
Dua bulan kemudian.
Pernikahan Hugo dan Lira selesai digelar. Di mana untuk pertama kalinya, Livia dan Irish dikenalkan pada anggota keluarga lain. Sebuah kesempatan yang membuat Livia merasa terharu. Semua orang menyambut antusias kehadirannya, meski belum mendapat predikat nyonya Aditama, tapi semua keluarga sangat menghargai Livia. Semua orang begitu bahagia dengan kehadiran Irish. Gadis kecil itu tentu sangat senang.
Setelah perhelatan Hugo dan Lira, barulah mereka bisa bertolak ke Sidney, karena Christo juga akan menggelar pernikahan mereka di sana. Mengingat Christo akan berdomisili di Sidney, maka Retno hanya manut, saat semua hal di lakukan di Sidney. Terlebih gadis itu yatim piatu sama seperti Christo, maka tidak masalah Retnoa akan tinggal di mana.
Saat ini mereka, Lendra, Livia dan Irish sudah berada di depan makam Isac, di Rookwood General Cemetery. Kembali, air mata Lendra mengalir, saat mengusap nisan di makan sang putra. Isac Andromeda Aditama, bahkan nisannya saja sudah menggunakan nama belakangnya.
"Ayah datang Isac," bisik Lendra lirih. Pria itu benar-benar tidak menyangka kalau putranya telah tiada. Bahkan dalam pelukannya. Lendra menangis untuk beberapa waktu, sampai sentuhan Irish membuat pria itu menghentikan tangisnya.
"Kakak tidak suka Ayah menangis. Sama kayak Ibu." Gadis itu menatap sebal pada ayah dan ibunya. Livia serta merta mengusap air matanya. Pun dengan Lendra. Keduanya tampak salah tingkah. Dalam dua bulan ini, hubungan keduanya mengalami banyak kemajuan. Meski Livia belum mau mengatakan iya saat Lendra mengajaknya menikah.
"Kak, setelah ini kakak ikut pulang saja ya. Gak usah ke sini lagi." Kata Irish
"Aku mana pernah pulang ke sini. Kau ini manja sekali. Tidak mau di tinggal sama sekali. Sampai kakek marah tau," gerutu Isac. Melirik ke arah kanan. Di mana makan Bryan Aditama berada. Kakek Lendra, suami Vera.
Irish terkekeh mendengar keluhan saudara kembar beda dunia itu. Ya, Irish memang tidak mau ditinggal oleh Isac, sebab banyak yang mendatanginya untuk mengajak bicara. Irish belum terbiasa dengan hal itu.
"Kenapa I?" tanya Livia, mengalihkan pandangannya dari Lendra. Tidak bisa Livia pungkiri kalau rasa cinta itu telah tumbuh di hati Livia untuk Lendra. Dua bulan bersama, memainkan peran laksana keluarga sempurna untuk Irish. Sangat menyenangkan melihat senyum Irish terkembang setiap hari. Gadis kecil itu kini menjadi primadona di Green Hills. Suara tawa Irish menjadi hiburan tersendiri bagi keluarga itu.
"Kakek marah kita tidak pernah mengunjunginya." Celetuk Irish asal. Meski detik berikutnya gadis kecil itu merapatkan tubuhnya ke arah sang ayah. Aura dingin datang mendekat.
"Itu kakekmulah. Masa takut." Info Isac. Namun Irish tetap saja memeluk leher Lendra kuat.
"Bukan Kak. Itu bukan Kakek." Lirih Irish.
"Memangnya Kakek siapa, I?"
Lendra menghela nafas. Pria itu lantas menjelaskan kalau yang di samping makam Isac adalah makan kakeknya. Livia sedikit terkejut. Meski dia selalu berdoa di makam itu saat mengunjungi Isac, tapi Livia tidak pernah tahu kalau itu makam kakek Lendra. Bahkan ketika nama Aditama tertulis di sana.
"Dasar gak pernah peka!" Lendra mengumpat lirih saat mereka berjalan keluar dari area makam Isac. Livia mendelik mendengar gerutuan Lendra. Sementara Irish berjalan di antara mereka sambil tersenyum. Satu tangan menggandeng tangan sang ayah. Yang lain berada dalam genggaman sang kakak.
*
*
__ADS_1
Sorak sorai terdengar saat Christo mencium bibir Retno setelah keduanya resmi menikah. Irish memejamkan mata melihat hal itu. Dengan sang kakak terkekeh melihat tingkah sang adik.
"Selamat ya atas pernikahan kalian." Livia memeluk hangat tubuh Retno yang terbalut gaun pengantin berwarna putih. Retno menangis dalam pelukan Livia.
"Dahlah jangan mewek mulu. Surabaya-Sidney dekat. Kalau kangen Irish tinggal mabur ke sana." Hibur Livia.
"Nanti kita start bikin barbie hidup sendiri." Celetukan Christo membuat semua orang meledakkan tawa. Pun dengan Livia, namun tidak dengan Retno yang wajahnya langsung merona merah, malu.
Tawa itu berhenti saat suara Christo mengumumkan sesuatu. Bersamaan dengan Lendra yang berlutut di hadapan Livia.
"Apaan sih?" tanya Livia bingung.
"Mari menikah. Biarkan aku menebus kesalahanku dan semua waktu yang terbuang sia-sia selama ini. Aku mencintaimu Livia Kaira. Temani aku habiskan sisa umurku bersamamu. Menjaga Irish, Isac dan adik mereka." Pinta Lendra sembari melirik ke arah Irish yang mengacungkan dua jempolnya. Satu mewakili sang kakak. Hening sesaat.
"Via, pegel...." Hampir sepuluh menit Lendra berlutut dan Livia belum memberikan jawaban.
"Alah.....tunggu apalagi sih. Siapa lagi yang kau tunggu. Cepetan terima. Tamu gue pada mau makan tu." Seloroh Christo sambil meraih tangan Livia, hingga Lendra bisa menyarungkan cincin di jari wanita itu.
"Christo....," protes Livia. Tidak ada jawaban, hanya pandangan menantang dari Christo yang Livia terima. Detik berikutnya Livia membulatkan mata setelah Lendra secara tiba-tiba mencium bibirnya. Di depan tamu undangan Christo dan Retno, Lendra tanpa malu memagut bibir ibu dari anaknya.
*
*
"Livia tunggu dulu!" Lendra menahan pintu kamar Livia di rumah mereka di Sidney. Kini gantian Lendra yang tidur bersama Irish dan Livia tidur di kamarnya sendiri.
"Apaan sih?"
"Masih marah?" Lendra bertanya. Pria itu hanya memakai celana pendek rumahan dan kaos oblong biasa.
"Gak tu! Tapi....murka!" jawab Livia sengit.
"Astaga, kubanting ke kasur sekarang juga kalau masih ngambek mulu. Semua syarat sudah aku oke- in. Kurang apa coba. No party oke, no problem." Livia hanya ingin menikah sederhana. Tanpa pesta dan perayaan besar. Cukup pesta yang dihadiri oleh keluarganya dan keluarga sang suami.
"Ngomongnya kok gitu." Livia memicingkan mata.
__ADS_1
Livia semakin curiga, saat Lendra merangsek masuk ke kamar Livia. "Kenapa? Semua wanita pasti takhluk kalau di ranjang." Kata Lendra sambil menaikkan satu alisnya.
"Dasar mesum!"
"Mesum sama istri sendiri apa salahnya."
"Kita belum menikah." Sangkal Livia.
"Tinggal dua minggu lagi. Kamu lupa? No party tapi kita menikah secepatnya." Livia melongo, dia melupakan hal besar itu. Lusa dia kembali ke Surabaya, sementara semua hal yang berhubungan dengan administrasi pernikahan sudah di urus oleh Bian.
"Mati aku!" batin Livia. Secepat itu statusnya akan berubah. Dari ibu tunggal menjadi nyonya Aditama.
"Eh apa ini?" Livia berjingkat pelan saat Lendra tiba-tiba memeluknya dari belakang. Ditambah pria itu langsung mencium lehernya.
"Nyicil Via, masak gak tahu. Dah tua gak perlu basa basi lagi."
"Kamu yang tua. Aku mah belum." Kilah Livia berusaha melepaskan diri dari pelukan Lendra.
"Oke karena aku sudah tua, aku harus kejar deadline dong." Balas Lendra semakin gencar menyerang Livia.
Livia tentu terkejut dengan cumbuan Lendra. Enam tahun lebih tanpa sentuhan seorang pria, tidak bisa Livia pungkiri kalau dia juga menginginkannya. Terlebih yang memeluknya kini adalah Lendra, pria yang memang dia cinta sejak dulu. Meski kadang gengsi masih mendominasi, hingga wanita itu masih enggan mengakui rasa cintanya pada Lendra.
"Deadline main di kasur. Via..berapa bulan aku nganggur?" rengek Lendra.
"Ha? Deadline main di kasur? Apa lagi itu?"
"Deadline bercintalah. Ayo kita nyicil kalau begitu. Irish gak akan bangun nyariin."
Sumpah, Livia ingin menggetok kepala Lendra yang asal ucap saat bicara. Ada juga deadline bercinta. Yang Livia tahu, deadline ya urusan perkerjaan.
***
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
****