Aku Membencimu Tuan CEO

Aku Membencimu Tuan CEO
Bertemu


__ADS_3

Pasha membulatkan mata melihat siapa yang ada di hadapannya. Sementara Natalie, wajah wanita itu pucat pasi. Tubuhnya gemetar.


"Livia....dia masih hidup."


Ucapan Pasha membuat Natalie menoleh pada pria itu. Ada dua hal yang Natalie rasa saat ini. Lega karena dia tidak membunuh Livia, wanita itu masih hidup, sedang duduk di hadapan Lendra. Sekaligus takut karena jika Livia tahu kalau dirinya menabrak wanita itu lima tahun lalu, dia juga bisa berakhir di penjara. Tidak...tidak. Dia tidak mau menghuni sel sempit itu.


Beda Natalie, beda Pasha. Pria itu langsung terpana melihat tampilan Livia. Cantik dan tentu saja seksi. Ada kecantikan lain yang pria itu lihat sàat Livia bicara dengan asistennya. Livia jelas wanita cerdas.


Jika Natalie memundurkan langkah, ketakutan. Pasha justru mendekat ke arah Livia. Bian seketika memberi kode pada Lendra begitu melihat Pasha berjalan ke arah mereka. Pria itu langsung waspada. Mengingat pria itu bohong soal pernikahan mereka. Bisa dipastikan kalau Pasha tidak pernah bertemu Livia lima tahun terakhir ini. Apalagi setelah Lendra tahu kalau Livia ternyata bersama sang nenek di Sidney.


"Hai, Livia. Long time no see."


Livia menghentikan pekerjaannya. Perlahan mengangkat wajah. Hingga wajah Lendra yang pertama terlihat di mata Livia. Baru wanita itu menoleh ke arah Pasha, setelah mata Livia beradu pandang dengan mata Lendra.


Melihat Pasha, alarm siaga Livia langsung berbunyi. Dia tentu bukan wanita yang sama seperti lima tahun lalu. Dia tidak akan terbuai begitu saja pada perkataan pria yang jelas tidak bisa dipercaya, seperti Pasha.


Mendengar sapaan Pasha, Livia hanya mengangguk. Wanita itu bahkan hanya tersenyum tipis saat Pasha mengajaknya berjabat tangan. Terkesan sombong mungkin, tapi terserah.


Tanpa disuruh, pria itu mendudukkan diri di samping Lendra. Mata elang Pasha tidak berkedip saat melihat Livia. Damnn hot, wanita di depannya langsung membuat sisi kelelakiannya meronta. Seolah paham dengan situasi, Livia memilih pergi. Setelah sedikit basa basi pada dua pria itu.


Lendra dan Pasha berebut ingin mengantar tapi Livia tegas menolak. Wanita berlalu begitu saja dari hadapan Lendra dan Pasha setelah berpamitan ramah pada Bian. Ya, Livia hanya bersikap baik pada Bian. Sampai pelototan penuh intimidasi Bian dapat dari Lendra dan Pasha.


"Dia tahu membedakan mana pria baik dan laki-laki buaya." Perkataan penuh sindiran Bian membuat dua pria itu saling pandang.


"Kenapa kau di sini?" Tanya Pasha.


"Aku? Bertemu klien."


"Klienmu Livia?"


"Kalau klienku Livia, aku tidak akan menemuinya di tempat umum. Setidaknya aku akan membawanya ke ruang kerjaku. Seperti kau dan dia."

__ADS_1


Tatapan Lendra menghunus ke arah Natalie berada. Wanita itu jelas terkejut mengetahui Lendra tahu ada dirinya di sana. Detik berikutnya Natalie berlari ke arah Lendra. Tapi pria itu cepat melangkahkan kaki dari sana. Melihat Natalie dan Pasha di satu tempat, semakin menegaskan hubungan keduanya. Hal itu semakin membulatkan tekad Lendra untuk berpisah. Tidak ada lagi hal yang menjadi pertimbangan bagi Lendra untuk mempertahankan rumah tanganya. Bahkan kehamilan Natalie sekalipun. Sebab dari laporan anak buahnya, hampir tiap hari Natalie pergi ke apartemen Pasha. Lendra merasa ditipu mentah-mentah oleh istri dan temannya itu. Teman? Entahlah, apa Pasha masih layak disebut teman, setelah semua yang pria itu lakukan dengan Natalie dibelakangnya.


Saat di depan hotel, ternyata Lendra melihat Livia yang malah asyik berbincang dengan Bian. Sialan! Maki Lendra dalam hati. Asistennya itu memang laknat. Senang sekali mengganggu miliknya.


"Kenapa belum pergi?"


"Atta terjebak macet. Ada kontainer nyungsep di jalan masuk kawasan industri." Bian menjelaskan. Lendra melotot ke arah Bian yang balik meledekknya.


"Apa schedulemu sudah selesai?" Tanya Lendra lagi. Livia terdiam, dia tidak mungkin mengatakan free, sebab dia enggan meladeni Lendra.


Diacuhkan oleh Livia membuat Lendra kesal. Tanpa kata, pria itu menarik tangan Livia, membawanya pergi dari hadapan Bian dan Meta.


"Kumat lagi deh tukang paksanya." Gerutu Bian. Keduanya hanya bisa diam melihat Lendra dan Livia yang terlibat adu tarik. "Ya sudah kalau begitu saya permisi, Pak." Pamit Meta. Gadis itu pun ikut berlalu dari hadapan Bian. Hingga suara Bian menghentikan langkah Meta.


"Lepaskan aku!" Livia menarik tangannya dari genggaman tangan Lendra. Wanita itu sadar sedang berada di tempat umum. Dan yang barusan terjadi tentu bisa memancing opini publik. Lendra, pria beristri dan dia tidak mau menimbulkan rumor.


"Masuk dulu." Kata Lendra membukakan pintu untuk Livia. Wanita itu bergeming. Livia tidak mau .


"Masuk atau kupaksa?" Ucap Lendra penuh penekanan. Livia mendengus kesal mendengar perkataan Lendra.


"Jangan gila kamu!"


"Lebih gila mana jika kamu melihat Natalie dan Pasha di hotel yang sama. Bahkan di kamar yang sama."


Livia langsung tidak bisa berkata-kata. Pasha dan Natalie. Ini di luar dugaan Livia. Hingga ucapan singkat membuat Livia urung melayangkan protesnya. "Mereka berselingkuh."


Sementara itu, Pasha terdiam saat melihat Lendra dan Livia pergi dengan satu mobil. Dia tidak rela, Lendra bisa dekat dengan Livia. Jika Pasha sibuk dengan pikirannya soal mendapatkan Livia. Lain halnya dengan Natalie. Wanita itu sejak tadi mondar mandir tidak jelas di hadapan Pasha. Wanita itu ketakutan. Dia takut jika Livia tahu soal tabrakan lima tahun lalu.


"Berhentilah melakukan itu Nat. Aku pusing melihatnya." Ketus Pasha.


Natalie langsung menghentikan aksinya. "Aku takut. Bagaimana jika dia tahu aku pelakunya. Aku menabraknya. Dia pingsan dan darahnya banyak sekali."

__ADS_1


"Nyatanya dia hidup. Dia baik-baik saja. Dan yang jelas, dia semakin menarik." Kata Pasha dengan senyum terukir di bibir.


"Apa kau juga akan mengejarnya?" Tanya Natalie tidak terima.


"Tentu saja. Barang bagus layak diperjuangkan." Jawab Pasha. Natalie berang dibuatnya. Dia tidak menyangka kalau Pasha dengan mudah bisa mengatakan hal itu.


"Apa maksud ucapanmu? Apa aku saja tidak cukup untukmu?" Protes Natalie. Mendengar perkataan Natalie, Pasha tersenyum jahat.


"Kau tahu jawabannya. Lebih jelasnya kami pria, tahu mana wanita yang perlu dikejar dan tidak."


Natalie mengepalkan tangannya. Dia tentu tidak terima dengan ucapan Pasha. Pria itu dengan mudah melupakan apa yang sudah dia lakukan untuk pria itu, lima tahun terakhir.


"Kau keterlaluan Pasha. Apa kau tidak tahu bagaimana aku lima tahun ini? Apa kau tidak tahu apa yang sudah aku lalui selama ini."


"Semua salahmu Nat. Andai kau tidak menabraknya lima tahun lalu. Kau tidak akan berada dalam masalah."


"Bahkan ketika aku berselingkuh denganmu, itu juga kesalahanku?" Tanya Natalie menggebu-gebu. Pasha tersenyum mendengar perkataan Natalie.


"Yang itu lain cerita. Itu hubungan saling menguntungkan. Aku menjaga rahasimu. Dan kau memuaskanku tiap aku menginginkannya. Seperti sekarang. Suamimu sudah tahu kalau kita berhubungan jadi teruskan saja. Sebab dia akan tetap menceraikanmu."


Detik berikutnya, Pasha menarik tubuh Natalie, duduk di pangkuanku. "Puaskan aku. Livia membuat hasraatku naik." Natalie mendengus geram.


"Kau benar-benar gila, Pasha!"


"Lebih gila mana? Suamimu menggandeng wanita lain, saat perceraian kalian belum diekspose ke publik. Dia membuat Livia terpojok."


Kata Pasha mulai melancarkan aksinya. "Livia, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu hari ini." Batin Pasha dengan tangan sibuk menyentuh tubuh Natalie.


****


Up lagi readers.

__ADS_1


Ritual jempolnya jangan lupa.


***


__ADS_2