Aku Membencimu Tuan CEO

Aku Membencimu Tuan CEO
Keinginan


__ADS_3

Lendra mengusak rambutnya kasar. Dia pikir akan mendapat bukti perselingkuhan sang istri dengan Pasha. Nyatanya tidak. Keduanya hanya mengobrol di ruang tamu pria itu. Dengan laptop dan berkas yang bertebaran di atas meja. Lendra dan Bian tentu melongo melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka. Tanpa mereka ketahui, mata-mata yang dulu dikirim Lendra, memberitahu Pasha kalau ada yang mengikuti mereka.


Mereka salah duga. Mereka pikir Pasha dan Natalie berselingkuh. Ternyata keduanya sedang membahas proyek bersama antar hotel Pasha dan majalah fashion Natalie. Karena majalah wanita itu mulai merambah ke pembahasan soal gaya hidup dan properti. Dan yang mereka temui di klub tadi adalah sponsor mereka yang sedang mengadakan farewell party untuk seorang staf mereka.


Lendra mengepalkan tangannya. Pria itu percaya ada yang Natalie sembunyikan darinya. Dan Lendra akan terus mencari tahu. Pria itu tidak akan percaya begitu saja pada Natalie dan Pasha. Mengingat banyak bukti yang mengarah pada hubungan istimewa keduanya.


"Kau percaya?"


Tanya Bian keesokan harinya. Keduanya sedang berjalan menuju ruang rapat. Lendra sedikit kesiangan karena Natalie juga bangun siang. Mendengar pertanyaan Bian, Lendra menggeleng. Bian mengulum senyumnya. Kali ini dia akan melihat Natnat, panggilan Bian untuk Natalie akan mendapat teror dari Lendra.


Meeting berjalan lumayan lama, tapi akhirnya selesai juga. Pria itu kembali ke ruang kerjanya. Mengambil jasnya lantas keluar menyusul Bian. Mereka ada meeting dengan klien di sebuah restauran.


Hari menjelang makan siang ketika Lendra keluar dari restauran itu. Pria itu nampak lelah dan lesu. Baru saja melangkahkan kaki ke luar restauran. Terdengar sebuah teriakan dari arah jalan raya. Lendra berlari ke sumber suara. Ketika itu dilihatnya seorang anak kecil yang berada di tengah jalan. Tidak tahu bagaimana itu terjadi. Yang jelas, dari arah depan anak kecil itu, melaju mobil dengan kecepatan tinggi. Kemungkinan pengemudinya tidak melihat anak kecil itu.


"Tolong dia!"


Teriak seorang perempuan. Tidak tahu karena apa, Lendra berlari ke tengah jalan yang kebetulan cukup lengang, dengan sigap dia menggendong anak kecil itu. Lantas membawanya menepi. Wuusshhh, suara angin yang dihasilkan oleh mobil yang hampir saja menabrak anak kecil itu. Bisa dibayangkan bagaimana cepatnya mobil itu melaju. Jika sampai menabrak anak kecil itu, entah apa yang akan terjadi.


Anak kecil itu melingkarkan tangan mungilnya di leher kokoh Lendra, menyembunyikan wajahnya dalam dekapan hangat pria itu. Ada rasa nyaman saat anak itu berada dalam pelukan Lendra. Juga rasa rindu? Anak kecil itu seketika menitikkan air mata. Bahkan ketika dia belum melihat rupa wajah orang yang telah menolongnya. Satu suara lirih terucap dari bibir anak itu.


"Ayah....."


"Irish....Irish...kamu tidak apa-apa?"


Lendra terbengong mendengar panggilan anak kecil itu. Hingga kemudian seorang perempuan sebaya Livia menghampiri mereka. Wanita itu segera memeluk anak kecil yang samar-samar Lendra dengar di panggil Irish. "Kamu gak apa-apa, sayang? Maafkan Mbak tadi mengambil tasmu dulu." Kata Retno panik.

__ADS_1


Bukannya menjawab panggilan Retno. Mata Irish justru bersitatap dengan Lendra. Pria itu sesaat membeku di tempatnya. Menatap mata Irish yang begitu dia kenal. Mata...Livia.


"Ayah...."


Kembali Irish berucap lirih. Detik berikutnya, gadis kecil itu berlari ke arah Lendra. Lantas memeluk tubuh Lendra yang masih dalam posisi berjongkok. Hingga tangan Irish kembali melingkar di leher Lendra. Ada getar haru, bahagia, rindu dan berbagai macam rasa saat Irish memeluk Lendra. Terlebih ketika Irish menyebut kata "ayah" di telinga Lendra. Meski lirih tapi Lendra jelas bisa mendengarnya. Untuk sesaat semua orang membiarkan keduanya saling berpelukan.


"Kakak, aku menemukan Ayah. Aku bertemu Ayah." Batin Irish. Setelah mengusap air matanya. Irish melepaskan pelukannya pada Lendra.


"Terima kasih." Lirih Irish.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Lendra dengan bibir bergetar. Tidak tahu rasa apa yang tengah dia rasakan. Tapi pria itu merasa bahagia melihat anak kecil itu baik- baik saja.


Irish mengangguk pelan. Satu tangan Lendra terulur merapikan poni Irish. Cantik, satu kata yang terlintas di benak Lendra. Wajah Irish benar-benar mengingatkan Lendra pada seseorang. Tapi dia tidak ingat siapa.


Bian yang datang belakangan melongo, melihat gadis kecil berada dalam gendongan Lendra. Keduanya tersenyum bahagia sembari menunggu taksi.


"Om, bisa tidak kita ketemu lagi?" Tanya Irish, masih bergelayut manja di leher Lendra. Retno bahkan sampai melongo. Pasalnya dengan Christo, Irish tidak semanja itu. Padahal Irish memanggil papa pada Christo.


"Kamu mau bertemu Om lagi?" Lendra balik bertanya. Pria itu tidak menduga kalau Irish punya pemikiran yang sama dengannya.


"Tentu saja." Jawab Irish bahagia. Retno bahkan sampai geleng-geleng melihat kemanjaan anak asuhnya itu.


Tak lama mobil taksi datang. Hari itu Diaz tidak menjemput Irish karena kafenya sedang ramai. Lambaian tangan Lendra dibalas tatapan sendu Irish, saat taksi itu bergerak meninggalkan tempat tersebut. Ada rasa tidak rela ketika Irish berpisah dengan Lendra. Dia pikir kapan dia akan bertemu lagi dengan sang ayah.


"Siapa dia?"

__ADS_1


Tanya Bian, begitu taksi Irish berlalu dari hadapan mereka. Bian sesaat menyadari kalau Irish sangatlah mirip dengan Lendra. Kening Bian berkerut.


"Anak yang kuselamatkan. Dia tadi hampir tertabrak mobil."


"Kalian tidak saling kenal kan?" Tanya Bian curiga. Keduanya dalam perjalanan kembali ke kantor mereka. Lendra menggeleng mendengar pertanyaqn Bian.


"Tidak. Memangnya kenapa?"


"Apa kau tidak sadar kalau kalian mirip?"


Lendra terdiam, lalu detik berikutnya tertawa. Lendra pikir itu tidak mungkin. Bagaimana bisa dia dikatakan mirip dengan anak yang baru saja mereka temui. "Jangan ngaco deh kamu." Mendengar ucapan Lendra. Bian hanya bisa terdiam.


Wajah Irish bertahan sendu sampai rumah. Gadis kecil itu memasuki rumah dengan langkah gontai. Tidak ceria seperti biasanya. Saat Vera bertanya, Irish hanya menjawab kalau dia lelah. Pintu kamar Irish tertutup. Gadis itu membuka lacinya. Mengeluarkan foto sang ayah. "Dia lebih jauh lebih tampan daripada di foto Kak, seperti kata Kakak. Dia juga sangat mirip dengan Kakak." Gumam Irish lirih. Ditatapnya wajah sang kakak dan ayah secara bergantian.


"Bukan Irish tidak sayang Ibu. Tapi Irish ingin bersama ayah dan kakak juga. Kenapa tidak bisa?"


Tangis lirih Irish mulai terdengar. Sungguh dia ingin bertemu sang ayah. Tinggal bersama dengan ibunya. Tidak adakah yang mengerti keinginannya.


***


Up lagi readers,


Jangan ritual jemponya. Like dan komennya ditunggu.


*****

__ADS_1


__ADS_2