AKU MEMANG MISKIN!

AKU MEMANG MISKIN!
5.Lanjutan


__ADS_3

" Huff... Kerja tak dapat malah nemu orang terluka. Ehh malah ketiduran disana pula." cerocosku sendiri saat berada didalam kamar.


Hari ke dua setelah kejadian.


Aku baru saja pulang dari pasar selesai berdagang.Daganganku masih ada tersisa.


Aku berjalan menuju kamar mandi dibelakang rumah.Rasanya badanku lengket setelah bekerja.Ditambah lagi dengan dagangan yang tak juga habis sungguh membuatku ingin beredam di air sumur yang berada dibelakang rumah.


Aku mandi untuk beberapa menit menyirami ujung rambut hingga ujung kaki.Merendam diri di bak yang ada disana.


Bak ini sering aku gunakan untuk berendam selama yang aku mau.


Rasanya nyaman dan tenang.Yaa,mungkin ini caraku untuk menenangkan diri.Mendinginkan kepala agar terasa ringan walau sebenarnya difikiranku tak sedikitpun berubah.


Selesai mandi aku makan bersama kakek dan nenek sedangkan adiku sudah pergi kesekolah sejak pagi tadi.


Kami menikmati makan yang hanya ditemani sesuap nasi dan sambal cabe rawit mentah,i ni hasil kebun kakek tahun lalu yang masih rimbun dan subur.


"Nek kek..hari ini aku mau ke kota lagi ya, cari kerja mana tau ada yang terima." ucapku disela-sela makan.


Kakek melihat ke arahku dan berhenti sejenak.


"Nak, kalau kamu lelah jangan memaksa kan diri,kakek masih bisa kok bekerja lagi."jawab kakek.


"Jangan kek, biar aku saja yang bekerja kakek beristirahat saja dirumah.Nenek dan kakek jangan sampai kelelahan apalagi kondisi nenek sekarang menurun kakek jangan tinggalkan nenek sendirian nanti kalau terjadi apa-apa bagaimana?"


" Tapi nak.. "


"Sudahlah, kakek tenang saja jangan berfikir yang lain-lain. Fokus kepada kesehatan kakek sama nenek." kataku panjang lebar


Selesai makan aku berberes-beres untuk berangkat ke kota mencari kerja.


Mencuci piring pun aku mau asal digaji.


Aku berjalan melewati beberapa gang agar sampai di jalan raya.Disana aku naik angkot ke daerah B yang dimana dapat informasi dari orang komplek kalau ada yang mencari karyawan.


Setelah sampai ditujuan aku bertemu dengan orang tersebut.


Pemilik usaha rumah makan tersebut meminta identitasku dan menanyai berbagai hal,sempat ragu namun aku mencoba meyakinkan pemilik.

__ADS_1


Keberuntungan berpihak kepadaku,aku diterima bekerja dirumah makan padang.


Akupun bekerja di sana.Alhamdulillah setelah beberapa bulan bekerja, keuangan dirumah mulai stabil.


Namun, nasib malang menimpa kami.Nenek menghembuskan nafas terakirnya bertepatan dihari lebaran.


Kami sangat terpukul atas kepergian beliau.


Kakek sangat terpuruk saat itu, ditambah lagi dengan perkataan istri kak Rendra yang membuat kondisinya semakin parah.


Kak Rendra sempat pulang ketika nenek meninggal.


Ketika itu,kak Rendra hendak mengajak kakek tinggal bersamanya, namun kakek menolaknya. Kakek mendengarkan obrolan kak Rendra bersama istrinya saat itu sehingga membuatnya merasa sedih.


Waktu itu,,,,


"Aku ngak mau tinggal bareng sama ayah abang itu ,biar ayah abang disini aja tinggalnya. Kita kirimin aja uang, kan ada Rain dan Zabi yang mengurusnya disini sekalian balas budi mereka kepada ayah Abang!"


Itu perkataan yang aku dengar dari mbak Tesa istri kak Rendra.


Aku mendengar pembicaraan mereka saat mereka berada di sumur belakang rumah.Waktu itu aku hendak berwuduk namun karena mereka belum juga kembali.Aku mendatangi tempat tersebut.


Ketika tangan ini hendak mengetuk,aku mendengar perbincangan itu.Tanpa aku sadari,kakek juga berada dibelakangku.


*****


"Innalillahiwainnailahirajiun."


Hari ini aku benar-benar sedih dan terpuruk. Kakek meninggal sebulan setelah kepergian nenek.


Sepi,hampa itu yang kami rasakan.


Semenjak kepergian nenek dan kakek, aku merasa tidak bisa lagi menjalani hidup.Namun,karena teringat adik yang harus aku sekolahkan.Akupun berusaha bangkit dari keterpurukan ini.


Kini tidak ada lagi tempat mengadu dan bermanja, semua kembali seperti dulu.Walau kak Rania berada disampingku, tetap saja aku merasa sepi.


Kak Rania selalu berusaha untuk menghiburku,dia sering mengajakku pergi liburan,menemaninya jalan-jalan dan banyak lainnya.Usahanya tidak sia-sia.Aku mulai terbiasa dengan kondisi ini.


Berlahan aku mulai menerima kepergian nenek dan kakek.

__ADS_1


Tak mungkin aku meratapi semua yang telah terjadi.Mungkin kata Ikhlas yang harus aku terima.Sekarang yang harus dipikirkan bagaimana kehidupan selanjutnya.


Hari ini bertepatan tahun ke-2 aku bekerja di sana,gaji yang aku terima habis untuk makan, membayar kontrakan dan biaya sekolah Zabi.


Sejak kakek meninggal,tanah yang ditempati beliau dijual kembali oleh kak Rendra anak laki-laki kakek yang berada dibadung.Otomatis kami harus berpindah tempat dari sana mencari tempat baru.


Kini kami tinggal dikontrakan yang tidak terlalu besar. Memilki 1 kamar tidur, 1 kamar mandi dan ruang lepas beberapa meter,Zabi tidur diruang lepas, dibagian sudut ruangan, sedikit dapur kecil berisi kompor dan beberapa alat makan dan masak yang kami batasi dengan sehelai triplek.


Siang ini ditempat Kerja.


"Rein, tolong kamu antar surat ini ke kantor X tempat Rania bekerja, butuh cepat katanya." perintah pak Slamet kepadaku.


"Siap pak...."


Aku yang baru saja selesai berberes-beres langsung bergegas mendapat tugas dari pak Slamet.Menghidupka motor lagsung tancap gas menuju kantor tempat kak Rani bekerja.Sebenarnya ini sudah sering terjadi dan akupun sudah sering kesana.


Mengantar ini dan itu.Sebab,kak Rania termasuk orang yang pelupa.


Kenapa aku? Kenapa tidak yang lain saja.


Yaaaa... Karena aku karyawan yang paling lama kerja disana.Sehingga pak Slamet mempercayakan tugas ini kepadaku.Begitupun dengan kak Rania,dia bagaikan kakak bagiku, dia baik dan sering mengajak aku kemana-mana.Ke mall, ke swalayan, ketaman dan lain sebagainya.


Bukan itu saja, kak Rania juga mengenalkanku keteman-temannya.


Sehingga saat kekantornya aku sudah tak perlu cemas lagi, bahkan letak ruanganya saja sudah aku hafal.Hanya saja, ada beberapa ruangan yang letaknya paling atas dan itu memang tidak diperbolehkan.


Sampai kantor X aku memberikannya ke resepsionis.Tak lama ada pesan Wa masuk.


Dari Rania."Terimakasih reinku sayang..."disematkan emot love.


Aku yang baru membacanya bergidik ngeri, tapi ini sudah biasa bagi kami berdua.


"Idiihhhhhhh...."balas chat ku sambil berjalan menuju lobi.


Di lobi aku melihat Mobil Sedan hitam berhenti didepan sana.Kemudian keluar seorang pria gagah berwibawa dari mobil tersebut.


Tapi aku tak mempedulikannya, karena saat ini aku sudah terbiasa melihat pria-pria yang seperti itu.Tertarik tentu saja, mana ada wanita yang tak tergila-gila dengan pria tampan, kaya dan berwibawa. Tapi, kembali lagi ke diri masing masing, mana mungkin orang seperti itu bisa kumiliki sedangkan mereka bergelimangan harta dan kekayaan.


Tanpa menyapa aku berjalan santai di depan mereka.Aku menuju motor bututku dan langsung pergi meninggalkan halaman perkantoran itu.

__ADS_1


Mungkin mereka bertanya-tanya siapakah aku?


******like-vote-komentar***


__ADS_2