
hari ini, Tepat dua bulan Windia tinggal di kediaman dokter Anjani. selama di sana, wanita hamil itu seringkali membantu asisten rumah tangga yang sengaja dokter Anjani pekerjakan untuk menemani Windia saat dirinya sedang bekerja di rumah sakit.
Padahal Windia sudah bersih Kukuh menolak untuk dipekerjakan seorang pembantu hanya untuk menemaninya. karena menurutnya, dirinya masih bisa melakukan apapun itu sendiri.
Namun, dokter Anjani pun bersikukuh untuk mempekerjakan seorang asisten rumah tangga. hal itu tentu saja membuat Windia yang memang hanya seorang tamu, Hanya bisa pasrah dan menerima.
" Windia, Nanti sore kita ke rumah sakit ya. kandungan kamu sudah mulai harus diperiksa lagi." cap dokter Anjani saat mereka Tengah menyantap sarapan di pagi hari.
Seketika itu pula, Windia yang tengah sibuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya, seketika terhenti dan mendongak ke atas menatap dokter muda itu.
" eh maaf dok tapi saya tidak memiliki biaya untuk memeriksakan kandungan saya." ucapnya dengan cepat menundukkan kepala.
Karena memang, Windia berencana ingin mencari pekerjaan. agar dirinya dapat mendapatkan penghasilan dan tidak bergantung pada orang lain.
Apalagi orang itu adalah orang asing yang baru dikenal oleh Windia. selain merasa tidak enak, ada juga perasaan takut yang menggelayut di hatinya.
Namun laki-laki dokter Anjani melarangnya untuk bekerja karena mengingat kandungan Windia kini sudah menginjak usia lima bulan. hal itu membuatnya sedikit khawatir.
Hal itu membuat Windia Lagi Dan Lagi Hanya bisa pasrah. dokter Anjani yang mendengarnya, hanya tersenyum tipis.
" tidak masalah Windia. KTP yang kamu kirimkan ke saya kemarin, itu sudah diproses oleh pihak rumah sakit tempat saya bekerja. dan mereka akan membantumu hingga proses persalinan nanti. jadi kamu tidak usah khawatir akan hal itu.
" Terima kasih dok." ucapnya tersenyum simpul kemudian mereka kembali melanjutkan makanan mereka. Sebenarnya Windia sudah berniat ingin keluar dari rumah ini karena merasa tidak enak dengan si tuan rumah.
Namun ternyata sifat dari si pemilik Rumah ini adalah sifat pemaksa. dokter Anjani bersih Kukuh ingin merawat Windia dan bayinya kelak jika sudah lahir.
****
Setelah dokter Anjani dan Windia selesai sarapan pagi, mereka berjalan menuju ke pintu utama." Semangat kerjanya ya Dok semoga dapat menolong banyak orang" ucapin dia tersenyum Tulus.
dokter Anjani yang mendengarnya, juga ikut tersenyum menatap ke arah Windia." kamu juga semangat ya untuk menggapai hidupmu yang lebih baik. Oh ya kalau ingin jalan-jalan, lebih baik mengajak Reni saja." ucapnya Seraya mengelus perut Windia yang sudah semakin membesar itu.
__ADS_1
Windia yang mendengarnya, menganggukkan kepala. dan setelahnya, dokter Anjani masuk ke dalam mobil dan melajukannya meninggalkan rumah itu.
****
Windia segera masuk ke dalam kamar dan berniat untuk membersihkan diri. karena Entah mengapa, setelah penuturan dari dokter Anjani, dirinya ingin sekali berjalan-jalan di area Taman Kota Ini.
Padahal awalnya Windia tidak berniat untuk keluar rumah. dan keinginan itu muncul begitu saja di dalam hatinya. dan seperti tidak bisa dihentikan.
"Ren, apakah sudah selesai memasaknya,?" tanya Windia menghampiri wanita yang sepertinya seusia dirinya.
"eh, belum nona, sebentar lagi. Memangnya ada apa?" tanyanya Soraya menatap ke arah India sekilas.
" temani aku untuk jalan-jalan ya," ucapnya tersenyum tipis.
Reni yang mendengarnya, hanya melakukan kepala Seraya tersenyum tipis.
****
Yaitu buah markisa dan buah delima yang memang tumbuh subur di sana. Reni memetikkan dua buah itu masing-masing satu untuk Windia.
" nyonya, cobalah anda makan ini. ini adalah buah yang paling lezat yang pernah saya temui di kota ini nyonya." ujarnya Seraya menyerahkan kedua buah itu pada Windia.
dengan segera, Windia menerimanya dan segera membukanya. setelah itu, memasukkan buah itu ke dalam mulutnya.
Seketika itu pula, Windia membulatkan matanya karena merasa begitu menikmati makanan yang mungkin baru saja ia rasakan.
" keren ini enak sekali." ujarnya Seraya sesekali memasukkan buah itu ke dalam mulut.
Reni yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala. kemudian tersenyum tipis." saya ke sana dulu ya nyonya itu ada tukang rujak buah Saya mau beli. Kebetulan, saya ingin sekali makan itu." ujarnya Seraya menunjukkan ke arah tukang rujak buah.
Windia yang mendengarnya, menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis." silakan Ren saya nunggu di sini" ujarnya tersenyum tipis.
__ADS_1
Selepas kepergian asisten rumah tangganya itu, Windia kembali termenung di tempatnya. Seraya sesekali menetap ke sekeliling taman itu.
tampak beberapa pasangan muda-mudi berada di sana. ada yang dengan pacar, suami, terkadang bawa orang tua.
tak terasa, air mata Windia seketika mengalir deras saat mengingat nasibnya yang begitu Malang. Tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sedari kecil. dan juga memiliki pasangan yang sekejam Devil.
Hal itu membuat Windia menyentuh dadanya karena merasakan sesak yang teramat sangat. dirinya mencoba menepuk-nepuk bagian itu. agar rasa sakitnya berangsur-angsur menghilang.
Setelah dirasa cukup, Windia mencoba menarik nafas dan membuangnya secara perlahan. hal itu dilakukan selama beberapa kali. hingga, membuat perasaannya sedikit lega.
bertepatan dengan itu, sebuah tangan menepuknya dari belakang. Hal itu membuat Windia seketika menoleh ke arah belakang.
Deg
jantung Windia seakan ingin melompat dari tempatnya saat melihat dua orang berdiri di hadapannya.
"Ma-mau apa kalian?" tanya Windia sedikit gemetar. bahkan matanya tak berani untuk menatap kedua orang yang ada di hadapannya itu.
Salah satu dari mereka tersenyum tipis Seraya memiringkan wajahnya." tentu saja ingin mengajakmu pulang" ucapnya dengan santai. kemudian menarik tangannya. memaksa untuk takut dengan mereka.
Seketika itu pula, Windia maronta-ronta mencoba ingin melepaskan diri. Namun, sepertinya hal itu hanya sia-sia belaka. karena, salah satu dari mereka memegangi pergelangan tangannya dengan begitu kencangnya.
"lepas! Tolong!!" teriak Windia dengan lantang. hal itu sempat membuat sebagian pengunjung memperhatikannya dengan Tatapan yang berbeda-beda.
ada yang menatapnya dengan tatapan kasihan, ada yang terkejut, ada juga yang bersikap biasa saja. seakan tidak ada apa-apa.
Memang, di dunia ini ada beberapa macam manusia yang berbeda-beda. ada yang bersimpati cukup tinggi, ada yang cuek, dan lain sebagainya.
" Maaf Ya semua, dia ini istri saya yang kabur dari rumah." ucap salah satu dari mereka yang tak lain adalah Denis.
Hal itu membuat semua orang yang ada di sana, hanya menganggukan kepala tanda mengerti. Sementara Windia, wanita yang tengah hamil itu menggelengkan kepalanya
__ADS_1