Aku Membencimu Tuan CEO

Aku Membencimu Tuan CEO
Lendra Curiga


__ADS_3

Livia memundurkan langkahnya saat Lendra mengungkapkan cinta padanya. Satu pikiran yang tercetus di benak Livia adalah gila! Bagaimana bisa Lendra dengan lantang menyuarakan cinta padanya.


"Kau pasti gila!"


Livia berbalik dan saat itulah dia sadar ada Atta di sana. Pria itu terbengong mendengar perkataan Lendra, cucu pemilik pabrik tempatnya bekerja. Dan Atta tahu jelas kalau Lendra sudah menikah.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Dia pasti tidak waras."


"Kau benar, Via. Lima tahun ini tiada hari aku lewatkan dengan pikiran waras. Aku terus memikirkanmu. Aku tidak bisa melupakanmu. Kau benar, aku memang gila. Jadi berikan aku kesempatan."


"Tidak akan!"


Livia berlalu dari sana. Meninggalkan Lendra yang langsung lemas tubuhnya. Dia tidak percaya jika Livia sakit hati sampai sedalam itu padanya. Dia pikir waktu lima tahun cukup membuat Livia melupakan kesalahannya waktu itu.


Atta tadinya akan mengikuti langkah Livia. Tapi suara Lendra membuatnya urung melakukan hal itu. Dan disinilah Atta berakhir. Di depan Lendra yang menatapnya bak predator tengah memburu mangsanya. Atta merinding seketika. Sedang Lendra berpikir bisa mengorek informasi soal Livia dari Atta.


"Jadi kapan dia datang?"


Dan mulailah Atta jadi tersangka yang harus menjawab setiap pertanyaan Lendra. Meski Atta sedikit takut sebab tidak semua hal dia tahu soal Livia. Apa lagi menyangkut kehidupan pribadi rekan kerja Atta tersebut.


"Jawab Atta!"


"Aku tidak tahu!"


Atta mulai emosi ketika Lendra terus mendesaknya menjawab soal status pernikahan Livia. Dari semua pertanyaan Lendra hanya itu yang tidak Atta ketahui. Sebab Livia memang menutup privasinya. Tidak ada orang lain yang tahu kalau Livia adalah ibu tunggal dengan sepasang anak kembar. Selain Vera, Christo, Retno dan Rafi.


"Baik, pertanyaan terakhir. Kau bilang dia baru datang minggu ini. Sebelumnya dia tinggal di mana?"

__ADS_1


"Sidney."


Mata Lendra membulat mendengar jawaban Atta.


"Kau yakin?"


Atta lalu menunjukkan tiket penerbangan dari Jet Star Airways yang Livia pakai saat datang hari itu. Hari ini, astaga.... jadi yang di bandara waktu itu adalah Livia. Tunggu! Jika dia dari Sidney, lalu kenapa Pasha mengatakan kalau Livia tinggal di Thailand. Ada yang tidak beres. Dia harus memastikan sesuatu. Lendra sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.


"Aku ingin kau menjadi mata-mata untukku. Laporkan apapun hal penting yang kau tahu soal Livia. Oh iya, apa kau pernah melihat pria ini bertemu Livia?"


Belum sempat hilang rasa terkejut Atta atas perintah Lendra untuk menjadi agen ganda. Atta harus memicingkan mata saat melihat foto pria di ponsel Lendra. Atta seketika menggeleng. Dia memang tidak pernah melihat Livia bertemu pria manapun selain Lendra sendiri tentunya.


"Kau yakin?" Atta mengangguk pasti. Kening Lendra berkerut sekali. Hingga Lendra meninggalkan Atta tanpa kata. "Alahai, gini amat jadi bawahan."


Keluh Atta setelah Lendra menghilang dari pandangannya. Meski Lendra bukan pemimpin Tania & Co, tapi dua beradik itu memiliki saham yang lumayan besar di pabrik tempatnya bekerja. Jadi Lendra dan Lira bisa ikut campur dalam pengambilan keputusan di sana. Memecat Atta tentu akan sangat mudah bagi Lendra, dan pria itu jelas tidak mau kehilangan pekerjaannya. Susah untuk masuk perusahaàn itu, Atta harus berjibaku dengan ratusan orang kala melamar pekerjaan di sana. Dan setelah bertahun-tahun akhirnya dia bisa sampai ke posisi bagus dengan gaji yang sangat memuaskan. Asisten direktur utama. Yang sebenarnya masih dipegang oleh Vera, tapi sementara ini akan dikendalikan oleh Livia.


Sementara Lendra melajukan mobilnya ke suatu tempat, Livia tampak uring-uringan sendiri di unitnya. Di bingung dengan apa yang harus dia lakukan sekarang. Terlebih Vera sudah memastikan kalau besok siang dia dan Irish akan datang.


Satu hal yang membuat Christo sering salah tingkah saat itu. Sebab dia sering tanpa sadar, nyelonong masuk ke kamar Livia tanpa mengetuk pintu. Untung saja Retno selalu memperingatkan Livia untuk selalu memakai kain pelindung saat menyusui si kembar.


Livia menghabiskan waktu cukup lama di bawah shower, menghilangkan bayangan Lendra beserta ucapan pria yang hanya membuatnya bimbang dan ragu. Livia meraih handuk kimononya lantas memakainya. Membiarkan rambut panjangnya tergerai setengah basah. Tampilan Livia benar-benar seksi.


Bukannya terus memakai baju, wanita itu malah meraih ponselnya. Melirik ke asal jam dinding. Sidney lebih cepat empat jam, Livia menghembuskan nafasnya pelan. Sudah jam delapan di sini, berarti di Sidney sudah jam 12 malam, dan Irish pasti sudah tidur.


Pada akhirnya Livia malah merebahkan tubuhnya di kasur tanpa mengganti handuk kimononya. Mengabaikan perutnya yang belum terisi makanan sama sekali. Bertemu Lendra membuat selera makan Livia menghilang.


Di sisi lain, Lendra langsung naik ke unit Pasha, di sebuah kawasan apartemen yang tidak kalah mewah dari Grand Shamaya. Tanpa basa-basi langsung menekan bel pintu apartemen Pasha. Pasha yang baru saja terlelap setelah kembali melalui sesi panas dengan Natalie terpaksa membuka matanya.

__ADS_1


Pria itu berjalan ke pintu dengan mata setengah tertutup, hanya memakai boxernya saja. "Kenapa harus memencet bel? Bukankah kau tahu paswordnya Nat...."


Ucapan Pasha seketika tertelan kembali saat pria itu melihat siapa yang berada di depan pintunya.


"Nat siapa?"


Selidik Lendra. "Natania, cewekku." Jawab Pasha asal. Jawaban Pasha membuat Lendra semakin curiga. Apa Pasha belum berhenti dari kegilaannya bermain wanita. Sedang dia saja sudah tobat. Sejak menikah dengan Natalie, Lendra benar-benar berubah. Dia berusaha setia pada Natalie, padahal kepalanya selalu memikirkan Livia.


"Apa Livia tidak cukup untukmu? Sampai kau masih mencari pelampiasan lain?"


Pasha seketika menelan ludahnya. Dia lupa kalau selama ini dia berpura-pura menikah dengan Livia. Berpura-pura? Ah andai itu benar, bisa dipastikan Pasha akan berhenti total dari kebiasaan celup sana, celup sini. Tapi sayangnya Livia sudah meninggal.


"Ahhh itu, dia kan di Thailand. Jadi aku tidak bisa menahannya lalu aku....."


Fix Pasha berbohong. Jika keduanya memang menikah, Pasha tentu tahu kalau Livia datang ke sini empat hari lalu. Dan bukan dari Thailand tapi dari Sidney.


Tatapan penuh selidik dari Lendra membuat Pasha salah tingkah. Pasha sadar dengan kepekaan Lendra. Satu kata yang salah bisa jadi bumerang untuknya.


"Lalu ada apa kau kemari malam-malam. Mengganggu saja." Gerutu Pasha setelah memakai pakaian serta mengambilkan minuman untuk Lendra.


"Ini soal Livia. Apa kalian benar menikah? Kenapa aku tidak pernah melihat foto pernikahan kalian satu pun?"


Pasha hampir tersedak minumannya sendiri. Pria itu buru-buru mengambil tisu untuk menutupi kegugupannya. "Gawat Lendra mulai curiga." Batin Pasha sedikit panik.


****


Up lagi guys....

__ADS_1


Jangan lupa ritual jempolnya.


****


__ADS_2