Aku Bukan Pelayanmu

Aku Bukan Pelayanmu
dicampakkan


__ADS_3

setelah selesai acara resepsi, Windia dan Denis langsung berpamitan pada keluarganya. karena Rencananya hari itu, laki-laki itu akan langsung membawa sang istri ke kediaman barunya.


Namun sebelum meninggalkan hotel tempat resepsi, Windia memberanikan diri untuk meminta izin terlebih dahulu pada Ibu mertuanya.


" nyonya, eh mommy. saya boleh membawa ayah saya tidak untuk tinggal bersama kami?" tanya gadis itu dengan ekspresi wajah takut.


" boleh, tidak boleh!" dua sahutan yang berbeda datang secara bersamaan dan hal itu tentu saja membuat orang yang menyahut itu saling berpandangan satu sama lain.


" Kenapa Denis kamu nggak mau ngurus?" tanya Vega dengan ekspresi wajah terkejutnya.


Karena, Baru kali ini Putra semata sayangnya itu berkata demikian. rasa kecewa tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam relung hatinya saat mendengar jawaban itu.


Sementara Denis yang menyadari perubahan ekspresi wajah ibunya, segera menghampiri dan memeluknya.


" maaf Mom bukannya aku ingin menolak usulan dari Windia. hanya saja, Kami perlu waktu Berdua Untuk saling mengenal. apalagi, kita menikah dalam keadaan tak saling mengenal" ucapnya lirih.


hal itu tentu saja membuat Vega yang berada dalam pelukan Putra semata wayangnya itu, seketika berbinar mendengar ucapan dari Denis.


" kau serius sayang,?" tanya Vega sedikit tak percaya. mengingat, Putra kesayangannya itu sangat sulit untuk membuka hati pada wanita.


Denis yang mendengarnya hanya menganggukkan kepala. sementara Windia yang mendengar ucapan dari laki-laki yang telah menjadi suaminya itu, sedikit merasakan getaran dalam hatinya.


Maklum saja, karena Windia belum pernah merasakan apa yang namanya jatuh cinta. maka dari itu, hanya mendengar ucapan manis yang keluar dari mulut laki-laki, hatinya sedikit berdesir.


" Ya sudah kalau kamu maunya begitu, biar Tuan Edward Nanti mama kirimkan suster saja di rumah." ucapnya sedikit berbunga-bunga.


sementara Windia yang mendengarnya, hanya menundukkan kepala saja karena dirinya tak berkuasa untuk menolak usulan itu.


kemudian Gadis itu berjalan mendekati ayah dan adik-adiknya." ayah Annabella, dan kamu Rose, kalian bertiga baik baik ya di rumah," ucap Windia dengan lengan air mata yang membasahi pipi.


Hal itu membuat Edward dan juga Rose yang mendengarnya, meneteskan air mata. Tapi tidak terkecuali Annabella. gadis cantik itu malah melengos menghindari interaksi sang kakak.

__ADS_1


Entahlah, tapi yang jelas Gadis itu tak pernah menyukai ayah dan juga kakaknya itu. entah apa penyebabnya, India pun juga tidak mengerti.


" Tenanglah nak, ayah dan adik-adikmu pasti akan terjamin di rumah." ucap Robert mengelus kepala menantunya itu.


***


di sepanjang perjalanan, Windia dan Denis tak satupun mengeluarkan sesuatu. mereka sama-sama terkirim tenggelam dalam lamunan masing-masing.


Hingga mereka telah sampai di depan sebuah rumah minimalis. dan dengan segera tanpa basa-basi, Denis menarik tangan gadis itu sedikit kasar.


hingga Windia memetik kesakitan." au sakit," ringisnya Seraya mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman laki-laki yang telah menyeretnya itu.


Namun, sepertinya laki-laki itu tak menghiraukan ringisan dan rintihan dari wanita yang telah menjadi istrinya itu.


dirinya tetap saja menarik dan menyeret Windia dengan kasar hingga menuju ke lantai 2. dan setelah sampai di depan kamar, Denis segera membuka pintu kamar itu.


kemudian membantingnya ke atas ranjang. setelahnya tanpa basa-basi, dirinya menindih hingga wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.


" Apa maksudmu aku tidak pernah melakukan itu." ucapnya Seraya berusaha untuk mendorong tubuh kekar itu.


namun sepertinya sia-sia saja karena tubuh laki-laki itu tak bergerak sama sekali dari tempatnya. justru semakin memajukan wajahnya hingga nafas mereka saling tercium satu sama lain.


Sejenak Denis merasa nyaman dan merasa tentram. perasaan yang baru pertama kali mengganti pikirannya.


lama laki-laki itu Terdiam hanya karena merasa tenang menghirup bau badan dari wanita yang telah berada dalam kungkungannya itu.


Namun sepertinya itu hanya berlaku untuk beberapa saat. Karena laki-laki itu kembali tersadar dari lamunannya. dan dengan cepat, dirinya membuka kasar tali baju tidur yang baru saja dipakai oleh gadis itu.


seketika itu pula, ketakutan menjalar memasuki relung hatinya. dirinya tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Walaupun, Windia tak pernah melakukannya namanya berpacaran, tapi dirinya tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya.


Windia seketika terperanjat kaget saat Merasakan inti tubuhnya disentuh dan dipermainkan di sana. laguhan, rintihan serta des**an kecil lolos begitu saja dari dalam mulutnya.

__ADS_1


hal itu tentu saja membuat Denis yang mendengarnya, tersenyum sinis." dasar murahan!" bisiknya di telinga Windia.


Sakit


hatinya begitu sakit saat mendengar ucapan itu keluar dari laki-laki yang telah menjadi suaminya itu. Namun, Denis tak berhenti untuk menjamah tubuh istrinya itu.


hal itu semakin membuat Windia sekuat tenaga untuk menahan gejolak yang ada dalam dirinya. Gadis itu tidak ingin dikatai yang tidak tidak boleh laki-laki yang telah menjadi suaminya itu.


Denis yang melihat usaha keras yang dilakukan oleh media untuk menolak getaran-getaran aneh itu, semakin menggila sentuhannya.


Hingga, akhirnya de**an kecil itu kembali lolos. dan seperti sebelumnya, Dennis melontarkan kata-kata yang lebih menyakitkan.


" dasar jal-*ng!" hardiknya se raya disertai dengan kekehan pelan. Hal itulah tentu saja membuat Windia yang mendengarnya, seketika me**as sprei kasurnya karena merasa sakit yang amat teramat dalam. dan akhirnya kegiatan itu selalu berulang-ulang hingga beberapa saat.


setelah dirasa puas, Denis segera melucuti semua pakaiannya hingga mereka sama-sama tak tersentuh benang sedikitpun.


ketakutan yang teramat sangat seketika menjalani seluruh tubuh Windia. dengan cepat Gadis itu Hendak bangkit untuk meloloskan diri.


Namun, Sayangnya gerakan Windia sedikit terlambat karena dengan cepat Denis menarik pergelangan tangannya hingga keduanya kini sama-sama kembali ke posisi awal.


dengan tanpa basa-basi, laki-laki itu segera menerjang tubuh sang istri. hingga membuat Windia meringis kesakitan.


" ini kan Yang Kau Minta ha!" bentaknya Seraya berusaha menyatukan kedua tubuh mereka. hingga Windia merasakan ada sesuatu yang robek dari dalam sana.


seketika itu pula, Windia menangis tersedu-sedu. namun hal itu tak membuat Denis merasa Iba sedikitpun. Justru laki-laki itu malah semakin menggila dan dengan sedikit kasar melakukan hal itu pada istrinya.


hingga Denis melihat ada lelehan berwarna merah yang mengalir dari bawah sana. dan akhirnya, ritual itu pun terlaksana dengan disertai rintihan dan juga isakan tangis dari Windia.


setelah hampir 2 jam, akhirnya ritual itupun selesai. dengan segera Denis mencampakkan begitu saja. kemudian melenggang pergi dari kamar itu.


sementara Windia yang merasakan dicampakkan, menangis jadi-jadinya.

__ADS_1


__ADS_2