
Kredit Pinterest.com
Dua minggu kemudian.
Livia berjalan menuju altar sederhana di taman belakang Green Hills. Hanya sebuah dekorasi pernikahan dengan nuansa merah muda. Sementara Livia tampak cantik dengan gaun putih yang juga sangat simple.
Kredit Pinterest.com
Anggap aja gaunnya model begitu ya.
Rambut Livia disanggul, dihiasi sebuah tiara dan veil yang menutup wajah wanita itu. Di depan sana, tampak Lendra yang tak berhenti mengulum senyumnya. Hari yang dia tunggu datang juga.
Pria itu mengulurkan tangannya. Menyambut Livia yang diantar oleh Christo.
"Kau meyakitinya, awas!!!" ancam Christo. Lendra memberi kode siap sebagai jawaban atas peringatan Christo. Tak kurang dari lima belas menit, status Livia berubah menjadi istri dari seorang Syailendra Yue Aditama. Sebuah posisi yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak Livia.
Bahkan ketika sebuah cincin pernikahan telah melingkar di jari manisnya. Wanita itu masih tidak percaya.
"Terima kasih, sayang." Ucapan Lendra membuyarkan lamunan Livia. Karena kini gilirannya untuk menyematkan cincin di jari sang suami.
"Aku berjanji akan mencintaimu sampai aku mati." Bisik Lendra setelah pria itu membuka veil yang menutupi wajah Livia. Sebuah ciuman seketika mendarat di bibir wanita itu. Intens, dalam dan penuh cinta. Itulah yang terasa dalam pagutan singkat yang Lendra lakukan di depan keluarga yang hadir menjadi saksi dalam acara pernikahan mereka.
"Kita lanjutkan nanti malam." Kata Lendra sambil berkedip. Livia langsung memutar matanya jengah. Kenapa sejak kemarin, pikiran pria itu selalu mengarah ke urusan ranjang.
Ucapan selamat datang dari keluarga dan teman terdekat Livia. Dalam kesempatan itu terlihat Bian, Diaz dan Atta yang menggandeng pasangan masing-masing. Kalau Atta jelas menggandeng Meta, karena sejak dulu mereka pacaran. Bian dan Diaz jelas membuat semua orang terkejut. Karena wanita yang mereka gandeng adalah kembar.
"Kalian nyomot di mana? Atau buy one get one free begitu." Celetukan Christo langsung mendapat keplakan dari Bian.
"Sembarangan kalau ngomong. Kita gak sengaja pacaran sama kembaran mereka ternyata." Jelas Bian.
"Kirain...main ambil aja." Tawa meledak di tempat itu. Terlebih setelah lemparan bunga Livia ditangkap oleh Atta.
"Sayang, ayo rabi!" teriak Atta. Sontak teriakan Atta membuat tawa semakin heboh. Mereka sejenak berpesta. Dengan Christo yang membuat lawak. Kalau biaya grand wedding Livia akan diberikan Lendra sebagai mahar pernikahan mereka.
__ADS_1
"Harusnya digitnya ada dua belas, Via. Yang ama ono aja yang gak dia cinta aja segitu. Masak sama kamu gak lebih banyak. Kan elu yang dicinta. Elu ibu anak-anaknya...."
"Bisa diam gak tu mulut. Dah balik kamar aja sana kalau cuma bikin rusuh di sini," potong Lendra cepat. Pria itu gerah dengan segala ocehan Christo yang masih membawa nama Natalie, padahal nama itu sudah lama terhempas dari hati Lendra.
"Balik kamar? Siapa takut? Ayo Say, kita pulang." Semua orang menepuk dahi bersamaan, melihat tingkah Christo yang semakin somplak sejak menikah.
"Kalian berdua pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Jadi ingatlah itu sebagai pelajaran yang berharga. Agar kalian bisa lebih baik di masa depan. Ingat, sudah ada Irish dan Isac di antara kalian."
Lendra dan Livia mengangguk mendengar petuah dari Vera. Wanita itu secara resmi mengundurkan diri dari posisinya. Baik di Sidney maupun di Surabaya. Semua sudah dialihkan pada Christo dan Livia. Wanita itu akan menghabiskan masa tuanya di Green Hills sambil menemani Irish.
Malam menjelang.
"Selamat tidur, I." Livia mencium kening Irish, sebelum wanita itu membetulkan selimut putri kecilnya. Detik berikutnya wanita itu melangkah masuk ke kamar sang suami. Iya, mulai malam itu dia akan tidur di kamar Lendra. Begitu keluar kamar mandi, satu pelukan langsung membuat Livia berjengit kaget.
"Kau mengagetkanku." Livia masih harus beradaptasi dengan tingkah Lendra yang suka semaunya sendiri.
"Mari kita mulai sekarang." Kata Lendra yang sudah mulai mencumbu leher Livia.
"Apanya?"
"Buat Isac jilid dua." Kekeh Lendra. Detik berikutnya Lendra langsung menyerang Livia. Membawa tubuh langsing itu ke kasur besarnya.
Dan malam panas antara keduanya pun dimulai. Penyatuan itu kembali terjadi setelah enam tahun berlalu. Suara erangan penuh kenikmatan terdengar memenuhi kamar Lendra yang sudah direnovasi ulang. Semua benda di ganti bahkan kamar itu dicat ulang. Lendra ingin menghilangkan bekas masa lalunya dengan Natalie.
"Aku mencintaimu Livia." Ucap Lendra saat pria itu mencapai puncaknya.
"Aku juga mencintaimu, Lendra Aditama."
Senyum Lendra mengembang mendengar ungkapan cintanya berbalas manis dari sang istri.
*
*
"Sudah siap, Le ( Nak)?"
Isac mengangguk. Mereka tadinya ada di kamar Irish. Namun saat Isac mengangguk, tempat mereka berdiri langsung berubah menjadi sebuah aula istana yang bernuansa muram. Tak ada rasa takut dalam diri Isac, saat dirinya berjalan beriringan dengan seorang pria tua, berjanggut lebat berwarna putih. Sama dengan warna rambut pria itu.
__ADS_1
Keduanya berhenti di depan sebuah singgasana, yang diduduki seorang pria dengan wajah sangat tampan, namun dingin dengan tatapan setajam pedang yang mampu menusuk ke dalam jiwa Isac. Belum lagi aura kegelapan yang melingkupi tempat itu. Satu hal yang membuat Isac mati-matian bertahan.
"Aku datang menghadap," seru pria tua itu.
"Aku sudah memberimu satu kelonggaran. Kali ini tidak ada lagi kesempatan kedua. Terlebih aku sangat menyukai anak itu. Dia akan tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik."
Satu penolakan langsung Isac dengar.
"Bagaimana dengan opsi kedua? Pertukaran?"
Pria di atas singgasana itu mengerutkan dahinya. Pertukaran dengan apa? Pikirnya.
"Aku bersedia menggantikan tempat adikku, asal kau melepaskannya." Kali ini Isac yang berucap.
Pria itu lagi-lagi terdiam. Dalam satu tatapan, pria itu mampu melihat kalau Isac mempunyai kemampuan luar biasa. Sebuah keuntungan ganda seketika terpikir di benak pria tersebut. Akal licik pria itu muncul.
"Isac dan Irish akan jadi milikku sekaligus."
"Waktumu sampai adikmu berusia 24 tahun. Jika kau gagal dengan semua tugasmu. Adikmu akan jadi milikku."
Isac meneguk ludahnya. Tugas apa kira-kira yang akan dia emban untuk menyelamatkan Irish.
"Bagaimana ini, Mbah?"
"Kesempatan kita hanya datang sekali Isac, saat dia datang, dia bisa memutus rantai ini. Maafkan Mbah sudah menyeretmu dalam masalah seserius ini."
Isac berusaha tersenyum. Tugas ini memang berat. Namun demi Irish, Isac akan bertahan sampai hari itu datang. Saat bantuan itu tiba. Isac akan berusaha sebaik mungkin membebaskan Irish.
"Untukmu, Kakak akan bertahan dan sabar menunggu kedatangannya."
END
***
Untuk Lendra dan Livia, author akhiri sampai di sini. Terima kasih atas dukungan teman-teman readers semua.
Selanjutnya akan ada sekuel Irish dan Isac ya teman-teman.
__ADS_1
SAMPAI JUMPA DI KARYA AUTHOR YANG LAIN. Salam hangat dari author, see you 😘😘
****