
Sudah dua bulan kepergian Rai dari rumah. Selama itu pula aku merasa kesepian, biasanya dia yang menghiburku dengan tangisannnya tapi kini semuanya terasa kosong.
Aku yang saat ini berdiri di depan teras kamar menghirup sebatang rokok dengan memikirkan keberadaan wanita yang sudah menjadi istriku.
Aku merogoh saku celana menghubungi Alex.
"Apakah kau sudah menemukannya?"
"Belum pak,sedang dalam pencarian bos."jawab Alex dari seberang sana.
Aku menghisap rokok sambil duduk dikursi memandangi foto pernikahanku dengan Rain.
Hatiku bertanya kenapa aku tidak sadar bahwa Rai dan Rain itu sama.Dan kenapa setelah orang-orang disekitarku mengatakan bahwa Rain mirip dengan Rai aku mengacuhkan perkataan itu.
Saat itu,aku merasa Rain tetaplah Rain.Dia bukan Rai kekasihku.
Apa benar yang dikatakan Rain waktu itu. Bahwa semua ini adalah kesalahanku.
Tapi kenapa dia mau menjadi wanita yang sebenarnya bukan dirinya.Kenapa dia tidak menjadi dirinya sendiri.Dengan begitu,mungkin aku akan mempertimbangkannya dan tak akan menjadi seperti ini.
Aku berfikir terus.Mencari arah dimana kemudian dia berada.
Ah ya,Rania.Dia adalah teman Rain satu-satunya.Aku yakin dia tahu keberadaan wanita itu.
Aku pergi menuju mobil dan menelusuri jalan menuju rumah makan milik orang tua Rania,mantan karyawanku.
Tiba disana,aku melihat Rania duduk dimeja paling ujung dengan memainkan leptopnya.
Aku menghampirinya. Ia nampak terkejut melihat kedatanganku.
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu..!"
Dia melirikku,kemudian fokos ke barang yang ada didepannya tanpa menjawabku.Merasa terabaikan, aku menutup leptopnya.
Dia melihatku dengan wajah tak suka.
"Silahkan apa yang ingin anda katakan."
Whatttt.... Sejak kapan wanita ini menjadi ketus dan dingin seperti ini. Apa karena sudah kupecat,sehingga membuatnya marah dan kesal.
Ya sudahlah, semuanya sudah terlambat.
"Saya ingin tau alasan dibalik kebohongan yang kalian mainkan."ujarku mulai bicara.
"Heh....Sekian lama ini masalah ini terjadi, baru sekarang muncul keinginan Anda untuk bertanya dan mencari tahu kebenaran apa yang sebenarnya terjadi.Saya heran dengan Anda.Kenapa tidak tanya langsung kepada istri Anda itu?Oowh,saya tahu.Mungkin karena Rain sudah pergi, sehingga anda mencarinya dan akan mengurungnya lagi seperti apa yang sudah Anda lakukan kepadanya!"
"Saya tidak ada waktu untuk mendengar ocehan yang tidak ada gunanya!"seruku merasa kesal.
"Pak, seandainya anda tahu bagaimana perasaan Rain saat menjadi orang yang ada cintai.Mungkin Anda tidak akan menyiksanya."jelas Rania sedih.
Aku bingung,
"Dia... sebenarnya tidak ingin menjadi wanita yang anda ingikan.Tapi,karena Anda atasan saya,dan Anda terus saja memaksa untuk bertemu dengannya.Sehingga saya memintanya untuk menjadi Rai.Saya mengira hubungan kalian akan berakhir cepat.Namun,perhitungan saya salah."
"Sayalah yang salah disini.Saya memaksa Rein untuk menjadi seperti itu.Saya sungguh menyesal.Karena saya,dia harus menerima perlakuan kasar dari Anda.Asal anda tahu, selama itu pula perasaan bersalah menghantui kehidupan Rein. Apakah selama dua tahun itu anda merasa ada yang berbeda dengannya? Tidak.... Yang anda tau hanya perasaan anda semata."imbuhnya lagi.
Bahkan disaat dia hamil muda."sambung Rania menangis.
Tentu saja hal itu membuatku terkejut.
Hamil muda?Jadi selama ini Rein hamil.Tapi kenapa dia tidak mengatakan itu kepadaku?
"Bahkan sekarang saya tidak tahu dia ada dimana."sambungnya.
Aku pergi meninggalkan tempat itu menuju Mension. Tiba disana aku mencari-cari barang,mana tau ada yang ditinggalkannya saat dia pergi.
Cukup lama aku mencari.Akhirnya aku menemukan sebuah kertas yang jatuh kebawah lemari pakaian milik Rein.
Berlahan membuka surat itu.Disana menyatakan bahwa Rein positif hamil.Aku menangis terharu.Aku bahagia namun rasa takut menderaku.
Dimana dia sekarang,aku harus mencarinya sampai ketemu.
Aku pergi mengarungi kota A ke kota B untuk mencari keberadaan Rein,istriku.Namun aku tak menemukan jejaknya, bahkan setelah mengerahka seluruh orang suruhan untuk mencarinya.
Kemana dia pergi?Itu yang ada didalam pikiranku saat ini.
4 bulan pencarian,akhirnya aku menemukan keberadaan wanita yang mirip dengan Rein.Aku yakin ia memang istriku.
__ADS_1
Hari itu juga aku berangkat ke kota tersebut.Tempatnya yang jauh membuatku untuk berhenti sejenak.Aku memutuskan untuk tidur didalam mobil yang terparkir di halaman Musholla.
Keesokan paginya.
Aku menyempatkan diri untuk mandi terlebih dahulu.Setelah itu mobilku mulai melaju keperkampungan.
Beberapa jam perjalanan, mobilku berhenti disebuah rumah minimalis dengan beberapa bangunan. Disampingnya terdapat bangunan seperti rumah kos.
Alex menemuiku dan memberitahukan tempat yang ditinggali Rain istriku.
Tanpa pikir panjang, aku segera berjalan menuju kos yang ditinggalinya setelah minta ijin kepada satpam disana.
Disana aku melihat wanita yang kucari duduk berdua dengan seorang pria. Mereka terlihat akrab,sesekali tertawa bahagia.
Tentu saja hal itu membuat hatiku bergetar hebat.Rasa marah mengebu-gebu.
Berani-raninya dia tertawa dengan pria lain sedangkan aku hampir mati memikirkan nya.
Awas!akanku beri kau pelajaran.
Aku menambah kecepatan jalan kearah mereka berdua.
Tanpa peduli sedikitpun, aku menarik krah bajunya dan melayangkan pukulan ke wajah pria yang tadi tertawa dengan istriku.
"Berani sekali kau mendekati istriku....!ujarku kembali melayangkan satu pukulan.
"Astaga, mas apa yang sudah kamu lakukan?"
Rain terkejut dengan kedatangan ku yang langsung memukul pria yang ada disampingnya.Dia membantu pria yang baru saja kupukul.
Melihat itu aku lansung emosi ingim mengayunkan beberapa pukulan tapi dihadang Rain. Dia berdiri didepan pria itu untuk menghalangi pukulanku.
Rain menggelengkan kepala memintaku untuk berhenti.
Seketika mataku berpindah pandang ke arah perut wanita yang kini didepanku.
Aku mendekatinya dan langsung memeluk tubuh itu. Setelah itu aku mengelus perut yang terlihat membusung.
"Tapi,kenapa Rein menutup mata?"aku merasa bingung dengan sikap Rein saat aku mendekatinya.
Ah sudahlah.
"Sayang kau seperti ingin melahirkan."ucapku mengelus perutnya.
Aku memulai bicara setelah keheningan sesaat.Kemudian berdiri tegak menatapnya.
"Sayang,ayo kita pulang."aku menarik tangan Rein berharap dia mengikuti.
"Maaf,aku mau disini."jawabnya datar.
"Tapi sayang..."
" Mas..... "Rain menatapku.
Dari matanya,aku sudah menerka kalau dia masih marah padaku.
Tak mungkin ia jelaskan apa yang terjadi,sedangkan orang pada memerhatikan kami.
Tak lama setelah itu ada ibu-ibu mendekati kami dan bertanya apa yang terjadi.Rain melihat kearah ibu itu.
"Ngak ada apa-apa kok buk."jawab Rein.
"Mmm yang disamping kamu suaminya?" tanya bu Laila.
" Ahh bener bu,saya Harris suaminya Rain."jawabku mengenalkan diri sebelum rain menjelaskannya.
" Mmmm ganteng ya suaminya."ujar bu Laila meliriku.
" Ahhh ibu bisa aja."Rain menjawab dengan wajah memerah.
Sedangkan pria yang tadi aku pukul hanya memasang wajah datar.
"Jadi nak Rain mau balik ke kota?"tanya bu Laila.
"Ngak buk, aku masih disini kok."jawab Rain cepat.
" Owh.Ya sudah kalau begitu ibuk masuk dulu ya.Ayok Zain."kata bu Laila sambil menarik lengan putranya.
__ADS_1
Setelah orang-orang pergi, kini tinggal aku berdua dengan Rain.
"Mas sebaiknya kamu pulang!"Rain berjalan menuju pintu.
"Jadi kamu mau disini?"tanya ku mendekatinya.
"Iya....."masih jawab acuh tak acuh guys.
" Kalau begitu aku juga mau disini."aku mendahului Rein masuk ke dalam kos nya.
Rian hanya perhatikan aku dari pintu,mungkin sekarang banyak pertanyaan diotaknya untukku.
Aku duduk dikarpet miliknya sambil memakan cemilan yang ada disana, tanpa peduli dengan pemilik kamar itu.
Rain berjalan melewatiku tanpa bertanya.Entah berapa lama ia dikamar mandi.Aku merasa penasaran.
"Tok... Tok.... Sayang kamu ngapai disana?" Aku mengetuk pintu kamar mandi merasa panasaran.
Diam aja guys ngak ada sahutan.
"Yaudah aku masuk ya.... "kataku iseng.
"Ini.... Ini mau keluar kok mas." jawabnya terburu-buru membuka pintu itu.
Aku masih berdiri didepan pintu menutup jalan dengan sebelah tangan sambil menyandar.
"Mas.... Aku mau lewat. "
" Oh mau lewat kirain ngak... "
Aku melihat sedikit senyum dibibirnya. Entah kenapa hatiku senang melihatnya.
Rain berjalan mengambil beberapa bahan untuk memasak, aku berinisiatif untuk membantunya tapi dia menolak. Sehingga aku hanya bisa menonton.
Aku berjalan keluar kos menuju mobil mengambil leptop dan beberapa barang lainnya. Kemudian kembali ke kos, disana aku melihat makanan sudah terhidang.
Setelah duduk,Rain memberikan piring yang sudah diambilnya. Dengan senang hati aku mengambilnya.
Baru sesuap saja,aku merasakan terbakar didalam mulut. Sambal ini dipenuhi cabe yang entah berapa biji dimasukkan kedalamnya.
Aku melihat Rain dengan santai memakan nasi dengan sambal yang lumayan banyak. Melihat itu tentu saja ku merasa pedasnya.
Aku mangambil piring Rain dan meletakkan disamping agar tangannya tidak bisa menjangkau.
Benar saja Rain merebut piringnya,sedangkan aku berusaha menjauhkannya.
Rasa kesal,Rein pergi keluar kos dengan wajah cemberut seperti kodok.
Aku keluar membujuk nya namun sia-sia saja.Tak lama pria yang bernama Zain datang dan istriku ini mengadu padanya.
Hahhhb,benar-benar membuatku cemburu saja.
"Maaf pak saya ikut campur, sebenarnya Hasbi suka makanan pedas."
Apa katanya? Suka pedas?Sejak kapan Rain suka makanan pedas.Apa dia tidak lihat,istriku sedang hamil,kalau terjadi apa-apa dengan dia dan bayinya,bagaimana?
Aku menjawab bahwa dulu rain tidak suka pedas,padahal aku tidak tahu dia suka pedas atau tidaknya.
Dan lagi perempuan yang merupakan tetangga istriku ikut nimprung membela si Zain.Katanya faktor kehamilan.
Haishhh.....
Terpaksa aku membiarkan dia makan dengan sambal yang begitu membakar lidah.
Malam tiba,aku tidur dikos Rain yang hanya dialasi kasur santai yang tidak terlalu tebal.
Jam 2 malam aku membangunkan Rain,karena tidak bisa tidur sebab banyak nyamuk yang gatel mendekatiku dan menggigit kulitku yang mulus ini.Sedangkan wanita yang ada disampingku santai saja.
"Sayang bangun...."
Aku menggoyangkan bahu Rein memintanya untuk bangun,aku juga mengomel sana sini merutuki nyamuk yang telah menyentuh kulitku tanpa ijin dariku.
"Sayang bangun....Ehh malah tidur lagi,mau aku cium?"kataku merayunya.
Wanita yang tadi tidur mendengar kalimatku langsung saja berdiri berjalan menuju lemari kecil.
Ia mengambil obat anti nyamuk yang merk L***da yang biasa dipakai ke kulit tangan,kaki dan lain sebagainya.Ia memberikannya kepadaku.Sedangkan aku,ngomel sendiri karena merasa di kerjain.
__ADS_1
Setelah memakai body lavenda aku kembali tidur dengan memeluk perut istriku hingga esok hari tiba.
*****