AKU MEMANG MISKIN!

AKU MEMANG MISKIN!
lanjutan


__ADS_3

Matahari pagi menyambut dengan lembut.Hujan beberapa hari ini menyisakan bulir air di dedaunan,ujung genteng dan pucuk bunga dihalaman.


Seperti biasa aku tinggal di rumah.Memainkan Hp dan laptop dan membaca beberapa novel dan nonton Drama romantis.


Semua aktivitasku itu hanya untuk menghilangkan stress karena jarang pergi keluar.Jika keluar hanya ditaman saja,sesekali berjalan-jalan keliling kompleks.


Pokoknya sebulan ini aku ditahan dirumah oleh mas Haris.Katanya dia khawatir jika dalam keadaan hamil besar aku pergi-pergi.Jadi ya aku harus dirumah saja.


Aku menghubungi mas Haris lewat video call.Rasa rindu kepadanya tak bisa dialihkan dengan mengerjakan yang lain.


Setelah panggilan masuk kami berbincang-bincang dan sesekali tertawa bahagia.


Ternyata suamiku ini bisa juga bergurau.Dia sangat konyol.


Beberapa menit kemudian, saat kami asik bicara aku merasa sakit di bagian perut bawah atas **** **********.Mas Harris bertanya,dia terlihat khawatir sekali.


"Au....mas...pe...perutku.....sa...ssa...kit....aduh mas...ahhhh..."


Aku meringis kesakitan memegang perut sedangkan gawaiku jatuh ke sofa dengan panggilan masih menyambung.


"Sayang kamu kenapa.!Sayang kamu...."


"Maaaas.....perutku saaaakittt....!"aku berteriak menahan sakit.


Tak lama masuk bibi dari luar.


"Nyonya kenapa?Nyonya...nyonya mau lahiran..."kata bibi panik.


Ia berusaha memapahku untuk menuju kasur,tapi aku tidakk bisa bergerak karena sakit ini tak bisa ditahan.Aku hanya bisa beristigfar dan membaca ayat-ayat yang bisa menenangkan ku.


Tak lama mas Haris datang dan membawa Ambulans.Mereka mengangkatku menuju Ambulans dan segera dibawa ke rumah sakit.


Saat tubuh ini tak berdaya,aku melihat mas Haris cemas dan khawatir. Berulang kali mengelus kepalaku dan menenangkan.


Wajahnya terlihat pucat dan gemetar.Peluh membasahi dahinya.


Setelah masuk kedalam kamar persalinan. Mereka melakukan pengecekan kedalam Ms V.


Aku memperhatikan para perawat dan dokter sangat panik. Merek memasang jarum dan beberapa alat medis kepadaku.Disini mas Harris masih di sampingku,berusaha membuat aku tetap tenang.


Namun sayang,rasa sakit membuatku tak tahan untuk menahannya.Sedetik saja aku merasa ada yang keluar dari **** **********,sedangkan para suster dan dokter sedang mempersiapkan alat untuk melahirkan.


Mereka terkejut dengan apa yang terjadi


dan kemudian aku tak melihat dan mendengar apa-apa lagi.


***


3 jam kemudian aku tersadar.Aku melihat ke arah langit-langit kamar rumah sakit.Sekarang aku sudah tak di kamar persalinan lagi.


Aku mengerakkan mata ke kanan kiri Namun,aku tak melihat siapa-siapa.


Aku mencoba meraba perut dan rasanya kempes.Aku mulai berfikir dan tersenyum karena sudah melahirkan.


Perasaan bahagia menyelimuti hatiku.Menunggu bayiku entah perempuan atau laki-laki.Saat ini aku masih tak tau jenis kelaminnya sebab, saat USG kami tak ingin menanyakan hal itu karena ini adalah Kejutan untuk kami berdua.


Aku memejamkan mata dengan hati gembira.


Satu jam kemudian aku bangun karena mendengar suara Deddy , mommy dan grandma diruanganku.

__ADS_1


Berlahan membuka mata dan melihat mereka berdiri didepan pintu.Grandma berjalan ke arahku setelah melihat aku sadar.


Wanita itu menatapku dengan iba,dia bahkan meneteskan air mata.Aku tak mengerti air mata bahagia atau air mata kesedihan.


Dan lalu dimana suamiku mas Haris?kenapa dia tidak ada disini?


Aku mencari mas Haris dengan mata memandangi seluruh ruangan.Kemudian kembali ke arah Grandma dan Deddy.


Mereka mengusap kepalaku dan menangis.


"Oma...bayiku mana?Bukankah tadi aku sudah melahirkannya?Apa anakku perempuan atau laki-laki?Lalu dimana dia sekarang?"tanyaku beruntun.Aku tak sabar lagi ingin melihatnya.


Lagi-lagi mereka menangis pilu.Aku merasa heran.


Apa yang terjadi?itulah yang ada di otakku saat ini.


"Apa yang terjadi Oma...?"tanyaku pada Oma.


Tidak ada jawaban dari oma bahkan beliau kembali menangis.


Ada apa ini?


Aku beralih pandang ke arah Deddy.


"Ded....?"


Diam...


Aku meneteskan air mata.Mengira apa yang terjadi dan mencoba mencari jawaban dari tatapan mereka.


Ini tangis pilu!bukan tangis bahagia.


Bulir air mata ini membasahi pipi,tiba-tiba pikiran itu datang kebenakku.


"Dedy...Oma....mana bayiku?"


Mencoba menyingkirkan pikiran itu.Kemudian melihat ke arah Momy yang masih terpaku diam di sampingku.


Aku menarik tangannya dan menanyai anakku.


Tak ada jawaban. Dia menggelengkan kepala hanya kemudian menangis.


Melihat itu aku merasa jantung ini berhenti berdetak.Menggelengkan kepala dan berusaha duduk tapi semua sia-sia.


Deddy menahanku dan memanggil dokter.


"Lepaskan...!Aku mau bertemu bayiku...Mana bayiku.....!"aku berteriak histeris dengan rasa sesak didada.


Tak lama mas Haris masuk dan mendekatiku.Matanya memerah dan sama seperti mertuaku.


"Mas....mana bayi kita mas...?aku mau lihatnya..."tanyaku menarik-narik lengan bajunya.


Mas Haris terdiam mengusap kasar wajahnya,air mata itu masih saja jatuh membasahi pipinya.


Melihat itu,aku merasa kehilangan diriku.


"Apa yang terjadi dengan anakku mas...?"aku memegang tangannya dengan uraian air mata melemah.


"Mas....jawab aku....!"aku menarik kasar tangannya dengan nada tinggi.Berharap apa yang terlintas dibenakku tidak terjadi.

__ADS_1


"Dia sudah tidak ada..!"jawab mas Harris mengalihkan pandang.Dia tak melihatku.


Badai petir disiang bolon,tak ada hujan tak ada angin.Kalimat itu membuat detak jantung ini berhenti berdetak.


Aku bertanya-tanya.


Bagaimana bisa?Bukankah perkiraanya aku melahirkan dua hari lagi.Lalu,bagaimana bisa hari ini dia tak ada? Bahkan belum waktunya?Apa yang salah dengannya?


Aku mencabut jarum yang ada di tangan secara paksa,darah mulai mengalir ditanganku.Aku tidak peduli.


Aku terus saja berusaha keluar dari ruangan itu.Tapi mas Haris menahanku dan dokter kembali memasang jarum tersebut dan memberiku obat tidur.


Entah sudah beberapa jam aku terlelap.Aku tidak tahu.


Saat aku terbangun,aku melihat kearah samping disana ada Zabi adikku sedang memegang tanganku.


"Za..bi..."


Aku mamanggil Zabi dengan suara lunak.Dia melihatku kemudian memelukku.


Aku menangis tersedu-sedu dipelukannya.


Aku mulai menyadari semua yang terjadi.Air mata ini jelas tak bisa dibendung.Sedih,sakit dan merasa Tuhan tak adil terhadapku.


Kami berpelukan cukup lama.Zabi menguatkan aku dan berusaha untuk membuatku tidak terlalu bersedih.


Tapi, mana mungkin aku bisa melupakan dan merelakan anak yang bahkan belum pernah aku lihat sekalipun.Anak yang sudah aku kandung selama 9 bulan. Anak yang selalu kami jaga.


Kenapa semua ini bisa terjadi?apa yang salah?


Aku bertanya kepadanya.Namun,dia juga menutup mulut diam terpaku.Begitupun dengan kedua mertuaku. Bahkan mas Haris tak mau menjelaskan kepada ku apa yang salah. Yang menyebabkan bayiku meninggal.


Bahkan sampai saat ini sudah 3 hari berlalu.Tetap saja mereka masih tidak mau mengatakannya.Bahkan sikap mas Haris mulai sedikit pendiam.Dia sering termenung.


***


Dikamar ini.Aku duduk dikasur memperhatikan sekeliling kamar ini.Ya aku saat ini sudah berada di Mension.


Mengulang kenangan bahagia saat menanti kelahiran,canda tawa,kemesraan mewarnai hidupku tapi sekarang, seperti kertas kosong tak ada coretan pena.


Suasana ini sangat sepi.


Kemana orang-orang pergi.Bahkan suamiku jarang sekali pulang untuk sekedar makan siang.Biasanya dia selalu berada di dekatku.


Aku berjalan menuju lemari yang isinya perlengkapan bayi.Mengambil satu persatu pakaian itu dan menciumnya.


Air mata ini berjatuhan membasahi pipi,betapa perihnya dan rasa sakit karena tak pernah melihat sedikit pun bentuk dari bayiku.Sejak melahirkan itu aku tak pernah melihatnya sampai sekarang.


Hanya bisa melihat kuburan kecil yang terletak di bagian belakang rumah.Itu tempat peristirahatan terakhir dari bayiku.


Bibi masuk ke dalam kamar mengantar makanan untuk ku.Beberapa hari ini aku tidak makan,rasa lapar hilang dengan kesedihan mendalam.


Bibi memintaku untuk makan, namun aku hanya diam terpaku tanpa menoleh sedikitpun kepadanya.


Bagaimanapun mereka memaksa.Aku tidak ingin makan.Tidak ingin semuanya.


Sekarang ini aku hanya ingin tau kenapa bayiku meninggal.Aku mengira-ngira kenapa bayiku meninggal.


Tapi semua perkiraanku buntu.

__ADS_1


****


__ADS_2