Aku Bukan Pelayanmu

Aku Bukan Pelayanmu
Mencari Cara


__ADS_3

tiga bulan kemudian, kandungan Windia telah menginjak usia delapan bulan. hal itu membuat lagu Windia sedikit kesulitan. karena memang tubuhnya sedikit membengkak karena kehamilannya ini.


Windia mencoba untuk menggerakkan kakinya yang merasa kebas. Windia meminta pertolongan dari Reni untuk membantunya berjalan.


Wanita yang tengah hamil itu mencari cara agar bisa menggerakkan tubuhnya. agar tak terlalu sakit nantinya. karena Windia ingin melahirkan secara normal.


" Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu,?" tanya Reni menghampiri India dengan langkah tergopoh-gopoh.


" Ren, tolong, saya ingin menuju ke kamar mandi tapi saya kesulitan." ucapnya Seraya meringis kesakitan.


Reni yang melihat hal itu, hanya menurut Seraya sesekali menetap ke arah Windia dengan ekspresi wajah cemasnya.


" sepertinya Nyonya Windia akan melahirkan." baru saja Reni membantu seperti itu, ternyata Windia telah merintih kesakitan.


Hal itu membuat Reni segera menghampiri dan membaringkan tubuh menyajikannya itu di kasur. kemudian dengan segera, gadis itu segera menghubungi dokter Anjani.


"halo Dok, anda masih sibuk atau tidak?" tanya Gadis itu saat sambungan teleponnya sudah tersambung.


" Sudah memangnya ada apa?" Tanya Dokter Anjani dengan suara sedikit bingung.


" syukurlah kalau begitu, Anda bisa langsung cepat pulang kan?" tanya Reni dengan wajah cemasnya.


hal itu tentu saja membuat dokter Anjani yang ada di seberang sana." Memangnya ada apa Reni,?" Tanya Dokter Anjani sedikit panik. karena dirinya baru sadar bahwa saat ini usia kandungan Windia sudah mencapai usia 9 bulan. itu artinya, Windia akan segera melahirkan.


" Nyonya Windia akan melahirkan nyonya," ucap Reni dengan secepat kilat. hal itu tentu saja membuat dokter Anjani yang mendengarnya, segera menutup sambungan ponselnya.


Dengan segera, wanita itu melajukan mobilnya membelah jalanan yang sudah tampak sedikit ramai karena memang hari ini adalah malam minggu. Setelah menempuh perjalanan hampir 15 menit, dokter Anjani Akhirnya sampai di depan rumahnya.


Setelahnya, wanita yang memakai jas berwarna putih itu, segera berlari menuju ke arah kamar Windia. dan benar saja, di sana Windia tampak merintih kesakitan. dan sesekali menghela nafas panjang.

__ADS_1


" Bagaimana rasanya,?" Tanya Dokter Anjani ingin memastikan sudah sejauh mana proses bukaan lahirannya.


" huh rasanya sangat-sangat melilit. Apalagi, saya merasa seperti ingin buang air besar." ucapnya Seraya mengatur nafas yang seakan tersengal-sengal itu.


dokter Anjani yang mendengarnya, segera mengecek ke arah jalan lahir wanita itu. ternyata benar dugaannya. jika bukaannya ini, sudah bukaan lengkap. Hal itu membuat dokter Anjani, memutuskan untuk memerintahkan Reni untuk mempersiapkan semua alat-alatnya.


"Win, sekarang kamu Tarik nafas, terus buang. begitu seterusnya hingga beberapa kali." ucapnya Seraya sibuk menggelar kain untuk alas Windia bersalinan nanti.


Windia yang mendengarnya, mencoba mengikuti perintah dari dokter Anjani." au sakit sekali dok" ucapnya Seraya meringis di tengah-tengah tarikan nafasnya.


" Jangan lemah India, kamu harus kuat. cobalah berdoa pada Tuhanmu." seru dokter Anjani Seraya tangannya sibuk untuk mempersiapkan semuanya.


Setelah semuanya selesai, dokter Anjani memerintahkan Windia untuk mengejan." Ayu Windia kamu pasti bisa" ujarnya memberi semangat.


Hal itu membuat Windia yang baru saja mengalami hal seperti ini pertama kalinya, menganggukkan kepala dengan lemah. " Heeegh," Windia dengan sekuat tenaga mengejan.


" bagus Windia, Ayo sekali lagi." ujar dokter Anjani Seraya menggenggam tangan wanita itu.


Oeeek,... Oeeek,... Oeekk,...


Seorang bayi perempuan yang sangat cantik akhirnya lahir ke dunia dengan selamat. Hal itu membuat Windia seketika menitihkan air mata. karena tak pernah menyangka, akan secepat ini menjadi seorang ibu.


" Wah Selamat ya Windia, bayi kamu perempuan cantik seperti kamu." ucap dokter Anjani Seraya berjalan menuju kamar mandi yang memang ada di dalam kamar yang Windia tempati itu.


Setelahnya, dokter Anjani segera membersihkan bayi mungil itu dari darah yang menyelimuti tubuh mungilnya.


sementara Windia yang masih terbaring di atas ranjang, hanya bisa tersenyum tipis. serah ya sesekali mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipinya.


"a-aku sudah ja-jadi ibu." ucap Windia dengan perkataan yang terputus-putus. karena merasa masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia alami ini.

__ADS_1


" Iya Nyonya, anda sudah berhasil melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik." Reni datang membawa nampan yang berisi makanan, buah-buahan dan juga segelas susu." sekarang, Mbak Windia makan ya." ucapnya Seraya menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan beberapa lauk yang ada di atas nasi itu.


Hal itu membuat Windia yang melihatnya, seketika menganggukkan kepala. dan dengan cepat menyambar piring itu. Entah mengapa, kali ini dirinya merasa begitu kelaparan. hingga membuatnya, tak terasa telah menghabiskan sepiring nasi itu.


Hal itu membuat Windia sedikit merasa malu. saat menyadari tindakannya itu." tidak usah malu Win, semua pasien setelah melahirkan, pasti akan melakukan hal yang sama" ucap dokter Anjani yang baru saja membedong bayi mungil itu.


Kemudian, meletakkannya di samping tubuh Windia." kamu kasih ASI dulu ini anak kamu" ucapnya Seraya melangkah menghampiri pintu kamar.


" Oh ya Win, nanti kalau kamu sudah sedikit membaik, jangan lupa jalan-jalan agar kamu bisa langsung cepat sembuh." ucapnya menoleh sekilas ke arah Windia.


Mendengar hal itu, Windia yang dari tadi memandangi wajah Teduh bayi meninggal itu,ketika mendengar dan menganggukkan kepala.


Setelah dokter Anjani dan juga Reni keluar dari kamar, Windia tampak menitikan air mata karena menyadari sesuatu. sesuatu yang membuat dadanya semakin sesak.


" semoga saja, kamu bisa kuat menghadapi semua ini sayang." ujarnya Seraya mengelus pipi gembul baik perempuan itu.


Oeeek,..... Oeekk,.... Oeeeekk,...


Tiba-tiba saja, bayi mungil yang baru saja terlahir ke dunia itu, menangis dengan cukup kencang. Hal itu membuat Windia dengan sigap, segera terduduk.


Hal itu seketika membuatnya, meringis kesakitan karena baru saja menyadari tindakannya itu." aw sakit banget sih" gumamnya Seraya menahan rasa perih yang menjalar di sekujur tubuhnya.


****


Sementara itu di lain tempat, tepatnya di sebuah rumah mewah, seorang laki-laki Tengah berbicara kepada seorang wanita dengan wajah seriusnya.


" jadi, Apakah benar kalian memiliki saudara selain Windia,?" tanya laki-laki itu Seraya menatap ke arah dua orang gadis yang ada di hadapannya itu.


Seketika itu pula, dua gadis yang tak lain adalah Annabella dan Rose itu, seketika menundukkan kepala karena merasa takut.

__ADS_1


" kami tidak tahu, Kalau saudara yang kami tahu, hanya kamu bertiga." ujar Rose takut-takut.


Hal itu membuat laki-laki itu, yang tak lain adalah Denis, menggembuskan nafasnya kasar.


__ADS_2