AKU MEMANG MISKIN!

AKU MEMANG MISKIN!
Lanjutan


__ADS_3

Malam itu bukan malam terakhir bagi kami berdua.


Dokter Miran mengajakku jalan-jalan disekitar kota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit itu.Kami juga singgah ke pasar yang menjual berbagai barang khas Turki.


Tak lupa,pria itu membelikan beberapa barang yang sangat unik.


Selama perjalanan,kami saling bergurau dan bercanda ria.


Tentu saja,kebersamaan kami dipenuhi kenangan-kenangan yang romantis.


Malam ini,aku diajak dokter Miran pergi ke istana keluarganya.Katanya ini acara kumpul keluarga.


Karena dokter Miran lebih sering di Australia dari pada di negaranya sendiri,yaitu Turki.Jadi,mereka mengadakan kumpul bersama keluarga besar di istana tersebut.


Tadinya aku menolak,tapi pria itu bersikeras.Dia takut meninggalkan aku di Apartemen ini sendirian.


Akhirnya,aku dan dokter Miran datang ke sana bersama.


Diperjalanan,aku melirik dokter Miran yang melamun.


"Miran,kamu ada masalah?"tanyaku melirik pria itu.


"Ngak,aku panasaran aja sih, kenapa ayah memaksa aku untuk datang ke acara ini."ucap dokter Miran yang juga bingung dengan undangan ayahnya yang terlihat sangat penting.


"Emang biasanya ngak seperti itu?"tanyaku lagi.


"Ngak,"jawab pria itu melirikku.


Aku mengangguk mengerti.


Dalam perjalanan ini kami saling diam.Konsen dalam pemikiran masing-masing.


Tak lama mobil yang membawa kami tiba di tempat tujuan.Aku dan dokter Miran masuk kedalam istana tersebut menuju ruang makan.Karena keluarga tersebut sedang berada diruang itu.


Aku melihat keluarga besar tersebut sedang berbincang-bincang, sesekali bergurau.Mereka berhenti setelah melihat kedatangan kami.


Kami disambut baik oleh pak Bahadir dan mengajak kami untuk duduk.


Disela-sela makan,pak Bahadir memulai pembicaraan menanyai hubungan kami.

__ADS_1


Jelas saja aku menjawab tidak ada hubungan apa-apa.Sebab,aku masih belum merasakan apa-apa terhadap pria yang kini berada diseberang mejaku.


Sedangkan dokter Miran menatapku dengan tatapan yang tidak aku mengerti.Tapi dia sudah berjanji padaku,tidak akan pernah pasrah untuk membuatku jatuh cinta padanya.


Dia akan berjuang untuk cintanya.


"Syukurlah kalau kalian tidak memiliki hubungan.Karena saya sudah menjodohkan Miran dengan anak sahabat saya,"ucap pak Bahadir membuat dokter Miran tersedak.


Dia menatap pak Bahadir kemudian melirikku.Aku sama terkejut dengan ucapan pak Bahadir yang menjodohkan dokter Miran dengan anak sahabatnya.


"Ayah?apa yang sudah ayah katakan?ayah menjodohkanku dengan wanita yang tidak aku cintai?"ucap dokter Miran tidak terima.


"Cinta?hahaha...Sejak kapan kau mengerti cinta?Jika kau memiliki cinta,kenapa sampai sekarang kau tidak menikah?Lihatlah adikmu,dia sudah menduluimu.Apa ini tidak menjadi pemikiran bagiku?!"jawab pak Bahadir menatap tajam dokter Miran.


"Bulan depan acara pernikahannya."sambung pak Bahadir menatap dokter Miran seakan memberi sinyal bahwa tidak ada penolakan.


Dokter Miran meninggalkan meja makan dengan kemarahan.Ia pergi ke kamarnya.Sedangkan aku tidak berani berkutik dan diam seribu bahasa.


Aku mengerti kenapa dokter Miran melamarku waktu itu,ternyata dia takut dijodohkan dengan perempuan yang sama sekali tidak dicintainya.


Orang-orang disini menjadi patung untuk sesaat.Tidak ada yang bergerak untuk melanjutkan makan.Lalu,pak Bahadir menatapku.Seakan ia ingin mengintrogasiku.


Istri pak Bahadir meninggalkan meja makan menuju kamar dokter Miran.Dan yang tinggal disana kembali melanjutkan makan seperti tidak terjadi apa-apa.


Aku mematuhi perintah pak Bahadir,walau aku tahu perut ini sudah tidak lapar lagi.


Kami makan dengan diam,hanya denting sendok yang berbunyi.


Hahhh...suasana ini benar-benar menegangkan.


Usai makan,pak Bahadir meminta salah seorang untuk mengantarku ke Apartemen.Karena aku menolak untuk nginap di istana itu.


Sedang dokter Miran masih setia dikamarnya.Aku tidak tau apa yang ia lakukan disana,entah marah-marah atau meraung sedih.


Aku pamit kepada pak Bahadir, beliau mengucapkan terimakasih kepadaku,karena aku sudah datang ke acara keluarga tersebut.


Jika diperhatikan,pak Bahadir ini orangnya santai.Tapi,setelah melihat kejadian tadi,menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang sangat tegas dan keras.


Aku menaiki mobil pribadi milik keluarga pak Bahadir,kemudian mobil tersebut melaju meninggalkan halaman istana tersebut membelah jalan kota.

__ADS_1


Selama diperjalanan,aku menatap kaluar jendela.Memikirkan bagaimana keadaan dokter Miran saat ini.Aku juga berfikir bagaimana jika Miran benar-benar menikah dengan pilihan ayahnya.


Jika dokter Miran menolak,apa yang akan terjadi padanya? bagaimana perasaan Ayahnya?


Tidak-tidak,dokter Miran harus menikah dengan perempuan itu.Supaya dia dan ayahnya tidak bertengkar seperti tadi.


Dan jalan satu-satunya adalah aku harus pergi darinya.Jika tidak,dia akan terus mencintaiku yang sudah janda ini.


Yaaa.... Aku harus kembali ke Australia untuk menemui mas Zain dan pulang ke negara dimana aku berasal.Walau aku tahu, Ini tidak akan mudah bagiku.


Beberapa jam kemudian,aku tiba di Apartemen itu.Aku duduk di kursi lemas tak berdaya mengingat ucapan pak Bahadir.Aku memutuskan untuk membuka gawai dan menekan galeri.Aku memperhatikan foto-fotoku dengan dokter Miran,foto saat liburan kemarin.


Saat memperhatikan ini,aku teringat dengan bayang-bayangan perlakuan dokter Miran kepadaku.Teringat dengan perjalan panjang yang menyisakan kenangan yang tak akan terlupakan.


Ingatan itu membuatku tertidur di sofa tersebut.Tanpa tau,bahwa dokter Miran datang ke Apartemen.Dia melihatku tertidur disofa dan memindahkan ke ketempat tidur.


Dokter Miran baru teringat aku setelah berlarut-larut dalam kemarahan dan kesedihannya.Ia lupa bahwa aku juga ada diistana itu.Setelah ditanya keberadaanku,salah satu pembantunya mengatakan bahwa aku pulang ke Apartemen.


Jelas saja dia bergegas meninggalkan istana megah dengan mobil pribadinya menuju Apartemen dimana aku sedang terlelap menikmati mimpi indah.


Miran duduk termenung memperhatikan aku,dia mengelus pipiku dan mengucurkan air mata.


Sejujurnya aku terjaga setelah ia memindahkan tidurku.Karena itu,aku tau dia sedang menatapku dan menangis.


Aku merasa sedih dan iba dengan dokter Miran.Aku merutuki diri,karena tidak punya perasaan pada pria yang sudah merawat ku hingga aku kembali seperti ini.


Aku membuka mata menatap pria itu.Aku mengelus pipinya yang brewok dengan rasa sedih.Kemudian aku duduk dan memeluknya.


"Rein,aku tidak ingin menikah dengan wanita itu."tutur Miran disela-sela tangis.


Aku diam,tak tau harus menjawab apa.Hanya bisa mengelus punggung pria itu memberi kenyamanan.Cukup lama suasana kesedihan ini menyelimuti ruangan ini.


Aku menghiburnya dan mengajak untuk menonton komedi.Agar dia tidak merasa sedih lagi.


Kami berpindah ke sofa dan menonton komedi yang banyak mengandung tawa.


Dokter Miran menarik tanganku dan menggenggamnya.Kamipun saling menyandar,sehingga tidak sadar,kami tertidur hingga sinar matahari menusuk kelopak mata.


Aku terbangun dan melihat pria yang berada di sampingku tersenyum.Akupun bertanya-tanya atas perubahan pria ini.

__ADS_1


Semalam dia menangis,dan sekarang dia tersenyum.


*****Klik Suka-Hadiah-Komentar-Vote****


__ADS_2