Aku Membencimu Tuan CEO

Aku Membencimu Tuan CEO
Terciduk


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Christo melangkah mendekati Irish yang melamun sendirian di taman belakang. Duduk di sebuah ayunan, gadis kecil itu terdiam sambil memeluk boneka teddy bear kesayangannya.


"Hayo, melamun." Irish berjengit mendengar ucapan Christo. Gadis itu tersenyum lebar pada sang papa. Christo duduk di damping Irish. Kaki panjang pria itu mulai menggoyangkan ayunan, pelan.


"Jadi, bagaimana?" Christo mulai bertanya sambil mengusap lembut kepala Irish.


"Ibu belum mau membawa Irish bertemu ayah." Irish menjawab dengan bibir maju lima senti, manyun.


Christo merengkuh tubuh Irih ke atas pangkuannya. Ditatapnya wajah Irish yang 80% adalah wajah Lendra.


"Mau papa bawa ke rumah ayah?" tanya Christo.


Wajah Irish berubah, binar bahagia seketika tergambar di wajah Irish. "Papa tahu rumah ayah?" tanya Irish kepo.


"Mestilah.....tak." Irish kembali manyun. Hal itu membuat Christo terkekeh. Sepertinya dia harus mencuri start dengan membawa Irish ke Green Hills. Irish berhak tahu kakek dan neneknya. Pun dengan Vi dan Lana, mereka perlu tahu kalau mereka punya cucu.


"Tapi ndak sekarang Irish, ayahmu kerja. Dia tidak di rumah."


"Yah, papa...." Terdengar nada kecewa dari bibir mungil Irish. Christo tertawa dalam hati. Bibir Irish adalah bibir Livia. Dia menertawakan dirinya sendiri yang sembarangan mengatakan bercinta dengan Livia hampir tiap malam. Bercinta? Noel aja gak pernah. Livia seorang wanita yang sangat menjaga diri. Tidak sembarangan orang bisa menyentuh wanita itu.


"Mau dengar suaranya?" tanya Christo tiba-tiba. Wajah Irish kembali berbinar. Sebuah anggukan menjadi jawaban. Christo lantas menghubungi Lendra, memakai pembesar suara membuat gadis itu bisa mendengar suara Lendra yang terdengar judes. Lendra merasa terganggu dengan panggilan Christo. Sebab Christo mengatakan hanya iseng menghubunginya.


Suara pura-pura muntah sang ayah membuat tawa Irish meledak tertahan, saat Christo mengatakan kalau pria itu rindu pada Lendra.


"Nonsense! Jangan ngadi-ngadi ya kamu. Aku masih lempeng. Masih doyan perempuan!"


Christo seketika memberi kode pada Irish jangan mendengar ucapan Lendra yang satu itu. Irish mengangguk paham. Setengah jam, Christo memaksa Lendra mengoceh di ponsel. Pria di ujung sana hampir meledakkan emosi. Karena mengira Christo sedang mengerjainya. Tanpa dia tahu Irish sejak tadi mendengarkan suara Lendra sambil terkekeh. Lucu sekali mendengar sang ayah.


"Ayah kalau marah mirip ibu ya?"


Glek, Lendra terpaku di tempatnya. Suara itu....suara Irish. Lendra sangat hafal dengan suara gadis kecil itu. "Kenapa suara Irish ada di dekat Christo?" tanya Lendra lirih setelah sambungan telepon di putus.


"Uuppss, sorry Pa. Keceplosan. Abisnya suara ayah lucu sih. Jadi gak tahan pengen komen." Irish membela diri. Tahu kalau dia seharusnya tidak bersuara.

__ADS_1


"Kamu ini, nanti ayahmu kepo. Lalu dia cari papa buat minta penjelasan."


"Alah, papa kan pinter ngomong. Jawab aja."


Christo tertegun. Untuk usia Irish, jawaban gadis kecil itu tergolong terlalu dewasa. "I, bertingkahlah seperti anak umur enam tahun. Jangan bertingkah seperti orang dewasa, nanti kamu malah puyeng."


"Maksud Papa."


"Ngomong aja bahasa anak kecil. Yang tadi itu omongan orang dewasa. Paham, cantik?" kata Christo lembut. Irish sejenak berpikir. Lantas mengangguk paham.


"Anak pintar." Puji Christo. Pria itu mencium puncak kepala Irish sayang. "Semoga kamu segera berbahagia bersama ayah dan ibumu I, juga kamu Isac." Sebutir kristal bening luruh dari sudut mata seorang Christo. Teringat bagaimana keadaan memisahkan anak itu dan ayahnya.


Tentu Christo tidak bisa menyalahkan Livia 100%. Apa yang Livia lakukan mungkin keterlaluan. Tapi pernahkah kita memandang dari sisi Livia. Sakit hati, ketakutan, bingung membuat wanita itu mengambil jalan keluar yang sebenarnya membuat semua orang menderita. Terutama anak kembarnya.


Apalagi lima tahun terakhir menjadi waktu yang berat bagi Livia. Keadaan menempa Livia menjadi wanita yang keras kepala dan mungkin egois.


"Aku berharap, ibumu benar-benar mau menurunkan egonya." Batin Christo lagi.


*


*


Satu kejadian kemarin membuat Livia berpikir harus bicara pada Lendra. Kejadian di mana dia kembali dihadapkan pada Natalie yang menuduhnya menjadi duri dalam rumah tangganya. Livia menggelengkan kepalanya. Duri dari Hongkong. Lima tahun tidak bertemu. Lima tahun tanpa komunikasi. Bagaimana Natalie bisa mengatakan kalau dirinya penyebab berakhirnya rumah tangga Lendra dan Natalie.


"Wanita aneh. Gila, sarap!!" maki Livia sepanjang jalan menuju ruangan Lendra. Ada getar lugu tak bisa Livia sebut, saat wanita itu melalui lorong di depan ruangan Lendra.


Lendra tentu bahagia bukan kepalang. Mendengar Livia datang ke kantornya. Begitu wanita itu berada di depannya, jantung Lendra berdebar tidak karuan. Melupakan sejenak suara Irish yang terdengar di ponsel Christo.


"Ada apa, sayang?" tanya Lendra manis. Sementara Livia mendelik mendengar panggilan Lendra yang asal bicara.


"Sayang...sayang...palamu peyang." Ketus Livia. Sesaat wanita itu memindai ruang kantor Lendra. Tidak ada yang berubah dalam lima terakhir. Atau lebih tepatnya, Lendra tidak mengubah apapun.


"Iisshh, masih pagi kok sudah marah. Nanti ilang lo cantiknya." Lagi Lendra mengucap hal di luar bayangan Livia.


"Ide bagus. Aku akan menghilangkan wajah cantik ini. Bagaimana?" Canda Livia sembari mengangkat satu alisnya.


"Jangan aneh-aneh kamu. Kecantikanmu anugerah. Tidak semua orang memilikinya." Ucapan Lendra penuh penekanan.

__ADS_1


"Termasuk masalah yang sekarang aku hadapi." Sungut Livia.


"Apalagi sekarang?"


"Istrimu..."


"Mantan...."


"Alah terserah. Dia menuduhku, kalau aku merebutmu darinya."


"Nyatanya iya." Jawab Lendra enteng. Memang benar Livia yang sudah merebut hatinya. Jika Lendra, menyadari mungkin sejak awal hati Lendra adalah milik Livia. Tapi pria itu terlambat menyadari.


Livia mendengus geram mendengar jawaban Lendra yang seenaknya. "Sepertinya tidak ada gunanya aku ngadu sama kamu." Livia beranjak keluar dari sana. Namun di depan pintu langkah wanita itu terhenti. "Buka pintunya!" Livia tahu, Lendra mengunci pintunya.


"Pajak dulu." Kata Lendra jahat.


"Ini pajaknya." Livia mencubit perut Lendra lantas mengambil remote pintu dari tangan pria itu. Klik, dan pintu bisa dibuka. Wanita itu tersenyum mengejek pada Lendra yang hanya bisa melihat Livia keluar dari ruangannya sambil melipat tangan. Lendra tidak akan gegabah untuk mendapatkan Livia. Melihat Livia yang tidak menolak kehadirannya sudah cukup bagi Lendra.


Lendra menghembuskan nafasnya kasar kala Livia benar-benar keluar dari ruang kerjanya. Namun tak lama terdengar suara heels berlari masuk ke ruangannya.


"Ada apa?" tanya Lendra heran, melihat Livia yang kembali masuk. Wanita itu berdiri di depan Lendra dengan wajah panik.


"Ada....ada....." Suara Livia terputus-putus. Sepertinya wanita itu berlari cukup jauh.


"Ada apa sih?" Lendra semakin penasaran.


"Itu...ada...."


"Siapa dia, Ndra?" satu suara membuat Lendra dan Livia saling pandang.


"Mampus! Aku terciduk." Batin Livia cemas.


***


Up lagi readers


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih."

__ADS_1


***


__ADS_2