
Setelah hampir seharian bermain di pantai, akhirnya Windia memutuskan untuk pulang ke rumah dokter Anjani. Kebetulan, dokter muda itu punya juga ikut bersama Windia.
" bagaimana keadaanmu sekarang ini Win,?" tanya dokter Anjani Seraya menatap ke arah ibu muda itu yang tengah bermain dengan putrinya.
Windia yang mendengarnya seketika menoleh ke arah dokter Anjani yang berada di sampingnya itu." sudah lebih bahagia dong, Karena sekarang ada baby Naomi" ucapnya Seraya mengelus pipi bayi usia 1 bulan itu.
Sehingga, membuat bayi menggemaskan itu menggeliat karena merasa terganggu dengan ucapan ibunya. hal itu tentu saja membuat dokter Anjani dan juga Windia seketika Saling pandang. setelah itu, mereka berdua sama-sama terkekeh pelan.
Sementara Vega dan juga Robert, memutuskan untuk segera pulang. karena memang, banyak pekerjaan yang menanti mereka. Walaupun, kedua orang paruh baya itu memiliki usaha sendiri, Namun usaha mereka tak semaju milik Denis.
Hal itulah yang membuat Vega dan juga Robert menyarankan media agar meminta biaya untuk pengobatan ayahnya. bukan mereka tidak ingin membantu. akan tetapi, selain karena itu kewajiban dari Denis, Robert dan juga Vega Tak memiliki banyak biaya.
Karena Robert dan juga Vega, hanya memiliki bisnis kecil-kecilan. Setelah lama dalam perjalanan, mobil yang ditumpangi oleh Windia dan juga Dokter Anjani Akhirnya sampai juga di gerbang Perumahan mereka.
Dari jauh, Windia seperti melihat ada sebuah mobil yang sangat familiar dalam ingatannya. Namun, dengan segera Windia menggelengkan kepalanya. entah apa yang ia pikirkan, yang jelas, Windia seperti sangat familiar dengan mobil itu.
" kok aku kayak pernah lihat mobil itu ya," gunanya pelan Seraya terus menatap ke arah mobil yang tengah terparkir itu. karena jaraknya yang terlalu jauh, membuat Windia ragu akan apa yang ia lihat.
Akhirnya, Windia memutuskan untuk berdiam saja. Siapa tahu yang dirinya lihat itu adalah salah. dokter Anjani yang melihat gelagat aneh dari Windia segera menepuk pundaknya.
" kamu lihat apa Win,?" Tanya Dokter Anjani. sehingga membuat wanita itu seketika terkesiap karena merasa terkejut.
"e-eh, tid-ak ada apa-apa dok," ucapnya sedikit terbata-bata dalam berbicara. hal itu sebenarnya membuat dokter Anjani merasa heran. Namun, wanita yang memiliki profesi mulia itu hanya terdiam. karena tidak ingin memaksakan kehendaknya dan juga tak ingin ikut campur urusan orang lain.
Akhirnya, mobil yang ditumpangi Windia dan dokter Anjani pun, Akhirnya sampai di depan rumah dokter itu. dan dengan segera, mereka berdua turun dari dalam mobil.
__ADS_1
Deg
seketika itu pula, jantung Windia seakan dengan lepas dari tempatnya. saat melihat, ada dua orang yang sangat ia kenal tengah duduk di kursi ruang tamu.
tak lama berselang, Reni datang menghampiri dokter Anjani dengan wajah sedikit gugup. baru saja Gadis itu ingin berucap, dokter Anjani mengangkat tangannya. hingga membuat Gadis itu terdiam.
"saya akan menghadapi mereka, kamu kembali saja ke belakang." ucapnya dengan nada tegas. dengan segera tanpa protes, Reni segera berjalan menuju ke arah belakang.
dengan segera, dokter Anjani menarik tangan Windia agar masuk ke dalam rumah. karena sejak tadi, Windy hanya terpaku di ambang pintu.
" selamat sore Tuan, Nyonya, Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dokter Anjani dengan raut wajah tersenyum tipis.
Seketika itu pula, dua orang yang dari tadi hanya terdiam saja, segera menatap ke arah Sumber suara. siapa lagi jika bukan Denis dan juga Latika.
Keduanya sontak saja saling tatap. dan dengan segera, berdiri menetap ke arah Windia yang tengah menggendong bayi mungil.
" Tol-ong jang-an pisa-hkan ka-mi" ucapin dia dengan nada terbata-bata. dirinya merasa begitu terancam. dengan kehadiran pasangan suami istri yang ada di hadapannya itu.
Sementara Denis, laki-laki itu malah semakin melajukan langkahnya untuk mendekati Windia yang malah beringsut mundur hingga dirinya menabrak dinding yang ada di belakangnya.
"apa dia anakku,?" tanya Denis Seraya matanya tidak lepas dari sosok bayi mungil yang Tengah membuka mulut kecilnya itu. menandakan, bahwa bayi itu, Tengah kelaparan.
Oeeek,... Oeeekk,...
Tangisan nyaring yang dihasilkan oleh mulut kecil Naomi, membuat Windia seketika tersadar. tiba-tiba saja, wanita itu memiliki ide untuk menghindari laki-laki yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
" Permisi, tuan, nyonya. Saya ingin memberikan ASI terlebih dahulu untuk anak saya." ucapnya dengan segera berlalu pergi dari sana.
Windia sama sekali tidak memperdulikan tatapan dari Denis dan juga Latika. yang dirinya fokuskan saat ini, hanyalah menghindari dari manusia yang ada di hadapannya itu.
Hoshh hosh hoshh
Setibanya Windia di dalam kamar, wanita itu segera Mengunci pintu kamar itu. kemudian mengatur nafasnya agar teratur kembali. Sungguh, kejadian yang baru saja ia alami itu, lebih menyeramkan daripada bertemu sosok tak kasat mata.
"astaga, lindungi aku ya Tuhan, semoga, mereka tidak berniat untuk mengambil anak ini. aku tidak bisa membayangkan Tuhan, jika mereka mengambil anakku secara paksa." gumannya dengan linangan air mata.
Kemudian, secara pertahanan, lagu India melangkahkan kaki menuju ke tempat ranjang itu berada. dan dengan sangat berhati-hati, wanita itu membaringkan tubuh mungil anaknya di atas kasur.
Entah apa yang dikatakan dan dibicarakan oleh Denis, Latika, dan juga Dokter Anjani. Windia tidak mau tahu dan tidak ingin mencari tahu. Bagi dia, mereka harus segera pergi dari sini.
Windia sudah seperti orang yang sangat terancam. Saat Dennis dan juga Latika mengunjungi dirinya. mungkin itu karena trauma yang pernah ia alami dulu.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Windia tampak terlelap. mungkin saja, wanita itu merasa kelelahan. Kelelahan yang mendera tubuhnya, dan juga Kelelahan yang menjerat batinnya.
Malam harinya, Windia dengan segera membuka matanya. dirinya sangat terkejut saat mendapati, bayi mungil itu tidak ada di tempatnya.
Seketika itu pula, prasangka buruk segera muncul dalam kepalanya." Naomi kamu di mana?!" teriak Windia Seraya brinsut dari tempat tidur.
Dengan segera, Windia keluar dari kamarnya dengan ekspresi dan hati tak tenang." Ren, kamu melihat Naomi?" tanya Windia-saat berpapasan dengan asisten rumah tangganya itu.
" di taman samping rumah nyonya," ujarnya Seraya sesekali memotong bahan-bahan makanan. dengan segera, Windia segera melangkahkan kakinya menuju tempat yang diberitahukan oleh asisten rumah tangga itu.
__ADS_1
Seketika itu pula, Windia menghela nafas panjang saat melihat putrinya bersama dengan dokter Anjani. dengan perlahan, wanita itu mendekati bangku taman.
" saya cari-cari ternyata ada di sini." ujarnya Seraya duduk di samping dokter Anjani