
Pagi harinya, Windia bangun dengan keadaan yang jauh lebih membaik daripada sebelumnya. namun wanita itu juga masih merasa takut untuk sekedar bertatap muka dengan laki-laki yang bernama Denis Ricardo itu.
Bayang-bayang tentang kekejaman laki-laki itu semalam, selalu berputar-putar dalam otaknya. tak seperti kaset rusak. Hal itu membuat Windia sedikit merasa ketakutan.
Dirinya segera mencoba keluar dari rasa traumanya dan rasa takut yang menggelayuti di dalam hatinya. Ditambah dengan rasa sakit yang ada di inti tubuhnya
Rasanya begitu ngilu dan juga nyeri. Namun India harus tetap kuat untuk menghadapi semua ini. dirinya harus tetap kuat untuk menjalani pernikahan ini. Agar pengobatan sang ayah bisa terlaksana dan terealisasi dengan baik.
Kembali Windia menangis pilu di dalam kamar mandi. dirinya merasa Tuhan tidak adil padanya. karena sedari kecil, dirinyalah yang harus mengalah dan hidup menderita demi adik-adiknya. dan sekarang saat dirinya telah dewasa, dirinya pun harus tetap berkurban untuk keluarganya.
Sejujurnya, ada rasa lelah dan juga rasa menyerah dalam diri wanita berusia 21 tahun itu. Namun, jika dirinya melihat dan mengingat keadaan dan kondisi sang ayah, rasa kecewa dan marah itu seketika itu pun sirna.
Setelah menuntaskan semua unek-uneknya di dalam kamar mandi, Windia segera keluar dan berpakaian rapi. Karena, hari ini dirinya ingin kembali ke restoran untuk bekerja,
Dirinya harus mengumpulkan uang yang banyak agar bisa membiayai pengobatan ayahnya sendiri. Karena jujur saja dirinya sudah merasa tidak kuat dengan tingkah dari laki-laki yang bernama Dennis Ricardo itu.
tepat setelah 15 menit memoles wajahnya dengan make up tipis-tipis, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. dan menampilkan sosok Denis yang berdiri mematung di depan pintu itu.
hal itu membuat Windia seketika menjadi gemetar dan ketakutan. bayangan-bayangan kerasan yang dilakukan oleh jenis kembali memutar di kepalanya seperti kaset rusak.
Bahkan, Windia sampai menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengatur rekaman alamiah di otaknya. agar kejadian itu tak sampai mengganggu alam bawah sadarnya.
" mau ke mana kau pelayan,?" tanya Denis dengan nada sinisnya. Hal itu membuat Windia ketika melangkah mundur. Karena Wanita itu benar-benar masih merasa takut dengan laki-laki yang ada di hadapanya itu.
Windia memutuskan untuk mendungak dan menatap wajah laki-laki yang telah menjadi suaminya itu dengan penuh keberanian.
Hal itu tentu saja membuat Denis yang melihatnya, tersenyum sinis." berani kau menantangku, kau tahu kan apa hubungannya jika berani berbuat seperti itu?" tanya Denis seakan memperingati wanita yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
Seketika itu pula wajah dari Windia yang awalnya menatap Denis dengan tatapan garang, seketika itu pula dirinya mendadak ciut nyalinya.
'a-aku minta maaf," ucap Windia penuh rasa ketakutan. Namun hal itu membuat Dennis Malah semakin merasa tertantang.
" Dasar sok jagoan,!" hardiknya Seraya melangkahkan kakinya mendekati Windia. dan hal itu, secara otomatis membuat Windia seketika melangkah mundur.
" Jangan lakukan itu," ucapnya penuh nada gemetar. tiba-tiba saja, potongan-potongan adegan yang menurutnya horor, seketika muncul di dalam otaknya.
hal itu semakin membuat Denis tersenyum sinis menatap ke arah wanita itu dan tiba-tiba saja,..
Brug
Denis mendorong Windia hingga terjatuh di atas kasur. hal itu pula yang membuat Windia seketika merasa ketakutan. dan seketika itu pula, bayangan-bayangan waktu dirinya dipaksa untuk melakukan hal yang tidak ia inginkan, seakan terulang dan menjadi kaset rusak di dalam otaknya.
" mohon jangan lakukan itu," ucap Windia sedikit gemetar. Namun hal itu membuat Denis Malah semakin bersemangat untuk memberi pelajaran pada wanita yang ada di bawah kuasanya itu.
Hingga membuat Windia meringis kecil saat mendapatkan gigitan yang cukup kuat dari Denis. Kemudian, laki-laki itu mendongak dan menatap tajam ke arah Windia.
" ini kan yang lo minta,?" tanya Denis Seraya melakukannya Lagi Dan Lagi. hal itu semakin membuat Windia menegang ketakutan.
Denis segera bangkit dari kasur. Hal itu membuat Windia sesaat merasa lega. karena dirinya berpikir jika laki-laki Setengah Gila itu sudah melepaskannya.
Namun, Perkiraannya sungguhlah tidak benar. karena tiba-tiba saja,..
sret
Sret
__ADS_1
Denis menggunting baju karyawan restoran miliknya dengan gunting. itu membuat Windia seketika terbelalak kaget.
" Diam kau pelayan!" hairdik Denis dengan suara meninggi. hingga membuat Windia seketika terdiam dengan deraian air mata yang membasahi pipinya.
Akhirnya, kini tubuh Windia telah polos tak berbalut benang sedikitpun. Denis menatap wanita itu dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Kemudian dengan perlahan dirinya pun juga berpenampilan sama yaitu polos tanpa sehelai benang.
Seketika itu pula Windia menjadi sangat ketakutan dirinya pun beringsut mundur hingga punggungnya menatap penyangga kepala ranjang.
" Tuhan saya mohon jangan lakukan ini, saya sudah merasa lelah tuan," ucap Windia bergetar hebat.
dirinya sudah merasa benar-benar lelah diperlakukan seperti ini oleh aku lagi status suaminya itu. Mendengar hal itu, Denis tersenyum dengan begitu sinisnya.
" Kau bilang apa tadi, lelah, Jangan harap hal itu terjadi padamu. Karena kau sendiri kan yang ingin bermain-main denganku, maka sekarang rasakan akibatnya" ucap Denis Seraya melangkahkan kakinya mendekati Windia.
hal itu seketika membuat Windia menangis sesenggukan. karena memang, dirinya merasa sangat ketakutan.
Namun agaknya Denis tidak memperdulikan itu dia tetap saja melancarkan aksinya. bahkan kali ini dengan perlakuan yang lebih kasar. hingga membuat Windia menjerit kesakitan.
Untungnya Denis sudah memprediksi jika hal ini akan terjadi. Untuk itulah dirinya memasang peredam suara di kamarnya secara diam-diam. karena jika Vega tahu, maka wanita paruh baya itu pasti akan melakukan sesuatu.
Seperti sebelum-sebelumnya, setelah selesai dengan dahaganya, Denis meninggalkan dan mencampakkan Windia begitu saja.
" hiks hiks, Ayah tolongin Windia, Windia sudah tidak kuat berada di sini huhuhu" ucapnya Seraya menangis cukup keras.
Dirinya kini merasa begitu tak berdaya. Hal itulah yang membuat Windia sedikit merasa kebingungan. karena, jika dirinya mengadu pada Mama mertuanya, otomatis perawatan ayahnya juga akan dicabut oleh Denis.
Untuk itulah, Windia harus selalu bersabar untuk menghadapi laki-laki itu. Namun terkadang dirinya ingin sekali mengadukan hal ini pada ayahnya. namun, mengingat kondisi kesehatan Edward yang sangat memprihatinkan akhir-akhir ini, membuat Windia mau tidak mau mengurungkan niatnya itu.
__ADS_1
yang hanya bisa ia lakukan adalah bersabar dan bersabar.