
"Mas......!"pekiku didepan pintu Apartemen milik mas Haris.
Aku melihat mas Haris dan perempuan itu sedang bermain diranjang.Aku tak bisa berkata apa-apa lagi selain merasakan sakit disini.
Biarpun ia tak menganggapku istri.Tapi, aku manusia biasa yang memiliki hati dan perasaan. Apalagi dia masih berstatus suamiku.
Mas Haris melihatku yang berdiri dipintu.Ia tampak terkejut dengan kehadiranku.
Aku disini tak kuat melihat pemandangan itu.Hatiku terasa sakit, aku berlari dan menangis meninggalkan kamar itu.
Sungguh aku tak kuat!
Sampai ditepi jalan aku segera masuk kedalam taksi yang kebetulan berhenti didepanku,saat ini aku menuju Mension.
Tiba dimension,aku mengambil beberapa pakain, dan kantong kresek yang berisi uang kemudian memasukkannya ke dalam tas. Aku bergegas pergi ke luar menuju taksi yang tadi menungguku.
Jika dengan penyiksaan maka aku akan terima mas.Tapi,aku tak bisa terima perbuatan yang terjadi hari ini!
Aku memang miskin mas, tapi aku bukanlah wanita ****** ataupun seorang pelacur seperti perempuan yang baru saja kau tiduri. Maafkan aku harus pergi dari mu.Aku tak bisa lagi berada disini, karena orang miskin sepertiku tak ada tempat disini.
Bulir-bulir bening di pelupuk mata membasahi kedua pipiku.Aku sangat sakit!
Taksi yang ku tumpangi berjalan meninggalkan Mension yang sudah menahanku beberapa bulan ini.
Beberapa kali menghapus air mata ini tapi masih saja keluar.
Sungguh... Aku tidak tau harus kemana.Pergi kerumah kak Rania tidak mungkin karena dia sekarang sudah dipecat secara tak wajar oleh suamiku sendiri.
Bagaimana mungkin orang tuanya menerimaku?
"Mbak kita mau kemana?"tanya pak supir melirikku sekilas.
"Kita ke kota X aja pak."jawabku menoleh keluar jendela.
Mobil yang aku tumpangi berjalan menyusuri jalan raya menuju Kota X. Aku kesana menemui Zabi,dia kuliah disana.
Tiba di tempat Zabi, aku mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada pak sopir.
Setelah taksi tersebut pergi, aku berjalan masuk gang mencari kosnya.
Tiba dikos.Zabi menyambutku dengan senang hati.Namun,ia sedih karena mengetahui bahwa aku kabur dari rumah dalam keadaan hamil muda.
Dia juga memintaku untuk istirahat dan besok akan mengantarkan aku ke kampung.Ya,aku akan tinggal di kampung yang dulu pernah kami tinggali.
Ingin tinggal disana untuk sementara waktu.
Aku terlelap karena rasa lelah yang melanda diri.Entah kenapa,sejak hami aku merasa cepat lelah.
Subuh hari,aku dan Zabi pergi ke kampung X agar nanti diperjalanan tidak terkurung oleh kemacetan.Dan terik matahari.
Setengah perjalanan aku dan Zabi singgah di Rumah makan untuk makan pagi.Usai makan,Zabi memberikan kartu baru dan meminta nomorku agar tetap aktif.
Aku juga memintanya untuk tidak memberitahukan keberadaanku kepada orang lain, termasuk mas Haris.
Aku melakukan itu karena mas Haris pasti akan mencariku kemanapun aku pergi. Karena it,aku memilih untuk tinggal dikampung dan meminta Zabi untuk berpura-pura tidak tahu.
Kami kembali melanjutkan perjalanan dengan motor ya baru saja dikreditnya.Membelah kota dan melewati bebera kampung hingga sampai ke tujuan, lama perjalanan sekitar sehari penuh.
Diperjalanan gawaiku berulang kali berbunyi, aku tau itu pasti mas Haris. Aku tak mengangkatnya dan hp ku matikan agar mas Haris tak bisa melacak keberadaanku.
Aku berfikir selama ini mas Haris sudah melakukannya dengan orang lain dibelakangku.Pantas saja dia jarang pulang.
Jujur Aku tak terima,biarpun kesalahan yang aku buat sudah menyakitinya.Tapi,apa yang dilakukannya sudah merobek kalimat pernikahan antara aku dan dia.
Aku sadar diri,aku bukan wanita cantik yang diharapkan dan juga bukan wanita yang berkarir.Tapi aku masih memiliki hati.
Mana ada seorang perempuan menerima suaminya melakukan hubungan suami isteri dengan perempuan lain.Aku yakin tidak ada seorang pun yang menerima itu.
Apalagi saat ini.Aku yang sudah berbadan dua,ehamilan yang baru menepati 1 bulan.
Mas haris tak mengetahuinya.Sebenarnya,kedatanganku ke Apartemen mas Harris untuk mengatakan itu.Namun,aku disuguhi permandangan yang sangat menarik.
Jujur saja,aku belum siap untuk memiliki anak. Tapi Tuhan lebih sayang kepadaku, dia memberikan dan menitipkan seorang anak.
Aku berharap setelah memiliki anak,hubunganku dan mas Harris akan membaik.
***
Seminggu kemudian.Aku menghubungi kak Rania.Aku memberitahunya tentang kehamilan ini.Dia begitu bahagia mendengar kehamilanku.
Aku sempat menjelaskan masalah yang membuatnya dipecat dari kantor.Aku mengatakan bahwa aku tak pernah memberitahu mas Haris tentang masalah itu.
Aku tahu kak Rania dipecat karena mas Haris memberitahuku.
Aku tak percaya. Mas Haris yang dulu lembut kini melebihi psikopat.Selama beberapa bulan aku menerima perlakuan kasarnya bahkan saat aku sedang hamil muda.
Tapi, kini aku harus berjalan mencari kehidupanku sendiri.Aku tak bisa terus bertahan dirumah tangga yang tidak baik-baik saja.Apalagi hati mas Harris tak ada lagi untukku.
Lanjut..
Sampai di desa X. Kami bertemu dengan Kades.Kami mengobrol dengan beliau sebelum pergi ke kos yang dimiliki pak Somat dan bu Laila yang saat ini sebagai kepala desa disana.
Tiba dikos,kami berdua membersihkannya dan menaruh barang ke atas meja.Aku dan Zabi duduk di atas karpet yang dipinjamkan bu Laila.
"Kak aku beli gorengan dulu keluar, kaka mau ikut atau tinggal disini?"tanya Zabi kepadaku.
"Kaka disini saja bi,capek soalnya."jawabku merasa lelah.
"Yaudah,aku pergi dulu ya kak.Kakak istirahat dulu tapi pintunya dikunci ya."sambung Zabi kemudian pergi menaiki motornya.
Zabi keluar meninggalkan kos.Sedangkan aku mengunci pintu karena masih orang baru.
Kita tidak tau orang-orang disana, biar tinggal kos milik pak kades.Tetap saja harus waspada apalagi aku sorang mama muda.
Beberapa menit kemudian,Zabi memanggil dari luar. Aku membuka pintu, Zabi masuk kedalam. Ia mencuci piring yang baru saja dibelinya kemudian menaruh gorengan kepiring tersebut.
Zabi sebenarnya tau masalah rumah tanggaku tapi ia tak bisa membantuku karena Mas haris.
Mas Haris bisa saja mengeluarkannya dari fakultas tempat ia kuliah.Sejak aku menikah dengan mas Haris aku tak bisa lagi membantu keuangan perkuliahannya,sehingga zabi harus mencari pekerjaan paruh waktu.
Hari sudah larut malam.Tapi mataku tak bisa dipejamkan.Pikiranku terus saja memutar kejadian tadi sehingga mengundang air mata untuk keluar.
__ADS_1
Aku meluapkan rasa sakit hati ke bantal. Menekan suara agar Zabi tak mendengarnya.
Aku mengganti nomor hp yang lama dengan nomor baru.Aku menyimpan nomor kak Rania dan Zabi.Setelah itu aku membuang kartu tersebut ke tempat sampah.
"Selamat tinggal mas... "
Aku tertidur setelah lelah menangis.
***
Keesokan pagi nya aku terbangun dari tidurku.Melihat zabi sudah selesai bersih-bersih. Hari ini dia tidak kuliah sehingga bisa menemaniku untuk seharian ini, selain itu aku juga butuh bantuannya untuk mencari beberapa barang seperti alat untuk memasak dan barang lainnya.
Saat kabur dari Mension aku mengambil kantong kresek hitam yang berisi uang dari hasil tabunganku selama setengah tahun di dalam tas bulukku.
Aku mengambilnya untuk bekal nanti.Alhamdulilah ternyata setelah dihitung jumblahnya kurang lebih 10 juta.
Ini cukup untuk bayar kos dan untuk kebutuhan beberapa minggu kedepan.
Aku pergi dengan Zabi ke beberapa toko untuk mencari perlengkapan.Setelah melihat dan menawar akhirnya barang yang kucari sudah aku beli.
Aku membeli satu kasur santai, satu lemari plastik, dua kuali, satu termos kecil, beberapa peralatan lainnya.
Kami juga singgah dibeberapa tempat untuk membeli bahan masakan,kemudian singgah disalah satu warung nasi.Aku dan Zabi makan siang disana.
Aku perhatian orang sekeliling mereka makan dengan lahap. Sedangkan aku merasa ennek dan merasa mual setelah memakan sesuap nasi.
Melihat keadaanku,Zabi membawaku pulang ke kos.Dia juga membawaku ke klinik terdekat untuk memeriksaku.
"Kak bagaimana kalau kaka ikut Zabi saja ke kota. Zabi ngak bisa ninggalin kakak seperti ini sendirian."ucap Zabi khawatir.
"Kakak ngak papa kok, tadi itu karena kakak hamil makanya ngak berselera makan.Biasanya kakak akan makan kalau memakan masakan dirumah. Jadi kamu tidak perlu khawatir."
"Tapi kak aku.... "
"Disini kaka tidak sendirian, kan ada bu Laila yang nemenin kakak.D an beberapa tetangga lainnya.Kalau terjadi apa-apa kan rumah bu Laila dekat ,hanya beberapa langkah saja kita sudah tiba dirumahnya.Jadi kamu tidak usah khawatir ya."jawabku meyakinkan.
"Yaudah kalau begitu, kaka jaga diri baik-baik ya... Tiap minggu aku akan kesini melihat kaka."
"Iya,kakak mau masak dulu. Udah laper soalnya."jawabku mengambil beberapa bahan masakan.
"Sini aku bantu."kata Zabi menarik beberapa bahan dan memotongnya.
Sedangkan aku memasak nasi dengan Meg***m.
Setengah jam kemudian,semua masakan sudah terhidang. Aku dan zabi makan bersama.Kami makan dengan sangat lahap.
Usai makan, Zabi membantu mencuci piring kemudian mandi.
Keesokan paginya,Zabi berangkat ke kota A.
***
Beberapa hari kemudian,aku diajak Bu laila untuk ke datang kerumahnya. Katanya acara penyambutan kedatangan salah satu putranya yang di Australia.
Karena berdekatan sekaligus etangga.Aku terpaksa menghadiri acara tersebut.Padahal aku malas karena mudah kelelahan.
Acara penyambutan berlangsung cukup meriah,yang dihadiri keluarga besar Bu Laila dan beberapa tetangga.
Ingat yaa, bukan ganteng tapi manis.
Orang yang berada disana terlihat bahagia.Mereka merayakan dengan nyanyi-nyanyian.Dan tak lupa,bu Laila memperkenalkan anaknya kepada kami.
Zainal Arassyit,itu namanya.
Saat acar sedang berlangsung,aku memilih untuk kembali ke kos.Karena merasa lelah dan mulai tak nyaman.
Seminggu kemudian aku membuka usaha kecil-kecilan didepan kos, menjual pop Ice, nasi goreng dan gorengan lainnya.Aku seperti itu agar tidak mudah stres.Jika dirumah terus,maka aku merasa kecapekan terus apabila tidak melakukan apa-apa.
Baru-baru berjualan,daganganku memang belum banyak yang laku.Tapi,diketiga hari kemudian.Jualanku mulai jalan dan uang yang aku dapatkan aku simpan untuk persiapan melahirkan nanti.
Pekerjaan ini aku tekuni sudah beberapa bulan. Kini kehamilanku sudah masuk bulan ke enam.Perutku mulai terlihat membuncit dan badan mulai bertambah.
Pikiranku sudah teralihkan ke pekerjaan sehingga tak ada waktu untuk memikirkan mas Harris suamiku.
"Hasbi......"
Aku menoleh kearah suara.
Disana berdiri sosok pria yang merupakan anak pak Somat dan bu Laila.Namanya Zainal Arrasyid ,umurnya mungkin beda lima tahun dari umurku.
Uniknya,mas Zain lebih suka memanggil namaku Hasbi daripada Rein.
"Eh mas Zain,ada keperluan apa mas kesini?"tanyaku panasaran.
"Sepertinya kamu sibuk hari ini."jawab mas Zain mendekatiku.
"Ngak sih mas....Emang kenapa mas bertanya seperti itu?Mau ajak aku jalan?"tanyaku kemudian.
"Iya.Soalnya aku perhatikan kamu sibuk sekali dengan pekerjaan.Karena itulah,aku mengajak kamu jalan-jalan.Sekalian refresing. Bumil biasanya mudah stress lho."
"Iihhh.... Apaan sih mas,aku ini sehat walafiat.Mas aja kale yang stress."timpalku bercanda.
"Aku stres karena kamu... "celetuknya kemudian.
" Apa....?"
"Ngak.....!"mas Zain menebar senyuman manisnya.
"Mas ini benar-benar ya."jawabku menarik hidung mancung nya.
"Mau ikut ngak?"tanya mas Zain kembali.
"Iya,tapi tunggu dulu ya mas. Aku beres-beres dulu biar nggak malu-maluin."jawabku masuk ke dalam kos.
"Yaudah saya tungguin didepan ya."seru mas Zain.
Setelah kepergian mas Zain, aku merias diri agar tidak terlihat kucel.Sebenarnya sudah lama juga sih ngak pergi jalan-jalan keluar.
Aku pergi dengan mas Zain ke Mall.
Diperjalanan aku dan mas Zain bercerita panjang lebar.Bukan masalah rumah tanggaku.Tapi tentang perjalanannya selama di Australia.
__ADS_1
"Hasbi...... "mas Zain melihat sekilas ke arahku.
"Iya mas."jawabku menoleh ke arah Zain.
"Kalian sudah berceri...?"tanya mas Zain.
Aku merasa heran karena tiba-tiba mas Zain bertanya seperti itu.Sebelumnya dia tidak pernah bertanya tentang rumah tanggaku.Ya,walau ia tahu hanya garis besar saja.
Diam.
Aku sungguh tidak tau harus menjawab apa.Aku terdiam,hanyut dalam bayangan yang entah kapan hilangnya.
"Maaf...."
"Maaf untuk apa mas?"aku melihat ke arahnya bingung.
"Maaf karena sudah nanya itu ke kamu."jelas mas Zain.
"Ngak papa kok mas,wajar aja sih mas nanya begitu.Tapi aku ngak tau sih mau jawab apa."
Mas Zain diam. Dia fokus mengemudi, sedangkan aku menatap keluar jendela memikirkan statusku saat ini.
Tiba di Mall X aku dan mas Zain masuk kedalam dan mencari barang yang hendak dibelinya.
"Mas kita mau kemana?"
"Udah ikut aja."jawabnya melihat kesana kemari.
Aku mengikuti arah kaki mas Zain. beberapa menit berjalan, kami erhenti di toko khusus perlengkapan bumil dan bayi.
"Mas mau cari apa disini?"pertanyaan bodoh yang baru saja keluar dari mulutku.
"Ya cari perlengkapan untuk sikecil lah.Kamu tidak bisa baca ya?"tanyanya meledekku.
"Ya bisa lah.....Masak ngak sih!"
"Yaudah ikutin aja."
"Tapi aku capek mas."ucapku pelan.
Mas Zain memutar badannya melihat ke arahku.
"Kamu duduk dan nanti aku disini.Ok..!"
"Ok.."jawabku sambil meminum jus buah yang dibelikan mas Zain.
Aku melihat mas Zain memilih beberapa perlengkapan bayi.
"Mbak saya mau yang ini tapi warnanya biru ya." kata mas Zain kepada penjaga toko.
Aku duduk menunggu mas Zain.Perutku ngilu setelah berjalan kesana kemari.Setelah melakukan pembayaran mas Zain mengajakku untuk makan.
"Aku dirumah aja makannya mas,soalnya aku ngak bisa makan makanan disini."
"Kenapa begitu?"tanyanya bingung.
"Karena perutku ngak nerimanya."jawabku.
"Yasudah kalau begitu kita dirumah aja makan.Ohya nanti mas masakin. Kamu mau ngak?"
" Emang mas bisa masak?"
Mas Zain tertawa."Ya bisalah..Mau masak apa aja aku bisa lho.Kalau tidak percaya nanti aku buatkan untuk kamu."
"Ok.... kalau begitu mas aja yang masak. Aku jadi panasaran denga rasa masakan mas Zain."
"Siap......."
Mas Zain menambah laju mobilnya agar cepat sampai kerumah.
Sebenarnya,keluarga pak Somat tidak terlalu kaya. Tapi kehidupan mereka lebih dari kata cukup.Lebih dari sederhana tapi kurang dari yang kaya.
Tau tak?Selama mas Zain pulang,dia sering ke tempatku untuk menghiburku.Membawa gitar dan kadang meminjamkan laptopnya kepada ku untuk menonton Drama Cinta.
Kos ditempat aku itu ramai penghuninya, jadi aku tidak perlu merasa takut dan cemas. Selain peraturannya yang ketat,penjagaan disana pun bisa dikasih jempol.
Super ketat.
Tiba dirumah,mas Zain membawa barang yang dibelinya ke kos ku.
"Mas ini barangnya ditaruh disini?"aku merasa heran.
"Lah iya.Ini kan buat kamu Hasbi,nanti kalau sudah lahiran ini sangat bermanfaat untuk kamu sama bebby nya.Benar ngak?"tanya mas Zain kepadaku.
"Iya benarlah mas,tapi..."
"Udah,ngak usah taoi-tapian.Anggap aja ini hadiah dari aku buat bayinya."
"Iya mas,terimakasih ya sudah repot-repot segala."ucapku merasa tak enak.
Mas Zain tersenyum kemudian memasang celemek dan mulai memasak. Aku duduk disamping sambil memperhatikan gerak gerinya yang sudah mirip Koki.
Andaikan saja mas Haris yang berada didepanku saat ini,pasti aku bahagia sekali.
"Hasbi.... Helloo...?"as Zain melambaikan tanganya didepanku.
"Ehh iya mas....Mas ngomong apa tadi?
"Ngak ngomong apa-apa.Nih masakanya udah siap,silahkan dicoba."
Aku mengambil sendok dan memakan masakan mas Zain.
"Enak mas,ini masakanya enak banget...."
Aku menyuapi beberapa sendok sekaligus kedalam mulut.Sama seperti orang kelaparan.
"Mas ini di coba."aku menyuapi satu sendok kedalam mulutnya.
Kemudian mas Zain mengambil piring dan ikut makan bersamaku.
******
__ADS_1