Aku Bukan Pelayanmu

Aku Bukan Pelayanmu
Kedatangan Mertua


__ADS_3

Seminggu kemudian,....


Kini, kondisi Windia sudah kembali pulih. karena memang, selama satu minggu Windia mengonsumsi makanan yang bergizi. Walaupun, wanita itu tidak pernah memberikan uang sepeserpun, namun dokter Anjani tetap memberikan asupan yang terbaik.


Hal itu membuat Widya merasa begitu terharu. karena di dunia ini ternyata masih ada orang yang tulus seperti dokter Anjani.


Seperti pagi ini misalnya, Windia tampak duduk di teras rumah Seraya menjemur tubuh bayi perempuannya itu. Dengan segera, dokter Anjani menghampiri Windia.


" Win, lebih baik, sekarang kamu makan dulu ya, sini anak kamu biar saya gendong. sekalian, bayi kamu biar saya periksa." ujarnya Seraya merentangkan tangan ingin menggendong bayi itu.


Windia dengan segera menyerahkan bayi mungil itu ke dalam dekapan dokter Anjani. Dian dengan segera, Windia melangkah menuju ke tempat ruang makan.


dengan segera, Windia menyantap makanan yang tersaji di meja makan itu. setelah hampir lima belas menit, akhirnya Windia telah menyelesaikan makanannya.


Dengan segera Windia menuju ke ruang tamu. dan di sana, Windia tampak begitu terkejut kala melihat ke arah sofa ruang tamu. Seketika itu pula, Windia tertegun di tempat.


"Mom momy, Kok bisa ada di sini?" tanya Windia dengan nada gemetar dan terbata-bata. seketika itu pula, bayangan kekerasan yang dilakukan oleh Denis berputar-putar di dalam otaknya seperti kaset rusak.


Reflek, Windia melangkah mundur karena merasa terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya itu. hingga membuat, Windia tak sengaja menabrak Guci yang ada di sebelahnya itu hingga pecah.


Byar


Seketika itu pula, pandangan mereka Semua tertuju pada Windia yang tengah berdiri gemetaran itu. dengan segera, dokter Anjani menghampiri Windia dan langsung memapahnya untuk duduk di kursi yang masih kosong.


" kamu nggak papa, nggak ada yang sakit kan?" dokter Anjani memberondong Windia dengan berbagai pertanyaan.


Namun, bukannya menjawab, Windia masih saja tertegun. perayaan matanya masih menatap ke arah kedua mertuanya itu dengan Tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


" Tenangkan dirimu. Nanti akan saya ceritakan Semuanya sama kamu." ucap dokter Anjani yang seakan mengerti dengan tingkah ibu muda itu.


Windia yang mendengarnya, ketika menoleh dan menganggukkan kepala secara perlahan. kemudian, matanya kembali fokus menatap ke arah Ibu mertuanya yang kini tengah menggendong Putri kecilnya itu.


" jangan, jangan bawa anakku, hiks hiks," tiba-tiba saja Windia menangis tersedu-sedu. Hal itu Sontak membuat Vega dan juga Robert yang memang Tengah bermain dengan cucu mereka itu.


" Tenanglah nak, Aku tidak akan pernah membawa anakmu. kami kemari hanya ingin menengok mu." ucap Vega Seraya mengusap punggung Windia.


Seketika itu pula Windia segera mendongak ke atas menatap kedua mertuanya itu dengan seksama dan juga cara bergantian.


Jujur Saja, Windia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan mertuanya. dan dirinya menjadi sedikit bingung karena dengan secara tiba-tiba, kedua mertuanya itu datang menghampirinya.


" kalian tahu dari mana Kalau aku ada di sini?" Windia bertanya dengan suara sedikit gemetar. karena dirinya begitu ketakutan saat melihat kedua mertuanya itu berada di sana.


" sayang Tenanglah tidak ada yang mengambil Anakmu siapa yang akan berani." ucap Vega Seraya memeluk tubuh Windia yang tampak gemetaran itu.


Sungguh, saat ini, Windia sangat ketakutan karena dirinya akan terus terbayang dengan perlakuan dan ucapan yang lontarkan oleh Denis.


Setelah hampir 15 menit, akhirnya Windia memutuskan untuk menghampiri dokter Anjani yang memang tengah membersihkan bayi Windia dengan kasa.


Sebab, menurut dokter Anjani bayi yang masih merah itu tidak perlu terkena air terlalu sering karena akan dapat mengganggu kesehatan kulitnya. jadi sebisa mungkin, bayi yang berjenis kelamin perempuan itu, hanya di elap menggunakan kain basah.


" emm, Dok, Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan pada dokter." ucap Windia dengan ekspresi takut-takut.


hal itu tentu saja membuat dokter Anjani yang tengah sibuk mengurus bayi itu, segera menoleh ke arah Windia." ada apa?" tanyanya Seraya menatap sekilas ke arah Windia.


Setelahnya, dokter muda itu kembali untuk membersihkan dan mematikan baju pada bayi itu.

__ADS_1


" sebenarnya, siapa yang memberitahu Mommy dan Dedy tentang keberadaanku di sini?" Tanyain dia dengan menatap sekilas ke arah dokter itu.


Hal itu, sukses membuat dokter Anjani menghentikan aktivitasnya. kemudian, menatap ke arah Windia, Seraya menghembuskan nafasnya kasar.


" maaf, Maafkan saya Windia. tapi sebenarnya,..." akhirnya, dengan perlahan dokter Anjani menceritakan semuanya pada Windia.


Sontak, Hal itu, membuat Windia sedikit merasa terkejut namun juga merasa begitu beruntung. karena dirinya, masih dikelilingi oleh orang-orang baik.


" besok, mereka juga akan datang kemari lagi untuk melihat dan bermain dengan Anakmu lagi. kau tidak keberatan kan?" Tanya Dokter Anjani di akhir kalimatnya.


Mendengar hal itu, Windia segera menggelengkan kepala." Tentu saja aku tidak keberatan. mereka kan memang kakek dan nenek dari anakku." ucapnya tersenyum simpul.


Walaupun, di dalam hatinya Windia masih merasa khawatir dan was-was apabila kedua mertuanya itu memberitahukan tentang kondisinya kepada Denis.


Dirinya masih belum bisa menerima jika laki-laki psikopat itu menemui dirinya dan anaknya. dirinya masih belum sanggup akan hal itu.


Dokter Anjani yang melihat itu, segera tersenyum tipis. kemudian, mengelus pundak wanita itu." kau tenang saja Windia, Tuan Robert dan juga Nyonya Vega sudah berjanji tidak akan pernah memberitahukan hal ini pada suamimu." ucapnya dengan tersenyum tipis.


Seakan dokter itu tahu tentang kegelisahan yang dialami oleh Windia. sementara Windia yang Mendengar hal itu, segera menganggukkan kepala. Kemudian, menerima bayi dalam gendongannya dan membawanya ke kamar untuk dipakaikan baju dan juga bedak.


" maafkan Ibu ya, nak," ujarnya saya berlinang air mata. kemudian dengan perlahan menciumi pipi gembul bayi perempuan itu.


Setelah puas mencium bayi itu, Windia segera meletakkannya di kasur. sementara dirinya, akan berendam air panas. untuk menetralkan semua rasa sakit dan rasa gundahnya dengan berendam.


Memang, semenjak Windia tinggal bersama dokter Anjani, wanita itu sering mendapatkan perawatan spa. walaupun hanya di rumah, karena dokter Anjani, seminggu sekali akan memanggil ahli terapis untuk memijat dirinya dan juga Windia.


Apalagi, wanita itu sepertinya sangat membutuhkan yang namanya me time. karena menurut penelitian, orang yang sesudah melahirkan itu, sangat rentan dengan rasa stres dalam tubuhnya.

__ADS_1


Setelah hampir 30 menit, Windia keluar dari kamar mandi dan segera memakai pakaiannya. Setelahnya, dirinya ikut berbaring di samping sang putri tercinta.


" semoga, nanti kamu bisa mengerti ya sayang." bisiknya Lirih.


__ADS_2