
Hari ini, Tepat satu Minggu, Denis berada di rumah sakit. dan sekarang ini, laki-laki itu sudah diperbolehkan pulang. hal itu tentu saja membuat Denis yang mendengarnya, seketika tersenyum lebar.
Di sana juga sudah ada Windia yang juga Tengah menggendong baby Naomi yang tampak tidak nyaman berada di gendongan ibunya. dan dengan segera, Windia mencoba menimang-nimang baik itu agar tetap diam.
Namun alih-alih terdiam, baby Naomi Malah semakin menangis histeris. hal itu tentu saja membuat Dennis yang mendengarnya, seketika menatap tajam ke arah Windia. hal itu tentu saja membuat Windia yang dari tadi ditatap, seketika itu tertunduk.
Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya Windia memutuskan untuk kembali tinggal satu atap bersama Denis kembali.
" Apakah saya boleh pulang?" tanya Denis Seraya menatap ke arah dokter yang tengah memeriksanya itu.
Hal itu seketika membuat Windia yang mendengarnya, ikut terdiam. dengan sesekali, melirik ke arah Denis yang masih terdiam di tempatnya.
" sudah tuan, hari ini anda sudah diperbolehkan pulang." ucap dokter itu Seraya menatap Denis dan sesekali melempar senyum.
Denis yang mendengarnya, juga ikut tersenyum. karena memang, dokternya adalah dokter wanita. hal itu tentu saja, membuat Windia yang menyaksikan itu, seketika memalingkan wajahnya.
" huh sabar sabar, ternyata laki-laki yang aku nikahi ini adalah seorang Casanova." gumamnya dalam hati.
Tak lama berselang, pintu ruang perawatan Denis, kembali terbuka. dan sekarang ini, menampilkan Vega dan juga Robert yang baru saja kembali dari rumah mereka.
" terima kasih, sudah mau merawat Denis," ucap Vega Seraya berbisik di telinga Windia. Mendengar hal itu, Windia hanya bisa menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis.
Tak berselang lama, Deni Akhirnya sudah diperbolehkan pulang. saat mereka hendak melangkah keluar ruangan, Windia sempat melihat, Denis, laki-laki yang masih berstatus suaminya itu, bersalaman cukup mesra bersama dengan dokter itu.
__ADS_1
Hal itu tentu saja membuat Windia yang melihatnya, seketika memalingkan wajah. dan dengan segera menutupi wajah putri tercinta agar tidak melihat adegan itu. Padahal, tanpa adegan tutup mata pun, baby Naomi tidak akan pernah mengetahui hal itu. karena dirinya, masih sangat kecil.
Untungnya, adegan itu tak diketahui oleh kedua orang tua Denis. karena jika diketahui, dapat dipastikan jika Denis akan mendapatkan hukuman yang setimpal dari kedua orang tuanya itu.
Setelah urusan Denis dengan dokter itu selesai, mereka semua segera keluar dari rumah sakit itu. dan dengan segera, Denis membawa Winda ke rumah mereka.
"ini," Denis melemparkan surat perjanjian di depan wajah Windia. hal itu tentu saja membuat wanita itu, seketika terkejut. dengan segera langsung menangkapnya. Untungnya, kertas itu tidak menghantam tubuh kecil baby Naomi. jika tidak, maka Windia tidak akan pernah tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Sesaat, Windia menatap tajam ke arah laki-laki yang masih berstatus suaminya itu. nama, dengan cepat, wanita itu mengalihkan pandangannya.
" nggak usah natap gue seperti itu, lebih baik lu segera baca dan tanda tangani. jika lu ingin keluarga lu aman." ucap Denis dengan nada santai namun penuh akan nada ancaman dan penekanan.
" ini maksudnya apa?" tanyah Windia dengan laut wajah bingungnya. hal itu malah dipandang Sinis oleh Denis.
" nggak usah pura-pura bego lu, sekarang Buruan mau baca dan tanda tangani." ucap Denis dengan nada membentak. hal itu tentu saja membuat baby Naomi yang tengah tertidur lelap, seketika terbangun dan menangis kencang.
dengan segera, Windia mencoba untuk menenangkan bayi yang baru berusia satu setengah bulan itu. Apalagi, wanita itu, juga mendapatkan tatapan tajam dari Denis.
" segera, buat dia berhenti atau gue yang akan membuat dia berhenti?" tanyanya penuh dengan nada ancaman. hal itu saja membuat Windia yang mendengarnya, seketika menatap tak percaya ke arahnya laki-laki yang menjadi suaminya itu,
" dia anakmu," ucap Windia dengan nada Lirih. dan menundukkan kepala. karena memang, wanita itu tidak berani untuk menatap mata laki-laki itu.
Seketika itu pula Denis segera menata tajam ke arah wanita yang baru saja berani mengatainya itu kemudian tangannya terangkat ingin menampar mulut yang kurang ajar itu.
__ADS_1
Namun, secara bersamaan, ponsel Dennis pun berdering. Hal itu membuat laki-laki itu, seketika menurunkan niatnya. Kemudian, dengan segera, melihat Siapa yang menelpon.
Seketika itu pula, senyum Denis segera Terukir kedua sudut bibirnya. dan kemudian, menatap tajam kembali ke arah Windia." kau kali ini selamat, sekarang pergi kau dari sini." sentaknya Seraya menatap Windia dengan tatapan tajamnya.
hal itu seketika membuat Windia, segera berlari dari sana dan memasuki ke ruang yang sangat kecil. yang memang, sudah dipersiapkan oleh Denis.
Windia sesaat termenung di depan ruangan yang disebut kamarnya itu. karena penampilan ruangan ini, tak layak disebut kamar. lebih layak disebut sebagai gudang. atau mungkin, ini memang gudang yang tidak terpakai. jika memang ini gudang, sungguh Denis adalah laki-laki yang sangat kejam.
Karena dengan Teganya, laki-laki itu menempatkan bayi mungil di tempat seperti ini. tidak masalah jika Denis tidak menganggap dirinya sebagai istri.
Namun, Apakah harus bayi yang tidak berdosa ini, juga mendapatkan perlakuan yang sama seperti dirinya. ini tidaklah adil. Windia dengan sekuat tenaga, menggelengkan kepala.
Dirinya, akan berusaha sekuat tenaga untuk menerima Takdir hidup yang telah digariskan oleh Tuhan.
dengan segera, dirinya melangkahkan kaki memasuki ruangan kamar itu. Lagi Dan lagi, Windia tercengang. Karena, wanita berusia 18 tahun itu mendapati hal yang tak kalah mirisnya yang ada di dalam kamarnya itu.
" Ya Tuhan cobaan apa lagi ini,?" tanyanya Seraya berderai air mata. dengan segera, wanita itu melangkahkan kaki mendekati kasur lantai dan juga sebuah lemari plastik yang berada di dalam sana.
" dia benar-benar memperlakukanku seperti seorang pelayan." ucapnya dengan deraian air mata yang membasahi pipinya.
Dengan langkah hati-hati, Windia meletakkan Naomi yang telah tertidur pulas ke atas kasur lantai yang sudah Lapuk itu.
Air matanya kembali meluncur dengan derasnya tanpa permisi. Ternyata, dirinya benar-benar Satu Atap lagi bersama laki-laki itu. dan seperti Dejavu, Windia akan kembali menjadi seorang pelayan bagi Dennis Ricardo.
__ADS_1
Seorang laki-laki yang tidak memiliki hati nurani sedikitpun. Bisa-bisanya, laki-laki itu memperlakukan wanita yang masih berstatus istrinya dan juga darah dagingnya, seperti bukan manusia.
Berkali-kali, Windia mengecupi pipi dan seluruh wajah dari baby Naomi. membuat bayi mungil itu, beberapa kali menggeliat. karena mungkin merasa begitu geli. dengan kecupan yang diberikan oleh sang ibu