Aku Bukan Pelayanmu

Aku Bukan Pelayanmu
hinaan dan Makian


__ADS_3

hari demi hari dilalui oleh Windia dengan penuh kesabaran. wanita yang kini tengah mengandung itu, menjalaninya dengan penuh kesabaran. Bahkan, saat sesekali Denis dan juga Latika melontarkan hinaan dan kajian kepadanya, Windia hanya bisa memendamnya.


Sebenarnya, pernah ada perasaan ingin menyerah. Namun, Windia juga ingat jika sama ayah kini tergantung oleh kebaikan hati Denis.


"hei kau budeg ya, hah! Kenapa kau masih diam saja di sana,?" tanya Latika Seraya berkacak pinggang. hal itu tentu saja membuat Windia menundukkan kepala Seraya mundur beberapa langkah.


" cepat kau berikan ini semua." ucapnya dengan nada sombong." dasar wanita murahan!" ucapkan seraya berlalu dari sana.


windia hanya bisa menangis seraya mengerjakan pekerjaan apa yang diperintahkan oleh Latika. karena memang dirinya tidak memiliki keberanian lebih untuk melawan para orang kaya itu.


" ya Tuhan, sampai kapan aku harus berada di posisi ini?" tanyanya lirik seraya sesekali menyeka air matanya.


" sampai seumur hidup." tiba-tiba saja, sebuah suara berhasil mengagetkan wanita itu. hingga Windia menoleh ke arah belakang.


" apa maksud kamu mas?" tanya Windia menatap tak mengerti. sementara Denis yang mendengar pertanyaan itu, hanya bisa menatap sinis ke arah Windia.


" hahaha jelas aja kamu akan menjadi pelayan selamanya di sini. Memangnya, kamu punya uang yang bisa kamu gunakan untuk mengganti uang Denis yang telah dipakai untuk berobat ayahmu?" tiba-tiba Latika bertanya seperti itu dengan nada sinisnya.


Windia yang mendengarnya, seketika kembali menundukkan kepala. Karena, apa yang dikatakan oleh kedua orang yang ada di hadapannya itu adalah sebuah kebenaran.


Mungkin garis hidupnya hanyalah sebagai seorang pelayan saja." Eh tunggu apa lagi, cepat kau bereskan semuanya, jangan sampai aku memberikan pelajaran padamu." bentak Denis dengan nada sangat tinggi.


India yang mendengarnya seketika segera mengerjakan apa yang perintahkan oleh Denis. dengan sesekali, wanita itu mengusap air matanya yang meleleh tanpa permisi.


" Ibu kenapa dunia begitu kejam?" jeritnya dalam hati. Windia merasa jika Apa yang dilakukan oleh Dennis dan juga istrinya sangatlah terlaluan. namun, Windia tidak bisa berbuat apa-apa. karena ini menyangkut keselamatan ayahnya.


Dengan deraian air mata, Windia segera membereskan semua pekerjaan yang diberikan oleh Latika. Walaupun, sesekali Windia harus berhenti melakukan pekerjaan itu. karena memang, dirinya Tengah mengandung.

__ADS_1


Sehingga, tubuhnya gampang lelah. karena memang faktor hamil yang Tengah ia alami itu. tiba-tiba saja,..


Buk


Latika melemparkan sebuah bantal tepat ke arah kepala Windia. hingga seketika wanita itu terjengkang ke belakang.


" ngapain kamu Bengong di situ?, mau nggak dikasih makan?!" tanyanya dengan nada tinggi. Sementara Denis yang melihatnya, hanya tersenyum sinis.


" Udahlah sayang, lebih baik nggak usah kasih makan aja tuh ya. biar kapok." ucapnya masih dengan nada sinis.


Latika yang mendengar, sejenak terdiam menimbang-nimbang ucapan dari suami tercintanya itu." tadi kamu boleh juga sayang" ucapnya tersenyum.


Entah Mengapa, Latika menjadi begitu sadis terhadap Windia. Padahal, awal Latika mengenal sosok Windia, dirinya merasa begitu prihatin. Tapi, Entah mengapa wanita itu seperti kehilangan hati nuraninya.


Sementara Windia yang mendengarnya, hanya bisa menundukkan kepala. kemudian berlalu dari sana untuk kembali mengerjakan pekerjaan rumah yang belum selesai.


Dua jam kemudian, perut Windia merasakan begitu melilit. hingga wanita itu merintih kesakitan. Seketika itu pula, dirinya baru tersadar jika sedari pagi, belum pernah memakan makanan apapun.


Windia berniat hendak memakannya. Namun, aktivitasnya terhenti saat mendengar ucapan seseorang dari arah belakang. yang tak lain adalah suara dari Latika.


" Jangan pernah kau makan itu, atau aku akan menyuruh suamiku untuk memotong uang pengobatan ayahmu!" ucapnya dengan lantang.


Seketika itu pula, Windia kembali meletakkan roti berlapis madu itu ke atas meja. Kemudian, dengan sejenak menatap ke arah Latika dengan ekspresi wajah mengiba.


Berharap jika wanita yang ada di hadapannya itu, memberikan belas Kasihannya. berbagi sedikit makanan padanya.


Namun, Ternyata apa yang Iya juga salah besar. karena ternyata, Latika tak menggubrisnya sama sekali. wanita cantik dan seksi itu melangkah mendekati meja. kemudian dengan segera, merebut makanan itu dan dengan Teganya melemparkannya ke tong sampah.

__ADS_1


" lebih baik makanan ini dimakan oleh tikus daripada ditunjukkan olehmu" ucapnya Seraya melenggang pergi dari sana.


Seketika itu pula, air mata Windia luluh lantak hatinya merasakan sangat pedih. Mengapa mereka berdua selalu mencaci dan memakinya. apa sebenarnya salahnya.


" hiks hiks hiks apa sebenarnya salahku sampai kalian tega seperti ini.?" tanya Windia saat melihat Latika hendak melangkah pergi.


Seketika itu pula, wanita cantik dan seksi itu berbalik arah dan menatap tajam ke arah Windia." kau masih bertanya apa salahmu? salahmu itu karena sudah berani mempengaruhi pikiran ibu agar membenciku ya kan?" tanya Latika dengan nada sinis.


Windia yang mendengarnya, seketika membulatkan mata. karena, apa yang dituduhkan oleh Latika itu tidak benar." maksudmu apa? Aku tidak mengerti apa yang kau katakan." ucapnya jujur.


" halah dasar munafik!" hardik seseorang dari pintu dapur. yang tak lain itu adalah Denis. laki-laki itu bahkan menatap Windia dengan Tatapan yang lebih sinis daripada istrinya.


" Mas aku mohon, Aku tidak pernah melakukan hal sekeji itu." ucap Windia menyangga.


Bugh


Denis dengan segera melemparkan sebungkus roti di hadapan wanita itu." itu makananmu untuk 1 hari." ngucapnya Seraya melenggang pergi. Sejenak Denis menghentikan langkahnya kemudian kembali menatap ke belakang." untuk minumannya, Jangan pernah kau berani membuka kulkas yang ada di sini. Atau aku akan benar-benar menghentikan pengobatan ayahmu." kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.


*****


setelah kepergian Latika dan juga Denis, Windia merosot jatuh ke atas lantai. dengan tangis sesenggukan." Ya Tuhan, sampai kapan aku bertahan seperti ini Tuhan?" tanya windia seraya sesenggukan.


Kemudian wanita yang tengah hamil itu menatap ke arah Bungkus roti yang tergeletak di sampingnya. dengan segera, Windia meraih dan mulai membukanya. Kemudian menyuapkan satu demi satu suapan hingga tersisa separuh.


Setelahnya Windia meraih sebuah botol bekas yang tergeletak di samping tong sampah. dengan perlahan dirinya berjalan ke arah air kran kemudian mencucinya.


setelah dirasa bersih, Windia kemudian mengisi botol plastik itu dengan air yang penuh. Kemudian membawanya ke dalam kamar.

__ADS_1


di dalam kamar yang begitu pengap itu, Windia sesekali menangis sesenggukan." Semoga kamu tidak apa-apa sayang, kalau Bunda memberikan Air ini untuk minum." kecapnya dengan air mata berlinang.


Sungguh hatinya begitu Pedih menghadapi kenyataan hidup yang pahit ini


__ADS_2