
Tiba ditempat tujuan.Kami turun dari mobil.
Aku menarik nafas berat.Sebab,sejak aku sehat dari masa trauma,baru kali ini aku bergabung dengan orang banyak,dan mereka semua orang asing.
Aku gemetar dan ragu,tiba-tiba ada tangan yang memegang tanganku seolah memberi kekuatan.
Aku menoleh ke arah dokter Miran.Ia menatapku dan tersenyum.
"Pegang saja tanganku,jika kamu takut."ucapnya membuatku sedikit lega.
Akupun memegang tangannya,mungkin orang mengira kami sepasang kekasih.
Kami berjalan menuju lokasi resepsi.Disana kami disambut oleh beberapa orang yang berpakaian rapi.Tapi bukan tamu,melaikan pegawai yang bertugas meladeni para tamu undangan.
Aku tak menyangka,akan berada di tempat acara yang luar biasa mewahnya.
Sesekali mengedar pandangan sekilas.Nampak, tamu undangan acara ini berasal dari kalangan atas.Cuman aku yang berbeda dari mereka.
Tapi,dari penampilanku mengatakan bahwa aku sama derajat dengan mereka.Apalagi,selalu berada didekat dokter Miran.Menunjukkan bahwa aku ini orang penting juga.
Kami berjalan menuju pengantin yang merupakan adik dari dokter Miran.
Aku memberi selamat kepada mereka dengan bahasa yang mereka dengar sangat lucu.
Yaa,sama seperti bule datang ke Indonesia yang baru pandai berbahasa.Seperti itulah aku disana.
Tapi,aku akan belajar agar bisa bahasa mereka.
Usai memberi selamat,dokter Miran mengajakku bergabung dengan sanak famili nya.Disana juga ada mas Zain dan Zehra.
Kami disambut senang oleh keluarga itu.Walau aku tau,ada yang tidak suka dengan kehadiranku,tapi dokter Miran terus memberiku kekuatan, agar aku tidak memperdulikan mereka.
Kak Zehra mengenalkan aku kepada mereka,dan disambut ramah oleh orang-orang tersebut.
Usai perkenalan,mereka mengobrol tentang banyak hal.Sesekali menayaiku,yang aku jawab sekedarnya saja.
Beberapa jam kemudian,
Aku mulai merasa gugup dan merasa kurang nyaman setelah mereka menanyai kehidupanku,tentang masalah kenapa aku jadi trauma.Ini jelas saja membuatku tidak nyaman.
Tapi,aku harus berada disini sampai mas Zain dan kak Zehra pulang.
Namun,sampai saat ini kak Zehra dan mas Zain tak juga pulang.Akhirnya aku harus berada disana sampai acara selesai.
"Itu tangannya dilepas donk,"ucap seorang perempuan yang bernama Haniah.
Kalimat itu berhasil membuatku kalabakan dan membuat wajahku memerah.Sedangkan,pria yang memegang tanganku santai saja.
Aku berusaha melepaskannya,tapi Miran terus memegang erat tanganku.Sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarakan orang-orang menggodaku dan pria itu.
"Miran,apa kau tidak panas melihat adikmu mendahuluimu?"ucap bibi Erena melirik dokter Miran.
Dokter Miran diam tanpa menjawab ucapan mereka.
"Oh,mereka itu sangat serasi ya bi,"ujar perempuan yang bernama Hana memuji adik dokter Miran.
Banyak lagi ucapan-ucapan mereka yang membuat dokter Miran merasa jengah untuk berlama-lama berada disana.
Akhirnya,dokter Miran membawaku ke Apartemen,katanya kak Zehra yang menyuruhnya untuk membawaku ke sini.
Sebab,kak Zehra tahu bahwa sejak tadi aku tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajaukan oleh mereka.
Tiba di Apartemen tersebut.Kami masuk keruangan itu,tadi aku mengira dokter Miran akan melakukan sesuatu padaku,saat kakiku tersandung sudut meja yang membuat aku jatuh dalam pelukannya.
Kami sempat bertemu pandang,ia mulai menggerakan kepala mendekati wajahku,aku mengira dia akan menciumku.Ternyata tidak.
Dia memegang kaki meja agar bisa berdiri.Kamudian dia membantuku untuk berdiri.
Aku merasa malu dan salah tingkah.
"Istirahat lah,saya tau kamu kecapek an.Makanya saya bawa kamu kesini."ucap Miran.
Aku masih berdiri mematung.Sebenarnya ingin bertanya,tapi takut dia tersinggung.Akhirnya aku memilih diam.
Sadar akan hal yang aku pikirkan.Dia mendekatiku dan memegang dagu.
__ADS_1
"Jangan cemas,aku tidak akan melakukan apapun padamu.Jadi istirahat lah.Nanti malam,aku akan membawamu ke suatu tempat."ucapnya meyakinkanku.
Kemudian dokter Miran berjalan ke balkon kamar itu,sambil membawa leptopnya.Dia sibuk dengan leptop untuk mengerjakan tugasnya yang mungkin belum selesai.
Aku berjalan ke kamar mandi menyirami wajah dengan air dan mencoba untuk tidur.
Hingga aku tidak sadar ternyata sudah malam saja.
Sebab,saat terjaga,aku melihat ke arah luar sudah gelap.Dan dokter Miran kemana?
Aku bertanya-tanya kepergian dokter tersebut.Jujur saja,aku takut jika dia meninggalkanku disini.Apalagi aku baru disini,jelas saja tempat ini asing bagiku.
Aku duduk ditepi ranjang menggerakkan telapak kaki,aku sangat cemas dan mulai berfikir yang lain-lainya.Yang membuatku semakin cemas dan takut.
Capek duduk,aku berjalan bolak balik seperti orang memikirkan sesuatu.
Ting....suara pintu terbuka.
Dokter Miran masuk ke ruangan ini dengan pakaian yang sudah digantinya.Dirinya terlihat lebih fres dari sebelumnya.
Aku berlari dan memeluk tubuh pria itu.Aku tidak peduli,saat ini aku merasa takut dan khawatir jika dia mencampakkan diriku di negara ini.
Aku menangis memeluk erat tubuh itu.Awalnya aku tidak merasa balasan darinya,mungkin saat itu dia bingung kenapa tiba-tiba aku menangis dan memeluknya.Padahal,sebelumnya aku tidak pernah bersentuhan denganya selain pengobatan.
Tak lama,aku merasa Miran membalas pelukanku.Seakan tau apa yang ada dipikiran.
"Dokter kemana saja?saya sangat takut disini.Saya fikir dokter akan mencampakkan saya ditempat ini..huuuuuhuuuuuu....."ucapku disela-sela tangis.
"Siapa yang bilang saya membuangmu.Saya tadi cuman keluar sebentar."ucapnya membuatku berhenti menangis.
Entahlah,akhir-akhir ini aku sangat cengeng dan mudah pelupa.
Miran menghapus air mata ini kemudian memintaku untuk segera mandi.
Aku mandi setelah memintanya untuk tidak pergi lagi.Apalagi tidak memberitahuku sama sekali.
Aku melaksanakan mandi dan memakai pakaian ganti yang tadi diberi Miran.Setelah itu,aku keluar mengunjungi Miran yang berdiri tegak menghadap keluar jendela.
Sepertinya dia memikirkan sesuatu.
Miran menoleh."Sudah siap?"tanyanya memperhatikan penampilanku.
"Sudah..."jawabku.
Kemudian kami pergi ke gedung istana tempat acara pernikahan adiknya,Miran.Acara malam ini merupakan acara makan bersama keluarga besar dan karib kerabat dalam acara mengeratkan silahturahmi antar saudara.
Tentu saja aku diundang untuk acara tersebut.Kami berdua datang setelah semua orang duduk rapi dimeja makan masing-masing.
Mereka semua memandang kami,sehingga membuatku jadi kikuk dan merasa salah tingkah.
"Jangan memperhatikan kami seperti itu,pandangan kalian membuatnya tidak nyaman."ucap Miran kepada mereka.Sedangakan aku menunduk tak enak hati.
"Ayo gabung Rein,"ucap kak Zehra.
Aku berjalan ke kursi yang masih belum diisi,begitu juga dengan dokter Miran.Dia duduk di sampingku yang kebetulan kursi itu kosong.
Sebenarnya aku panasara,kenapa kursi ini dikosongkan dan tidak diisi mereka.Yasudahlah,tak perlu dipikirkan.
Kami memakan makanan yang sudah dihidangkan setelah dipersilahkan oleh kepala keluarga yang paling berkuasa disini.
Disela-sela makan,aku tersedak,dan tak disangka,dokter Miran begitu sigap mengambil air dan memberikan kepadaku.Bukan itu saja,ia juga memijit pundakku.
Jelas saja permandangan itu membuat orang-orang yang berada disana ternganga.
Mereka memandang kami berdua,mungkin bertanya-tanya atau mengira bahwa kami memiliki hubungan.Akan sadar hal itu,dokter Miran menjelaskan, bahwa ia secara reflek melakukan itu.Ia sering melakukan itu saat melakukan pengobatan jika mengobati pasien.Dan terbawa-bawa kerumah.
Jujur saja itu alasan yang kurang meyakinkan,tapi.Ya Sudahlah.
Setelah mendengar penjelasan itu,mereka semua kembali melanjutkan makan yang masih tersisa.
Setelah acara tersebut.Pak Bahadir yang merupakan ayah dokter Miran, meminta salah satu pekerjanya untuk mengantarku ke kamar tamu.
Perempuan tersebut membawaku ke sebuah kamar dan menyuruhku untuk beristirahat disana.
~
__ADS_1
Keesokan harinya,keluarga besar kak Zehra sudah kembali ke kota A.Tapi aku tinggal di kota ini untuk beberapa hari kedelapan.Kata dokter Miran,dia akan membawaku untuk mengunjungi tempat wisata yang ada dikota ini sebelum kembali ke Australia.Agar aku tahu,bagaimana keindahan kota ini dan negara ini.
Seperti yang dijanjikan,Miran membawaku ke beberapa tempat.Dan tak lupa,kami mengabadikannya.
Aku sangat senang dan merasa puas usai berkeliling dibeberapa wisata.
Beberapa hari kemudian,Miran membawaku nginap di Apartemen miliknya.Karena lokasi istana keluarganya sangat jauh dari tempat kami saat ini.
Tapi,kami jelas tidak sekamar ya guys...
Jam 8 malam,dokter Miran mengajakku ke suatu tempat.
Aku tidak bertanya,karena aku tau,dia akan membawaku ke tempat yang pasti membuatku senang.
Aku mengikuti langkah kakinya meninggalkan ruangan kamar itu.Kami berjalan menuju lift,kemudian tiba di tempat yang dituju.
Kami saat ini berada di atas gedung Apartemen tersebut.
Aku terpana dengan permandangan yang disuguhkan kota itu.Apalagi ditemani lampu-lampu hias dan beberapa makanan serta tempat duduk.
"Waaaahhh...indah sekali."pujiku memandang lampu-lampu berkelap-kelip dibawah sana.
Miran mendekatiku sambil memasukkan saku-sakunya ke kantong celana.
"Kamu suka?"ucapnya menoleh kearahku.
"Aku suka sekali,Miran."ucapku gembira.
Beberapa menit menikmati suasana itu,Miran tiba-tiba memanggilku.Aku menoleh ke arahnya.
"Rein...."
"He-em?"
Aku men-dehem dan beralih pandang kearah pria itu.Aku melihat dia menatapku.
"Rein....Maukah kau menikah denganku,"ucapnya seraya menyodorkan cincin yang ada dikotaknya.
Aku sangat terkejut karena tiba-tiba dokter Miran melamarku dimalam ini.
"Miran?"aku tidak percaya.
Dia menatapku dalam,berharap aku menerimanya.
Beberapa saat kami saling diam.
Aku memberanikan diri menatap wajah pria tersebut.Kemudian memegang tangannya dan menutup kembali kotak itu.
"Aku....Aku tidak bisa menerima ini."jawabku jujur.
"Kenapa?"tanya dokter Miran panasaran dengan penolakanku.
"Aku belum siap menjalin hubungan apalagi harus menikah."jawabku pendek memutar badan ke arah permandangan yang menyuguhkan lampu-lampu yang menghiasi malam itu.
"Kamu tidak suka denganku?atau ada pria lain yang kamu sukai?"tanyanya lagi.
Aku menggeleng.
"Aku suka,aku nyaman di dekatmu,Miran.Tapi aku takut,aku takut kejadian serupa terjadi padaku.Kamu taukan apa maksudku."jawabku menjelaskan alasannya tanpa melihatnya.
Memang benar,aku belum siap menjalin hubungan itu.Aku takut kejadian serupa terulang lagi.Aku tidak mau lagi.Biar aku sendiri menjalani hidup ini asal aku bahagia.
"Aku mengerti.Tapi,setidaknya ijinkan aku untuk mengisi hari-harimu,Rein.Aku tidak akan pernah melakukan itu kepadamu.Kamu taukan,aku sangat mencintaimu.Bahkan aku jatuh cinta saat kau dalam keadaan masih sakit.Karena itu,aku berusaha menyembuhkan luka itu dan mencoba mengisi kekosonganmu."jawabnya membuatku merasa tak enak hati.
"Tapi...."
"Berikan aku waktu untuk membuktikannya,Rein.Tapi jangan memintaku untuk berhenti mencintaimu.Biarpun kau menolaknya."sambung Miran membuatku merasa sedih,hingga tidak sadar saja air mata ini keluar membasahi pipi.
Mengerti akan hal itu,dokter Miran menarikku ke dekapannya.
"Aku takut,Miran.Aku takut gagal lagi.Aku tidak ingin semua itu terjadi lagi padaku.Kau tau kan,semua yang terjadi membuatku harus mengalami Trauma.Aku belum siap menjalin hubungan,Miran.Aku tidak sanggup....."sambungku disela-sela tangis.
"Aku mengerti perasaanmu,Rein.Maafkan aku telah membuatmu menangis dan mengingatkanmu dengan masa lalu itu.Tapi,aku berjanji.Jika kau mau menikah denganku,aku akan membuatmu bahagia.Tapi,jika kau ragu dengan hal ini.Ijikanlah untuk aku selalu didekatmu.Untuk menjagamu."jawab dokter Miran membuatku tambah meraung.
***
__ADS_1