
"Mas tolong katakan padaku kenapa anak kita meninggal?"
Aku bertanya pada mas Haris yang baru saja pulang.Saat ini aku tak tahan lagi.Mas Haris terus berjalan dan mengacuhkan ku.Tentu saja sikap nya itu buat aku kesal.
"Mas.....!"teriakku marah.
Aku mengikutinya kemana kakinya melangkah.Mas Haris menatap keluar jendela.
"Mas.....tolong katakan padaku.Aku mohon."
Aku terduduk dan menangis.Kenapa mereka tidak mau mengatakan kepadaku.Jika beralasan takut kondisiku drop,itu sama saja.Tidak membuatku tenang,mungkin bisa saja aku jadi gila jika mereka terus diri.
"Apa benar kamu tidak merasa sakit beberapa hari sebelum melahirkan?"tanya mas Haris tanpa melihatku.
"Maksud mas apa?aku merasa sakit ketika mau melahirkan.Mas sendiri kan yang melihatnya."jawabku merasa bingung.Kenapa mas Haris bertanya seperti itu.
"Lalu kenapa bayi kita meninggal sehari sebelum kamu lahirkan? Bahkan dia sudah tiada dalam kandungan mu!Bagaimana kamu tidak tahu padahal dia hidup dirahimmu...!Tolong jelaskan dan jujur padaku apa yang terjadi sebelum melahirkan?"jawabnya mendekatiku.
"Jadi, anakku meninggal di dalam kandungan?Hhhhh... bagaimana bisa mas?Aku tak merasakan apa-apa.Aku....sama sekali tidak mengerti.Dan aku... tidak merasa sakit sedikit pun saat itu.Bagaimana ini terjadi mas?"jawabku berlinang air mata.Aku tidak mengira ini terjadi.
Aku sangat syok.
Aku tak bisa lagi membayangkan ini,aku tak kuat.Bulir-bulir air mata mengucur begitu deras,rasa sakit rasa sedih dan terpukul dengan semua yang terjadi.
Aku berteriak sekeras-kerasnya.Aku menangis tersedu-sedu,Mas Haris tak peduli.Dia masih menatapku tajam.
"Katakan padaku kenapa bisa seperti itu?Kamu yang mengandungnya tidak mungkin kamu tidak tahu dan tidak merasakan sakit...!Tolong jujur kali ini padaku....aku mohon!"Ucap mas Harris memohon.
Aku menggelengkan kepala, hanya tangisan air mata yang bisa menjelaskannya.Memegang dada perih,pilu dan rasa yang tak bisa diceritakan.
Bulir bening jatuh membasahi wajahnya,sama sepertiku saat ini.
Bagaimana aku bisa menjawabnya?sedangkan aku tidak merasakan apa-apa.
Mas Haris melihatku menggeleng.Ia berdiri mengusap kasar wajahnya.M as Harris pergi keluar menghempaskan pintu dengan sangat kuat.
Sedangkan aku, hanya bisa meraung diruangan yang sunyi ini.
***
Beberapa hari kemudian.
Tubuhku terduduk didepan jendela melihat keluar sana,tapi mata ini terus menatap gundukan tanah yang ditaburi bunga.
Tempat peristirahatan terakhir anakku.
Setiap hari seperti itu,sampai tubuhku mulai kurus karena tidak makan.Makan dipaksa tapi hanya beberapa sendok.Jelas saja itu tidak mencukupi.
Duduk di kursi dengan pikiran entah kemana.Begitupun dengan mas Haris,sejak kejadian itu dia jarang pulang.Entah kemana aku tidak tahu.
Kak Rania,Zabi dan Selena serta teman yang lainnya datang mengunjungiku.Mereka ikut berduka dengan apa yang menimpa kami.
Tapi aku merasa mereka itu bukan siapa-siapa.Aku merasa tak bisa hidup tanpa anakku.
Termenung dan terus seperti itu.Hingga seseorang datang melihat keadaanku.Entah kenapa saat melihatnya aku langsing menangis dan memeluknya.
Dia mas Zain.
__ADS_1
Aku memeluknya,menangis dipelukannya.Aku mengadu padanya.Hingga aku merasa lelah.
Beberapa menit kemudian,bibi datang membawa sarapan untukku.Aku menolaknya.Jujur saja aku tidak mau makan,tidak berselera.
Tapi mas Zain memaksaku untuk makan.Disela-sela makan,dia memberi aku nasehat dan beberapa ceramah.Aku mendengar dan menyimak dengan baik.
Tak lama. Waktu ashar tiba,mas Zain mengajak untuk sholat.
"Hasbi mari kita sholat agar pikiran kamu tenang dan lebih ringan."ajaknya.
Aku sempat ragu tapi dia meyakinkan ku.Aku pun sholat bersama mas Zain dan bibi pekerja disini.
Aku berdoa dan curhat kepada pencipta.Saat itu juga air mata ini selalu menetes.Semua keluh kesah aku mengadu padanya.
Usai shola, mas Zain pamit pulang.Dia berjanji akan sering menemuiku.Akupun tidak mempermasalahkan nya.Dengan kehadirannya aku tidak kesepian lagi.
Setelah kepergian mas Zain,aku kembali ke kamar dan duduk di kasur. Termenung hingga mata ini terlelap karena kelelahan.
Tengah malam aku tersadar dan melihat ke samping.Lagi-lagi mas Haris tak ada disini.
Kemana dia pergi?
Akupun kembali tidur.
Entah jam berapa.Tiba-tuba aku terbangun karena ada yang berusaha membuka pakaianku.Mata yang sangat mengantuk mengira itu hanya mimpi.
"Ahhrggggrr........"
Aku bangun dan berteriak histeris menahan merasa sakit di bagian milikku.Mas Haris melakukan itu kepadaku yang baru dua minggu ini siap melahirkan.
Bahkan saat ini dia melakukan itu dengan bau alcohol dan apa ini...Bau parfum wanita?
Belum sempat pikiran ini kemana-mana mas Haris menyebut nama wanita lain di telingaku.
Tak bisa lagi menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini Hancur berkeping-keping.Bahkan luka kepergian anakku saja belum kering,ditambah dengan luka sayatan yang diberi air asam dan garam.
Sungguh sakit dan perih....!
Setelah menyelesaikan apa yang dia inginkan,dia tertidur diatas tubuhku.Dengan amarah,aku mendorongnya ke samping.
"Kenapa kamu mendorongku sayang...."protesnya merasa tak terima perlakuan ku.
Aku tak menjawab sepatah katapun lalu turun dari kasur hendak pergi.Tapi,tubuhku terasa remuk dan perutku terasa ngilu,perih dan sangat sakit.
Aku merintih kesakitan.
Sungguh perbuatannya membuatku mati.
Aku tak bisa menggerakkan tubuhku karena remuk dihadang suamiku sendiri.
Sakit yang tak bisa ditahan dan akhirnya aku kehilangan kesadaran.
***
Aku terbangun dari tidur panjang.Melihat diriku dirawat di Rumah Sakit.Aku mengedar pandangan ke sekeliling dan melihat Zabi disampingku.
Aku bertanya kepadanya apa yang sudah terjadi.Dengan emosi,dia menceritakan penyebab kenapa aku berada disini.
__ADS_1
"Kak aku mau kakak ceraikan mas Haris.Dia sudah buat kakak seperti ini.Lihat....dalam keadaan kakak yang baru saja melahirkan, dia malah menyetubuhi kakak dan membuat kaka harus dirawat cukup lama disini...! Perlakuan apa ini?ini sudah melewati batas!Aku mau kaka ceraikan dia!Aku tak Sudi memiliki kakak ipar seperti dia...!"oceh Zabi menggebu-gebu.
Belum saja aku menjawab tiba-tiba mas Haris masuk.Zabi gemetaran sedangkan aku pucat pasi.
Mas Haris masuk dan meletakkan tasnya dimeja.Ia melihat ke arahku.
"Apa kamu sudah baikan?"
Aku hanya diam tak ingin melihatnya.Membuang pandangan ke arah lain.
Rasa kecewa,sakit dan perih dengan semua perbuatan nya yang tak memikirkan keselamatan ku,tak memikirkan bagaimana diriku.
"Ohya,kebetulan kamu ada disini.tolong jagain dia ya,saya ada kepentingan soalnya."jelas mas Harris membuatku terluka.
Dalam keadaan seperti ini,dia tak sedikitpun peduli.Bahkan dengan santainya dia meninggalkan aku.
**
Esok harinya mas Zain datang melihat keadaanku.Dia membawa buah dan satu buket bunga warna ungu muda kesukaanku.
Mas Zain banyak memberi perhatian kepada ku.Membuat aku senang dan merasa dihargai.
Selama aku dirawat dirumah sakit. Dialah yang sering melihatku.Sedangkan mas Haris,datang sebentar dan pergi,walau lama tapi sibuk dengan laptop dan gawainya.
Sama saja aku merasa dia tak ada.
Beberapa minggu kemudian, aku kembali ke Mension walau kesehatan belum memulih sepenuhnya.
Saat pulang aku disambut baik oleh mertuaku,walau aku tau Momy masih membenciku.Tapi dia masih menerima ku sampai saat ini.
Setelah itu,aku diantar ke kamar dengan kursi roda,dengan masih melekat jarum infus dan beberapa alat lainnya.
Tiba di kamar,mas Haris meletakkan tubuhku ke kasur.Saat itu gawainya berdering,dia melihat layar kemudian melihatku.
"Aku mau angkat telfon dulu sebentar."
katanya kemudian pergi keluar dan tak kembali lagi,tak lama bibi masuk dan mengerjakan pekerjaannya dirumah itu.
"Bi...Suami saya kemana?"tanyaku ke bibi.
"Maaf nyonya,bibi tidak tau.Tapi bibi liat tuan pergi terburu-buru."jawab bibi kepadaku.
Diam.
"Nyonya jangan bersedih.Nyonya harus jaga kesehatan.Bibi khawatir sekali melihat Nyonya pinsan kemarin.Bibi pikir Nyonya bunuh diri karena banyak darah dilantai."jelas bibi khawatir.
Darah...?!
Aku kembali mengingat kejadian beberapa hari lalu.Dimana mas Haris melakukan itu disaat aku baru saja siap melahirkan.
Paling menyakitkan,dia menyebut nama wanita lain saat berhubungan denganku.
Namun, aku hanya menyimpan semua dan berpura-pura tidak tahu.
"Biarlah aku jadi orang bodoh mas, hingga aku tau seberapa Cintanya kamu padaku,meski dalam keadaan seperti ini."gumamku dalam hati.
*****like-vote-komentar****
__ADS_1