
Aku langsung khawatir melihat Rain istriku berteriak mengatakan sakit. Wajahnya berubah pucat tak berdarah.
Aku yang saat ini berada di kantor segera pergi ke Mension dan meminta Adam untuk menghubungi Ambulans.
Saat diperjalanan aku panik dan sangat khawatir.
Hingga saat melihatnya terduduk di kasur dengan rintihan karena sakit.Aku berfikir bahwa istriku akan melahirkan. Sigat dan cepat,kami membawanya ke Rumah Sakit.
Aku memegang tangannya memberikan kekuatan.Jujur aku takut dan gemetar melihat kondisi istriku yang menahan sakit.
Hingga sampai diruang persalinan aku selalu berada di dekatnya.Rintihan itu tak jua berhenti aku mulai cemas.
Para perawat dan dokter sibuk mengambil ini itu untuk persiapan persalinan.
Wajah mereka panik,tapi mereka tidak bicara apapun.
Aku memperhatikan wajah istriku.Tiba-tiba dia berteriak histeris dan tak lama keluar bayi kami dari sana.
Dokter dan suster kaget.Mereka bergerak cepat mengambil bayiku dan melakukan pekerjaannya.
Disaat Rein tidak sadarkan diri.Disaat itu pula aku bahagia namun khawatir.Aku merasa takut karena bayiku tak bersuara.
Dokter berusaha melakukan penyelamatan terhadap bayiku. Mereka memintaku untuk menunggu diluar.
Aku sangat cemas dan khawatir,karena dia tak kunjung bersuara.
Aku berdiri mematung dengan jantung berdetak kencang.Berharap semua baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian setelah mereka periksa kondisi bayiku.Salah satu dokter menemuiku.
"Kami sudah berusaha sebaik mungkin tapi...."
"Tapi apa dok...!cepat jelaskan...!"
Aku menarik kerah baju dokter tersebut.Aku sangat-sangat takut.
"Dia baik-baik sajakan dok....Anakku hidup kan?"tanyaku yang terus saja menarik krah baju dokter. Aku takut pikiran yang terlintas dibenakku benar adanya.
"Anak bapak sudah tidak ada sejak kemarin."
"Apa?!Anda jangan asal bicara ya,saya bisa saja memasukkan Anda ke penjara."ucapku tak terima.
Namun,dokter tersebut hanya lemas tak berdaya.Diamnya membuatku emosi.
Jantung yang tadi bergetar kencang kini berhenti lemah tak berdaya.Aku berdiri terpaku mendengar kalimat itu.
Terduduk dan menangis rasa sedih menyapu ruangan ini.Mengusap kepala tak habis pikir.
Deddy mendekati dan mengusap punggungku.Momy dan Grandma berpelukan menangis pilu.
Sedangkan istriku,masih terbaring lemah tak sadarkan diri setelah melahirkan itu.
Aku berjalan keruangan bayiku,melihat tubuh kecil itu kaku tak bernyawa.Aku mendekatinya dan memeluknya erat,aku tak ingin melepaskannya.Tak terkira betapa sedihnya diriku melihat ini.Anak yang aku nanti-nanti dan yang ku jaga sepenuh hati kini tak bernyawa saat sebelum dilahirkan.
Bagaimana bisa dia meninggal didalam sana?
Aku mencium anakku sebelum mereka ambil untuk dimandikan.
__ADS_1
Sebelumnya aku tak mau melepaskannya.Namun,deddy mbujukku dan menjelaskan padaku agar aku mau melepaskan dan segera memandikannya.
Aku melepaskan tubuh kecil itu dengan hati pilu.
Aku terus memperhatikannya,rasa pilu tak terkirakan menusuk tulang dan melemahkan tubuh ini.
Duduk di kursi memikirkan kenapa semua ini terjadi.
Beberapa jam kemudian.
Usia pemakaman, aku kembali ke Rumah sakit melihat kondisi istriku.Kata dokter dia kritis.
Aku keluar dan duduk.Tiba-tiba air mata ini kembali menetes tak berhenti.
Sesak....pilu...!
Tiga hari kemudian.
Oma dan Deddy datang menjenguk Rein.Sudah tiga hari dia tak jua bangun usia melahirkan itu.
Mereka berdua masuk kedalam ruangan dimana istriku berada.Sedangkan aku masih termenung di kursi ditemani Mommy.
Samar-samar, aku mendengar suara istriku dari luar.Dia bertanya,tak ada yang menjawabnya.Kemudian dia menagis, mungkin sudah merasakan apa yang sebenarnya terjadi.
Aku berdiri dan bergegas masuk ke dalam menemuinya.
Dia bertanya apa yang sudah terjadi kepadaku,namun kami tetap tidak memberitahunya.
"Saya minta untuk sekarang ini bapak dan ibu tidak memberitahukan ini kepada Pasien.Karena ini akan membuat kondisi pasien lemah dan ini sangat berisiko untuk nya."ucap dokter itu kepada kami.
Kalimat itu masih terngiang di kepalaku saat dokter menjelaskannya.Sehingga membuat kami memilih diam untuk sementara waktu.
"Dia sudah tiada...!"
Aku mengatakan itu agar dia tak lagi bertanya.Bagaimanapun juga aku tak mau membuatnya terus bertanya lagi.Dia ibunya,dia berhak tau tentang ini.
Dia terdiam dengan butiran bening berjatuhan di pelupuk matanya.Dia meraung histeris segi membuatku tak kuasa untuk menahan air mata.
Aku pergi meninggalkannya menuju parkiran.Disana aku terduduk lemah menatap lantai dengan tangisan yang tak akan berhenti.
"Kenapa kau lakukan ini pada kami Tuhan?Padahal kau tau kami sangat menginginkannya!Cobaan apa ini yang engkau beri?!...harrggggggtt....."
Aku memukul lantai dengan tangan ini.Semua perasaan campur aduk membuat emosiku tak terkendalikan.
***
Beberapa hari setelah itu aku berusaha menyibukkan diri agar kejadian pahit itu hilang,namun bagaimana pun berusaha menghilangkan tetap saja ada.
Tentu saja membuatku tak konsentrasi untuk bekerja.Pikiranku melayang-layang memikirkan apa yang salah.
Aku memilih kembali ke rumah sakit,disana aku melamun.
Bagaimana ini bisa terjadi?Padahal aku sudah begitu ketat menjaganya?Agar dia baik-baik saja.Tapi kenapa dia malah pergi,bahkan sebelum dilahirkan?
Aku termenung memikirkan itu.Walaupun dokter sudah mengatakan ini bisa saja terjadi.Namun aku tidak bisa menerima itu.Pasti ada penyebabnya,tidak mungkin bisa seperti tu.Kecuali,kehendak Tuhan
Saat aku sibuk melamun,Momy datang mendekatiku.
__ADS_1
"Nak...Momy bingung bagaimana bisa istri kamu tidak tau bahwa di sudah tak ada?Padahal dia ada di rahimnya?Mama curiga apa dia ada pendarahan,sakit sebelum itu?"tutur Mommy membuatku menatapnya.
Aku mulai berfikir seperti itu dan membenarkan perkataan momy.
Ya benar.Bagaimana bisa dia tak tau dengan kematian anaknya,padahal didalam kandungan sendiri.
Aku menyimpan pertanyaan itu untuk saat ini. Jika waktunya tiba,akan Aku tanya padanya.
Hari-hari sudah kulewati. Aku berusaha menjalani setiap hari.Tapi aku sungguh tak bisa menahannya.
Walau sudah kembali bekerja tetap saja jiwa ini masih tak tenang.Akupun memutuskan untuk ke suatu tempat.Tempat untuk menghilangkan masalah yang menyakitkan ini.
Aku pergi ke Klub malam dan meminum minuman yang membuatku tenang.
Ditemani wanita-wanita cantik dan seksi membuatku hanyut dalam suasana ini.Hingga tidak sadar bahwa aku telah melakukan hal yang salah.
Beberapa hari setelah itu.
Rain pulang ke Mension, walau kesehatannya belum semua pulih tapi aku memintanya untuk dirawat dirumah saja. Sebab tak ada yang akan menemaninya di rumah sakit itu.
Aku terus berfikir penyebab bayiku meninggal.Setiap hari itu terus saja terngiang-ngiang membuatku tak tenang.
Aku kembali ke Klub dan melepaskan semuanya.Kembali tengah malam kemension.Menemui istriku yang masih lemah tak berdaya.
Hingga disuatu malam.Aku pulang ke Mension dengan keadaan mabuk berat.Tiba dikamar aku melihat tubuh wanita yang membuatku tergoda.Aku melakukan tanpa peduli keadaannya.
Pagi sekali oang tuaku masuk ke kamar. Mommy memekik histeris membuatku terjaga dari tidur panjang ku.
Mommy dan Deddy mendekatiku.Tiba-tiba deddy memukul wajaku dengan bringas.
Aku merasa bingung kenapa Deddy lakukan itu.
Setelah memukulku.Deddy mengangkat tubuh istriku keluar dengan darah mengalir di kain dan kasurku.
Aku tersadar dan melihat Rain terkulai lemas.
Apa yang sudah aku lakukan?!
Mommy masih terduduk lemas melihat keadaan di kamarku.Dia syok dan tak bisa berkata-kata lagi begitupun denganku.
Jadi semalam aku menyetubuhinya?
Aku mengejar Deddy keluar namun Deddy sudah pergi dengan mobil bawa istriku.
"Ganti pakaianmu setelah itu pergi ke Rumah sakit."ucap Grandma dingin. Beliau pergi dengan mobil menuju Rumah sakit.
Aku bergegas mandi dan menyusul ke Rumah sakit.Diperjalanan aku sangat khawatir dan menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan.Beberapa kali memukul stir mobil,merutuki diri.
Dirumah sakit terlihat Oma duduk di kursi tamun.Aku menoleh ke arah Deddy,beliau berjalan ke sana kemari sambil memijit keningnya.
Raut kekhawatiran nampak jelas di wajah mereka berdua.
Aku mendekati mereka berdua dengan hati dek-dekan.Melihat kedatanganku,deddy langsung memegang krah baju dan menatapku tajam.
"Kalau terjadi apa-apa dengannya.Sampai kapanpun Deddy tidak akan memaafkan kamu!"
Dengan amarah yang membara Deddy menatapku seakan ingin membunuhku.Aku diam tak bisa bicara lagi.Jujur,selama ini belum pernah Deddy semarah ini kepadaku.
__ADS_1
Baru kali ini aku melihat kemarahan Deddy yang buat nyali ini menciut.
****Vote-like-komen****