
Livia melipat tangan sambil menarik nafasnya dalam. Wanita itu berada di rumah sang ibu, Asna. Beberapa hari sibuk dengan urusan Lendra dan Irish membuat wanita itu sedikit melupakan ibu kandungnya. Sampai hari ini, wanita itu punya kesempatan untuk menjenguk Asna. Irish tampak senang bermain dengan Asna, yang gadis kecil itu panggil Mbah.
"Aku benar-benar minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan padamu. Baik sekarang atau dulu. Aku akan pergi ke Thailand bersama Pasha dan mulai kehidupan baru di sana. Terima kasih tidak melaporkanku pada polisi."
Sederet kalimat perpisahan dari Natalie membuat wanita itu sadar. Kalau melepaskan rasa sakit karena masa lalu itu lebih baik dari pada terus memeliharanya dalam hati. Sejenak membuang rasa egois juga ternyata sangat melegakan hati. Livia bisa melihat hal itu dalam diri Natalie. Berani mengakui kesalahan dan meminta maaf, juga satu hal yang membuat Livia merasa kalau Natalie jauh lebih baik dari dirinya dalam hal ini.
"Aku dan Pasha akan menikah di Thailand. Keluarga dia ada di sana semua. Sedang aku tidak punya siapa-siapa di sini."
"Mereka akhirnya menikah," gumam Livia lirih.
"Siapa yang menikah? Kamu sama ayahnya si kembar?" suara Asna membuyarkan lamunan Livia.
"Bukan, Bu. Tapi teman Livia. Dia pamit mau pergi ke Thailand dan menikah di sana."
Asna terdiam untuk beberapa waktu. Tanpa Livia tahu, Isac yang berdiri di belakang Livia mengangguk pada mbah-nya itu. Tak pernah Livia tahu kalau ada hal besar yang disembunyikan oleh ibu wanita itu. Atau lebih tepatnya oleh ayah Livia.
"Jika kalian berjodoh pasti akan bertemu lagi. Tidak sekarang, mungkin di masa depan," kata Asna ambigu.
Ada rasa sedih saat Asna memandang Isac. Beban berat itu ternyata malah berpindah pada sang cucu. Kenapa bukan padanya saja beban itu di berikan. Kenapa justru sang cucu yang harus menanggungnya.
"Mungkin beginilah tujuan Isac lahir, Mbah," kata Isac saat Livia masuk ke dalam rumah.
"Tapi Le, ini terlalu berat. Yang akan kamu lawan sangat kuat. Mbah kakungmu (kakekmu) saja tidak kuat. Mbah pikir ibumu yang akan jadi korban. Ternyata bukan."
"Mbah putri bilang akan ada yang bantuin aku sama Irish."
"Ada....tapi tetap saja...." Asna tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Begini saja. Isac kan memang sudah mati. Tapi Isac belum bisa pergi karena masih harus jagain Irish. Juga menyelesaikan urusannya mbah kakung. Jadi anggap saja ini perpanjangan hidup Isac."
Asna menangis, melihart wajah Isac yang sudah tumbuh menjadi remaja di usia dua tahun sejak kematiannya. "Putuku (cucuku) sayang. Betapa berat garis hidup yang harus kau jalani, Le." Asna mengusap pelan pipi Isac lantas memeluknya. Tangis wanita tua itu pecah. Sedang Isac hanya bergeming, lantas perlahan membalas pelukan sang nenek.
"Temani aku sampai akhir, Mbah," pinta Isac. Asna mengangguk. Dia akan minta dipanjangkan umurnya pada yang Kuasa. Asna akan menemani cucu kesayangannya sepanjang Isac memintanya.
*
__ADS_1
*
"Irish belum tidur?" Lendra bertanya. Pria itu masuk ke kamar sang putri setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Nungguin susu coklat buatan ibu," jawab gadis kecil itu. Lendra mendekati ranjang Irish. Selama tinggal di sini, Irish tidur dengan sang ibu, satu syarat yang diminta Livia. Padahal Lendra ingin sekali berdua-dua-an dengan Livia.
Wanita itu tetap menjalankan rutinitasnya di kantor. Karena kini jelas kalau pabrik di Rungkut akan di kelola Livia sampai Irish cukup umur untuk mengurusnya. Meski Lendra tetap ingin Irish jadi prioritas Livia.
"Apa itu?" tanya Lendra melihat Irish memegang selembar foto.
"Foto Kakak. Ayah sebenarnya...kakak kecelakaan karena ingin melihat ayah," kata Irish setengah terbata.
"Maksudnya?" Lendra tidak paham dengan perkataan Irish. Sampai pria itu melihat foto Isac putranya. Tangan pria itu bergetar, Lendra menatap foto Isac yang tersenyum. Persis dengannya. Namun bukan itu masalahnya, yang jadi masalah adalah wajah Isac adalah wajah anak kecil yang Lendra tolong, saat terjadi sebuah kecelakaan di Sidney, dua tahun lalu.
Lendra yang membawa tubuh anak itu ke rumah sakit, tapi dia tidak menunggu sampai tahu keadaan anak itu. Lendra saat itu sedang dalam situasi terburu-buru karena kabar keguguran Natalie.
"Dia Isac? Putraku sendiri, kakakmu?" Air mata Lendra mengalir, mengingat bagaimana tubuh mungil itu bersimbah darah dalam pelukannya. Asisten Christo bahkan harus mencarikan baju ganti untuknya.
"Kakak menyeberang jalan tiba-tiba karena lihat ayah di seberang jalan." Irish bercerita sambil terisak. Sementara Lendra sudah berjongkok di depan sang putri.
"Maafkan Ayah I..maafkan Ayah, Isac. Ayah tidak tahu itu kamu." Pria itu memberi satu ruang lagi saat memeluk Irish, seolah tahu Isac ada di sana. Dan memang benar, Isac ikut masuk dalam pelukan sang ayah. Bocah kecil itu juga menangis. Betapa menyesalnya Lendra, sungguh dia tidak tahu kalau semua akan jadi begini.
Anak dan ayah plus satu bocah tidak kasat mata itu saling peluk, juga menangis. Rasa bersalah Lendra sangat besar. Kelalaiannya membuat dia kehilangan putra sulungnya.
"Setidaknya ayah pernah memelukku di dunia nyata," bisik Isac di telinga sang ayah.
"Maafkan ayah, Isac." Balas Lendra. Mendengar hal itu, Isac tersenyum
"Isac.. sayang ayah." Bisa dibayangkan bagaimana banjir air mata yang Lendra alami. Dia masih diberi kesempatan mendengar ucapan sakral dari sang putra yang sudah beda dunia. Namun bisa terhubung lewat Irish.
"Ayah lebih sayang Isac...juga Irish. Maaf, ayah tidak tahu kalau ayah punya kalian."
Cukup lama ketiganya larut dalam tangis. Lendra dengan tangis penyesalan sedang si kembar tangis penuh kesedihan. Irish dan Isac masih menangis dalam pelukan Lendra, saat Livia masuk ke kamar Irish.
"Kalian kenapa?" tanya Livia sambil meletakkan dua gelas susu coklat di atas nakas. Lendra mengerutkan dahi melihat hal itu.
__ADS_1
"Irish suka minum dua gelas susu." Kata Livia lugu. Saat itu Isac hanya nyengir pada saudari kembarnya. Isac kadang bisa menyentuh barang di dunia nyata. Padahal seharusnya tidak bisa.
Lendra bertukar senyum penuh arti dengan sang putri. Irish meraih susu coklat miliknya. Lantas meminumnya.
"Ibu rindu kakak. Ingin menengok kakak. Irish mau ikut?" tanya Livia.
"Aku gak ditanya?" rengek Lendra.
"Jawab dulu, kalian tadi ngapain?" balas Livia.
"Itu rahasia ayah dan anak," Lendra berucap sambil mengusap air mata di sudut netranya. Dia akan bicara pada Livia berdua nanti.
"Ooohhh main rahasia-rahasiaan ya. Oke kalau begitu."
Livia berlalu ke kamar mandi. Mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. "Tidur bareng yuk."
"Balik kamarmu sana," usir Livia.
"Yah... kok gitu I." Lendra berucap dengan wajah memelas.
"Bawa ibu ke altar dulu. Baru boleh tidur bareng."
"Ha?" Baik Livia maupun Lendra melongo, saling pandang. Heran dengan ucapan Irish barusan.
"Itu syaratnya kan, Bu."
Lendra tersenyum mendengar syarat dari Irish. Naik ke altar, bukan masalah sulit. Itu mudah. Kata Lendra dalam hati.
***
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
****
__ADS_1