AKU MEMANG MISKIN!

AKU MEMANG MISKIN!
lanjutan


__ADS_3

Hujan rintik membasahi seluruh kota ini. Membersihkan daun dan pepohonan yang dipenuhi debu kota.Burung yang tadi berkicau kini suara itu hilang entah kemana.


Sama seperti diriku.Pria yang bergelimang harta dan kekayaan,namun sepi dalam kehidupan.Kehidupan cinta dan kasih sayang dari seorang ayah dan istri.


Setiap hari memutar video yang dikirim Sony dari luar negeri nan jauh disana.Tampak,wanita yang dulu jadi istriku bersama pria yang bekerja sebagai dokter itu.Mereka terlihat sangat dekat,tapi aku berharap jika dia tidak memiliki rasa kepada pria itu.


Duduk termenung mengingat kenangan dulu.


Aku merutuki diri,kenapa aku begitu ceroboh dalam pernikahan ini?


Sehingga melepaskan wanita yang dulu aku benci sekaligus yang ku cintai.Padahal dia wanita baik mampu bertahan dalam rumah tangga yang rumit ini.


Aku masih mengingatnya,saat dia berusaha membuatku untuk merasakan keberadaannya.Membuat sesuatu yang aku sukai,walau aku mengacuhkannya.Kata-kata kasar yang mungkin menyinggung hatinya.Bahkan sering meninggalkan dia sorang diri dimalam sepi.Mungkin waktu itu dia selalu berharap dengan kepulanganku.Tapi aku sibuk dengan wanita-wanita luar sana.


Jujur saja,waktu itu aku sangat terpukul dengan kehilangan anakku.Anak yang aku inginkan,bersusah payah menjaganya.Tapi dia pergi sebelum menghirup udara dunia.


Dengan bodohnya aku dan rasa emosi memenuhi otak. Aku begitu saja mempercayai ucapan momy yang mengatakan.


"Tidak mungkin dia tidak tahu dengan bayi yang dikandungnya sudah meninggal."


Kalimat itu yang selalu terngiang-ngiang setiap detik waktu dan hari-hariku.Bayangan wajahnya,tubuh yang kaku memucat membuatku tidak bisa berfikir jernih.


Sehingga masalah itu membuat wanita yang dulu jadi istriku menjadi korban penuduhan.Aku menuduhnya sebagai pelaku pembunuhan terhadap bayi kami.Bahkan aku tega menceraikannya.


Berharap setelah perceraian itu masalah dan pikiranku sedikit membaik.Tapi yang terjadi malah sebaliknya.Aku hancur dengan keegoisan yang aku buat sendiri.


Kini wanita itu sudah jadi mantan istriku.Dan aku kembali menghancurkan dia dengan nafsu yang tak tertahankan.Aku membuatnya untuk mengakhiri hidup.Bahkan aku juga yang membuatnya jadi trauma.


Trauma akan pria.


Sekarang dia pergi keluar negeri untuk pengobatan.Dan aku tidak bisa menebak jika dia akan berpaling dariku.

__ADS_1


Walaupun aku sudah berusaha untuk memperhatikan kondisinya dari jarak jauh.


Tapi aku tidak yakin,jika dia sadar dalam masa itu.Dia akan memafkanku atau malah sebaliknya.


"Pak....?"


Aku tersadar dari lamunan panjang.Melihat ke arah suara yang tadi memanggilku.


"Pak,ada yang ingin bertemu dengan bapak."


"Siapa?"tanyaku bingung.


"Namanya Syerif.Katanya sudah punya janji dengan bapak,"ucap Rere yang juga bingung melihat aku tidak konsen.


"Oh iya,saya lupa,"ucapku mengingat kembali.


Rere menggantikan Adam untuk sementara waktu,karena Adam cuti untuk beberapa hari ini,ada keperluan keluarga yang sangat penting.


Beberapa jam berlalu,aku memutuskan untuk kembali ke Mension yang sudah lama tak kukunjungi.


Tiba disana,aku langsung ke makam kecil disamping mension.Aku duduk dan menatap batu nisan.Mengelusnya dengan kasih sayang.


Aku menangis sedih saat menceritakan semua perjalanan hidup dengan mantan istri,ibu dari anakku.Aku tersedu-sedu pilu.


Biarpun begitu,aku akan terus mengejar cinta.Cinta yang mungkin sudah terlambat.


Aku berjalan memasuki mension.Merasakan kenangan dulu,kenangan saat aku dan Rein.Kenangan saat saling bahagia,baik Rein maupun Deddy.


Aku berjalan ke tangga menuju ruang atas.Tiba disana,aku memutar badan melihat kebawah.Aku merasakan kenangan beberapa tahun yang silam,dimana saat perjodohan yang tidak aku inginkan.Namun pernikahan itu tetap terjadi.Kini pernikahan itu yang membuatku ingin kembali dengan wanita itu,Rein Hasbi Asyifa.


Kemudian melangkahkan kaki masuk ke kamar,kamar mandi dan balkon.Dimana,tempat-tempat itu tersimpan kenangan manis yang tak terlupakan.

__ADS_1


Aku terduduk di kasur yang pernah kami tempati.Ingatan itu muncul begitu saja,semuanya terasa baru semalam.Aku merebahkan diri dan menikmati kenangan-kenangan itu hingga aku tertidur.


Tring....tring....


Suara gawai membangunkan tidurku.Aku menjangakau hp dan mengangkat panggilan itu dengan belum sepenuhnya sadar.Mata ini sangat mengantuk sehingga aku tidak menyadari bahwa sedang menelfon.Aku mengiyakan ucapan dari orang seberang sana.Kemudian kembali tidur hingga esok pagi.


Pagi-pagi sekali aku terjaga dan melihat ke sekitar ruangan.Beberapa menit aku baru menyadari bahwa aku tertidur di Mension.Seketika,aku melihat jam yang menunjukkan jam 5 subuh.Aku berjalan ke kamar mandi dan melaksanakan mandi pagi.Usai mandi aku melihat hp dan melihat beberapa panggilan dari Adam dan Vania.Kemudian beralih ke aplikasi WhatsApp.Aku melihat pesan dari Vania yang menanyakan keberadaanku,dan pesan dari Adam yang juga menanyakan keberadaanku.


Aku panasaran,kenapa mereka semua mencariku.Aku merasa seperti anak kecil yang hilang semalam.


Aku menaruh hp dan membuka kain gorden yang menutupi jendela.Mataku memandang keluar sana,tanpak suasana pagi yang sepertinya akan turun hujan.Kemudian aku berjalan kembali ke dalam mengambil leptop dan membawanya ke balkon kamar.Aku duduk dan membuka beberapa file,kemudian membuka video yang dikirim Sony.


Disana tampak Rein pergi dengan pria yang bernama Miran.Mereka jalan-jalan disekitar taman rumah sakit.Pria itu terlihat berbincang-bincang banyak hal dengan Rein.Tapi,Rein tidak terlalu menanggapi,ia terlihat banyak melamun.Walau sesekali menjawab ucapan pria itu.


Aku tahu pikirannya sedang tidak dengan tubuhnya.Dari matanya terlihat jelas jika dia sedang melamun.Tapi aku tidak bisa menebak apa yang dipikirkan wanita itu.


Aku mengelus wajah yang terpampang dilayar itu.


"Rein,akhir-akhir ini kau terlihat sangat manis.Walau kau dalam masa trauma.Tapi cahaya tubuhmu masih bersinar kerelung hatiku.Rein maafkan aku telah membuatmu sengsara.Sejujurnya aku iri melihat kau bahagia dengan perpisahan kita."


Aku memperhatikan video tersebut sampai habis.Tak lama masuk bi Inah membawakan susu dan cemilan.


"Ini susunya tuan,silahkan diminum."ucap perempuan yang sudah berusia 50 tahunan.


Aku melirik sekilas,kemudian perempuan itu pergi keluar untuk mengerjakan pekerjaannya.


Berselang waktu,hujan mulai turun diiringi dengan petir yang menyambar sana sini.Membuat siapa saja merasa takut termasuk aku.Aku masuk kedalam kamar dan mengunci pintu itu dan menutupnya dengan gorden.


Bulu-bulu di tanganku berdiri dan aku mulai bergetar,wajahku memucat ketakutan.Jujur aku sangat takut dengan petir,karena itu disetiap hujan aku tidak mau pergi kemana-mana.Jika dalam mobil aku lebih memilih untuk tidur memakai handset dan menghidupkan musik kesukaanku.


*****Like-vote-komentar-Hadia*****

__ADS_1


__ADS_2