Aku Membencimu Tuan CEO

Aku Membencimu Tuan CEO
Siapa Irish?


__ADS_3

Livia menggigit bibir bawahnya, saat kembali teringat pertemuannya dengan Lendra. Padahal tadi dia sudah berhasil menenangkan diri. Namun rasa khawatir itu muncul lagi dan kali ini semakin besar, dia takut Lendra akan tahu soal Irish dan Isac. Perempuan itu takut kalau Lendra akan mengambil putri kecilnya. Irish dan Isac adalah hidupnya. Tidak ada yang boleh mengambil mereka darinya.


Tapi bagaimanapun juga, Lendra adalah ayah si kembar. Hal itu tidak bisa dibantah. Haisshh, Livia mengacak rambutnya asal. Dia bingung. Jika dia kembali ke Sidney, pabrik bisa dalam masalah. Tapi bila dia tetap di sini, dia yakin kalau Lendra akan terus menemuinya. Seperti dulu. Dan pria itu bisa saja bertemu Irish jika gadis kecil itu datang lusa.


Beberapa waktu berlalu, hingga akhirnya Livia berhasil meyakinkan diri kembali dan berusaha menghilangkan kecemasan akan kemungkinan Lendra yang bisa saja bertemu Irish. "Semua akan baik-baik saja."


Sementara itu, Bian seketika menjatuhkan pulpennya saat Lendra memberitahunya, kalau dia bertemu Livia.


"B aja kali. Gak usah sok dramatis kamu."


Ledek Lendra melihat reaksi Bian yang di mata Lendra terlihat berlebihan. Bian mendengus geram mendengar kalimat pedas dari Lendra.


"Tidak, bukan begitu maksudku. Kau bilang dia di sini. Kau bertemu dia di Grand Shamaya, bukankah ini aneh. Apa dia sudah bercerai dari Pasha? Kenapa dia tidak tinggal dengan suaminya."


Lendra melongo mendengar serentetan kalimat yang meluncur dari bibir Bian, sang asisten pribadi yang masih betah menjomblo di usia 28 tahun.


"Satu-satu Bian, kayak detektif aja pertanyaanmu."


"Lah memangnya kamu gak kepo. Sekarang lihat aja deh, kamu bahkan bertemu Livia sendiri, tidak ada Pasha bersamanya. Ini mencurigakan."


Lendra berpikir sejenak. Hingga dia pun mulai merasakan kalau yang dikatakan Bian, benar adanya. Lendra tahu aset Pasha dan pria itu tidak punya unit di Grand Shamaya. Dia yakin itu. Apa Livia sengaja tinggal terpisah atau....


Lamunan Lendra buyar ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pesan dari orang yang Lendra kirim untuk mematai-matai Livia. Pria itu sesaat mengerutkan dahi. Hingga Bian yang duduk di hadapan Lendra heran.


"Ada apa?"


"Dia tinggal di sana, di tower Aubrey. Lantai 30."


Bian pun melongo, sebab dia tahu pemilik unit di lantai 30, Tower Aubrey. "Dan dia bekerja di Tania & Co."


Mata Bian membulat mendengar perkataan Lendra. Jika Livia tinggal di sana dan bekerja di Tania & Co. Bisa dipastikan kalau Livia punya hubungan dengan sang nenek. Terlebih di akhir pesan tertulis. Kalau Livia baru saja kembali dari luar negeri tiga hari lalu. Apa benar selama ini Livia tinggal di Thailand. Tapi kenapa dia bisa tinggal di unit Vera dan bekerja di pabrik itu. Ini mencurigakan. Lendra semakin penasaran dibuatnya.


"Kita harus menyelidikinya lebih dulu."

__ADS_1


Namun Lendra sudah lebih dulu punya rencana. Dia akan terus menemui Livia, bodo amat dengan perasaan wanita itu. Katakanlah Lendra egois, tapi pria itu ingin meminta maaf dan memulai hubungan baru.


"Kau tidak sedang berpikir untuk selingkuh kan?"


Ucapan Bian membuat Lendra sadar akan statusnya. Dia pria sudah beristri. Pria itu menunduk lesu. Yang Lendra rasakan pada Livia berbeda dengan yang Lendra rasakan pada Natalie. Jantung Lendra tidak pernah berdebar seperti tadi saat bertemu Livia. Tubuh Lendra hanya bereaksi pada Natalie saat keduanya sedang bercinta. Di lain waktu hanya ada rasa hambar dalam hubungan keduanya.


"Aku tidak tahu yang kurasakan pada Livia. Tapi aku ingin selalu bertemu dengannya."


Kali ini giliran Bian yang menendang kaki Lendra. "Kau gila ya? Kalau kau hanya ingin mempermainkannya seperti lima tahun lalu. Maka aku tidak segan akan menghajarmu. Kau adalah pria brengsek jika melakukan itu."


Lendra meringis sekaligus tergugu mendengar peringatan dari Bian. Dia tidak menyangka jika Bian akan membèla Livia sampai segitunya.


"Apa kau jatuh cinta padanya?"


Bian tersenyum mengejek. Dia belum pernah bertemu Livia setelah lima tahun berlalu. Tapi Bian bisa menjamin jika Livia yang sekarang tentu semakin cantik dan mempesona.


"Memang boleh jika aku mengejarnya? Dibanding kau dia pasti lebih memilih aku." Jawab Bian percaya diri.


"Kau mau mati ya?" Potong Lendra cepat.


"Sialan!"


Lendra mengumpat mendengar ucapan Bian. Tapi yang Bian katakan memang benar. Dia ingin Livia namun dia sudah punya Natalie. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Lendra mengusak wajahnya pelan. Hingga satu pesan masuk ke ponselnya. Melirik jam tangannya. Lendra segera menyambar jasnya dan melangkah keluar dari ruangannya. Mengabaikan teriakan dari Bian.


"Gini nih kalau punya atasan puber kedua. Puyeng pala."


Maki Bian sambil berkacak pinggang. Melihat Lendra yang menghilang di balik pintu lift.


*


*


"Mobil jemputan tidak bisa datang. Bisa tidak jika kau naik taksi saja. Aku terlanjur ada di resto. Maaf ya."

__ADS_1


Satu pesan dari Atta membuat Livia menggeram kesal. Jika tidak terlanjur keluar dan belum memasak. Livia lebih baik kembali ke unitnya. Tidur atau memeriksa pekerjaannya atau menghubungi Barbie hidupnya.


"Awas ya Ta, tak kruwes mukakmu."


Gumam Livia jengkel, melangkah ke luar untuk mencari taksi. Siapa tahu ada yang lagi drop out penumpang. Tidak perlu keluar ke jalan besar. Wanita itu baru saja berhenti di pintu lobi ketika sebuah mobil membunyikan klakson.


"Mau ke mana? Ayo tak antar."


Wajah Lendra terlihat dari pintu mobil yang kacanya terbuka. Tidak menghiraukan tawaran Lendra, Livia langsung masuk ke taksi yang baru saja menurunkan penumpang.


"Awas ya kamu. Sekarang jual mahal besok tak jamin bucin."


Gemes Lendra yang melihat taksi Livia melaju ke jalan raya. Pria itu pun mengikuti taksi Livia. Tanpa mereka tahu sebuah mobil mengikuti taksi Livia. Sampai di sebuah perempatan jalan. Ketika lampu menyala merah. Taksi Livia masih berada cukup jauh dari lampu merah tersebut. Tapi mobil yang berada di belakang taksi Livia justru menginjak pedal gas, hingga bunyi "brak" yang cukup keras membuat taksi Livia menghantam pagar pembatas.


Lendra terkejut bukan kepalang. Pria itu segera keluar dari mobilnya. Berlari ke arah taksi Livia, pria itu membuka paksa pintu taksi, dan mendapati tubuh Livia yang membentur kursi di depannya.


"Via....Via...."


Lendra panik, melihat kepala Livia berdarah. Pria itu membawa Livia yang setengah sadar. Setelah meminta tolong pada orang-orang untuk membawa supir taksi yang juga terluka. Pria itu melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat Rafi berdinas. Pria itu panik ketika darah di kepala Livia tidak kunjung berhenti.


"Via....tahan sebentar lagi."


"Irish....Irish...."


Lendra mengerutkan dahi mendengar racauan Livia. Meski lirih tapi terdengar jelas di telinga Lendra.


"Siapa Irish?" Tanya Lendra.


*****


Up lagi readers....


Ritual jempolnya jangan lupa...

__ADS_1


***


__ADS_2