti saat mendengar pertanyaan dari Windia.
"eum maaf Dok, Memangnya Ini rumah siapa?" Tanyain dia sedikit agak sungkan. karena menurutnya pertanyaan itu tidaklah sopan.
" Oh ini sebenarnya rumah dinas yang harus saya tempati. karena saya memang bukan orang sini. Tapi, Saya memilih untuk membeli rumah yang tidak jauh dari sini." ucapnya Seraya tersenyum tipis.
" Memangnya rumahnya ada di mana?" tanya Windia sopan.
" rumah saya ada di Jalan Kenanga nomor 10." ucapnya Seraya melangkah pergi dari sana.
" sekali lagi terima kasih dok," ucapnya sedikit agak berteriak karena dokter Anjani sudah sedikit jauh dari rumah itu.
selepas kepergian dokter Anjani, Windia segera masuk ke dalam bangunan yang sangat kecil itu. Windia dengan segera membersihkan lantai yang sedikit agak berdebu itu.
Mungkin bagi semua orang rumah ini tidak layak huni. namun, menurutnya ini sudah lebih dari cukup. yang terpenting bisa terhindar dari teriknya matahari dan juga terhindar dari bunyinya air hujan itu lebih dari cukup.
Setelah selesai membersihkan lantai. Windia segera membersihkan dirinya. Karena memang, jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi.
Setelah selesai mandi, Windia mencoba untuk masuk ke dalam dapur. di sana dirinya sangat tercengang karena. banyak sekali bahan makanan yang sepertinya masih sangat baru.
Sesaat Windia tampak Bimbang. Apakah harus menggunakan bahan makanan ini atau tidak.
Namun rasa kram di perutnya, memaksa wanita itu untuk menggunakan bahan makanannya yang ada di dapur tersebut.
selang beberapa saat, masakan itu akhirnya jadi. Windia hanya menggunakan bahan makanan seadanya. yaitu segelintir bayam dan juga setengah tempe. dan juga satu gelas beras.
__ADS_1
Windia juga segera mencuci bekas-bekas dirinya masak dan meletakkannya di tempat yang semula. Setelah semuanya matang, wanita hamil itu segera meletakkan di piring yang telah dialasi dengan daun pisang.
Karena dirinya benar-benar takut jika dokter Anjani akan marah padanya karena menggunakan peralatan rumah seenak dia.