
Natalie memicingkan mata, saat Lendra memintanya menandatangani sebuah berkas yang berada di atas meja. Lendra sudah bulat dengan keputusannya. Dia akan menceraikan Natalie. Lana dan Vi sendiri tidak bisa mencegah keputusan Lendra. Setelah sang putra menunjukkan bukti bagaimana kelakuan Natalie di belakangnya. Dua orang tua Lendra itu tentu terkejut dengan ulah sang menantu. Meski mereka sudah bisa meraba kalau Natalie bukanlah perempuan baik-baik.
"Apa ini?"
Tanya Natalie. Wanita itu perlahan meraih lembaran kertas di atas meja. Lantas membacanya. Sedetik kemudian, tangan Natalie bergetar, matanya melihat cepat ke arah Lendra.
"Kau ingin menceraikanku? Tapi kenapa? Tidak ada masalah di antara kita, kenapa kau ingin bercerai?"
Lendra tersenyum kecut. Ya, memang tidak ada masalah dalam hubungan mereka, sampai dia tahu faktanya. Dengan bantuan Rafi, Bian berhasil mendapatkan data soal keguguran palsu yang Natalie alami. Yang sebenarnya terjadi adalah aborsi janin plus tindakan tubektomi, hingga wanita tidak bisa hamil selama setahun terakhir.
"Memang tidak ada masalah sampai aku dengar sendiri bagaimana kau berselingkuh dengan Pasha."
Lendra meraih ponselnya dan memutar rekaman percakapan Natalie dan Pasha. Wanita itu membulatkan mata saking terkejutnya. Bagaimana bisa sang suami mendapatkan rekaman percakapan itu. Natalie memang ceroboh membicarakan hal sepenting itu di tempat umum.
"Itu bohong, sayang. Aku tidak mungkin mengkhianatimu. Kamu tahu, aku hamil sekarang. Kita akan punya anak seperti keinginanmu."
Lendra menatap jijik pada Natalie yang ingin mendekatinya. Dia akui bukan orang suci yang tidak punya kesalahan. Namun setidaknya, Lendra sudah berusaha setia dengan pernikahannya.
"Anak yang kau saja masih ragu itu anak siapa. Anakku atau anak Pasha."
Deg, jantung Natalie serasa dipompa dengan kecepatan penuh. Dia takut, sangat takut. "Itu bukan sekedar rekaman. Karena aku juga ada di sana. Aku dengar semua yang kau bicarakan dengan kekasihmu itu. Aku juga tahu kalau yang kemarin itu, bukan keguguran tapi aborsi."
Wajah Natalie semakin pucat. Dia tidak menduga jika Lendra akan menyelidiki semua sampai ke akar-akarnya. Wanita itu pada akhirnya hanya bisa diam. Meski detik berikutnya, Natalie berteriak tidak terima. Dia tidak mau bercerai dengan Lendra. Wanita itu menangis, memohon pada sang suami. Tapi Lendra sama sekali tidak menggubrisnya.
Habis sudah rasa cinta yang pernah Lendra punya untuk Natalie. Berganti dengan rasa sesal. Kenapa dia dulu menikahi Natalie, bukannya mengejar Livia.
__ADS_1
"Sayang, tunggu dulu. Lalu bagaimana dengan nasib anak ini? Dia anakmu."
Natalie mencoba menggunakan kandungannya untuk merayu Lendra. Bukannya iba, Lendra justru mendekati Natalie, lantas menatap sinis pada wanita itu.
"Kita akan melakulan tes DNA untuk mengetahui siapa ayah bayi itu. Setelah berumur 10 minggu, Rafi akan mengambil sample DNA-nya. Bagaimana?"
Natalie meneguk ludahnya kasar. Habislah dia kalau Rafi sampai turun tangan. Teman Lendra itu benar-benar kutub utara dan keras kepala. Tidak mempan dengan berbagai suap dan rayuan yang ia berikan, saat meminta pria itu untuk mengaborsi kandungannya dulu.
Melihat Natalie yang hanya bisa mendengar ancamannya, membuat Lendra tersenyum mengejek. Tahu jika perempuan itu takut kalau kedoknya terbongkar. Pria itu meninggalkan Natalie yang hanya diam sembari menangis.
Di sisi lain, Livia tengah memijat pelipisnya pelan. Berhari-hari mencari sang ibu, tapi tidak juga ketemu. Sudah menghubungi orang di kampungnya, mereka memberitahu kalau sang ibu, pergi ke kota. Mereka pikir, Asna menyusul dirinya. Padahal tidak. Yang aneh, dia masih bisa mengirim uang ke rekening ibunya. Tapi tidak bisa menghubungi nomor ponsel wanita itu. Ke mana ibunya pergi.
Di tengah kebingungannya itu, Irish masuk dengan wajah sumringah ke ruang kerjanya. Gadis kecil itu terlihat senang karena baru saja bertemu sang ayah lagi. Ya, tadi siang Irish bertemu Lendra yang tengah galau. Sungguh tidak disangka. Irish dan Lendra bisa bertemu lagi.
Diaz pada akhirnya memberitahu Retno siapa Lendra. Wanita itu tentu terkejut. Jadi Irish adalah putra pria yang wajahnya mirip dengan Isac. Pantas saja.
"Kenapa, sayang?" Livia bertanya sambil menaikkan tubuh Irish ke pangkuannya. Livia mengusap lembut kepala sang putri. "Bu, Irish kan mau ulang tahun ni. Hadiahnya masih sama kan?"
Livia seketika tercekat. Dia teringat janjinya sendiri. Janji yang dia ucapkan saat dua putra kembarnya bertanya soal sang ayah. "Ayah, akan pulang saat kalian berumur enam tahun. Saat itu kalian bisa bertemu dengannya." Hingga bocah kembar itu menganggap kalau kepulangan ayah mereka adalah hadiah ulang tahun ke enam keduanya.
Janji Livia terngiang di benak ibu muda itu. Sekarang dia harus bagaimana, dia tidak mungkin berkata tidak, saat melihat wajah penuh harap dari Irish. "Nanti Ibu tanya Ayah ya, apa dia bisa pulang. Pekerjaan Ayah sangat banyak."
Hati Irish tentu kecewa, dia tahu ada yang tidak beres dengan kehidupan ayah dan ibunya. Gadis itu bahkan pernah bertanya pada Retno, kenapa ayah dan ibunya tidak tinggal bersama. Dan jawaban Retno membuat Irish semakin yakin untuk menyatukan orang tuanya. Gadis kecil itu ingin melihat ayah dan ibunya tinggal bersamanya.
"Bisakah Irish bicara pada Ayah? Irish rindu."
__ADS_1
Jantung Livia mencelos, sekarang alasan apalagi yang akan dia gunakan untuk mengalihkan perhatian sang putri. Saat itulah, ponsel Livia berbunyi, nama Christo tertera di layar benda itu. "Papa menelepon, mau bicara?"
Irish diam sejenak. Hingga gadis itu mengangguk. Dia ingin mengadu pada sang papa. Saat Irish mulai bicara, Livia dipanggil Vera ke ruang kerjanya. Tinggalah Irish yang menangis sambil bicara pada Christo. "Pa, Irish rindu ayah." Christo terdiam. Dia bisa merasakan bagaimana rasa sedih barbie hidupnya tersebut. Hingga sebuah kalimat lolos dari bibir Christo.
"Apa Irish ingin bertemu Ayah?" Christo akan bertolak ke Surabaya dua minggu lagi. Dia punya waktu luang sekitar tiga minggu. Christo benar-benar menjadi tumpuan bagi Irish dan Isac, jika kedua bocah itu kehilangan daya. Saat sang ibu terus mengelak soal ayah mereka.
"Irish mau bertemu Ayah." Jawab Irish. Jika yang lain berpikir kalau Irish dan Isac tidak tahu menahu soal ayah kandungnya. Christo berbeda. Pria itu secara jelas diberitahu oleh Isac, jika mereka tahu ayah mereka siapa. Tapi waktu itu Isac tidak memberitahu kalau dua bocah kembar itu ingin bertemu sang ayah. Baru kali ini Irish mengungkapkan perasaannya pada Christo.
"Papa akan ke sana dua minggu lagi. Saat papa datang, papa janji akan membawa Irish bertemu Ayah. Kita akan mencari ayah, oke?"
Senyum Irish mengembang, gadis kecil itu mengangguk paham, seolah Christo ada di depannya. Hingga tawa Irish tak lama terdengar. "Papa janji ya sama Irish?"
"Iya, papa janji." Christo pikir sudah waktunya memberitahu siapa ayah si kembar. Terserah Livia setuju atau tidak. Dalam beberapa hal, Christo sangat menyayangkan sikap egois Livia. Walau Christo pun tahu alasan Livia melakukan semua ini.
"Aku tidak mau sebuah pernikahan hancur karena keputusan yang aku buat. Lima tahun lalu aku memilih pergi. Padahal aku punya pilihan untuk minta pertanggungjawaban darinya. Tapi aku tidak melakukannya. Jadi salahkan aku. Aku yang bersalah dalam hal ini."
"Setidaknya kali ini pikirkanlah kebahagiaan Irish, Via." Gumam Christo.
*****
Up lagi readers
Jangan lupa ritual jempolnya ya...
****
__ADS_1