
Semingguan kemudian.Kami balik ke Australia.
Sebelum berangkat. Aku memeluk kedua orang tuaku sebagai perpisahan.
"Nak,jaga Rein baik-baik disana.Jangan sampai lengah ya,kasihan dia lagi sakit.Kami disini hanya bisa memberi berdoa untuk kesembuhannya.Maaf kami tidak bisa ikut kesana,"ucap mama dan diberi anggukan dari ayah.
"Iya ma.Aku usahakan untuk kesembuhannya,bagaimanapun caranya.Aku janji untuk semuanya,akan membawa Hasbi kembali.Walaupun mama dan ayah tidak bisa ikut. Dari doa mama dan ayah saja sudah melebihi dari apapun."jawabku diberi senyuman kedua orang tua dan Zabi.
Kemudian berpindah ke Zabi.Kami saling berpelukan sebagai perpisahan demi kebaikan.
Rela tak rela,dia harus jauh demi kesehatan kakak satu-satunya.Lagian,Zabi juga tidak bisa ikut ke Australia,sebab dia bekerja di salah satu perusahaan sebagai sekretaris.Jadi,dia tidak bisa libur sesuka hatinya.
Setelah dengan Zabi.Aku berpelukan dengan sanak saudaraku dan juga dengan Selena,teman Hasbi.
Usai acara pamit-pamitan,kamipun pergi menuju pesawat yang akan membawa kami ke Australia.Kami memakai jet pribadi agar lebih cepat dan nyaman.
Bukan sok kaya,tapi istriku lebih senang jika naik jet itu.Kalau aku sih,terserah saja.Mau pake pesawat biasa boleh,mau pakai kapal juga boleh.Tapi.... kalau pakai kapal berapa hari ya sampai disana?
Hhhh....ada-ada saja.
Beberapa menit kemudian,pesawat kami lepas landas dan meninggalkan negara yang sangat kami cintai.
Selamat tinggal Indonesia.
*****Pov.Zabi
Aku sangat terkejut ketika mendengar kak Rein masuk rumah sakit.Dia masuk ke rumah sakit karena bunuh diri.
Dan membuatku tambah terkejut lagi,kak Rein mengalami trauma Kronis waktu panjang.
Trauma ini tidak main-main jika tidak ditangani dengan baik.
Mungkin karena aku jarang berada didekatnya dan jarang komunikasi.Ini berjalan sejak dia bercerai dengan mas Harris dan aku bekerja di Malaysia.
Aku memandangi wajah kak Rein.Sesekali memegang tangannya dan mengelus kepalanya.
"Kak katakan padaku kenapa kakak lakukan ini?kenapa kakaka mengakhiri hidup kakak demi orang yang saat ini mungkin bersenang-senang diluar sana.Kaaak,aku berjanji akan mencari orang yang sudah membuat kakak seperti ini.Aku akan membalas perbuatannya.Kapan perlu kubunuh orang itu."ucapaku sedih tapi juga marah.
__ADS_1
Seminggu ini aku berada di rumah sakit ini untuk menemani kak Rein. Tapi,sampai saat ini dia tak jua terjaga dari masa kritisnya.
Akupun sudah bertemu dengan mas Zain.Dia memintaku untuk kembali ke Malaysia karena pekerjaanku yang sudah menumpuk.
Apalagi dengan Bosku.Dia sudah berulang kali menanyaiku untuk segera kembali.
Hahhh....
Aku berfikir,jika semenit saja aku tidak disampingnya,mungkin dia sudah seperti orang stress.Karena semua pekerjaannya aku yang atur ini itu.Jika dia berhalangan,maka dengan sesuka hati memberikan tugas yang seharusnya dia lakukan kepadaku.
Jika bukan karena gajinya besar.Aku tidak mau bekerja disana.Hhh...beginilah jadi karyawan.Kapaaaaan aku menjadi CEO perusahaan seperti pak Bos.
Pak bosku ganteng gagah pula.Ia keturunan indo-cina.Dia seorang pria lajang sama sepertiku.Heheehe...tapi bedanya,dia banyak wanita walau berstatus lajang.Kalau aku?ada juga sih tapi tak tertarik dan tak ingin memainkan wanita.
Lanjut sekarang.
Aku kembali ke Malaysia.Disana aku selalu menunggu kabar dari mas Zain.
Mungkin hampir tiap hari aku bertanya kepadanya.Sayangnya,kak Rein masih tidak bangun dari tidurnya.Kata dokter dia sudah tidak kritis lagi.Jelas saja aku senang mendengar kabar itu.Tapi,walau kak Rein sudah pulih dari masa kritis.Dia tak juga bangun sampai saat ini.
Setiap sholat aku mendoakan kesembuhannya.Mendoakan yang terbaik untuk nya.Aku juga berdoa,semoga Allah memberinya kehidupan lagi.Dan memaafkan perbuatannya.
Aku juga curhat dengan pak Bos.Walau dia terkenal jutek cuek bebek.Tapi denganku,dia sama seperti teman bagiku.Begitu juga dengannya.
Alhamdulillah aku bertemu dengan bos yang baik seperti Pak Aldo.
Berkat bekerja dengannya,aku memiliki orang-orang yang bisa membantuku mengerjakan pekerjaan yang tidak bisa aku kerjakan.
Berkat dia juga,aku kini memiliki orang suruhan.Dan saat ini sedang aku perintah untuk mencari informasi terkait kak Rein.
Ok lanjut..
Hari berganti minggu dan bulan.Hari ini aku mendapat kabar dari mas Zain bahwa kak Rein sudah sadar.Tapi,dia mengatakan bahwa kak Rein tidak mau bertemu dengan siapa-siapa.Apalagi seorang pria.
Kak Rein ketakutan dengan orang yang ditemuinya.Bahkan dengan mas Zain.
Setelah kabar itu sampai.Aku bergegas menuju bandara dan kembali ke Sumatera.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian,aku tiba di rumah sakit tempat kak Rein dirawat.Disana aku melihat mas Zain duduk dengan memegang leptopnya.Dia terlihat sangat sibuk.Aku menghampirinya dan menanyakan keadaan kak Rein.
"Dia sangat ketakutan apalagi dengan pria.Dia juga takut denganku,tapi tidak tau dengan kamu.Kamukan adiknya,mungkin dia mengingatmu dan tidak takut.Tapi ingat bi,jangan tanya apa-apa padanya saat ini.Dia baru saja terjaga.Takut kritis lagi,"ucap mas Zain mengingatkan.
Aku mengangguk mengerti.Berlahan membuka pintu dan melihat kak Rein terjaga,tapi pandangannya kosong,dia melamun.
Aku berlahan mendekatinya.Aku berharap semoga saja kak Rein tidak takut denganku.
Sampai di dekatnya aku duduk dan menarik tangannya.Seketika dia sadar dan melihatku.
Mata itu tiba-tiba melotot dan jeritan keras darinya.Aku sempat terkejut dan aku sangat khawatir.Aku sedih melihat kak Rein seperti itu.Aku berusaha mengingatkan dia bahwa aku ini adiknya.
Tapi perjuanganku sia-sia.Bahkan dia mendorongku sekuat tenaga.Peluh bercucuran di dahinya.Wajahnya memerah dan air mata berjatuhan.Kemudian mengacak-acak rambutnya tak karuan.
Aku menangis melihat kak Rein seperti itu.Separah itu traumanya,sehingga melupakan bahwa aku adiknya.
Aku tidak bisa pungkiri bahwa aku jarang berada didekatnya dan jarang komunikasi dengannya.Ini berjalan mungkin sejak dia bercerai dengan mas Harris dan aku bekerja di Malaysia.
Kini aku menyadari,bahwa kami sudah berjauhan.Bukan diri, tapi rasa bersaudara sudah berkurang karena sibuk dengan dunia masing-masing.Bahkan saat dia terpuruk,aku sama sekali tidak ada disampingnya.
Aku sungguh tidak bisa melihatnya seperti itu.
Menggerakkan gigi mengepal tangan sekuat-kuatnya karena amarah yang tidak bisa tahan.
Kak,aku akan cari orangnya!Orang yang sudah membuat kakak seperti ini.Aku janji kak!Aku berjanji padamu.
Setiap hari mencoba mendekati kak Rein.Setiap itu pula dia histeris dan ketakutan.Melihat itu,aku bertanya kepada mas Zain masalah ini.Sebab,aku tidak tahu harus bertanya kesiapa selain dia.
Aku dan mas Zain ngobrol-ngobrol.Dan terbacalah bahwa dia memiliki dokter untuk orang yang mengalami Trauma baik ringan sampai Kronis.Tapi,orang itu berada di Australia.
Aku sempat berfikir jika dokter itu datang kesini tapi masalahnya itu biaya.Biayanya kesini,uang yang harus aku bayar jika dia merawat kak Rein sampai sembuh.Tidak sedikit,walau gajiku lumayan tapi tidak cukup untuk membayar dia.
Mas Zain menyarankan untuk membawa kakak Rein ke Australia.Tapi,aku tidak bisa kesana karena pekerjaanku.Jika aku kesana,lalu aku dapat uang dari mana jika tidak bekerja.
Disini aku dilema.Tapi aku harus bertindak demi kesehatan kak Rein.
Akhirnya,aku memutuskan kak Rein ke Australia bersama mas Zain.
__ADS_1
Walau berat tapi aku harus menerima berpisah dengannya.Hanya dengan itulah, kakak Rein bisa kembali seperti dulu.