Aku Bukan Pelayanmu

Aku Bukan Pelayanmu
Lega Tapi Was Was


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian, ini Baby Naomi telah berusia sekitaran 6 bulan. bayi perempuan itu, tumbuh menjadi bayi yang begitu cantik dan juga menggemaskan. dengan bulu mata lentik, pipi yang sangat chubby, dan juga bibir merah alami.


hal itu tentu saja membuat Latika yang melihatnya, semakin merasa hal itu tentu saja membuat Windia yang menyadari sikap dari wanita yang sebenarnya menjadi madunya itu merasa sedikit was-was. namun juga merasa lega, karena selama ini, wanita itu tak pernah lagi menyakiti Putri cantiknya itu.


Plak


baru saja Windia membatin tentang sikap Latika yang sudah tidak pernah berbuat kasar pada putrinya, tiba-tiba saja wanita, itu mendengar suara tangisan anak kecil. dengan langkah tergesa-gesa, India yang berada di dapur, segera menghampiri putrinya yang berada di kursi karena baru saja selesai makan.


Dengan langkah tergopoh-gopoh, Windia segera menghampiri sang anak. yang ternyata, telah menangis Tanpa Suara. hanya tubuh mungilnya yang bergetar-getar. hal itu menandakan jika bayi berusia 6 bulan itu, Tengah menangis dengan kuatnya.


" Sayang, Apa yang terjadi padamu nak?" tanya Windia Seraya memeriksa tubuh mungil itu. dan ternyata, wanita itu begitu terkejut saat melihat bekas memar di lengan bayi itu. dan dengan segera, Windia segera mengangkatnya dan gendong bayi mungil itu.


" cup cup Sayang Cup, jangan nangis lagi ya di sini ada ibu yang akan menjaga kamu." ucapnya Seraya menimang-nimang baby Naomi. dan akhirnya, Setelah sekian lama, bayi itu akhirnya tertidur pulas.


Bersamaan dengan itu, Latika keluar dari kamar Seraya menggendong bayi laki-laki yang baru saja berusia sekitaran satu bulan itu. dan untuk beberapa saat, mata kedua wanita itu, beradu pandang.

__ADS_1


" Untuk apa kamu lihat nih saya seperti itu?" tanya Latika dengan nada ketusnya. namun tidak seperti biasanya, Windia malah menatap tajam ke arah istri dari suaminya itu.


" Apa yang kau lakukan dengan putriku?" tanya Windia dengan tatapan tajamnya. Mendengar hal itu, membuat Latika seketika naik pitam. dan dengan segera, wanita itu melangkahkan kaki menghampiri Windia.


kini posisi mereka, sama-sama Tengah menggendong bayi. dan tak lama berselang, kedua wanita itu sudah sama-sama menarik rambut lawan masing-masing.


Windia memutuskan untuk tidak takut lagi pada wanita yang bernama Latika Bella itu. Dirinya juga harus berani. karena memang, dirinya tidak salah apapun. terlebih lagi, kondisi sang ayah kini sudah benar-benar pulih.


Sehingga, mereka semua sudah tidak Ketergantungan dengan keluarga Denis. Hal itu membuat Windia semakin berani menentang kekejaman yang dilakukan oleh Denis dan juga Latika.


" apa yang kalian lakukan,?" tanya Denis sedikit membentak. Hal itu membuat kedua wanita itu, seketika menoleh. dan dengan secepatnya, Latika segera berlari dan langsung memeluk tubuh kekar suaminya.


" baby, wanita itu berani membentakku" ucap Latika Seraya menunjuk ke arah Windia. hal itu tentu saja membuat Denis yang mendengarnya, segera melayangkan tatapan tajam pada wanita itu.


" Maaf Tuan. tapi, Saya sudah merasa tidak kuat dengan apa yang kalian perlakukan pada saya. Saya memutuskan akan pergi dari sini." ucap Windia Soraya menatap datar ke arah pasangan suami istri itu.

__ADS_1


" dasar keras kepala, sok kaya. memangnya, kamu ingin pergi ke mana? Hah?" tanya Denis dengan nada sinisnya.


" Saya tidak tahu Tapi saya lebih baik pergi daripada harus tinggal satu atap bersama dengan iblis seperti kalian." ucap Windia Seraya melangkah pergi meninggalkan rumah itu.


Tak dirinya hiraukan cacian dan Makian yang terlontar dari mulut Denis dan juga Latika. Windia sudah merasa lelah dengan berbagai siksaan yang selama ini dirinya terima. Bahkan, anak sekecil Naomi pun, juga tak luput dari siksaan mereka. dasar memang benar-benar iblis mereka itu.


*****


Akhirnya, Windia memutuskan untuk menempati sebuah rumah kontrakan yang terletak di sebuah desa kecil. karena diam-diam, Windia berjualan kue basah dan dijualnya pada orang-orang yang lalu lalang di jalan raya. dan itu dilakukan saat kondisi rumah benar-benar sepi.


Untunglah, Windia dapat mengelola kemampuannya hingga menghasilkan uang yang tidak seberapa. Setidaknya, uang itu cukup untuk biaya hidupnya untuk beberapa bulan ke depan.


" mulai sekarang, kita tinggal di sini ya nak. Semoga kamu bahagia." ucapnya Seraya mengecup berkali-kali pipi Gembul milik baby Naomi.


Memang, hal ini Seharusnya dilakukan oleh Windia Sedari Dulu. Agar mereka berdua tak mendapatkan perlakuan buruk dari keluarga iblis itu.

__ADS_1


__ADS_2