Aku Membencimu Tuan CEO

Aku Membencimu Tuan CEO
SEKUEL AKU MEMBENCIMU TUAN CEO SUDAH HADIR


__ADS_3

Halo....halo...haloooo...hai readersku tersayang, apa kabar nih. Pasti baik dong. Jumpa lagi sama author receh yang bulan ini gak dapat receh, alias gak gajian. Author bawa kabar baek nih, barangkali ada yang nungguin cerita anak Lendra sama Livia? Yuppsss, Isaac dan Irish, nopel mereka dah publish ya geeess. Nah di sini author mau promoin nopel mereka ni. Cuss aja ya....ni dia cover cerita mereka.



Itu dia gesss covernya. Di bawah ini author bakal spill bab pertama ya. Cekidot...


Bab 1


Chiang Mai, Thailand


Mendung disertai petir malam itu menyelimuti kota Chiang Mai. Kota terbesar kedua setelah Bangkok di Negeri Gajah Putih. Terletak di antara pegunungan yang membentuk wilayah utara Thailand. Berjarak 700 km arah barat laut dari Bangkok, Chiang Mai adalah kota yang ramai dan maju.


Di sebuah jalanan sepi, menuruni tangga sebuah wihara, tampak seorang pemuda yang berjalan santai. Menapaki anak tangga satu persatu, pemuda tersebut terlihat menikmati musik yang dimainkan melalui air pods yang menempel di kedua belah telinganya.


Mengabaikan peringatan dari Lung-nya (Pamannya). Pemuda itu nekad pulang ke rumahnya yang berjarak lumayan jauh dari wihara itu. "Paman ini selalu saja begitu." Gerutu pemuda yang tahun ini berusia 19 tahun.


Satu kilatan petir membuat pemuda itu mendongakkan kepalanya. Rintik gerimis mulai turun. Pemuda itu berpikir kalau hanya hujan dia tidak takut. Bahkan dengan hantu sekalipun dia tak gentar.


Jegleerrrr


Kilat kembali menyambar, saat pemuda itu menatap lagi ke depan, satu sosok mengerikan sudah muncul di hadapannya. Pemuda itu bisa merasakan kehadiran makhluk tak kasat mata tersebut. Hanya bisa merasakan, tanpa bisa melihat, sebab penglihatannya ditutup.


"Jadi karena ini, paman melarangku pulang." Gumam pemuda itu.


Sosok dengan wajah mengerikan, bermata merah dan kuku tangan panjang dan runcing tersebut perlahan melayang ke arah pemuda tersebut.


"Apa yang kau inginkan?" pemuda itu bertanya, dia menajamkan telinganya saat makhluk itu menjawab pertanyaannya.


"Aku ingin energi spiritual yang kau miliki. Kau manusia yang lahir tiap seratus tahun sekali."


Pemuda itu mendengus kesal. Bukan sekali dua dia mendengar jawaban seperti itu. Bahkan sang paman berulangkali memperingatkan dirinya, soal energi yang dia miliki bisa menarik perhatian para makhluk tak kasat mata untuk memburunya.


"Kau ingin memiliki energiku? Kalau begitu kau harus membunuhku dulu. Aku Yohan Aditya tidak akan sudi menyerah pada makhluk jelek sepertimu!" Teriak pemuda yang bernama Yohan atau keluarganya biasa memanggil Han padanya.


Makhluk yang masuk dalam kategori iblis api itu menggeram marah. Tanpa aba-aba, makhluk itu menyerang Han, menggunakan cakarnya untuk melukai pemuda yang memakai kemeja putih dan celana jeans serta sneakers berwarna senada dengan kemejanya.

__ADS_1


Han sigap melompat ke samping, menghindari serangan kuku tajam dari lawannya. Han hanya menggunakan sensor tubuhnya yang sangat sensitif pada makhluk tak kasat mata yang banyak berkeliaran di sekitar pemuda itu.


"Aduuuhh, maae-ku bisa marah ini." Han menggerutu melihat sneakers putihnya tercebur ke genangan air. Maae bermakna ibu dalam bahasa Thailand.


Blaaarrrr


Satu ledakan membuat Han melompat jauh ke belakang, menghindari serangan bola api yang dikirim padanya. "Siall!" Han mengumpat penuh emosi. Lagi-lagi iblis api itu menyerang Han hingga pria itu jatuh tersungkur dengan dada terasa panas. Emosi Han meroket naik, mengabaikan pesan dari Lung-nya. Pemuda itu menyentuh gelang dengan simbol kepala naga yang terpasang di pergelangan tangannya. Han lantas mengusapkan jarinya pada dua matanya yang seketika berubah menjadi hijau saat Han membuka netranya kembali.


Saat itulah mata batin Han terbuka. Pemuda itu bisa melihat rupa makhluk yang baru saja memukul tubuhnya. "Ck..hanya iblis golongan bawah dan kau berani menyerangku!"


Han melompat ke depan, sembari mengepalkan tangan kanannya. Tubuh penuh duri dari iblis api itu tidak menyurutkan semangat Han untuk menjatuhkan pukulannya pada makhluk itu.


Satu raungan keras terdengar di langit malam yang di selimuti mendung dengan kilat sesekali menyambar. Iblis api itu berusaha bangun. Tidak percaya jika manusia pilihan itu ternyata sangat kuat, padahal Han hanyalah seorang pemuda biasa.


"Masih bisa berdiri? Mau lagi? Kali ini kau akan mati!" Han mengangkat tangan kirinya, hingga sebuah busur panah muncul, tangan kanan Han dengan cepat menarik anak panah yang tiba-tiba muncul, tanpa jeda Han melepaskan anak panah yang langsung diselimuti api hijau saat melesat ke arah makhluk itu.


Jleb


Arrggghhhhh


Raungan keras kembali terdengar, tak lama tubuh makhluk itu ambruk ke aspal dan "booom" satu ledakan terdengar. Makhluk itu terbakar lalu menghilang menjadi asap.


"Mengganggu saja!" Gerutu Han melewati abu yang tersisa dari tubuh iblis api itu.


*


*


"Yohan Aditya!" Satu teriakan melengking terdengar dari sebuah rumah, membuat Han lari tunggang langgang keluar dari hunian itu.


Han menyandang tas ranselnya, terus berlari dari komplek perumahan menuju sebuah halte bus. Yah, gara-gara kejadian semalam, Han mendapat amukan dari maae-nya. Sang ibu mencemaskan Han, sedang si Han begitu santai menanggapi ketakutan mamanya. Dan hasilnya mama Han marah besar.


"Haishh bisa seminggu tidur di wihara ini." Gerutu Han saat tiba di sebuah halte bus. Pria itu menghentikan langkah, saat melihat pemandangan ganjil di depannya.


"Hati-hati." Seorang gadis cantik tersenyum mendengar ucapan itu. Han memiringkan kepalanya, heran. Han bergeming di tempatnya berdiri, sampai supir bus berteriak pada Han. Pria itu buru-buru masuk ke dalam bus yang lumayan penuh sesak. Han segera membayar tiket bus tersebut, lantas berbaur dengan banyaknya penumpang bus.

__ADS_1


Han menyapukan pandangan ke seluruh sisi bus. Hingga dia mendapatkan apa yang dia cari. Seorang gadis cantik yang tadi naik sebelum dirinya. Gadis itu begitu cantik di mata Han, eh tapi bukan hal itu yang membuat Han begitu tertarik pada sosok gadis tersebut.


Yang membuat Han tertarik adalah adanya satu jiwa yang setia mengawal gadis itu. "Mereka kembar?" Han penasaran hingga membuka mata batinnya. Melihat bagaimana miripnya dua makhluk beda dunia itu.


Han menggelengkan kepalanya. Tidak paham dengan apa yang dia lihat. Ada begitu banyak tanya yang muncul di benak Han. Namun pria itu sadar, itu bukan urusannya.


Ciiiitttttt


Hampir semua penumpang mengumpat, karena ulah si supir bus yang tiba-tiba mengerem. Tidak tahu apa yang terjadi, tapi baik Han maupun gadis itu bisa melihat serombongan anak kecil melintas di depan bus. Anak kecil yang masih memakai seragam sekolah.


"Kasihan, mereka korban bus sekolah yang kecelakaan." Si gadis melongokkan kepalanya keluar jendela. Saat tangan sang kakak menyentuh bahu gadis itu, gadis itu bisa melihat satu kumpulan anak kecil dengan tatapan kosong dan wajah pucat berada di seberang jalan.


"Kakak tidak bisa membebaskan mereka? Kasihan. Mereka terjebak di antara dua dunia." Gumam gadis itu dalam hati, tapi si kakak mampu mendengarnya.


"Kau ini terlalu baik Irish," jiwa yang tak lain adalah Isaac itu tersenyum pada Irish. Ya, sepasang kembar beda dunia itu tengah berada di Chiang Mai, dalam rangka liburan. Irish merengek ingin mengunjungi Negeri Gajah Putih.


"Aku terlalu manja, Kak." Irish tanpa sadar, menggamit lengan Isaac yang bercampur menjadi satu dengan penumpang lain. Tidak ada yang sadar dengan kejadian itu kecuali Han. Pemuda tersebut sungguh tidak paham bagaimana hal itu bisa terjadi. Makhluk yang beda dunia seharusnya tidak bisa berinteraksi, bicara apalagi saling menyentuh. Tapi kembar ini berbeda.


"Sepertinya aku harus bertanya pada Lung." Batin Han, memperhatikan Irish yang turun di sebuah tempat wisata yang bernama Gunung Doi Suthep. Di mana terdapat bangunan yang menjadi salah satu tempat paling bersejarah di Thailand.


Wat Phra That Doi Suthep menjadi representasi budaya Lanna, kerajaan yang dulu berdiri di Chiang Mai sejak ratusan tahun lalu. Wat Phra That doi Suthep didirikan sekitar 700 tahun lalu. Nilai sejarah dan religi di tempat ini membuat banyak wisatawan dari berbagai daerah mendatangi kuil ini setiap tahunnya.


Meninggalkan rasa tertarik Han pada Irish dan Isaac, pemuda itu melanjutkan perjalanannya menuju tempat kuliahnya. Sebuah universitas di pusat kota Chiang Mai.


Hari menjelang sore, saat Han tiba-tiba merasakan sesuatu terasa menghimpit dadanya. Pria itu langsung merasa sesak. Sesuai perkiraan Han, Maae-nya marah besar hingga melarang dirinya pulang, hingga di sinilah dia. Wihara di mana sang paman tinggal.


"Gan, kau kenapa?" tanya seorang pria memakai kemeja putih dan celana hitam.


Gan berarti si pemberani dalam bahasa Thailand. "Aku tidak tahu Lung Somchai. Rasanya sakit sekali." Han merintih sambil memegangi dadanya.


"Apa takdir mereka sudah datang." Batin pria bernama Somchai tersebut. Somchai membaringkan tubuh Han, lantas menyentuh dahi sang keponakan dengan dua jarinya. Dan kilasan kejadian hari itu terputar di benak Somchai.


"Ini yang kutakutkan. Mereka ada di sini. Takdir kalian akan segera dimulai."


Somchai menatap sendu pada sang ponakan. Rasa bersalah sang ibu membuat takdir Han menjadi rumit. Dikarunia mata batin dan kekuatan spiritual yang mumpuni. Han harus menyandang beban berat di pundaknya. Soal perjalanan hidup Han maupun kisah cinta Han, semua akan terasa berat bagi pemuda itu.

__ADS_1


Bab dua dan selanjutnya langsung ke lapak ya. Author tungguin lo, jan lupa siraman kembang ma kupinya, authtor gak bakal nolak. Terima kasih semua....


****


__ADS_2