
Pertemuan itu membuat mas Harris sering kali menemuiku.Rasanya kami kembali ke beberapa tahun silam.Walau aku sudah berdamai dengan diriku,tapi bukan berarti itu kesempatan bagi mas Harris untuk kembali mengajakku menjalin rumah tangga yang pernah gagal.
"Denia,kamu tolong bungkus yang ini ya,"ucapku menyuruh Denia membungkus pakaian untuk pelangganku.Katanya pakaian tersebut untuk kado sepupunya.
"Baik Bu."
Aku meninggalkan pelanggan tersebut menuju ruanganku.Tiba disana aku merebahkan diri di sofa sambil berselancar dengan gawai.
Entah kenapa,tiba-tiba aku merasa rindu dengan seseorang.Seseorang yang telah membuatku sadar dari keterpurukan.Aku memperhatikan foto dokter Miran bersamaku,disana ia terlihat seperti kekasihku.Tapi,walau begitu aku berusaha untuk melupakannya.Jika aku rindu itu wajar-wajar saja,karena separuh waktuku selama diluar negri bersama dokter Miran.Jadi aku memaklumi perasaan ini terhadap Miran.
Sejak kepulanganku ke Indonesia.Baik mas Zain maupun Miran tidak lagi menghubungiku,sepertinya mereka sudah sibuk dengan kehidupan mereka disana.
Aku berdiri dan pergi meninggalkan butik menuju rumah bu Laila,ibunya mas Zain.Aku kesana ingin mengunjunginya,entah kenapa perasaanku mulai tidak enak.
Aku pergi dengan mobil pribadiku membelah jalan kota menuju daerah X tempat aku nge Kos dulu.Selama diperjalanan aku menghidupkan musik agar tidak jenuh.Aku menikmati perjalanan itu hingga sampai ke rumah bu Laila.
Aku memarkirkan mobil di halaman berjalan mendekati pintu rumah itu dan mengutuknya.
Tok...tok....
"Ini Rein,kan?"tanya seseorang dari belakangku.
Aku memutar badan dan melihat mbak Susi sedang memperhatikan penampilanku.Terakhir kali bertemu dengannya ketika aku pergi dari sana saat mas Harris menjemputku.Dan itu sudah sangat lama.
"Mbak Susi?"
Aku tersenyum dan mendekati Susi dan kami berpelukan.
"Kemana saja kamu Rein,kami disini rindu dengan kamu.Apalagi dengan masakan kamu itu.Uuuhh...pengen makan lagi,tapi... sepertinya tidak mungkin deh,"ucapnya memperhatikan penampilanku.
"Ah bisa aja mbak Susi."
"Beneran lho Rein,by the way kamu nyari bu Laila ya?"
"Iya..."jawabku mengangguk.
"Ibu Laila masuk kerumah sakit kemarin."
"Masuk kerumah sakit?"
"Iya,emang mas Zein ngak ngasih kabar kamu?"
"Engak."jawabku kemudian.
"Yaudah kalau begitu kita kesana yuk mbak, tapi mbak Susi ngak sibuk kan?"lanjutku kemudian.
"Ngak Rein,mbak emang berencana mau kesana.Eehh ketemu sama kamu disini."
"Yaudah kita barengan aja mbak."
"Ayok...."
Kami pergi meninggalkan rumah itu menuju rumah sakit tempat bu Laila dirawat.Didalam mobil aku bertanya kepada mbak Susi.
"Bu Laila sakit apa mbak?"
"Sakit Paru-paru."
"Oowh..."sahutku mengangguk mengerti.
Aku bertanya-tanya kenapa mas Zein tidak memberi kabar padaku padahal mereka sudah aku anggap keluarga.Apa karena masalah dengan Miran,dia tidak memberitahuku tentang bu Laila?Ah masak iya sih karena itu?
"Mas Zein pulang mbak?"
__ADS_1
"Iya.Smalam dia pulang bersama Istri dan ada satu lagi,tapi mbak ngak tau siapa,"jelas mbak Susi membuatku panasaran.
Aku diam dan mbak Susi meliriku.
"Rein,kira-kira ada luang kerja ngak buat mbak?soalnya mbak udah beberapa bulan ini ngak ada kerjaan,"
Aku menoleh ke arah mbak Susi."Mbak udah berhenti kerja?"
"Iya Rein,Akhir-akhir ini pengunjung sepi.Akhirnya karyawan yang bekerja disana dikurangi.Salah satunya mbak."
"Mmmmm,sebenarnya ngak ada sih mbak.Tapi ini khusus untuk mbak Susi.Aku adain aja,"
"Maksud kamu?"
"Yaa maksud aku mbak nanti kerja dibutik aku.Gituuuu...."
"Terimakasih ya Rein.Kamu benar-benar best deh,"kata mbak Susi memelukku.
"Aduh mbak jangan erat-erat.Aku lagi nyetir."
"Hehehehe,maaf Rein habis aku senang banget dengarnya sampe-sampe meluk kamu deh,"jawab mbak Susi nyengir.Ia melepaskan pagutan dan kembali duduk seperti semula.
Aku menambah laju mobil agar cepat sampai.Berselang waktu,mobil sampai di rumah sakit.Aku dan mbak Susi mendekati meja resepsionis.Mbak Susi bertanya letak ruangan bu Laila.Setelah mendapatkan nomor ruangan itu,kami bergegas kesana.
Kami tiba didepan ruangan bu Laila.Aku mengintip dikaca dan melihat kak Zehra.Mbak Susi memegang gagang dan pintu terbuka.
"Assalamualaikum,"ucap kami berdua masuk kedalam.
"Waalaikumsalam,"sahut kak Zehra membalikkan badan ke arah pintu.
"Eh ada Rein,silahkan masuk,"ucap kak Zehra melihat aku disana.Aku dan kak Zehra berpelukan,begitupula dengan mbak Susi.
Aku menaruh buah tangan dan mendekati bu Laila."Kak,sejak kapan ibu masuk ke sini?"
"Mas Zein mana kak?"
"Abang keluar.Katanya mau ke supermarket sebelah."
"Bagaimana keadaan ibu sekarang?"
"Kata dokter udah berangsur,tapi harus dirawat disini untuk sementara waktu."
Saat kami berbincang-bincang,pintu kamar ruangan itu terbuka dan muncul mas Zein membawa kantong kresek yang berisi barang belanjaannya.
"Eh ada Hasbi,"ucap mas Zein.
Aku mendekati mas Zein dan bersalaman,i a meletakkan barang belanjaannya kemeja.Dan tak lama muncul seorang pria dari balik pintu.Aku menoleh kasana dan tertegun saat melihat dokter Miran yang berdiri didepan pintu menatapku.
Aku mengalih pandangan ke arah bu Laila dan membelakangi dokter Miran.Dokter Miran melangkah mendekati kami.
"Sudah lama ya kita tidak bertemu,"ucap dokter Miran membuatku menoleh ke arahnya.Dokter Miran memperhatikanku,ia berdiri disampingku dengan tangan hendak bersalaman.Aku sangat gugup tapi berusaha untuk tetap tenang.Aku membalas salam dokter Miran,ia memegang tanganku cukup lama membuat mbak Susi berdehem.
Kami sama-sama tersadar dan aku mulai salah tingkah.Wajah memerah dengan detak jantung yang begitu kencang.Sedangkan mbak Susi mendekati bu Laila dan kak Zehra membuka kantong yang berisi barang belanjaan.Ia mengeluarkan beberapa cemilan dan menaruhnya dimeja.Kak Zehra menyuruh kami makan cemilan itu.
Dokter Miran duduk disofa yang ada diruangan itu.Sedangkan aku masih setia duduk di kursi samping bu Laila.Kak Zehra dan mbak Susi asik mengobrol saat hp ku berbunyi.Aku melihat mas Harris menghubungiku.
"Aku mau keluar sebentar ya kak,"ucapku kepada kak Zehra.
Aku keluar menjauh dari ruangan bu Laila.Aku mengangkat telfon mas Harris.
"Ya ada apa mas?"
"Rein kamu dimana?Aku sedang didepan rumah kamu nih,"sahut mas Harris diujung telpon.
__ADS_1
"Aku sedang diluar kota mas,"jawabku kemudian.
"Ohw,aku kirain kamu dirumah."
"Emang ada apa mas datang kerumah segala?kan bisa telpon."
"Ngak ada kok,cuman mau nengokin kamu aja hehehe,"jawab mas Harris nyengir.
Aku diam saja mendengar jawaban mas Harris.Entahlah,aku merasa jengah dengan kehadiran mas Harris yang setiap waktu muncul di depanku.Ia selalu mengikuti dan terus datang ke butik hanya untuk menemuiku.Aku heran denganya,apa dia tidak ada kerjaan selain mengurusku?
Aku menyudahi panggilan tersebut.
"Siapa?"suara dokter Miran dari belakangku.Aku memutar badan dan melihat pria itu berdiri tegak menatapku.
"Temen,"jawabku asal.
"Temen panggilnya mas,"sambungnya seakan curiga.
"I_iya aku manggilnya mas,"jawabku gugup.
"Kalian rujuk?"
"Hah?Rujuk?rujuk dengan siapa?"tanyaku tidak mengerti.
Dokter Miran menoleh ke samping dan kembali melihatku.
"Saya ingin bicara dengan kamu,Rein tapi tidak di sini.Kamu tidak keberatan?"tanya dokter Miran.
"Ngak kok dokter,"jawabanku membuat dokter Miran menoleh kembali padaku.
"Baiklah,ayo kita ke taman saja,"sambungnya menarik nafas berat.
Kami berjalan dilorong-lorong rumah sakit menuju taman.Aku dan dokter Miran duduk disatu kursi panjang tapi sedikit berjarak.Kami saling diam,tak ada yang ingin memulainya.
"Saya tidak jadi menikah,"ungkap Miran dengan tatapan lurus kedepan.
"Dokter membatalkan perjodohan itu?"tanyaku menoleh kearahnya.
"Iya,saya tidak akan menikah dengan orang yang tidak saya suka,"jawab dokter Miran menoleh kepadaku,ia menatap manik mataku.Kami saling pandang dengan diam.
"Aku pergi kesini meninggalkan keluargaku di Turki."sambungnya.
"Bagaimana dengan pekerjaan dokter?"
"Jangan panggil saya dokter lagi Rein.Saya ini Miran,bukan dokter..! Dan saya mohon untuk kali ini jangan panggil lagi dengan sebutan dokter,Yaa.Aku moho,"sahut dokter Miran sendu.
Aku diam seribu bahasa.Aku bersalah dalam hubungan ini.
"Aku kesini untuk kamu,Rein,"ujarnya berhenti sejenak.
"Saya harao kamu tidak rujuk dengannya."sambungnya lagi.
"Aku tidak pernah rujuk, Miran.Dan itu tidak mungkin."jawabku membuat Miran menatapku dengan mata berbinar-binar.
"Apa kau serius?"
"Hmmmm...."
Dokter Miran tergelak,ia menarikku kepelukannya."Apa saya masih bisa untuk membuat kamu jatuh cinta?"tanyanya ditelingaku.
"Tentu."
...****Jangan lupa untuk like-vote-komentar dan Hadiahnya ya kakak***...
__ADS_1