
malam harinya, Denis dan juga Latika berjalan dengan mesranya menuruni anak tangga mata laki-laki itu beredar menatap sekeliling ruangan. Seakan Tengah mencari sesuatu.
" Hai Windia!" teriaknya dengan lantang. Hal itu membuat sebagian pelayan yang ada di rumah itu, seketika tertunduk ketakutan.
Karena menurut mereka baru pertama kali ini Denis berteriak dengan sangat keras seperti ini. tak lama berselang, Windia datang tergopoh-gopoh menghampiri Denis.
"ada apa,?" tanya Windia dengan langkah tergopoh-gopoh.
Bugh
secara tiba-tiba, Latika melemparkan sebuah buku tepat di depan wajah Windia. hal itu membuat Windia seketika terkejut.
"baca tuh peraturanya,?"ucap Latika dengan wajah angkuhnya. dengan segera, Windia membaca peraturan demi peraturan yang tertera dalam lembaran putih itu.
Kemudian, dirinya menatap dua orang yang ada di hadapannya itu, dengan tatapan penuh tanya." Apa maksudnya ini?" tanya Windia yang tak mengerti.
Dengan perlahan, Latika menghampiri Windia yang Tengah kebingungan itu." kamu mau tahu apa maksudnya?" tanya Latika dengan wajah sinisnya.
Sementara Windia yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala, sembari sesekali menatap Denis dan juga Latika secara bergantian.
" kau harus jadi pelayan kami di manapun dan kapanpun." ucapnya Seraya menatap angkuh ke arah Windia.
Seketika itu pula, Windia menatap Denis dengan ekspresi wajah terkejutnya. dirinya memang tahu jika hanya dianggap sebagai pelayan. tapi apakah harus melayani mereka berdua? ini konyol namanya.
Windia hendak protes pada laki-laki itu. Namun, gerakan mulutnya terhenti saat melihat tangan Denis terangkat ke atas. Pertanda jika dirinya harus diam.
" Jangan pernah membantah ucapanku. atau kau ingin, aku menghentikan pengobatan ayahmu." ucapnya dengan nada Arogan. kemudian, menarik pinggang Latika hingga mereka berdua, melinggang pergi meninggalkan tempat itu.
Windia yang mendengarnya, hanya menghembuskan nafasnya kasar. untuk saat ini, Windia tidak bisa membantah semua perkataan dan perintah dari dua orang manusia itu.
__ADS_1
memang benar, jika biaya pengobatan Ayah Windia ditanggung oleh Robert dan juga Vega. namun itu hanya sebagian. Karena memang Denis diperintah oleh Sang Mommy untuk membiayai pengobatan mertuanya itu.
Karena Vega pada awalnya hanya ingin mengajarkan anak semata wayangnya itu untuk bertanggung jawab. Namun tidak disangka oleh wanita paruh baya itu. Jika alasan pengobatan itu dipergunakan untuk mengancam Sang Momy.
Untung saja, Vega tidak mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Denis selama ini pada Windia. jika sampai wanita paruh baya itu tahu, maka akan habislah kesabaran dari Vega.
Karena memang, Denis akan bersikap manis dengan Windia di hadapan kedua orang tuanya. dan sampai saat ini pun, wanita paruh baya itu tidak mengetahui perilaku buruk yang dialami oleh menantunya itu.
"windia, cepatlah kami sudah lapar," tiba tiba saja, lamunannya buyar saat mendengar ucapan dari arah belakang.
Dengan cepat Windia bergegas menghampiri Denis dan juga Latika yang ternyata sudah menunggunya di meja makan.
Sesampainya di sana, Windia tampak tertegun sesaat. karena ternyata di sana, sudah ada Ibu dan Ayah mertuanya.
" Sayang kenapa kok lari-lari?" tanya Vega dengan langkah cepat menghampiri menantunya itu. Hal itu membuat Denis yang melihatnya, seketika membuang muka.
"stop perhatian dengan seorang pelayan mom," ucapnya dengan nada dingin.
"Pap, Mom, kalian ingat kan dengan perjanjian yang telah kita sepakati? Aku tidak akan pernah meninggalkan wanita ini, asalkan Mommy sama papi, jangan pernah kasih perhatian yang berlebihan adanya." ucap Denis mencoba mengingatkan kedua orang tuanya.
" Denis kami tahu dengan apa yang ada dalam perjanjian kita, tapi Apa perlu sampai seperti ini?" tanya Vega dengan raut wajah sedihnya.
" harus Mom, agar dia tahu posisinya di sini hanyalah seorang pelayan. tidak lebih!" ucapnya dengan nada dingin.
Windia seketika merasa sangat lemas. dengan tergopoh-gopoh, dirinya menatap ke arah ayah dan ibu mertuanya. Guna meminta penjelasan dari mereka.
melihat hal itu, Vega dengan sigap, membawa tubuh lunglai menantunya itu untuk segera duduk di salah satu kursi meja makan.
"Momy akan jelaskan semuanya," ucapin dia mulai bercerita.
__ADS_1
Flashback on.
setelah Windia tak sadarkan diri hari itu, Vega dan Robert memutuskan untuk mendatangi Denis untuk meminta penjelasan.
Sesampainya di kantor milik Dennis, ternyata laki-laki itu memang berada di sana. sedang mengutak-atik laptop yang ada di hadapannya itu.
Denis baru saja kembali dari tempat clubbingnya. Karena laki-laki itu telah memprediksi jika kedua orang tuanya akan datang untuk meminta penjelasan darinya.
" langsung saja mom, pap, Ada apa kalian datang kemari?" tanya Denis dengan ekspresi wajah datarnya.
"kau jangan menceraikan Windia, dia adalah gadis yamg baik dan lugu. saat ini, dia sedang ada di rumah sakit," ucap Vega dengan nada sedikit gemetar.
" Sayangnya aku tidak peduli Mom," ucapnya hendak melangkah pergi. Namun, seketika tertahan saat mendengar ucapan dari sang Mommy kembali.
" apapun, Apapun akan Memi lakukan Asal kamu jangan pernah meninggalkan gadis itu." ucapnya tanpa pikir panjang. hal itu sukses membuat Denis, seketika tersenyum dengan puasnya.
" Oke kalau gitu, mulai sekarang Mommy sama tapi jangan pernah ikut campur urusanku dengan Windia. dan juga, mulai saat ini Gadis itu hanya seorang pelayan bagiku." ucapnya dengan nada angkuh.
Akhirnya mau tidak mau Suka tidak suka, Robert dan juga Vega menyetujui permintaan dari Denis. dan setelah mereka pergi, Denis kembali melangkahkan kaki untuk menuju ke tempat klubnya yang sengaja ia tinggal karena mendengar dari bawahnya jika kedua orang tuanya akan menemuinya di kantor.
flashback off
Mendengar hal itu, lagu India seketika terdiam. seakan air matanya sudah kering untuk menangis. sakit, Tentu saja itu sakit. karena dengan terang-terangan, Denis mengatakan jika dirinya hanya seorang pelayan.
" kenapa kamu masih ada di sini?" segera sana kamu masak!" ucapnya dengan nada meninggi. Hal itu membuat Windia seketika mengganggu dan melangkah pergi.
Vega yang melihatnya, menatap tajam ke arah Putra tunggalnya itu." Mami tidak pernah menyangka, Jika kamu akan sekejam ini. kalau gitu, Jangan pernah Panggil saya Mommy karena saya tidak pernah mempunyai anak seperti kamu!!" ucapnya dengan nada tinggi.
Setelahnya Vega dan juga Robert, melenggang pergi meninggalkan rumah itu. kedua manusia paruh baya itu, akan mengawasi menantu mereka dengan cara lain.
__ADS_1
Karena sepertinya Vega sudah tidak mengenali lagi Siapa Denis sebenarnya. Karena Denis yang Vega tahu adalah sesosok laki-laki yang sangat menghormati wanita.
"Mami yakin ini oasti pengaruh dari wanita ular yang bernama Latika itu." ucapnya mendegus kesal