
Di sisi lain, Vera tampak kesal dengan pemberitaan soal Livia, Wanita itu tentu marah dengan tindakan Natalie yang menampar Livia di depan umum. Vera beberapa kali terdengar mengumpat, meski detik berikutnya dia menyesalinya. Ya, dia ingat umur jadi tidak begitu-begitu banget saat membenci orang.
Tadinya Vera ingin menghubungi Lendra untuk men-take down semua berita yang memojokkan Livia. Namun ternyata Lendra sudah bertindak lebih dulu, dengan memberi klarifikasi soal berita tersebut. Bahkan Vera cukup terkejut, saat Lendra memberitahu publik kalau dirinya dalam prosea cerai dengan Natalie. Satu hal yang membuat Vera tersenyum lega. Lendra akhirnya akan terbebas dari buaya betina itu.
Di saat yang bersamaan terdengar bunyi mobil yang masuk ke garasi rumah mereka, Vera sedikit heran sebab itu bukan suara mobil Livia. Saat wanita itu keluar dari ruang kerjanya, senyum Vera mengembang, melihat Christo ada di hadapannya. Vera cukup terkejut, pasalnya Christo tidak bilang akan datang.
"Kenapa tidak memberi tahu?"
"Kejutan, Nek." Sahut pria itu sambil memeluk sang nenek. Christo jelas bahagia melihat Vera baik-baik saja. Vera, wanita yang sangat berjasa dalam hidup Christo. Ibu sekaligus ayah bagi pria itu.
"Barbieku mana?" tanya Christo.
"Barbie yang mana nih?" Ledek Vera. Christo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Siapa sangka jika Christo dan Retno diam-diam menjalin kasih dibelakang Vera dan Livia. Hal itu baru ketahuan saat Isac meninggal, sebab Retno yang tidak berhenti menangis seperti Livia, bisa diam saat Christo memeluknya. Dari sanalah semua curiga, hingga setelah acara berkabung Isac selesai, Vera langsung mencecar Christo. Dan jawaban mengejutkan keluar dari bibir Christo. Pria itu dan Retno sudah berpacaran sejak si kembar berumur tiga tahun. Jadi sampai sekarang keduanya sudah bersama hampir tiga tahun.
"Dua-duanya dong. Yang satu barbie mini. Yang satu barbie bisa diajak buat barbie." Satu keplakan mendarat di lengan Christo. Vera jengkel dengan Christo yang memang receh sekali orangnya. Setelah tawa Christo selesai. Keduanya mulai masuk ke tahap pembicaraan serius. Biasa, apalagi jika bukan urusan bisnis.
Christo bercerita kalau bisnis mereka di Sidney berjalan cukup baik. Meski ada satu, dua masalah tapi Christo masih bisa mengatasinya.
"Ya setidaknya keadaanmu lebih baik dari Livia. Dia terus menghadapi masalah yang belum selesai dari lima tahun lalu. Juga masalah pabrik yang ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan."
"Maksud Nenek?"
__ADS_1
Selanjutnya Vera bercerita soal Pramana yang berbuat onar di pabrik. Pria itu bahkan dua kali hampir melukai Livia. Untungnya saat itu Livia bersama Lendra hingga wanita itu tidak apa-apa. Banyak hal yang Vera ceritakan termasuk Irish yang sudah bertemu sang papa.
"Benarkah? Lalu bagaimana reaksi Irish?" Christo pura-pura terkejut. Padahal pria itu sudah diberitahu oleh si barbie hidup itu.
"Aku pikir sudah waktunya semua akan terbongkar. Mungkin termasuk identitasku. Aku tidak bisa selamanya sembunyi."
Vera menarik nafasnya dalam. Di sisa hidupnya, dia ingin melihat cucu dan cicitnya bahagia. Setidaknya Lira sudah membuat beban Vera berkurang. Lira dan Hugo akan menikah tahun depan. Keluarga Aditama sedang menunggu lamaran resmi dari keluarga Liu.
Namun untuk Lendra, Livia dan Irish, Vera tidak tahu harus bagaimana lagi. Sekarang Irish sudah tahu siapa ayahnya, gadis itu mungkin akan menginginkan lebih.
"Semoga masalah Lendra dan Livia cepat selesai. Livia harus menurunkan egonya demi Irish. Jika tidak, anak itu akan semakin sedih."
"Masalahnya Livia kurang peka dengan keinginan Irish. Dia memang menempatkan kebahagiaan Irish di posisi paling puncak dalam prioritasnya. Tapi wanita itu tidak tahu apa yang anaknya inginkan."
Lamunan Christo buyar saat Irish berteriak kencang menyebutnya. "Papa......" Jerit Irish. Gadis kecil itu langsung berlari ke arah Christo, lantas naik ke gendongan Christo. Di mana sang papa langsung menghujani Irish dengan ciuman di seluruh wajahnya.
Irish melambaikan tangan pada Retno yang tampak tersipu. Wanita itu jelas bahagia, melihat Christo ada dihadapannya. Hingga uluran tangan Christo membuat Retno mendekat malu-malu.
"Alah, gak usah malu. Kami tahu kalian pacaran." Livia mendorong sedikit tubuh Retno sampai ke dekat Christo, yang langsung memeluk Retno penuh cinta. Bahkan ketika masih ada Irish dalam gendongan Christo, pria itu tak segan mencium puncak kepala Retno. Satu hal yang membuat wajah Retno bersemu merah. Sama-sama yatim piatu, membuat Christo dan Retno sangat menghargai cinta yang hadir di antara mereka.
"Kenapa kalian tidak menikah saja?" Vera mengusulkan.
__ADS_1
Retno seketika membeku. Menikah? Dengan Christo? Wanita cantik itu melongo, dia tidak pernah membayangkan kalau dirinya akan menikah dengan pria sekelas Christo. Pengusaha sukses, tampan dan jadi buruan wanita di Sidney. Apa kabar dirinya yang cuma wanita biasa. Cinta? Retno punya hal itu untuk Christo. Tapi untuk menikah, nanti dulu.
"Pikirkan saja dulu. Aku serius ingin menikahimu." Bisik Christo di telinga Retno. Hembusan nafas beraroma mint dari bibir Christo membuat tubuh Retno meremang. "Haish....orang ini bahaya sekali." Retno memaki Christo yang membuat jantungnya dag, dig, dug, laksana orang yang habis dikejar massa.
Di tempat lain, tampak Natalie yang marah-marah. Sekarang publik berubah haluan, mereka balik nyinyir pada Natalie. Terlebih setelah beberapa foto tersebar di media sosial. Foto yang diambil secara diam-diam, saat dia berada di klub malam bersama Pasha. Bahkan ada beberapa foto, yang memperlihatkan dirinya tengah berciuman panas dengan pria yang berprofesi sebagai pengusaha hotel tersebut. Plus dalam foto tersebut, terlihat kalau pakaian Natalie sudah terbuka bagian atasnya.
Wanita itu mengamuk. Sejak Lendra berniat menceraikannya pria itu sudah meminta Natalie keluar dari Green Hill, terdengar kejam mungkin. Namun hal itu disertai dengan kompensasi sebuah apartement di Grand Samaya. Unit yang sekarang Natalie tempati adalah pemberian Lendra.
Semua pemberitaan kini balik menyerang Natalie, title wanita murahan langsung publik sematkan pada wanita itu. Beberapa netizen yang jeli, mampu menelisik masa lalu Livia yang memang bersih tanpa noda. Hasil rekayasa Christo, yang mampu menutup aib Livia di masa lalu.
Apalagi jika yang Lendra katakan benar, Livia tidak ada di Surabaya dalam lima tahun terakhir. Alhasil dukungan kini mengalir pada Livia. Satu benda pecah terbanting terdengar di kamar Natalie. Wanita itu marah saat tak ada satupun teman yang berada di pihaknya saat dia terpuruk.
"Dasar teman cuma numpang enaknya saja. Giliran aku susah, melihatpun tidak mau. Awas ya kalian! Awas kau Livia!" Teriak Natalie keras.
Rasa benci itu kembali berkobar di dada Natalie. Wanita itu bertekad akan membalas semua rasa sakit di hatinya pada mereka semua. Tanpa terkecuali.
"Lihat saja! Apa yang bisa aku lakukan pada kalian!" Tekad Natalie.
****
Up lagi readers
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****