Aku Membencimu Tuan CEO

Aku Membencimu Tuan CEO
Pingsan


__ADS_3

Livia menatap tajam pada Lendra. Kesal, hal itulah yang terpancar dari pandangan Livia pada Lendra. Sementara yang ditatap malah tersenyum-senyum tidak jelas. Livia sesaat meringis tertahan. Asam lambungnya sepertinya kumat. Padahal wanita itu rajin meminum obatnya. Kesibukan Livia akhir-akhir ini menyita waktu makan wanita itu. Meta sudah menyiapkan makanan tepat waktu. Namun Livia jarang sekali menyentuh makanannya saat waktu makan tiba


"Jangan marah begitu dong. Papaku kan gak ngapa-ngapain kamu." Kata Lendra enteng. Livia mendengus geram. Yang memergoki Livia berada dalam ruangan kerja Lendra adalah Vi, ayah Lendra. Pria itu kebetulan mampir setelah mengunjungi ayah mertuanya. Bisa dibayangkan bagaimana malunya Livia. Terciduk berduaan dengan Lendra yang notabene masih berstatus suami orang.


"Nggak ngapa-ngapain gimana?" Ketus Livia. Wanita itu masih teringat bagaimana Vi bertanya dengan santainya apa dirinya calon istri Lendra selanjutnya.


"Kan dia cuma nanya. Tinggal dijawab iya atau tidak. Susah bener." Lendra terkekeh.


"Bukannya jawabanku sudah jelas, tidak!" Livia menjawab tegas. Seharusnya Livia punya banyak alasan untuk menerima Lendra menjadi pendampingnya, tapi wanita itu masih ragu. Padahal Lendra jelas ayah kandung Irish. Livia bisa memakai alasan itu untuk menikah dengan Lendra. Namun tidak, Livia belum ingin terikat dalam hubungan apapun. Bahkan sekedar pacaran saja, Livia enggan.


"Ayolah Via, apa sih kurangnya aku. Duren lo." Goda Lendra.


"Duda kok bangga." Judes Livia.


"Banggalah. Masih banyak yang ngantri buat jadi istriku." Lendra benar-benar pria ternarsis yang pernah Livia temui. Bisa-bisanya pria itu bangga dengan status duda otewenya.


"Tapi aku tidak mau. Sudahlah. Sepertinya aku sial datang ke sini hari ini. Bertemu pria narsis, bertemu Bos Besar." Gerutu Livia.


Wanita itu berjalan ke arah pintu. "Apa tidak ada kesempatan bagiku untuk bersamamu?" Pertanyaan Lendra menghentikan tangan Livia yang ingin membuka pintu.


"Via, aku tahu. Aku melukai hatimu lima tahun. Berikanlah aku waktu untuk menebusnya. Sekarang aku sadar jika aku jatuh cinta padamu."


Tubuh Livia meremang kala Lendra memeluk tubuhnya dari belakang. Nafas Lendra berhembus di leher Livia, karena rambut wanita itu dikuncir tinggi. Satu gaya yang sangat tidak Lendra sukai. Karena hal itu menampilkan leher jenjang Livia yang menggoda.


"Dengan menikahi Natalie. Jangan menyuruhku untuk percaya padamu! Kau raja buaya dari semua buaya yang aku tahu."


"Padahal buaya itu setia lo, Via."


"Menjauhlah dariku. Aku tidak menyukaimu. Apalagi cinta padamu."

__ADS_1


Dua pasang mata itu beradu pandang. Livia sudah membalikkan tubuhnya. Keduanya saling berhadapan kini.


"Mau membuktikannya?" tantang Lendra. Livia menatap tajam pada Lendra.


"Aku tahu kamu punya rasa padaku. Tapi kamu terlalu takut untuk mengakuinya. Sebenarnya tidak masalah bagiku, asal kamu sudi berada di sampingku. Itu sudah cukup untukku."


Detik berikutnya, bibir Lendra sudah mendarat di bibir Livia, memagutnya penuh cinta. Dua tangan Lendra yang menangkup wajah Livia, membuat wanita itu tidak bisa menghindar dari serangan calon duda itu.


Beberapa waktu Livia berusaha menahan diri agar tidak terhanyut dalam permainan bibir Lendra. Namun ternyata pertahanan diri Livia runtuh juga. Saat Lendra berbisik, "Aku mencintaimu, Livia Kaira." Dengan bibir masih menempel pada milik Livia. Wanita itu membalas tiap pagutan yang Lendra berikan. Dari sanalah Lendra yakin, kalau Livia memiliki rasa yang sama dengannya.


"Hentikan ini." Livia berusaha mendorong jauh dada Lendra saat pria itu mulai menghimpit tubuh Livia ke tembok. Hasrat pria itu jelas sudah merayap naik.


"Jadilah milikku, Via." Bisik Lendra di telinga Livia. Pria itu semakin liar menyerang Livia. Dalam hitungan detik saja, Lendra sudah menyerbu leher Livia. Ibu Irish itu jelas marah. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini dari Lendra.


"Lendra berhenti!" Livia berteriak di tengah suara laknat yang hampir lolos dari bibirnya. Wanita itu sungguh takut, kalau dirinya akan berakhir seperti lima tahun lalu. Livia mendorong jauh tubuh Lendra.


"Via....." Suara Lendra sudah terdengar serak. Pria itu mulai kehilangan kendali diri.


"Ayolah Via, lima tahun lalu, kita sama-sama menginginkannya. Kita bahkan sangat menikmatinya." Ujar Lendra kembali mencium leher Livia.


Livia mencoba bertahan, hal itu membuat Lendra meradang. Pria yang mulai pendek akalnya karena naffsu itu, mulai emosi. Terus mendapat penolakan dari Livia memancing amarah Lendra.


"Berhenti menolakku atau kujadikan kau milikku, paksa." Ancam Lendra.


Kembali dua insan itu saling pandang. Hingga sebuah tamparan mendarat di pipi Lendra. Plakkkkk, suaranya cukup nyaring. Demi apapun, emosi Lendra langsung mencuat ke level tertinggi. Pria itu menyerang Livia tanpa ampun. Beberapa kali tangan pria itu menyentuh aset berharga Livia. Hal itu sukses membuat Livia juga marah.


"Lendra berhenti!" Kali ini teriakan Livia benar-benar menghentikan aksi gila Lendra. Pria itu menatap Livia yang sudah menangis.


"Via....Via...maafkan aku." Kata Lendra mengusap lembut air mata di pipi Livia. Namun wanita itu menepis kasar tangan Lendra.

__ADS_1


"Kenapa kamu sama sekali tidak berubah. Tidak bisakah kamu menghargai seorang wanita. Apa kamu tidak tahu arti kata tidak!"


Livia berteriak di depan Lendra. Wanita itu terisak dengan penampilan berantakan. Blazernya sudah berakhir di lantai dengan kancing kemeja yang beberapa sudah terbuka, mènampilkan sebagian dada Livia yang sintal dan masih memakai penutup berwarna hitam. Sangat menggoda. Rambut Livia sudah terurai karena Lendra melepas ikatan rambut wanita itu.


Mendengar teriakan Livia. Lendra terhenyak, melihat betapa terlukanya Livia. Pria itu segera memeluk Livia yang seketika berontak. Tapi Lendra tidak melepasnya.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Livia berteriak.


"Maafkan aku, Via. Maafkan aku." Pria itu berbisik lembut di telinga Livia. Berusaha menahan dorongan Livia yang ingin lepas dari dekapannya.


"Tidak mau! Aku tidak mau memaafkanmu. Aku benci padamu!" teriak Livia lagi. Kembali, sakit hati Lendra saat Livia mengatakan kalau wanita itu membencinya.


"Jangan membenciku, aku mohon." Satu bulir bening lolos di sudut mata Lendra. Pria itu menangis. Kebencian Livia membuat Lendra sedih.


"Aku akan memben....." Kata-kata Livia terhenti, saat rasa sesak menyerang dadanya. Asam lambungnya sudah naik. Untuk beberapa waktu Livia terdiam. Merasakan sesak itu semakin menghimpit dadanya. Dia perlu obatnya. Wanita itu mendorong tubuh Lendra, hingga pelukan pria itu terlepas. Begitu terbebas dari dekapan Lendra, Livia berlari ke arah tasnya. Tanpa mempedulikan tatapan penuh tanya dari Lendra. Livia meminum satu butir obat yang dia ambil dari tasnya.


Namun nampaknya hal itu terlambat. Detik berikutnya, tubuh Livia terjatuh di sofa, meski sesak itu mulai berkurang. Namun pandangan mata Livia mulai kabur. Dia akan pingsan sebentar lagi. Dia harus keluar dari tempat ini.


"Via..Via...kamu mau ke mana. Istirahat dulu di sini." Livia menepis tangan Lendra yang inĝin menolongnya. Wajah wanita itu pucat dengan keringat dingin terlihat di dahi wanita itu.


"Menjauh dariku! Dan jangan pernah menyentuhku." Livia harus pulang. Saat ini Irish pasti sudah menunggunya di rumah.


"Ibu datang Irish, Isac." Bisik Livia. Sebelum tubuh langsing itu ambruk dalam pelukan Lendra. Pria itu jelas panik melihat keadaan lemah Livia.


***


Up lagi readers


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2