Aku Bukan Pelayanmu

Aku Bukan Pelayanmu
Bertahan


__ADS_3

seminggu setelah kejadian itu, Denis dan juga Windia sama sekali tidak pernah bertegur sapa. walaupun mereka berada dalam satu rumah yang sama.


Hal itu membuat Windia seringkali menangis karena merasakan rasa rindu. Entahlah, semenjak ia hamil dirinya menjadi Semakin rapuh.


Apalagi saat ini di dalam rahimnya telah tumbuh seorang malaikat kecil. yang nantinya Windia berharap bisa menjadi penolongnya.


Seperti pagi ini, setelah sarapan tiba-tiba saja Windia menghampiri Denis yang indah Tengah bersiap-siap untuk berangkat kerja.


" tunggu sebentar," ucapnya Seraya merentangkan tangan mencoba mencegah laki-laki itu agar tidak segera pergi. hal itu tentu saja membuat Denis yang melihatnya, menatap penuh rasa heran.


"Minggir! Ucapnya dengan membentak dan sedikit mendorong tubuh Windia. hingga membuat wanita yang telah hamil itu, terhuyung ke belakang.


dengan tanpa rasa peri kemanusiaan, Denis segera melangkah hendak menuju mobil. Namun dengan cepat, Windia memeluk tubuh laki-laki itu. kemudian, dengan cepat membenamkan wajahnya di dada bidang milik Denis.


Hingga beberapa saat kemudian, mereka masih sama-sama terdiam. Windia terdiam dengan ketenangan jiwanya. sementara Denis terdiam karena merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu.


Hingga setelah beberapa saat, Denis tersadar dari lamunannya. Dengan segera dan tanpa perasaan, laki-laki itu mendorong tubuh Windia. hingga wanita yang tengah mengandung itu, seketika terbentur pinggiran meja.


hingga membuat wanita cantik itu meringis kesakitan. Sementara Denis menatapnya dengan Tatapan yang sangat tajam.


" Apa yang kau lakukan Hah?! kau coba menggodaku? dasar wanita si4l4n, wanita mur4h4n!" Denis berkata Seraya memaki wanita itu.


hingga membuat Windia seketika menundukkan kepala karena merasa malu dengan apa yang baru saja ia perbuat itu.


Sementara Denis, laki-laki itu semakin memandang Windia dengan pandangan yang sulit diartikan. ada rasa jijik, aneh, dan marah yang bercampur menjadi satu.


Kemudian melenggang meninggalkan rumah itu dengan sesekali mengibas-ngibaskan tangan dan juga pakaiannya seakan baru saja terkenal kotoran yang begitu menjijikan.

__ADS_1


Sontak saja hal itu membuat Windia seketika menangis histeris." aaakhhh, Kenapa aku begitu bodoh! Kenapa aku tidak bisa memendam rasa ini! Sekarang, Denis akan semakin membenciku!" ucapnya penuh dengan emosi.


Kemudian dengan segera, dirinya berlari menuju ke kamar dan segera merebahkan diri diranjang empuknya.


" apa yang aku lakukan Ya Tuhan hiks hiks hiks." ucapnya di sela-sela Isak tangisnya.


Dirinya semakin merasa terhina dengan apa yang ia lakukan barusan. Windia sungguh merutuki kebodohannya yang dengan beraninya memeluk laki-laki kasar itu.


Padahal Ia tahu resiko apa yang akan dirinya terima jika berani menyentuh Denis. Hal itu membuat dada Windia terasa semakin sesak.


" apa yang harus aku lakukan Ya Tuhan? aku harus bertahan?" tanya Windia seorang diri. Dirinya sungguh merasa lelah jika harus diperlakukan seperti ini oleh orang lain.


Akhirnya Windia memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Siapa tahu, dirinya bisa mengadu pada sang ayah.


dengan sedikit meringis akibat benturan yang cukup kuat yang ia alami di pinggangnya itu, Windia dengan perlahan membersihkan diri dan dengan segera memesan taksi online.


Windia yang mendengarnya, hanya dapat menganggukkan kepala. dan akhirnya, wanita itu berkunjung ke rumah keluarganya tidak membawa apa-apa.


" Lebih baik aku bawa buah saja untuk mengunjungi ayah," ucapnya Seraya mengambil uang yang berjumlah dua lembar uang berwarna biru. Memang secara diam-diam, Windia mengambil uang cash dari kartu kreditnya untuk keperluan ayah.


walaupun Vega dan juga Robert telah memfasilitasi keluarganya dengan lebih dari kata layak, namun menurutnya tetap saja itu kewajiban yang harus dia lakukan untuk membahagiakan keluarganya.


Walaupun dengan cara sembunyi-sembunyi seperti ini. dirinya hanya berharap jika apa yang ia lakukan itu tidak ketahuan oleh Denis. Entah apa jadinya, jika hal ini sampai ketahuan pada laki-laki kejam itu.


Akhirnya Windia memutuskan untuk turun di sebuah minimarket yang tak jauh dari rumah orang tuanya. dengan segera wanita cantik itu masuk ke dalam minimarket. dan setelahnya, keluar dengan menenteng dua Tupperware berisi buah-buahan.


****

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan sekitaran tiga puluh menit, akhirnya taksi yang ditumpangi oleh Windia telah sampai. dan dengan mengulas senyum tipis, Windia masuk ke dalam rumah.


" ayah, Annabella, Rose, Kakak pulang!" ucapnya Seraya tersenyum senang. tak lama berselang, satu persatu orang yang sangat dikasihi oleh Windia keluar dari kamar masing-masing.


" Windia, kamu datang," ucap Edward yang kini duduk di kursi roda listrik yang fungsinya secara otomatis.


Begitupun dengan Rose, remaja berusia 14 tahun itu, juga tersenyum dan memeluk Kakak sulungnya itu dengan hangat.


" Bagaimana keadaan kakak, apa Kakak bahagia?" tanya gadis ABG itu Seraya meneliti tubuh sama kakak dari atas sampai bawah.


Sungguh sifat dan perilaku Rose ini, sama persis seperti sang ibu. Hal itu membuat Windia, menitihkan air mata. karena merasa rindu dengan sosok ibunya.


" Ya jelaslah dia baik bahagia pula, kan dinikahi sama orang kaya" tiba-tiba saja Anabella datang menghampiri Windia dan juga yang lainnya yang berada di ruang tamu.


tentu saja hal itu membuat Rose yang mendengarnya, segera menatap tajam ke arah Kakak keduanya itu. Ingin sekali gadis itu mengajari sang kakak cara untuk bersopan santun. Karena menurutnya Anabella sudah sangat keterlaluan.


Namun gerakannya tertahan saat merasakan tarikan dari Windia." Sudahlah kalian jangan berantem, lebih baik kita makan buahnya aja. kakak baru saja membelinya tadi." ucap Windia mengajak adik bungsunya itu untuk duduk.


" ih kakak ke sini cuma memberi buah-buahan saja?" tanya Annabella dengan nada sinisnya. Tanpa menunggu lama, Annabella segera berlalu dari sana.


Hal itu membuat semua yang ada di sana, menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari gadis itu.


" udah kak nggak usah didengerin, lebih baik kita makan aja ya. Kebetulan, aku hari ini masak makanan kesukaan Kakak yaitu ayam goreng saus kecap." ucap Rose Seraya menarik tangan Windia untuk menuju meja makan.


Sesampainya di ruang makan, Windia segera duduk dan menyantap makanan itu dengan sangat lahap." enak banget, masakan kamu dek. ini pasti ponakan kamu akan menggendut." ucap Windia tanpa sadar.


Hal itu membuat Edward dan juga Rose yang mendengarnya, seketika saling berpandangan. Kemudian, menatap Windia dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


" Kakak hamil?" tanya Rose dengan ekspresi wajah bahagia.


__ADS_2