AKU MEMANG MISKIN!

AKU MEMANG MISKIN!
Pov.Rein


__ADS_3

"Plakkk."


Mas haris melempar beberapa lembar kertas ke meja tempat aku duduk.Tanpa bicara dan wajah yang dingin.


"Apa ini mas?"tanyaku saat melihat kertas itu dan segera mengambilnya.


"Surat Cerai?"


Aku mengernyitkan dahi merasa bingung.Kemudian melihat ke arahnya setelah membaca isi kertas tersebut.


Dengan beribu pertanyaan,aku tidak mengerti kenapa mas Haris memberikan kertas ini padaku.Tapi aku mulai tak nyaman.


"Apa kau tidak bisa baca?"jawabnya dengan nada ketus.


"Mas kamu....Mau ceraikan aku?"pertanyaan yang membuat jantungku berdetak kencang tak karuan.Bukan karena bahagia, tapi rasa sedih yang menyelimuti perasaanku.


"Ya,saya akan ceraikan kamu!"jawabnya menatapku tak suka.


Aku masih tertegun dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut suamiku.Aku tak bisa berkata-kata selain menekan perasaan sakit agar air mata ini tak keluar.


Diam hanyut dalam pikiran.


Mas Haris berbalik pergi namun aku menarik lengannya.


"Kenapa kau menceraikanku mas?"


Mas Haris memutar badannya kemudian menatapku tajam


"Dengar! aku tidak mau memiliki istri seperti kau! Memilih harta dari pada anak!"ucapnya dengan menunjuk ku.Ia berkata seperti itu dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Jadi mas masih menganggap aku membunuh Haryan,anak kita?"tanyaku tak percaya.


Aku menggelengkan kepala tak mengerti dengan pemikiran mas Haris.


"Jangan berlagak polos dihadapanku!"sambungnya.


Aku melihat kemanik mata yang dulu teduh.Mencari cinta disana.Namun aku tidak menemukan itu.Kini tidak ada lagi rasa cinta disana,hanya kebencian.


Ya, kebencian yang memenuhi hatinya.


Berlinang air mata dan menarik sedikit bibir.


"Mas....Aku tidak mengerti dengan pemikiran kamu saat ini.Tapi yang jelas AKU TIDAK PERNAH MEMBUNUH ANAK kita,HARYAN"jawabku mempertegas.


"Cukup Rein!Jngan sesekali kau sebut nama itu dengan mulut kotormu itu.Kau tak pantas menjadi seorang ibu!"jawabnya emosi.


"Dia itu anakku.Aku yang mengandungnya selama 9 bulan.Aku menjaganya penuh kasih sayang.Aku menyayanginya.Lalu,bagaimana bisa aku membunuhnya? Bahkan saat akan melahirkan?"


Aku mencoba menjelaskan kembali bahwa aku tidak melakukan itu.


"Semua bisa hilang sekejap oleh harta!Bukankah kau ingin harta dan kekayaan?Kalian orang-orang miskin haus akan uang, akan harta.Jadi,jangan berpura-pura lagi!"jawabnya menatapku ******.


"Ooo iya,aku lupa.Pantas saja mommy tidak menyetujui pernikahan kita.Karena Mommy itu tau wanita macam apa yang sudah akuu nikahi!"sambungnya lagi.


Kalimat yang baru saja terucap dari bibirnya berhasil membuatku rubuh.Membuat hatiku hancur.


Seburuk itukah aku mas?


Dada ini tak sanggup lagi menahan beban luka,luka yang ditorehkan saumiku sendiri.Sakit yang menusuk hulu hati ini sungguh tak bisa aku menahannya.


Mas Haris melangkahkan kakinya keluar kamar.Namun aku menghentikan langkah itu.


"Jika mas berfikir aku mengejar harta.Mas salah besar!!"


"Ingat mas,aku disini karena Deddy. Deddy memintaku untuk menjadi istri mas.Aku menerima karena aku bersalah,bersalah telah membohongi kamu!Tapi ini balasannya,menuduhku dengan hal yang tidak aku lakukan.... Jika mas mau cerai dari aku,Ok...!Aku terima dengan senang hati!"jawabku penuh amarah.


Aku menjawab dengan emosi yang berapi-api.Kemudian berjalan menuju lemari mengambil barang-barang dan memasukkannya ke dalam koper kemudian berjalan mendekati mas Haris.


"Aku akan pergi dari rumah ini. Ingat mas,AKU TIDAK PERNAH MEMBUNUHNYA!"jelasku dan memberikan cincin yang sudah aku pakai selama setahun ini.


Kemudian berjalan menuruni anak tangga menuju teras.Disini air mata tak bisa lagi dibendung.


Melihat aku keluar dari mension,pak Anam mendekatiku.

__ADS_1


"Nyonya mau kemana biar saya antar."


Aku mengangkat telapak tangan menandakan tidak perlu.Melihat itu pak Anam hanya bisa memperhatikanku tanpa banyak bicara.


Aku mempergegas langkah kaki ini meninggalkan istana. Aku menuju jalan raya yang tidak terlalu jauh dari Mension.Sesekali mengusap air mata ini yang terus saja mengalir tak henti.


Bagaimana aku bisa menerima perceraian ini begitu cepat?Apakah aku tidak mau mempertahankan pernikahan ini?


Biar aku jelaskan.


Aku menerima perceraian ini karena sikap mas Haris.Selama dirawat di rumah sakit mas Haris jarang mengunjungi ku. Walaupun datang, dia lebih banyak sibuk dengan gawai dan leptopnya.


Aku masih memahaminya sebagai CEO di perusahaan.Tapi semakin hari perubahannya terlihat jelas.Apalagi setelah aku kembali ke Mension.Bukan memperbaiki masalah tapi malah menambah masalah.


Dia jarang menanyaiku,sering tak pulang . Bahkan sikapnya dingin acuh tak acuh,berbeda saat ada Deddy.


Berpura-pura mesra.


Aku jengah.Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.


Setiap hari aku menunggu permintaan maaf darinya,tapi bukan kata maaf yang aku dapat malah dia menuduhku membunuh Haryan,anak kami.


Bukan itu saja,dia juga menuduhku berselingkuh dengan mas Zain.


Aku tidak mengerti kenapa dia bisa berfikir seperti itu.Selama ini aku masih berusaha sabar dan menutup telinga.Berusaha memperbaiki kesalah pahaman tapi semua hanya sia belaka.


Sekarang aku sudah tak bisa bertahan dalam mahligai Rumah tangga yang tidak baik-baik saja.


"Maafkan aku mas,air mata ini sudah berlalu banyak jatuh hanya untuk menangisi kamu.Kali ini aku berjanji untuk tidak lagi meneteskannya untukmu."


Lanjut sekarang.


Saat ini aku berada di Apartemen milik Deddy yang sudah diberikan kepadaku.


Berjalan memasuki ruangan itu dan menebar pandangan keseluruh arah.Ruang yang begitu luas dengan beberapa interior yang membuat siapa saja nyaman berada disana.


Aku menaruh koper ke sudut kasur dan berjalan menuju jendela kaca.Dari sini aku bisa melihat pemandangan yang menakjubkan.


Tapi,suasana hati yang sedang tidak baik-baik saja membuatku menarik nafas kasar.Aku termenung dalam kesunyian.


Mas Zain?


Aku menekan tombol hijau yang tertera dilayar gawai.Belum sempat bicara sudah terdengar suara mas Zain dari seberang sana.


"Assalamualaikum."dari seberang sana.


"Waalaikumsalam."jawabku serak.


"Hasbi..."


"Iya mas?"


"Bisa kita bertemu hari ini?Mas mau bicara sama kamu.Tapi,izin dulu sama suami kamu.Nanti dia salah paham lagi sama saya."ucap mas Zain kepada.


"Iya mas."jawabku singkat.


"Tempat biasa ya."sambungnya kemudian menutup telpon.


Aku duduk di samping kasur mengingat mas Zain.Selama ini mas Zain terlalu baik kepadaku,dia seperti kakak lelakiku yang menjagaku menemaniku disaat aku sendirian.


Sendirian menjalani rumah tangga yang hampir retak.Dia memperbaikinya, namun lagi-lagi mas Haris berulah bahkan dia menuduh kami berselingkuh.


Walau sudah beberapa kali menjelaskan.Berusaha membuktikan bahwa kami tidak menjalin hubungan lain tetap saja dia tak mendengarkan.


Aku berfikir apa mereka yang sama seperti mas Haris juga berfikir seperti itu.


Menuduh orang yang sudah jelas menjadi pasangannya,berselingkuh dengan laki-laki yang selama ini menjaga dan menemaninya saat seorang suami sibuk dengan dunianya sendiri.


Aku tau mas Haris cemburu saat aku dekat dengan pria lain.Tapi bagaimana dengannya?Dia bermain-main dengan wanita lain diluar sana. Apa aku tidak cemburu?Tidak sakit hati?


Sedangkan aku dengan mas Zain hanya sekedar berteman tak lebih tak kurang.


Bahkan tak lama lagi mas Zain akan bertunangan dengan wanita Turki.

__ADS_1


Jelas aku dapat kabar ini dari mas Zain langsung.


Lalu bagaimana bisa kami selingkuh?


***


Jam 4 sore aku pergi mengunjungi taman,dimana tempat itu tempat kami sering bertemu.


Tiba disana aku mengedar pandangan mencari pria yang tadi janji bertemu dengan ku.


Ya,aku sudah menemukan pria itu.Dia terlihat bahagia.Entah apa yang membuat pria itu selalu tersenyum sepanjang hari aku juga bingung.


"Mas....."aku menepuk pundak mas Zain dari arah belakang.Saat itu dia duduk di kursi taman.


Mas Zain meliriku yang sudah duduk disampingnya dengan senyum yang masih mengembang.


"Mas....Aku perhatiin sejak tadi mas senyum terus,kenapa?"tanyaku panasaran.


"Hasbi...Aku besok balik ke Australia."ucapnya menatapku.


"Mas akan bertunangan dengan perempuan yang sering mas ceritakan sama kamu itu."sambungnya.


Aku terdiam memperhatikan wajah pria yang kini akan bertunangan dengan wanita yang dipilihnya.


"Hasbi?"


Mas Zain melambaikan tangannya didepan wajahku,merasa heran.


"Iya mas?"


"Kamu kenapa bengong?"


"Mas.."


"Hemmmm?"


"Jika mas pergi ke Australia.Lalu aku disini dengan siapa?Siapa yang akan menemani aku lagi?"tanyaku padanya.


Entah kenapa tiba-tiba bulir beling berjatuhan dari pelupuk mataku.Mas Zain menatapku dan mengusap pipiku yang mulai basah.


"Hasbi,apa kamu ada masalah?"tanya mas Zain menatapku panasaran.


Aku memeluknya. Tak tahan dengan kesedihan yang menerpa hidup,menerpa rumah tanggaku yang kini sudah hancur tak tersisa.


Mas Zain mengusap punggungku.Seakan dia mengerti bagaimana perasaanku saat ini.


"Mas Haris menceraikanku maaas...huaaa...."jawabku meraung-raung.


"Hasbi,kamu tidak bercanda kan?"tanya mas Zain tak percaya.


Aku mengangguk sambil terisak-isak.


Mas Zain mengusap kepalaku.


"Apa dia menceraikanmu karena aku?jika iya,ijinkan aku bertemu dengannya.Biar akj menyelesaikan dan menjelaskan kepadanya."jawab mas Zain berdiri namun aku menarik tangannya.


Dia melihat ke arah ku.Aku menggeleng kepala,kemudian mas Zain kembali duduk.


Aku menghapus air mata yang masih tersisa.


"Dia tidak akan mendengar penjelasan siapapun,bahkan aku istrinya.Biarkan saja dia menceraikanku,karena selama ini dia sudah keterlaluan kepadaku mas.Aku sudah tak mau lagi kembali dengannya.Aku mau hidup sendirian."jawabku sedih kemudian menghapus air mata yang masih tersisa di pipiku.


"Jika mas kembali ke Australia.Jangan lupakan kami ya. Nanti setelah menikah ajaklah istri mas kesini.Perkenalkan pada kami.Aku pasti disini mas,hanya saja aku sedikit berpindah kota.Dengan begitu kami tidak akan bertemu lagi."jawabku menebarkan senyuman.Walau mata ini masih sembab dan memerah.


"Hasbi... bagaimana kalau kamu ikut sama aku ke Australia?"ajaknya membuatku ingin tertawa.


"Mas ajak aku ke Australia?Apa tidak salah?Aku ini mana bisa bahasa Inggris mas,apalagi nanti ketemu calon istri mas Zain orang turki.Bagaimana ku bisa bicara dengannya sedangkan aku tidak mengerti bahasanya?Mas ada-ada aja deh."jawabku merasa geli dengan ajakan mas Zain.


"Kalau tidak bisa bahasa Inggris kamu belajar dulu setahun ini. Nanti kalau ingin pergi ke Australia kamu sudah lancar ber bahasanya."jawab mas Zain serius.


"Ok......nanti aku usahain ya mas. Mmmmm...Apa sekalian belajar bahasa Turki biar besok bisa ngobrol-ngobrol sama Istri mas Zain."jawabku mengiyakan.


Padahal aku belum ada pikiran kesana.Tapi kalau dipikir-pikir bagus juga ya,mana tau aku kesana juga besok,hehheheeh....

__ADS_1


*****


__ADS_2