Aku Bukan Pelayanmu

Aku Bukan Pelayanmu
Akhirnya Menyerah


__ADS_3

Beberapa hari kemudian,...


Hari ini tepat 2 bulan usia kandungan Windia. dan selama itu pula, baik Denis maupun Latika tak pernah berhenti untuk menyiksa wanita hamil itu. hingga membuat tubuhnya tak terurus.


Dengan gontai, lagu India berjalan menyusuri ruangan demi ruangan yang ada di rumah itu. Yap dirinya menjadi seorang pelayan semenjak dirinya menyandang sebagai seorang istri Denis di atas kertas.


" Ayah Maafkan Aku. aku sudah merasa tidak kuat." ucapnya Seraya mengusap air mata yang membanjiri pipinya. dengan segera, Windia segera mengemasi barang-barangnya. kemudian berjalan keluar ke arah ruang depan.


Di sana, sedang ada Denis dan juga Latika yang tengah menonton televisi Seraya sesekali bercanda dengan mesra.


hingga, kedatangan Windia membuat tawa itu seketika mereda. Dengan tatapan tajam, Denis menatap Windia dengan Tatapan yang penuh dengan kebencian.


" Mau ke mana kamu?!" tanyanya dengan Ketus. hal itu sontak membuat Windia seketika menghentikan langkahnya Seraya menatap ke arah pasangan suami istri yang ada di hadapanya itu.


" aku mohon Denis, aku mohon lepasin aku" ucap Windia Seraya mengatupkan kedua tangannya di atas dada


hal itu semakin membuat Denis dan Latika yang mendengarnya, menatap sinis dengan senyuman miring di bibit mereka masing-masing.


Tanpa basa-basi, Latika segera bangkit dan langsung menarik tangan Windia. menyeretnya ke dalam kamar para pelayan. kemudian dengan segera, membantingnya ke arah kasur dengan kasar.


Sontak saja hal itu membuat Windia merintih kesakitan. Karena perutnya terasa kram saat dirinya banting ke arah kasur oleh Latika


" aw sakit banget!" pekiknya Soraya menyentuh perut bagian bawahnya. sementara, Latika yang menyaksikan itu, hanya menatap ke arah Windia dengan Tatapan yang sudah diartikan.


Setelahnya tanpa berucap sepatah kata pun, segera melinggang keluar dari ruang kamar itu. Sementara Windia, hanya bisa menatap dengan tatapan sedih.


Dirinya merasa sudah tidak kuat lagi untuk menahan beban yang diberikan pasangan suami istri itu kepadanya.


" aku harus segera pergi dari sini" gumamnya Seraya mengusap air matanya.

__ADS_1


Rencananya Windia akan pergi dari sana malam nanti. Saat semua orang telah terlelap. dengan segera, India dengan segera mengerjakan semua pekerjaan rumah seperti biasanya.


Untuk makan, Windia hanya memesan beberapa snack dan juga roti yang dibeli saat Denis dan juga Latika Tengah tidak ada di rumah.


miris memang, seorang wanita hamil yang seharusnya bisa mendapatkan kualitas yang terbaik, kini malah hanya makan snack dan juga roti. Dengan segera Windia mengelus perutnya yang sedikit menonjol itu.


" maafkan Ibu ya nak, semoga kamu juga bisa kuat menahan semua ini." gunanya Seraya mengusap perut bagian bawahnya.


malam hari pun tiba. dengan segera Windia mengemasi barang-barangnya. karena tepat jam 12.00 nanti dirinya harus segera keluar dari rumah ini.


Dengan cemas wanita itu berjalan ke sana kemari untuk menunggu waktu itu tiba." Semoga apa yang aku lakukan ini benar Ya Tuhan" ucapnya Seraya mengatupkan kedua tangan di depan dada.


Sementara di dalam kamar yang lain, tampak sepasang suami istri Tengah duduk bersantai di atas sofa. dengan sesekali bergelayut mesra dan bercanda seperti tak ada beban sama sekali.


"Beb, menurutmu Windia gimana?" tanya Latika Seraya menatap ke arah suami.


" nggak usah bahas dia. aku nggak tertarik sama sekali." ucapnya dengan Ketus. Sementara Latika yang mendengarnya, tersenyum misterius.


tepat sekitar pukul sepuluh malam, Windia keluar dari rumah yang memang semua penghuninya telah tertidur lelap. dengan langkah kaki gemetar, wanita itu Mengayunkan kakinya berjalan untuk keluar dari rumah ini.


Kebetulan pintu belakang rumah Denis terbuat dari papan kayu yang ringan. Sehingga, tidak terlalu berat saat membukanya. dengan rasa takut, Windia berjalan membuka pintu itu secara perlahan.


hingga setelah dirasa aman, Windia segera keluar dari rumah itu dan berjalan dengan begitu cepat. dirinya tidak ingin sampai tertangkap lagi.


Sejenak setelah merasa cukup jauh dari rumah Denis, Windia berhenti sebentar kemudian bersandar di kursi yang memang tersedia di tempat itu. Dengan sesekali mengusap air mata yang telah jatuh membasahi pipinya.


" Ya Tuhan tolong aku!" ucapnya dengan tatapan frustasi Seraya mendungak ke atas. memandang Rembulan Malam ini yang tampak bersinar cukup terang.


Dirinya tak tahu harus pergi ke mana. yang ia tahu, Windia harus melangkah meninggalkan Kompleks Perumahan ini. Sejenak dirinya berpikir akan sesuatu. Bagaimana jika pengobatan sang ayah dihentikan karena dia telah kabur dari rumah? pertanyaan itu tiba-tiba menggelayut di kepalanya.

__ADS_1


Tapi dirinya sungguh sudah tidak tahan dengan perilaku Denis dan juga Latika yang memperlakukannya seperti binatang.


" ayah maafin Windia, Windia udah nggak kuat lagi untuk menjalani pernikahan ini." ucapnya Seraya berderai air mata. wanita hamil itu akhirnya menyerah juga.


setelah dirasa tenang, Windia kembali berjalan menyusuri Komplek yang sudah terasa sepi. karena memang, waktunya sudah larut tengah malam.


Dirinya terus saja berjalan kaki. Karena memang, Windia Tak memiliki ongkos sama sekali untuk menaiki kendaraan umum.


Hingga dirasa langkah Windia sudah tidak merasa kuat. Windia memutuskan untuk bersandar di teras sebuah rumah. tiba-tiba saja, sebuah tepukan mendarat mulus di pundaknya. hingga Hal itu membuat Windia seketika tersingkat kaget.


" Mbaknya ngapain ada di sini tengah malam lagi?" tanya orang itu yang Windia duga adalah seorang tenaga medis.


"sa-saya sedang istirahat sebentar." ucapnya tergagap Seraya seketika menundukkan kepala.


setelah mengatakan itu, wanita paruh baya itu meninggalkan Windia seorang diri. hingga membuatnya menautkan alis karena merasa kebingungan.


Tak lama berselang, wanita yang memakai seragam dokter itu segera menghampiri Windia Seraya memberikan segelas air putih dan juga sebuah biskuit.


" ini buat kamu, kalau kamu lagi hamil jangan berjalan terlalu lama. apa lagi sepertinya kehamilanmu masih muda." ucapnya Seraya duduk di samping Windia.


Sontak saja hal itu membuat Windia, seketika merasa terkejut. Bagaimana wanita ini tahu jika aku sedang hamil? tanyanya dalam hati.


" Maaf nyonya tahu dari mana Kalau saya hamil?" tanyanya sedikit takut.


wanita paruh baya itu yang bername tag Anjani Itu mengulas senyum tipis." saya tahu dari ciri-ciri kamu, ucapnya Seraya mengusap pundak Windia.


Windia yang mendengarnya hanya terdiam saja Kemudian segera meminum air putih yang telah diberikan pada dokter Anjani Itu. Setelah mengatur nafas lega, Windia mulai membuka cemilan yang baru saja diberikan padanya.


Memang saat ini dirinya begitu kelaparan karena Denis tak pernah mengizinkannya untuk sekedar mengambil nasi putih.

__ADS_1


__ADS_2