AKU MEMANG MISKIN!

AKU MEMANG MISKIN!
lanjutan


__ADS_3

Miran memeluk tubuh ku dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan.


Sedangkan aku tersenyum senang karena pria yang selama ini aku rindu,kini sedang bersamaku.


Sejujurnya aku baru menyadari jika aku sudah jatuh cinta dengan pria keturunan Turki itu.Selama ini aku menganggap rasa itu hanya sebuah rindu.Tapi setelah melalui hari-hari tanpa dia.Hidupku terasa sepi.


Setiap saat aku merindukan Miran.Tapi kembali lagi dengan masalah pernikahan mereka.Aku mengira jika Miran saat itu sudah menikah dengan wanita itu.Sehingga aku mencoba untuk melupakannya,untungnya mas Harris datang kembali kehidupanku.


Sejujurnya aku masih mengingat perlakuan mas Harris beberapa tahun yang silam.Tapi aku sudah berjanji tidak akan menjadikan itu sebagai dendam.Sebab,semua yang terjadi padaku memang salahku dari awal.Jika tidak datang ke pesta itu,maka aku dan mas Harris tidak akan pernah berjumpa.Dan tidak akan terjadi namanya penyamaran sebagai Rei.


Jika mengingat-ingat siapa yang salah.Maka akulah yang salah disini.Kesalahanku sangat besar kepada mas Harris.Aku sudah menghancurkan perasaanya bahkan menghancurkan hidupnya.Wajar saja dia memperlakukan aku seperti itu.


"Makasih ya,Rein.Saya sangat bahagia berjumpa dengan kamu disini."


"Iya,Miran.Aku juga senang bertemu dengan kamu lagi."


Cukup lama berpelukan,akhirnya kami memutuskan untuk kembali kedalam rumah sakit.Aku masuk ke dalam ruangan bu Laila diikuti Miran.Orang-orang yang berada disana tersenyum menyambut kedatangan kami.


"Re,aku pergi dulu ya,"ucap mbak Susi kearahku.


"Aku antar ya mbak,"


"Ngak usah,kamu disini aja nemenin bu Laila."tolaknya.


"Tapi__"


"Udah,aku bisa pulang sendiri kok."


"Baiklah kalau begitu,hati-hati dijalan ya mbak.Oh iya,masalah kerjaan nanti aku hubungi aja ."


"Iyaaa,aku pergi dulu ya mas Zein,Zehra dan abang ganteng,"pamit Susi melihat ke arah kami.


Miran menarik sedikit bibirnya mendengar Susi yang memanggilnya abang ganteng.Kemudian mbak Susi pergi meninggalkan rumah sakit itu.


"Rein,kakak tinggal sebentar ngak papa?"


"Iya kak,ngak papa kok."


"Yaudah,kita pergi sebentar ya ngak lama kok."


Aku mengangguk,kak Zehra dan mas Zein pergi keluar mengikuti langkah mbak Susi.Sekarang diruangan ini,tinggal aku dan Mira.Sedikit canggung sih,tapi harus bagaimana lagi.


Aku duduk disofa dan diikuti Miran.Ia duduk disampingku dan meminjam hp ku.Aku memberikan hp kepadanya karena kami sudah biasa seperti itu sejak di Turki.


"Rein...."


"Iya...."


"Aku boleh datang ke butik kamu ngak?"


"Ya boleh lah.Ngak ada yang larang untuk kamu datang kesana.Tapi kalau mau bertemu aku,telfon dulu."


"Baiklah_ngomong-ngomong kamu udah makan?"


"Tadi udah makan waktu ke sini.Tapi kayaknya sekarang perutku juga mulai lapar,"jawabku jujur.


Miran mengacak rambutku,ia tergelak dengan kejujuranku.


"Ternyata sekian lama pisah denganku, tidak ada perubahan padamu Rein,"tuturnya kemudian berdiri tegak.

__ADS_1


"Baiklah,aku cari makan dulu.Tapi jangan kabur-kabur lagi,Ok..!"


"Iyaaa...."


Miran pergi keluar menuju rumah makan yang dekat dari rumah sakit.Ia membeli dua bungkus nasi Padang dan beberapa cemilan kemudian kembali ke rumah sakit.


Aku menoleh ke arah pintu,disana terlihat Miran sedang mengenggam kantong plastik yang berisi nasi bungkus.


Dia menaruh kantong tersebut ke atas meja,aku membuka satu persatu dan mencuci tangan.Sedangkan Miran mengambil sendok yang ia pinjam kepada perawat.


Aku memilih makan dengan tangan karena makan dengan tangan itu lebih leluasa.Dan juga nikmat apalagi makan nasi padang yang berlinga dengan kuah.


Aku makan dengan lahap,selain perut yang sudah kelaparan,masakan itu juga enak dan menggugah selera.Tapi,ketika aku sibuk dengan makananku,Miran sibuk memperhatikan cara makanku.Mungkin ia berfikir bahwa aku ini seperti orang yang belum makan tiga hari.


Beberapa menit kemudian,Miran menaruh sendok dan pergi mencuci tangan kemudian kembali ketempat duduknya.Tentu saja aku memperhatikan Miran yang sibuk sendiri.


"Tumben ngak pakai sendok?"tanyaku saat Miran menyuap nasi kemulutnya.


"Kayaknya enak makan pakai tangan,"jawabnya menyuapi nasi kemulutnya.


Aku mengangguk dan melanjutkan makan.Saat kami sedang asyik makan,pintu terbuka dan masuk salah satu perawat.Dia melakukan pemeriksaan kepada Bu Laila kemudian kembali keluar.


Aku memasukkan bekas makanku kedalam kantong kresek.Begitupula dengan Miran,ia merasa puas dengan masakan yang ia makan.Beberapa kali ia memujinya.


Beberapa menit kemudian datang kak Zehra dan mas Zein.Ia melihat Miran yang tertidur dibahuku.Kedatangan mereka membuatku kaget,spontan aku mendorong kepala Miran yang berada di bahuku.Miran bangun tapi kembali meletakkan kepalanya kebahuku.Melihat permandangan itu membuat pasangan suami-istri itu menggodaku habis-habisan.Wajahku memerah bak tomat busuk karena mereka.


"Rein,kamu ngak pulang ke kota A?"tanya mas Zein.Aku melirik jam tanganku menunjukan jam 6 sore.


"Ngak mas,udah sore soalnya.Aku malam disini aja."


"Ngak usah,kamu malamnya dirumah saja bersama Zehra.Biar aku dan Miran yang jagain ibu."


"Oh iya,bagaiman perkembangan butik kamu?katanya berkembang sangat pesat ya?"tanya mas Zein duduk disampingku istrinya.


"Alhamdulillah mas,"jawbaku.


"Ngomong-ngomong kalian sudah baikan lagi?"


"Kita baik-baik aja kok kak Ze."


"Mmmmm...."


Kami berbincang-bincang banyak hal dengan mas Zein dan kak Zehra.Sedangkan Miran masih tidur dipundakku,membuatku jadi kecapek an.Aku meminta bantuan mas Zein agar kepala pria itu tertahan dan aku berdiri.Kemudian mas Zein memperbaiki tidurnya.Beberapa saat Miran terjaga,mungkin karena terganggu oleh pergerakan tadi.Matanya memerah dan sedikit kusut.


Tadi mas Zein ngomong kalau Miran sudah beberapa hari ini kurang tidur.Mungkin karena itulah ia tertidur disini.


Miran mengucek matanya,ia kemudian melihat kak Zehra dan mas Zein.Miran ke toilet,ia mencuci wajah dan keluar dengan wajah segar.


Aku melirik jam dan kami pamit kepada mas Zein dan Miran untuk pulang kerumah mertuanya.Baru saja melangkah pak Somad datang.Beliau menyuruh kami untuk pulang dan beristirahat.Akhirnya aku,Miran dan sepasang suami-istri itu pulang kerumah mas Zein.


Aku meninggalkan mobil dirumah sakit.Dan pulang dengan mobil mas Zein.Selama diperjalanan banyak saja yang jadi bahan perbincangan.Kemudian aku tertidur karena mata ini sudah tak bisa lagi ditahan.Kepalaku bergerak ke kiri ke kanan dan kedepan,melihat itu Miran menarik kepalaku ke bahunya.Akupun tidur di bahu pria yang aku cinta.


Aku terbangun ketika azan berkumandang.Aku meliahat kesekitar dan saat ini aku tidur diruang tamu rumah keluarga mas Zein.Aku mencari gawai yang ternyata ada dimeja, aku menjangkau kemudian melihat jam yang menunjukkan jam 5 pagi.Aku memicingkan mata mengingat-ingat tentang semalam.Aku bertanya-tanya apa semalam aku berjalan ke kamar ini atau bagaimana?aku mencoba mengingat itu tapi sayangnya aku tidak tau apa-apa.


Ah sudahlah,nanti biar aku tanya pada kak Zehra saja.Mana tau dia yang membantu memapahku yang sedang tidur atau mungkin mas Zein?Ah ada-ada aja deh aku.


Aku turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi yang ada dikamar itu.Aku mencuci muka dan tak lama datang pembantu yang bekerja dirumah bu Laila.Ia membawa sabun dan beberapa pakaian untukku.


"Bi ini baju untuk siapa?"tanyaku heran.

__ADS_1


"Untuk nona,dan sabun itu juga untuk nona,"jawab bu Ani.


"Owh,tapi siapa yang beliin?"


"Bibi tidak tahu non,cuman disuruh sama dengan Miran."


"Miran?"


"Iya non,kalau begitu bibi keluar dulu ya non.Nanti kalau butuh sesuatu panggil saja bibi,"jawab bi Ani berjalan keluar kamar.


Aku memperhatikan pakaian itu.Bagus juga barangnya branded lagi.Aku tersenyum senang,ternyata Miran romantis juga.Ia tahu aku sedang membutuhkan pakaian ini,karena semalam aku memakai baju yang sama dan jika dikenakan sekarang pasti baunya menyengat.Walaupun pakai parfum tapikan tidak nyaman juga.


Aku masuk ke kamar mandi dan bersih-bersih.Kemudian keluar kamar setelah berdandan.Tiba diruang tamu,aku belum melihat siapa-siapa disana.Mungkin penghuninya masih tidur.


Aku berjalan keluar dan melaksanakan pemanasan sebelum beraktivitas.


Hari mulai benderang,udara pagi yang sejuk sangat terasa di kulit.Aku hendak kedalam tapi ketika membalikkan badan aku terkejut karena Miran tiba-tiba ada di depanku dan aku menabrak dada bidangnya.


"Bagaimana tidurnya,nyenyak?"tanya Miran menatapku.


"Lumayan,"jawabku sekedarnya.


"Oh iya Miran,semalam aku berjalan ke kamar atau bagaimana?"tanyaku panasaran.


"Berjalan, tapi saya yang berjalan ke kamar itu,"jawabnya membuatku mengerutkan dahi.


"Maksudnya?"


"Saya yang gendong kamu,"jawabnya tersenyum.


Setelah jawaban itu,aku menjadi salah tingkah.Bagaimana tidak?aku sudah membayangkan bagaimana semalam,Miran mengendongku ke kamar.Bak film-film romantis Cina.


Ahhh... benar-benar romantis sekali.Tapi sayangnya aku tertidur semalam jadi tidak menikmati adegan tersebut.


Aku,mas Zein dan Miran pergi ke rumah sakit.Aku kesana melihat bu Laila sekalian mau pulang ke kota A.Tiba disana aku pamit kepada mas Zein dan pak Somad.


Aku pergi menuju parkiran diikuti oleh Miran.


"Besok aku ke sana bersama Zein."


"Iya,tapi nanti hubungi aku dulu biar aku tahu kamu sudah datang atau belum."


"Baiklah."


"Aku berangkat dulu."


"Hati-hati dijalan,tunggu aku disana ya."


"Iya,assalamualaikum,"ucapku sebelum naik mobil.


Miran menjawab salamku kemudian ia sempat mengecup pucuk kepalaku.Aku jadi tersipu karena ulahnya.Kemudian masuk kedalam mobil dan meninggalkan lokasi rumah sakit itu.


******


...***Jangan lupa kasih Like-vote-komentar-hadiahnya kakak serta Vavoritnya.Agar karya Author semakin maju kedepannya....


...Tapi cerita Author hampir TAMAT kakak beberapa bab lagi.Tidak sampai 50 bab kok. Jadi jangan kabur dulu yaaaa***....


*****

__ADS_1


__ADS_2