AKU MEMANG MISKIN!

AKU MEMANG MISKIN!
Lanjutan


__ADS_3

Seperti biasa,dokter Miran datang ketempatku dan melakukan pengecekan.Setelah memastikan bahwa aku mulai sedikit baikan,dia mengajakku untuk pergi jalan-jalan keluar rumah sakit.


Katanya,agar aku tidak pusing beranda diruangan itu.Ini merupakan salah satu cara agar aku tidak lagi merasa bahwa orang-orang yang pernah aku temui bukan mantan suamiku.


Berbagai cara dilakukan untuk pemulihanku.Aku selalu ingat satu hal yang ia sampaikan setiap hari yaitu,


"Jika kamu ingin pulih dari trauma ini.Maka kamu harus lakukan ini dengan cara berdamai dengan masa lalu.Kemudian bisa menerima bahwa kejadian masa lalu itu sebagai bagian dari pengalaman atau perjalanan hidup atau diri."


Kalimat itu selalu terngiang-ngiang di otakku.Setiap melakukan terapi,maka dokter Miran akan mengatakan kalimat itu untuk membuatku berani menerima masa lalu yang menyakitkan.


Biarpun aku sudah mencoba untuk memulihkan diri.Tapi,aku belum bisa untuk berbicara lebih luwes tentang cerita atau membahas peristiwa yang membuatku trauma.Akupun juga belum bisa bersikap lebih terbuka saat menceritakan kejadian traumatis yang perna aku alami kepada dokter Miran ataupun mas Zain.


Walau begitu,kata dokter Miran itu merupakan sebuah proses yang memang membutuhkan waktu.Dan waktu itu belum bisa menentukan bahwa kita benar-benar sudah menerima atau belum.


Yang penting saat ini,kita berusaha melalui proses-proses yang panjang,yakin akan usaha tersebut berhasil.


Setiap melakukan sesuatu seperti terapi,jalan-jalan dan kemana saja yang aku mau pasti ada dokter Miran.Bahkan jika diperhatikan,aku dan dokter Miran tidak seperti dokter dan pasien.Banyak yang mengatakan bahwa kami ini pasangan yang serasi.


Jelas saja ini bukan hal yang membahagiakan buatku.Aku masih trauma menjalin hubungan dengan pria.Apalagi dokter Miran.


Yang aku tahu,dokter Miran adalah seorang dokter dan masih bujangan.Ya,hanya itu saja yang aku ketahui,lalu bagaimana kami bisa menjalan hubungan.Bahkan aku saja tidak tahu bibit bobotnya dari mana.


Memang sih kami ini selalu dekat tapi itu sekedar pasien dan dokter saja.Aku merasanya seperti itu.


Jika dibilang nyaman,iya aku nyaman berada didekatnya.Apalagi di setiap waktu dokter Miran ada disampingku.Jika aku tidak sakit seperti ini maka,aku akan menjadi orang yang sangat-sangat bahagia karena kami selalu bersama.Dan mungkin tumbuh biji-biji cinta kemudian kembang jadi bunga cinta yang bermekaran.


Tapi itu tidak terjadi padaku.Biarpun dokter Miran masih bujangan,sama sekali aku tidak merasa apapun.


Hanya sekedar nyaman saja,tak lebih tak kurang.


~


Dua tahun kemudian.


Aku duduk di sebuah kamar,tapi bukan kamar rumah sakit lagi.Sebab,aku sekarang berada di istana milik keluarga Zehra,istri mas Zain.


Istana ini berada di Turki.Mas Zain dan kak Zehra membawaku kesini,agar aku tidak kesepian di Australia saat mereka pulang ke Turki.


Aku sungguh tidak percaya. Ternyata mas Zain mempunyai istri yang sangat kaya.Tak terkiranya adalah keluarga kak Zehra.Mereka menerima mas Zain jadi menantunya yang hidupnya sederhana.


Aku salut pada keluarga Zehra.Mereka orang yang sangat kaya. Orang yang terpandang.


Tapi mereka tidak pilih-pilih untuk menentukan calon menantu.Asalkan mereka berpendidikan,biarpun tak kaya seperti mas Zain.


Tak sangka lagi,aku diterima dalam keluarga ini yang bukan siapa-siapa bagi mas Zain.Malahan,mereka menganggapku salah satu keluarga mereka.Tentu saja aku sangat bersyukur karena kebaikan mereka.


Aku merasa bahagiaaaa... sekali.


"Cekrekkkkk..."


Aku menoleh ke arah pintu kamarku.Disana kak Zehra dan Efren berjalan ke arahku dengan senyuman mengembang.

__ADS_1


"Rein kamu bengong ya?Padahal kami sudah menanti kamu lho sejak tadi,eehh ternyata malah bengong disini."ucap kak Zehra menepuk pundak ku.


"Rein,kamu jangan sering-sering melamun.Nanti kambuh lagi,mending kamu ceritakan sama kita jika ada masalah.Kan kita keluarga."sambung kak Efren mengembangkan senyumnya.


"Aku ngak ngelamun kok,ini lagi hirup udara pagi yang sejuk dan segar,"jawabku beralasan.


Kedua perempuan itu manggut-manggut tanda mengerti.


"Ok.Kalau begitu ayo kita kebawah.Sudah dinanti lho sama dokter Miran."ajak Efren diberi anggukan dari kak Zehra.


"Dokter Miran disini juga?"tanyaku heran,tumben dokter itu datang pagi-pagi begini.Emangnya ada apa sih?


Aku bertanya-tanya dalam hati tanpa bertanya panjang lebar kepada ke-dua perempuan itu.


"Iya,ayo,mereka sudah nunggu lama tau,"jawab Efren menarik tanganku.


"Eets.... tunggu dulu,masak mau pergi pake baju tidur gini?"potong kak Zehra saat kami tiba dipintu.Ia memperhatikan pakaianku,yang ternyata masih memakai pakaian tidur.


"Ya ampuuuun Rein...Kenapa kamu masih pake baju tidur sih?kan kita mu pergi."oceh Efren panik.


"Sana kamu mandi,"sambungnya memintaku untuk mandi.


Dengan nyengir kuda,aku berlari masuk ke dalam kamar mandi yang sangat luas.


Aku segera mandi kilat dan keluar kamar.Aku disambut oleh beberapa orang yang bekerja sebagai merias,memakaikan gaun dan mengatur semua keperluanku.Aku seperti ratu yang dilayani.


Sedangkan kak Zehra dan Efren berdiri memperhatikan semua yang aku kenakan, tidak ada yang salah atau lecet.


Pagi ini aku benar-benar lupa.Lupa dengan janji yang aku iyakan kemarin.Pergi kepesta adik dokter Miran yang juga sanak kak Zehra.


Semalam itu menyenangkan.Tapi....kenapa aku sampai melupakan tujuan datang ke Turki.


Pantas saja pagi-pagi sekali mereka sudah bersiap-siap untuk pergi menghadiri acara pernikahan Adik dokter Miran.


Kenapa harus pagi?Ya,karena jarak kota ini ke kota B lumayan memakan waktu.Sehingga harus berangkat pagi-pagi sekali.


"Sudah siap,ayo kita turun."ajak Efren usai memastikan pakaian ku rapi dan lengkap.


Kami bertiga keluar kamar menuju ruang utama.Aku melihat mas Zain ngobrol dengan dokter Miran dan Achmad. Mereka sangat serius sehingga tidak sadar dengan kedatangan kami.


"Ehhemm...."


Kak Zehra men-dehem agar ketiga pria itu menyadari kedatangan kami.


Jujur,aku sangat gugup dan malu karena sudah terlambat dari waktu yang dijanjikan kemarin.


Mereka menoleh ke arah kami.Aku menunduk,tidak bisa menatap mereka.


Jujur saja,walau aku sudah menerima kejadian dan trauma yang aku alami.Tapi aku masih belum berani untuk menatap orang sekitar.


Aku hanya bisa melihat mereka sekilas.Entahlah,aku juga masih ragu,apa aku sudah sembuh sepenuhnya atau belum.

__ADS_1


Tapi,akan aku usahakan untuk menerima semua dan mencoba untuk memberanikan diri.


"Laahh,Rein kok bengong lagi sih.Ayo kita mau pergi.Jangan berdiri disana terus."ucap Efren membuatku sadar dan melihat kedepan ternyata hanya aku dan Efren yang berada di ruang itu.


Sedangkan kak Zehra dan ketiga pria tadi sudah pergi keluar.


Aku melangkah keluar.Diteras,aku melihat 4 mobil sedan hitam yang warna ke-empatnya sama.


Kak Zehra sudah berada di mobil pertama bersama mas Zain.Mobil ke-dua,aku melihat dokter Miran.Dan mobil ke-tiga diisi oleh Efren dan Achmad.Sedangkan mobil ke-empatnya diisi beberapa orang.Mungkin pengawal keluarga itu.


Saat aku sedang kebingungan,Efren berteriak dari depan pintu mobilnya.


"Rein,kamu bareng sama dokter Miran aja."ucapnya kemudian masuk kedalam mobil tersebut.


Aku mengalihkan pandangan ke arah dokter Miran.Dia keluar memakai kaca mata hitam dan memakai jas yang sepadan dengan penampilannya.


Aku melihat itu merasa terpana.Hari ini dia terlihat gagah dimataku.Tanpa sadar aku menarik sedikit bibir,tersenyum.


Dokter Miran memutari mobil,ia membuka pintu untukku.Jujur,aku merasa tidak enak hati dengan perlakuannya itu.


Apalagi dia sudah banyak berkorban untuk membuatku kembali seperti diriku yang dulu.


"Ayo..."ucapnya mempersilahkan aku masuk.


Aku berjalan masuk ke mobil tersebut.Dan dokter Miran masuk,dia duduk disampingku.


Mobil mulai bergerak meninggalkan istana mewah itu membelah jalan perkotaan menuju kota B.


Didalam mobil ini,entah kenapa,tiba-tiba dokter Miran menjadi seorang yang sangat irit bicara.Biasanya dia selalu bicara ini itu untuk menghiburku.Tapi,hari ini dia terlihat agak berbeda dari biasanya.


Akupun tidak ingin bertanya,takut akan salah bicara.Akhirnya aku memutuskan untuk diam dan mengalih pandangan keluar jendela.


Beberapa saat kemudian,


"Rein..."panggil dokter Miran melihatku.


"Iya..?"jawabku menoleh kearahnya.


"Kamu sangat berbeda hari ini.Kamu terlihat sangat anggun memakai pakaian ini."tutur dokter Miran membuatku salah tingkah.


"Beneran dok?"tanyaku tak percaya.


"Jangan panggil dokter terus.Kan saya punya nama,"jawab dokter Miran tak terima.


Aku merasa malu.Sebab,setiap kali bicara dengannya,aku selalu memanggilnya dokter.Dan sudah berulang kali ia mengingatkan agar aku memanggil Miran saja.Tapi,tetap saja aku memanggilnya dokter.


"Ma...ma..maaf Miran.Aku,mungkin belum terbiasa memanggil nama dokter,eeeehhhh...Miran maksudnya."jawabku terbata-bata.


Dokter Miran menarik sedikit bibirnya,ia merasa lucu dengan tingkahku yang sama seperti nenek-nenek.Pelupa.


"Tidak apa-apa,saya mengerti kok."jawabnya mengelus kepalaku.

__ADS_1


Kali ini aku menatap mata dokter Miran.Dia tersenyum dan pandangannya sangat teduh.Membuatku merasa tenang didekatnya.


...****Jangan lupa untuk memberi vote-like-komentar agar ceritanya terus mengalir dan membuat kakak senang untuk membacanya.Terimakasih*****...


__ADS_2