Aku Bukan Pelayanmu

Aku Bukan Pelayanmu
Rasa Apa Ini?


__ADS_3

Setelah kurang lebih 2 bulan, akhirnya, gugatan Windia dikabulkan oleh pengadilan. hal itu tentu saja membuat wanita itu, seketika tersenyum tipis. Soraya sesekali, menghembuskan nafasnya lega.


" syukurlah, akhirnya, aku bisa merasakan kebebasan yang sesungguhnya." ucapnya Seraya tersenyum lebar. tak lama berselang, Denis dan juga Latika, yang memang berada di ruang persidangan yang sama, berjalan menghampiri Windia dengan tata amarahnya.


Windia yang melihatnya, sedikit merasa ketakutan. dengan perlahan, wanita itu menundukkan kepala. Kemudian mencoba untuk bercanda dengan baby Naomi yang sudah semakin aktif dan juga lincah.


" dasar wanita tidak tahu diri! sudah untung aku membantu pengobatan ayahmu" ucap Denis dengan nada pelan, namun juga syarat akan sebuah ancaman.


" biasalah sayang, namanya juga parasit. kalau sudah berhasil menguasai, dia pasti akan segera lari dari orang yang membantunya." ucap Latika berusaha untuk memanas-manasi Denis.


Mendengar hal itu, Denis segera melayangkan tatapan tajamnya pada wanita yang kini telah resmi menjadi Mantan istrinya itu.

__ADS_1


" Katakan padaku, siapa laki-laki yang berhasil kau taklukkan lagi, sehingga berani-beraninya kau meninggalkanku seperti ini?" tanya Denis.


" Pasti orang itu, orang-orang paling kaya di kota ini bahkan di negara ini mungkin." ucap Latika mencibir.


Denis yang mendengarnya, semakin menatap ke arah Windia dengan tatapan Benci Dan juga tetapan jijiknya." huh, pastilah itu sayang, pasti wanita ini menggunakan cara kotor untuk meraih impiannya. sama seperti dulu menghalalkan segala cara untuk bisa menikahiku." ucap Denis dengan sinis.


Mendengar hinaan dan cacian yang selalu dilontarkan oleh laki-laki di hadapannya itu, seketika membuat Windia mendongak dengan tatapan tajamnya.


" maaf tuan Denis Ricardo yang terhormat, saya Sedari Dulu selalu bersabar. saat anda, sering sekali menghina dan mencaci maki saya. tapi kali ini, ucapan Anda sudah benar-benar keterlaluan." ucap Windia dengan nada tinggi.


Denis yang melihat itu, sesaat merasa terpaku dengan sorot mata wanita yang ada di hadapannya itu. sorot matanya, menunjukkan rasa benci dan juga amarah yang luar biasa.

__ADS_1


" Astaga rasa apa ini?" tanya Denis dalam hatinya Seraya sesekali menggelengkan kepala untuk menghilangkan rasa aneh yang menyelinap masuk ke dalam hatinya.


****


Windia memutuskan untuk segera pulang ke rumah sang ayah. di mana, Windia mendapatkan kabar bahwa laki-laki paruh baya itu sudah lebih membaik dan kini, sedikit demi sedikit, sudah terlepas dari ketergantungan obat.


" ayah, Annabella, Rose, aku pulang!" teriak Windia dengan membuka pintu utama rumahnya. Hal itu membuat ketiga orang yang namanya disebut itu, segera keluar dari kamar masing-masing.


Mata Rose dan Edward, seketika berbinar saat melihat Siapa yang datang. Namun, tidak dengan Annabella, Gadis itu menatap tajam ke arah Windia.


" nak kau pulang, ini cucuku kan? cantik sekali kamu persis dengan ibumu" ucap Edward Seraya membelai wajah baby Naomi.

__ADS_1


" Kak Windia akan tinggal di sini?" tanya Rose Seraya menarik tangan kakaknya itu untuk segera duduk di kursi ruang tamu.


" Iya Rose, Kakak akan tinggal di sini. boleh kan?" tanya Windia dengan ekspresi wajah memelasnya. hal itu tentu saja membuat Rose dan Edward yang melihatnya, seketika tertawa pelan.


__ADS_2